Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Vanesa beraksi


__ADS_3

"Kamu salah Nadira! Bukan aku yang merencanakan semua ini, tapi suami kamu. Dia itu benar-benar licik Nadira, dia bikin aku gak berdaya dan setuju dengan rencananya ini." ucap Vanesa.


"Rencana apa yang kamu maksud?" tanya Nadira.


"Albert sengaja menukar bayi kita, dia gak mau kamu sedih kalau tau ternyata anak yang kamu lahirkan itu sudah meninggal." jawab Vanesa.


Deg!


Nadira tersentak kaget mendengar ucapan Vanesa, dadanya terasa sesak dan air mata lolos begitu saja membasahi pipinya serta tubuhnya langsung terasa lemas saat itu juga.


"Kamu bohong Vanesa! Jangan coba-coba pengaruhi aku! Galen itu anakku, bukan kamu!" bentak Nadira.


"Ya ya ya, itu dia Nadira. Albert sudah berhasil mencuci otak kamu, dia itu benar-benar jahat dan licik!" ucap Vanesa.


"Cukup Vanesa! Kamu pergi sekarang juga dan jangan ganggu aku!" pinta Nadira.


"Okay! Kali ini aku akan pergi, tapi kamu pikirkan kata-kata aku tadi ya Nadira! Yang kamu kira baik, gak selamanya baik, begitupun sebaliknya." ucap Vanesa sambil tersenyum.


Nadira hanya diam memalingkan wajahnya, Vanesa pun melangkah pergi menjauh dari Nadira.


"Maksudnya apa sih?" batin Nadira.


Pukkk...


"Nadira!"


Lagi-lagi Nadira dibuat terkejut, kali ini ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang dan menyebut namanya.


Nadira pun menoleh untuk memastikan siapa yang ada disana, dan rupanya itu adalah Sabrina alias teman sekampusnya.


"Lu ngapain berdiri disini sendirian? Gue lihat-lihat lu kayak lagi bengong, mikirin apaan sih? Lu punya masalah ya sama suami lu? Atau mungkin ada masalah lain? Cerita aja sama gue!" tanya Sabrina.


"Hah? Eee gak kok, aku gak ada masalah apa-apa. Kamu gak perlu khawatir, tenang aja!" ucap Nadira.


"Oh gitu, ya syukur deh! Terus, ngapain lu disini bengong aja kayak tadi?" ucap Sabrina.


"Biasalah, nunggu jemputan." jawab Nadira.


"Yaudah, sembari nunggu gimana kalau kita ke kantin dulu sebentar? Ya minum-minum dulu lah sambil ngobrol bareng yang lain," usul Sabrina.


"Gak bisa Sab, aku udah ada janji sama suami aku hari ini. Dia mau ajak aku pergi buat ngobrolin sesuatu yang penting, jadi sorry ya kali ini aku tolak lagi usulan kamu!" ucap Nadira.


"Iya gapapa, suami memang lebih penting. Tapi, emang kalian mau ngobrolin apa?" tanya Sabrina.


"Belum tahu, kan suami aku yang mau ngobrol. Jadi, dia yang tahu obrolannya tentang apa." jawab Nadira.


"Oh iya ya, hehe.." ujar Sabrina sambil nyengir.


"Aku masih bingung, tadi itu nyata apa enggak sih? Atau aku cuma berkhayal ketemu Vanesa?" gumam Nadira dalam hati.


Nadira masih penasaran dengan apa yang tadi ia alami disana.


"Apa aku coba aja tanya ke Sabrina? Kalau dia juga lihat Vanesa, itu artinya aku emang gak lagi mengkhayal tadi." batin Nadira.


Nadira pun menatap Sabrina dan bertanya mengenai kebingungannya.


"Umm Sab, aku boleh tanya sesuatu gak?" ucap Nadira.


"Hah? Tanya apa?" ucap Sabrina penasaran.


"Tadi itu pas kamu samperin aku, kamu ada lihat perempuan gak yang habis ngobrol sama aku?" tanya Nadira pada Sabrina.


"Hah? Perempuan? Perempuan siapa?" ujar Sabrina terheran-heran.


"Eee tadi kan sebelum kamu datang, aku itu lagi bicara sama perempuan. Kamu lihat gak perempuan itu tadi?" ucap Nadira.


