Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Beri hukuman


__ADS_3

Keenan menemui Albert dan Rio di tempat yang sudah mereka janjikan.


Keenan membawa lima orang pencuri yang berhasil ia tangkap sebelumnya kesana.


Terlihat mobil Albert tiba disana, Albert pun turun dari mobilnya setelah memarkir tepat di sebelah mobil Keenan.


Albert dan Rio langsung bergerak mendekati Keenan serta para pencuri disana.


Albert tersenyum smirk menatap satu persatu wajah dari para pencuri itu, ia mengepalkan tangan seperti hendak menghajar mereka semua.


"Tuan, ini dia para pencuri itu. Kami berhasil meringkus mereka saat bertemu di jalan tadi, lalu kami bawa mereka kesini untuk mengatakan yang sejujurnya kepada tuan." ucap Keenan.


"Bagus Keenan! Kamu memang paling bisa diandalkan, saya suka dengan kinerja kamu yang selalu dapat menyelesaikan semuanya dengan cepat dan tepat!" ucap Albert memuji asistennya.


"Terimakasih tuan! Ada andil anak buah saya juga dalam hal ini, kalau saya sendiri saya tidak yakin bisa menangkap mereka tuan." kata Keenan.


"Ya, kamu dan anak buah kamu sama hebatnya. Kalian semua memang patut diacungi jempol, saya suka dengan kinerja kalian!" ucap Albert.


"Terimakasih tuan Albert!" ucap mereka serentak.


"Yasudah, saya mau bicara sebentar dengan orang-orang ini." kata Albert menunjuk ke arah para pencuri tersebut.


"Silahkan tuan!" ucap Keenan memberi jalan.


Lalu, Albert pun mendekati para pencuri yang sudah diikat dan terduduk di jalanan itu.


"Hey! Kalian kan yang sudah mencuri barang milik saya? Benar begitu?" ujar Albert bertanya kepada kelima orang tersebut.


Mereka hanya terdiam tak menjawab pertanyaan Albert dan membuat Keenan kesal.


"Heh, kalo ditanya tuh jawab bukan malah diem! Kalian mau ngaku atau kita bakal habisin kalian sekarang juga!" bentak Keenan.


"Sabar Ken! Jangan gunakan kekerasan dulu untuk saat ini!" ucap Albert menenangkan Keenan.


"Iya tuan, abisnya saya kesal banget sama mereka yang gak mau ngaku ini!" ucap Keenan.


"Tenang! Biar saya coba tanya sekali lagi, saya yakin mereka pasti mau mengakui apa yang sudah mereka lakukan!" ucap Albert.


"Baik tuan!" ucap Keenan menurut.


Keenan pun mundur ke belakang dan memberi kesempatan bagi Albert untuk bertanya kembali pada orang-orang tersebut.


Albert mulai berbicara, menanyakan kepada para pencuri itu agar mereka mau mengakui perbuatan yang sudah mereka lakukan sebelumnya.


"Sekali lagi saya tanya sama kalian, benar kan kalian yang sudah merampok dan membawa pergi barang milik saya di jalan tadi? Kalau kalian mau jawab jujur, maka saya akan maafkan kalian dan bebaskan kalian! Tapi sebaliknya, kalau kalian tidak jujur maka saya tentunya akan menghukum kalian seberat-beratnya!" ucap Albert.


Lagi-lagi kelima orang itu masih diam menunduk, namun kali ini mereka tampak cemas dan saling menatap satu sama lain seperti bertanya apa yang harus mereka lakukan saat ini.


"Cepat jawab!" bentak Keenan kembali emosi.


"I-i-iya pak, memang betul kami pelakunya. Tapi, kami cuma disuruh pak, kami tidak ada niatan untuk melakukan itu." jawab salah satu dari mereka dengan gugup.


"Disuruh? Baiklah, saya percaya itu. Lalu, siapa yang menyuruh kalian?" tanya Albert.


"Eee ka-kami tidak tahu siapa dia, pak." jawab orang itu lagi dengan tubuh gemetar.


"Jangan bohong!" bentak Keenan dengan lantang.


"Sa-saya tidak bohong pak, kami memang gak tahu siapa yang sudah menyuruh kami melakukan itu. Kami pun baru ketemu dia pagi ini, jadi mana mungkin kami sudah mengenal dia." ucap orang itu.


