Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Harus nurut sama calon suami


__ADS_3

Celine telah selesai membuat kopi serta pisang goreng untuk abangnya, ia pun meletakkan kedua santapan itu di meja makan sesuai kemauan dari Keenan sebelumnya.


Lalu, Celine nampak mengecek mie yang sedang ia rebus dan hendak menuangnya ke mangkok.


Akan tetapi, secara tiba-tiba Keenan memeluknya dari belakang dan mengendus ceruk lehernya sambil kedua tangan merengkuh pinggangnya.


"Akh! Bang, lu ngapain sih?" ujar Celine.


"Gue pengen peluk lu aja, lu imut banget tau enak buat dipeluk. Gue suka deh peluk lu dari belakang kayak gini, berasa kita tuh pasangan suami-istri yang lagi masak bareng di dapur. Lu suka juga gak?" ucap Keenan seraya membelai rambut belakang adiknya.


"Ish, jangan ngaco deh bang! Gue adik lu, bukan istri lu. Lagian lu juga udah punya kak Chelsea, jadi jangan macam-macam deh!" ujar Celine.


Jetekk..


Keenan mematikan kompor, lalu memutar tubuh Celine hingga menghadap ke arahnya. Ia tatap wajah gadis itu sambil terus mengusap rambutnya yang halus.


"Lu cantik, manis, imut dan lucu banget sih Cel! Gue makin gak rela lu disentuh orang lain. Gue maunya lu jadi milik gue, dan selamanya kita bisa bersama!" ucap Keenan.


"Bang, gue mau makan dulu. Nanti aja ya lu gombalin gue nya," ucap Celine tersenyum.


Celine hendak berbalik, namun lagi-lagi Keenan menahannya dan tak membiarkan gadis itu pergi darinya.


"Bentar dulu sayang!" ucap Keenan.


"Kenapa lagi sih bang? Gue lapar tau," ujar Celine.


"Kita bisa makan bareng-bareng nanti, sekarang gue mau ngomong dulu sama lu." ucap Keenan.


"Ngomong apa?" tanya Celine penasaran.


"Gue sayang sama lu, gue mau nikah sama lu. Gimana Cel, lu mau kan nikah sama gue sekarang?" ucap Keenan dengan tegas.


"Hah? Lu bercanda lagi kan bang? Gak lucu deh, udah sana ah!" ujar Celine.


"Siapa yang bercanda? Gue serius kok, gue cinta sama lu Cel. Ayolah, kita nikah ya cantik! Gue tuh gak mau kehilangan lu, gue gak terima ada orang lain yang sentuh tubuh lu selain gue." ucap Keenan.


"Haish, gak mau ah!" ucap Celine kesal.


Keenan tersenyum, kemudian menarik Celine ke dalam pelukannya dan mengusap lembut punggung gadis itu.


"Yaudah, mungkin sekarang lu masih belum paham. Kalo gitu gue bakal cari waktu yang tepat buat nikahin lu. Sekarang lu boleh makan deh, i love Celine!" ucap Keenan sembari menjilat telinga adiknya.


"Akh bang! Lu bener-bener ya, lu kata telinga gue ini es krim dijilat begitu?!" geram Celine.


"Hehe.." Keenan nyengir dan melepaskan adiknya itu sambil sesekali menggaruk kepalanya.


Celine pun berbalik, menuangkan mie rebus miliknya ke dalam mangkuk dan masih memikirkan perkataan abangnya tadi.


Sementara Keenan pergi ke meja makan, menikmati secangkir kopi dan juga pisang goreng buatan adiknya tadi.


"Hahaha, pasti Celine bingung deh dengar ucapan gue tadi. Tenang aja Celine, lu pasti bakal jadi milik gue seutuhnya!" batin Keenan.


Celine pun menghampiri Keenan dan ikut duduk di meja makan bersama abangnya itu.


"Makan bang," ucap Celine basa-basi.


"Lu serius nawarin apa cuma basa-basi doang nih? Nanti giliran gue ambil beneran, eh lu malah marah-marah." kata Keenan.