"Enggak tuh, tadi gue cuma lihat lu doang disini. Mungkin pas gue datang, tuh cewek udah pergi duluan kali." ucap Sabrina.


"Umm, iya kali ya.." ucap Nadira.


"Emang kenapa sih?" tanya Sabrina penasaran.


"Gak ada kok, mau nanya aja." jawab Nadira.


"Okelah!" ucap Sabrina tersenyum tipis.


"Apa tadi itu aku cuma halu ya? Tapi, kok kayak nyata sih?" batin Nadira.



Vanesa masih mengintip dari mobilnya, ia tersenyum memandangi Nadira yang sedang kebingungan di depan sana.


"Aku udah berhasil bikin Nadira bingung harus percaya sama siapa, lambat laun dia pasti juga bakal tau kalau Galen itu anak aku dan bukan anak dia. Setelah itu, hubungan dia sama Albert pasti bakal berakhir dan Galen juga akan kembali ke pelukan aku." ucap Vanesa.


Setelah dirasa puas, Vanesa pun memakai kembali kacamatanya dan meminta sang supir taksi untuk segera melaju.


"Pak, ayo jalan sekarang!" pinta Vanesa.


"Baik Bu!" ucap supir itu.




"Kamu salah Nadira! Bukan aku yang merencanakan semua ini, tapi suami kamu. Dia itu benar-benar licik Nadira, dia bikin aku gak berdaya dan setuju dengan rencananya ini." ucap Vanesa.


"Rencana apa yang kamu maksud?" tanya Nadira.


"Albert sengaja menukar bayi kita, dia gak mau kamu sedih kalau tau ternyata anak yang kamu lahirkan itu sudah meninggal." jawab Vanesa.

__ADS_1


Saat di mobil, Nadira masih terus memikirkan perkataan Vanesa mengenai putranya itu.


Entah mengapa Nadira tak bisa melupakan kata-kata tersebut walau ia masih ragu apakah tadi ia hanya berkhayal atau memang itu benar-benar terjadi.


"Aku kok jadi kayak orang linglung gini sih? Masa antara real atau enggak aja aku gak bisa bedain?" batin Nadira.


Merasa istrinya sedang memikirkan sesuatu, Albert pun menoleh dan mencolek pipi Nadira sambil tersenyum.


"Hey! Kamu kenapa cantik?" tanya Albert.


"Aku tadi ketemu sama Vanesa, dia samperin aku sewaktu aku lagi nunggu kamu datang." jawab Nadira tanpa melihat ke arah Albert.


"Hah??" Albert terkejut dan reflek menginjak rem secara mendadak.


Ciiitttt...


"Kamu sakit apa gimana sih? Vanesa itu udah meninggal, mana mungkin dia bisa temuin kamu di depan kampus?" ujar Albert tak percaya.


"Kenyataannya emang begitu mas, aku ketemu sama dia tadi. Dia juga bicara banyak sama aku, dia ungkap semua kebohongan kamu selama ini sama aku." ucap Nadira.


"Apa maksud kamu? Kebohongan apa yang kamu maksud?" tanya Albert pura-pura tak mengerti.


"Aku yakin kamu pasti tahu mas, jadi aku gak perlu susah-susah menjelaskan ke kamu." jawab Nadira.


"Nadira sayang, kamu itu cuma mengkhayal! Gak mungkin orang yang sudah meninggal bisa datang lagi kesini, apalagi dia sampai bicara sama kamu. Udah ya sayangku, kamu jangan memikirkan tentang itu!" ucap Albert.


"Menurut aku itu bukan khayalan, aku bisa bedain mana nyata dan mana yang enggak. Tadi itu benar-benar Vanesa dan dia belum meninggal, sekarang kamu tolong jelasin ke aku semuanya mas! Kamu gak perlu bohong lagi!" ucap Nadira.


Albert terdiam menundukkan wajahnya, ia berpikir keras apakah mungkin sekarang saatnya untuk membongkar semua kebohongannya itu.


"Mas, kalau kamu gak mau jujur sekarang, kamu jangan harap aku bakal terus bertahan untuk tinggal di rumah kamu! Aku gak mau punya suami tukang bohong kayak kamu!" ucap Nadira.