"Baiklah, saya percaya lagi dengan kalian. Tapi, kalian pasti tahu kan tempat kalian bertemu dengan orang itu dan seperti apa rupanya?" ucap Albert.


"I-i-iya pak, kami memang tahu. Baru saja kami dari sana sebelum akhirnya tertangkap dan dibawa kesini," jawab orang itu.


"Bagus! Kalau begitu, bawa kami ke tempat kalian bertemu dengan orang itu!" pinta Albert.


Orang itu melirik sejenak ke arah teman-temannya seperti meminta pendapat, barulah mereka kompak mengangguk setuju dan bersedia mengantar Albert serta yang lain menuju tempat orang yang menyuruh mereka.




Disisi lain, Nadira dan Chelsea tiba di salon tempat mereka akan mempercantik diri dan tampilan mereka sesuai ajakan Chelsea di rumah tadi.


Nadira tampak terpukau ketika sampai disana, ia memandangi gedung salon yang cukup mewah dan pastinya mahal itu.


"Chelsea, ki-kita mau nyalon disini? Kamu yakin?" tanya Nadira agak ragu.


"Iya dong mbak, tempat ini tuh paling bagus disini. Aku yakin mbak pasti gak bakal kecewa deh begitu keluar dari tempat ini nanti!" jawab Chelsea.


"Aku tahu, soalnya ini emang keren banget tempatnya. Tapi, pasti biayanya juga gak murah kan Chelsea?" ucap Nadira.

__ADS_1


"Aduh mbak! Lu itu sekarang udah jadi istri sultan loh, masa masih mikirin biaya?" ujar Chelsea.


"Kan yang sultan tuh mas Albert, bukan aku. Jadi, aku gak enak lah kalau hamburin uang mas Albert kayak gitu. Kenapa kita gak pergi ke salon yang biasa aja? Jangan yang terlalu mewah kayak gini!" ucap Nadira.


"Udah deh mbak, lu tenang aja ya! Pokoknya lu cukup terima beres nantinya, gue yakin kok pasti kak Albert bakalan suka dan gak mungkin dia bisa marah sama lu!" ucap Chelsea.


"Iya iya, aku ikut kamu aja." kata Nadira.


"Nah gitu dong mbak, yaudah yuk masuk mumpung belum terlalu ramai!" ucap Chelsea mengajak Nadira masuk ke dalam.


Nadira mengangguk saja, lalu mengikuti langkah kaki Chelsea masuk ke area salon tersebut.


Namun, tanpa diduga tiba-tiba saja mereka justru bertemu dengan Vanesa yang baru keluar dari dalam salon tersebut.


Sontak saja Nadira terperangah lebar, tak menyangka jika Vanesa bisa ada di tempat yang sama dengannya.


"Eh Nadira, ya ampun aku gak nyangka kita bisa ketemu disini loh!" ujar Vanesa.


"Pasti kamu mau nyalon juga ya? Wah keren deh kamu Nadira, enak banget ya bisa ke salon kayak gini pas kamu lagi hamil! Pasti Albert makin sayang deh sama kamu!" sambungnya.


Chelsea hanya diam seakan membiarkan Nadira saja yang berbicara dengan Vanesa.


"Vanesa, kamu kok bisa ada disini?" tanya Nadira terheran-heran.


"Loh kenapa Nadira? Oh kamu pikir aku ini wanita miskin yang gak mampu ya? Dan kamu juga gak ngira kalau aku ini bisa bayar biaya salon disini, oh ya ampun Nadira segitunya ya kamu! Sombong banget sih!" ujar Vanesa.


"Bukan begitu, aku kan cuma nanya, kamu kenapa bisa ada di tempat yang sama kayak aku!" ucap Nadira.


"Ini kan tempat umum Nadira, jadi bebas dong siapa aja boleh kesini. Gak cuma kamu atau wanita ini yang bisa datang ke salon ini, aku juga boleh!" ucap Vanesa tersenyum.


"Chelsea, kayaknya kita pulang aja deh. Aku gak mau satu tempat sama dia!" ucap Nadira.


"Kenapa sih mbak? Kita baru sampai loh, masa udah mau pulang aja?" tanya Chelsea.


"Kita undur aja ke salonnya, aku mau pulang. Tapi, kalau kamu masih pengen disini ya terserah kamu aja Chelsea!" jawab Nadira.