"Ish, ya cuma basa-basi lah. Lagian lu kan udah minum kopi sama makan gorengan tuh, masa mau makan mie gue juga?" ucap Celine.


"Iya iya, makan gih yang kenyang!" ucap Keenan.


"Eh ya, lu sendiri emang udah makan?" tanya Celine sembari memakan mie nya.


"Belum sih, tapi udah lah gapapa." jawab Keenan.


"Ih kok gitu sih bang?! Lu harus makan lah, kalo gak nanti sakit! Bentar deh, gue bikinin mie juga buat lu ya!" ucap Celine.


"Eh jangan, gausah! Lu makan aja dulu!" ucap Keenan.


"Tapi bang—"


"Udah gapapa," potong Keenan.


Akhirnya Celine duduk kembali di tempatnya dan lanjut memakan mie nya.




Keesokan paginya, Albert dan Nadira bangun dari tidur setelah aktivitas panas yang mereka lakukan semalam.


Tampak keduanya masih dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun dan hanya ditutupi oleh selimut tebal.


Albert juga masih memeluk Nadira dalam posisi miring, ia tersenyum senang saat membuka matanya dan melihat wajah istrinya yang cantik.


"Good morning honey!" ucap Albert pelan.


"Mas, kamu baru bangun juga? Kok bisa sih kita bangunnya barengan kayak gini?" tanya Nadira.

__ADS_1


"Entahlah, mungkin karena kita sehati." ucap Albert.


"Hahaha, bisa aja kamu ah." ucap Nadira tersipu.


"Eh ya, kamu udah gak marah lagi kan sama saya?" tanya Albert sembari mencolek pipi istrinya.


"Umm marah gak ya..??" gumam Nadira.


"Yeh jangan begitu dong! Kita semalam kan udah beradu kenikmatan, masa kamu masih belum bisa maafin saya? Padahal semalam kamu kayak gak marah lagi loh sama saya," ujar Albert.


"Iya mas, aku emang udah reda sedikit emosinya. Tapi, tetap aja aku masih belum bisa lupain apa yang kamu lakuin ke Vanesa kemarin." kata Nadira.


"Intinya gimana nih, kamu maafin saya atau enggak?" tanya Albert bingung.


"Eee kita lihat aja nanti ya mas, soalnya aku mau mandi dulu. Badan aku udah lengket banget tau nih, kamu sih semalam mainnya semangat banget udah kayak gak dikasih jatah sebulan aja." ujar Nadira cemberut.


"Aduh duh duh, sayangku ini gemesin banget sih kalo lagi cemberut gitu! Maafin saya ya, saya bersemangat karena saya pengen bikin kamu gak marah lagi sama saya. Eh kamu malah masih marah aja, berarti semalam itu kamu keenakan tapi sambil marah ya?" ujar Albert.


"Apa sih mas?! Lagian siapa juga yang keenakan coba? Kamu ngada-ngada aja deh, padahal yang menikmati cuma kamu." elak Nadira.


"Ah masa? Kelihatan banget loh semalam dari ekspresi kamu, kalau kamu itu keenakan. Masih aja kamu gak mau ngaku sama saya, tapi gapapa yang penting kamu senang." ucap Albert.


"Yaudah, aku mandi dulu ya mas?" ucap Nadira.


"Bareng ya?" goda Albert.


"Hah? Jangan ah, gak mau aku! Nanti yang ada kamu malah minta begituan lagi," ucap Nadira.


"Enggak kok, saya janji deh!" ucap Albert.


"Huh bohong ah! Kamu disini janji begitu, tapi nanti di dalam kamar mandi beda lagi kelakuannya." ucap Nadira memutar bola matanya.


"Masa sih? Tahu darimana kamu?" ujar Albert.


"Aku kan udah lumayan lama jadi istri kamu, aku paham dong gimana sifat kamu." ucap Nadira.


"Oh iya, istriku yang cantik ini emang paling ngerti deh tentang aku!" goda Albert sembari mencolek dagu Nadira dan mengecup bibirnya sekilas.


Cupp!


"Mas, tuh kan masih disini aja kamu udah nakal cium-cium bibir aku!" ujar Nadira manyun.