"Tapi mbak..."


Nadira menghiraukan ucapan Chelsea, ia berbalik lalu pergi begitu saja meninggalkan dua wanita itu.




Ya Albert, Keenan dan Rio kini telah tiba kembali di markas Darius alias tempat dimana Darius menyimpan barang milik Albert yang dicuri sebelumnya.


Mereka tak hanya bertiga, ada pula pada pencuri yang berhasil ditangkap Keenan sebelumnya. Kelima pencuri itu sudah menunjukkan dimana lokasi orang yang menyuruh mereka.


Darius melangkah keluar begitu mendengar suara teriakan ponakannya, ia tersenyum karena belum tahu jika Albert sudah berhasil menangkap anak buahnya.


"Albert Albert, ternyata kamu belum nyerah juga ya. Mau apa lagi kamu kesini Albert? Masih pengen tuduh saya, iya?" ucap Darius santai.


"Tidak paman, kali ini saya tidak akan menuduh paman. Tapi, saya ingin menangkap dan menghukum paman atas perbuatan yang sudah paman lakukan terhadap saya!" ujar Albert.


"Maksud kamu apa? Memangnya saya ini melakukan apa?" tanya Darius berakting.


"Tidak usah berpura-pura lagi paman, saya sudah berhasil temukan bukti akurat kalau paman lah yang mencuri barang milik saya!" jawab Albert.


"Hahaha... tadi pun kamu juga bilang begitu Albert, tapi nyatanya apa kamu gak berhasil kan temukan barang itu disini? Terus sekarang kenapa kamu malah balik lagi, ha? Memangnya kamu pikir dengan begitu, barang kamu yang hilang bisa tiba-tiba ada disini gitu?" ucap Darius.


"Pastinya paman, karena saya dan teman-teman saya akan memaksa paman untuk menyerahkan barang itu sekarang! Lebih baik paman menyerah dan akui saja perbuatan paman itu, mungkin saya akan berbesar hati memaafkan paman!" ujar Albert.


"Tidak akan Albert, karena saya memang bukan pelakunya!" ucap Darius tetap kekeuh.


"Baiklah, paman sendiri yang meminta saya melakukan kekerasan. Kalau begitu paman terimalah akibatnya karena sudah berani bermain-main dengan saya!" ucap Albert.


"Kamu pikir saya takut dengan kamu Albert? Tentu saja tidak, saya akan lawan kamu karena saya tidak bersalah!" ujar Darius.


"Paman yakin?" tanya Albert tersenyum smirk.


Albert memberi kode melalui tangannya agar para anak buahnya bisa ikut masuk membawa pencuri yang telah berhasil mereka tangkap.


Seketika mata Darius melotot saat melihat orang-orang suruhannya yang berhasil ditangkap oleh Albert dan dibawa kesana.


"Pantas saja Albert begitu yakin, ternyata mereka biangnya!" batin Darius.


"Bagaimana paman? Apa paman masih tidak mau mengakui perbuatan paman, setelah melihat mereka ada disini?" tanya Albert pada Darius.


"Saya yakin, paman pasti kenal dengan mereka. Begitupun mereka, mereka juga mengenali paman sebagai orang suruhan mereka. Bukan begitu paman?" sambungnya.


"Jangan asal bicara kamu Albert! Saya tidak kenal dengan mereka, jadi kamu jangan mengada-ada!" ucap Darius masih mengelak.

__ADS_1


"Sudahlah paman, hentikan sandiwara paman dan serahkan barang itu ke saya!" pinta Albert.


Darius menggeleng disertai senyuman kecemasan, "Saya tidak bersalah Albert, untuk apa saya menyerah kepada kamu?" ucapnya.


"Oke, saya terima tantangan paman!" ujar Albert.


"Tangkap mereka!" perintah Albert pada anak buahnya.


"Baik tuan!" ucap mereka serentak.


"Seraanggg...!!" teriak Darius memerintahkan anak buahnya menyerang.


Ya akhirnya kedua kelompok itu saling menyerang satu sama lain, Keenan dan Rio juga turun tangan untuk dapat meringkus anak buah Darius disana.


Sementara Albert mendekati pamannya, ia tersenyum smirk yang semakin membuat Darius merasa tertekan.