"Hahaha, i love you honey..!!" ucap Albert.


Albert justru memeluk Nadira, mengganti posisinya berada di atas Nadira dan menindih wanita itu.


Albert menatap wajah Nadira, mengusap rambut Nadira dengan lembut dan menghujani wajahnya dengan berbagai kecupan manis.


"Saya suka banget cium kamu, apalagi kalau kamu lagi keringetan begini! Mending kamu jangan mandi deh, begini aja biar enak diciumnya!" ucap Albert terkekeh.


"Ih ngada-ngada kamu mah!" cibir Nadira.


"Hahaha..." Albert tertawa puas lalu kembali melumatt bibir istrinya.




Singkat cerita, Albert dan Nadira keluar dari kamar mandi bersamaan. Nadira mengenakkan bathrobe warna merah muda miliknya, sedangkan Albert hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya sehingga roti sobek miliknya terpampang jelas.


Albert pun merangkul pundak Nadira dan mendekap erat istrinya itu, Nadira yang hendak memakai pakaiannya pun terkejut dengan itu.


"Akh mas! Kamu apa-apaan sih?! Aku mau pakai baju mas, aku takut!" ucap Nadira.


"Hahaha, tenang aja sayang! Saya gak akan apa-apain kamu kok, kamu gak perlu takut begini honey!" ucap Albert tersenyum.


"I-i-iya mas, aku tahu. Justru aku malah makin takut karena tau yang rangkul aku tuh kamu, soalnya kamu kan hyper banget kalau soal begituan." ucap Nadira gugup.


"Ahaha, duh saya jadi malu. Kamu tenang aja cantik! Saya gak akan minta jatah lagi dari kamu, semalam dan tadi di kamar mandi kan saya sudah mendapatkan itu. Sekarang saya cuma mau peluk kamu kok sayang," ucap Albert.


"Yang bener tuan?" tanya Nadira tak percaya.


"Iya sayang, masa saya bohong sama kamu? Saya ini lagi pengen peluk kamu dan cium wangi tubuh kamu ini, gapapa kan?" jawab Albert.


"Iya mas, gapapa kok. Kamu bebas mau ciumin aku sesuka hati kamu," ucap Nadira.


"Hahaha, tapi untuk sekarang ini cukup deh. Saya gak mau bikin kamu jadi risih. Lagipun, kita kan harus sarapan juga di luar." ucap Albert.


"Ya terserah kamu aja deh mas," ucap Nadira.


"Oh ya, hari ini jadwal kamu checkup kan?" tanya Albert menatap wajah istrinya.


"Iya mas," jawab Nadira sambil tersenyum.


"Yaudah, nanti saya bakal pulang cepat dan antar kamu ke rumah sakit. Saya juga penasaran banget sama kondisi anak saya di kandungan kamu ini," ucap Albert seraya mengusap perut Nadira.


"Ah mas bisa aja! Kalau mas ada urusan penting dan gak bisa pulang, aku gapapa kok sendiri aja. Nanti biar aku minta antar sama pak Liam," ucap Nadira.


"Eh jangan! Saya ini kan ayahnya, masa iya kamu malah dianterin sama Liam? Apa kata dunia nanti sayang?" ucap Albert terkekeh.

__ADS_1


"Iya iya, terserah kamu aja mas!" ucap Nadira.


"Kita pake baju dulu yuk! Abis itu kamu sarapan bareng saya sama mama di depan," ujar Albert.


"Iya mas," ucap Nadira mengangguk setuju.


Mereka pun sama-sama memakai pakaian masing-masing disana, sambil sesekali Albert juga menggoda Nadira yang tengah memakai bajunya.


Setelah selesai, sepasang suami-istri itu pun keluar dari kamar untuk segera menuju meja makan dan melakukan sarapan bersama.


Setibanya di meja makan, tampak hanya ada Chelsea disana yang tengah menikmati sarapannya sembari bermain ponsel.


"Loh Chelsea, mama mana? Kok gak ikut sarapan disini?" tanya Albert heran.


Melihat kakaknya muncul bersama Nadira dan saling merangkul, Chelsea pun tampak senang. Gadis itu langsung berdiri menatap mereka berdua dengan mulut menganga.


"Wah! Kak Albert sama mbak Nadira udah baikan nih? Gak berantem lagi kan?" ujar Chelsea.


"Iya dong Chelsea, kita mah gak pernah marahan lama-lama. Kita ini kan saling mencintai, jadi kita gampang baikannya." jawab Albert tersenyum.


"Oh, syukur deh kak!" ucap Chelsea.




Keenan keluar dari kamarnya sambil menguap, ia mengangkat dua tangannya ke atas dan mengucek-ngucek matanya.


Dilihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah delapan, Keenan pun kembali melangkah menuju dapur dengan mata sayunya.


"Good morning, bang Ken!" tiba-tiba Celine muncul membawa segelas susu serta roti tawar di tangannya yang membuat Keenan terkejut dan reflek membuka matanya.


"Hah? Iya, morning sayang! Kamu ngagetin abang aja deh!" ujar Keenan.


"Hehe, maaf bang! Lu udah cuci muka apa belum sih, bang?" tanya Celine heran.


"Udah kok," jawab Keenan sambil menguap.


"Ih terus kenapa masih ngantuk aja? Cuci muka lagi sana yang bener!" ujar Celine.


"Ogah! Abang mau peluk kamu aja sekarang biar gak ngantuk," ucap Keenan mendekati adiknya.


"Ish, enggak enggak gak mau!" geram Celine.


"Kenapa sih sayang? Dipeluk abangnya sendiri kok gak mau? Nih ya, kalau abang cium wangi tubuh kamu, ngantuk di tubuh abang tuh secara otomatis ilang sayang." ucap Keenan.


"Halah pokoknya aku gak mau! Aku tuh udah mandi bang, aku nanti ketularan bau badan abang lagi!" ucap Celine.


"Yah elah, gapapa kali kan bisa mandi lagi nanti bareng abang." ujar Keenan tersenyum genit.


"Dih, ngada-ngada aja abang ah! Udah, ini abang mau sarapan dulu apa mandi dulu? Aku udah buatin roti sama susu nih buat abang," ujar Celine.


"Aduh baik banget sih adikku yang cantik ini!" ucap Keenan sembari mencubit pipi Celine.


"Iya dong, aku mah emang baik bang. Soalnya kalo gak diginiin, nanti abang marah-marah." ujar Celine terkekeh kecil.


"Yaudah, kita sarapan dulu yuk!" ucap Keenan.


Celine mengangguk sambil tersenyum, Keenan pun merangkul pundak adiknya dan melangkah bersama menuju meja makan.


Mereka berdua duduk berdampingan, Celine menyiapkan sarapan mereka yang sudah ia buat yakni roti panggang selai strawberry.


"Nah, ini buat lu bang!" ucap Celine.


"Kok masih pake lu-gue aja sih? Udah bagus kayak tadi paket aku-kamu biar romantis," tegur Keenan.


"Ah gue gak terbiasa bang! Udah ya, kayak gini aja!" ucap Celine tersenyum.


"Gak gak, jangan begitu! Kalau kamu gak terbiasa, ya dibiasakan dong!" ujar Keenan kesal.


"Bang, tapi—mmpphh.."


Belum sempat Celine menyelesaikan ucapannya, Keenan sudah langsung menerkam bibirnya dari samping dan menekan tengkuknya.


"Uhuk uhuk!" Celine terbatuk-batuk seraya mengambil nafas panjang saat Keenan melepas pagutannya.


"Haish, lu apa-apaan sih bang?! Ngapain lu cium gue?" protes Celine.


"Suruh siapa kamu bandel gitu? Kalau dibilangin sama calon suaminya tuh nurut, jangan malah ngebantah!" tegas Keenan.


"Hah? Calon suami?" Celine terkejut.


"Iyalah, kan kamu calon istri abang. Ingat loh, kita bakal nikah nantinya!" jawab Keenan.


"Hadeh dasar konslet!" umpat Celine.


Keenan justru tersenyum lebar dan kembali mendekap adiknya dari samping, lalu menghujani wajah adiknya itu dengan ciuman.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2