"Bersiaplah paman, paman akan merasakan siksaan yang sangat kejam!" ucap Albert.




Nadira akhirnya pulang menggunakan taksi, ia sungguh malas harus berada di tempat yang sama dengan Vanesa biarpun itu hanya sebentar.


Entah mengapa Nadira masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa Vanesa adalah wanita yang dihamili oleh suaminya sendiri.


"Aku gak bisa terus begini, aku gak mau ketemu sama Vanesa lagi!" ujarnya bersedih.


Tiba-tiba ponselnya berdering, ada telpon masuk dari Chelsea yang sepertinya cemas karena Nadira langsung pergi begitu saja tadi.


📞"Halo mbak! Lu dimana sih? Kok lu malah pulang sendiri? Ayolah mbak, lu balik lagi ya kesini!" ujar Chelsea panik.


📞"Gak mau Chelsea, aku gak bisa harus ngeliat wajah Vanesa lama-lama!" tolak Nadira.


📞"Kenapa sih mbak? Lu gausah kayak gitu dong! Lagian Vanesa juga udah gak ada nih, mending lu balik deh kesini!" ucap Chelsea.


📞"Aku udah terlanjur pergi jauh, kamu aja sendiri ya yang nyalon!" ucap Nadira.


📞"Tapi mbak, lu emangnya gak mau bikin kak Albert terpesona?" ujar Chelsea.


📞"Mungkin lain kali aja aku ke salonnya, untuk kali ini kamu sendiri dulu ya! Aku udah terlanjur gak suka disana, mood aku jelek sejak lihat Vanesa ada disana tadi!" ucap Nadira.


📞"Huh yaudah deh mbak, gapapa kalo mbak mau pulang. Tapi, mbak hati-hati ya! Gue gak mau aja kalo nanti kak Albert marah-marah sama gue, karena gue biarin lu pulang sendiri." kata Chelsea.


📞"Tenang aja Chelsea! Aku ini udah di taksi, aku bakal baik-baik aja kok sampai ke rumah!" ucap Nadira tersenyum.


📞"Syukur deh mbak! Kalo gitu gue matiin telponnya gapapa ya? Nanti begitu lu sampe rumah, kasih kabar ke gue ya!" ucap Chelsea.


📞"Oke, aku pasti kabarin kamu!" ucap Nadira.


Tuuutttt...


Chelsea memutus telponnya, Nadira menghela nafas untuk menenangkan diri dan menaruh ponselnya di dalam tas.


"Bu, kita ini mau kemana ya?" tanya supir taksi sembari menoleh ke belakang.


"Ah iya pak, kita ke rumah saya aja ya. Lokasinya di komplek harmoni indah," jawab Nadira.


"Baik Bu!" ucap supir itu.


Sang supir kembali fokus menyetir, namun sesekali masih melirik ke arah Nadira.


Nadira tak menyadari itu, ia menoleh ke luar jendela sambil merenung memikirkan Vanesa.


"Aku harus gimana ya? Sebenarnya aku gak tega ngeliat Vanesa begitu, aku juga tahu kalau Vanesa korban dari kelakuan buruk tuan Albert. Tapi, aku gak rela dan gak akan biarin Vanesa rebut tuan Albert dari aku!" batin Nadira.


Tiba-tiba saja taksi itu berhenti di sebuah tempat yang sepi dan gelap, Nadira pun kaget dan terheran-heran saat melihat ke sekeliling bahwa ini bukanlah daerah perumahannya.


"Loh pak, kok berhenti sih? Ada apa ya?" tanya Nadira kebingungan.


"Enggak tahu Bu, mendadak mesin mobilnya mati. Sebentar ya Bu, saya cek dulu keluar. Ibu tunggu disini aja dulu!" jawab supir itu.


"Iya pak," ucap Nadira.


Supir itu keluar untuk memeriksa mobilnya, sedangkan Nadira tetap disana namun merasa cemas apalagi di daerah itu sangat sepi.


Tanpa diduga, sang supir membuka pintu penumpang dan mengancam Nadira menggunakan pisau kecil di tangannya.


"Heh! Serahin tas lu ke gue, atau gue gorok leher lu!" ancamnya.


Nadira yang terkejut hanya bisa diam, ia menahan nafas saat pisau kecil itu diarahkan ke lehernya dan hampir menyentuhnya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2