"Hey hey! Kamu kok bilangnya begitu sih? Jangan dong sayang!" ucap Albert ketakutan.


"Ya makanya kamu jujur sama aku! Kalau kamu mau jujur, aku malahan bangga banget sama kamu mas!" ucap Nadira.


"Maaf sayang! Tapi aku—"


"Kenapa? Kamu masih mau bohongin aku? Yaudah, kalo gitu aku mau turun disini aja. Aku gak akan ikut kamu lagi pulang ke rumah, mulai saat ini kita stop berhubungan!" potong Nadira.


"Gak bisa gitu dong, kamu itu istri aku. Kamu harus ikut aku pulang ke rumah!" ucap Albert.


"Kalau kamu masih anggap aku sebagai istri, ayo dong kamu jujur sama aku! Apa susahnya sih tinggal jujur aja dan bilang kalau Vanesa emang masih hidup?" ucap Nadira.


"Iya iya, okay! Vanesa memang masih hidup, dia belum meninggal. Kuburan yang waktu itu cuma kuburan kosong, saya sengaja bikin kuburan itu supaya kamu percaya kalau dia sudah meninggal. Gimana? Kamu puas sekarang?" ujar Albert.


Nadira tersentak kaget mendengar penjelasan Albert, ia menggelengkan kepalanya lalu membuang muka.


"Saya minta maaf sama kamu! Saya udah bohongin kamu selama bertahun-tahun soal kematian Vanesa, saya sebenarnya gak ada niat buat lakuin ini semua sayang." ucap Albert.


"Terus, apa maksud kamu bilang ke aku kalau Vanesa udah meninggal?" tanya Nadira.


Pria itu mengambil nafas sejenak, lalu mendekatkan wajahnya ke Nadira.


"Saya dan Vanesa sudah membuat perjanjian tidak tertulis, kami sepakat bahwa kami akan menukar identitas bayi dia dan kamu. Jadi, Galen itu memang anak Vanesa, sedangkan anak kandung kamu alias putri kita, itu sudah meninggal dunia sejak pertama kali dia dilahirkan." jelas Albert.


"Apa??" Nadira syok berat mendengar penjelasan suaminya, air mata mulai bercucuran membasahi pipinya dan tubuhnya pun lemas seketika.


"Saya minta maaf Nadira! Saya lakuin ini semua demi kebaikan kamu, saya gak mau bikin kamu terluka!" ucap Albert.


"Lalu, makam anak Vanesa itu..."


"Itu makam putri kita," potong Albert.


Nadira semakin menangis histeris dan membuat Albert tidak tega menyaksikan itu.


"Kamu jahat mas! Kamu benar-benar jahat! Tega kamu ya bohongin aku selama lima tahun ini! Aku kecewa sama kamu!" ucap Nadira.


Albert hanya bisa menunduk menerima berbagai umpatan Nadira untuknya.


Nadira langsung membuka pintu dan keluar dari mobil itu.


"Hey Nadira! Kamu mau kemana?" ucap Albert berusaha menahan Nadira dengan mencekal lengannya.


"Aku mau pergi mas, aku kecewa sama kamu!" jawab Nadira sembari menyingkirkan tangan Albert dari lengannya.


Nadira pun pergi meninggalkan Albert dengan cepat.


"Nadira tunggu!" teriak Albert.


Albert pun menyusul turun dari mobil, berusaha mengejar Nadira yang sudah berlari lebih dulu.


"NADIRAAA!!"


Nadira tak menggubrisnya, ia tetap saja berlari sembari meneteskan air mata.


Albert juga tidak mau kalah, ia berusaha sekuat tenaga mengejar Nadira.


"Taksi!" Nadira berteriak menyetop taksi dan masuk ke dalamnya.


"Pak, ayo cepat jalan!" ucap Nadira.


"Kita mau kemana Bu?" tanya si supir.


"Jalan aja!" perintah Nadira.


"Baik Bu!"


Supir itu segera melajukan taksinya, sesaat sebelum Albert berhasil mendekatinya.

__ADS_1


"Hey tunggu! Nadira jangan pergi! NADIRAAA!!"


Usahanya sia-sia, Nadira telah melaju pergi menjauh dari Albert.


"AAARRGGHH!!!" teriak Albert.


"Semua ini gara-gara Vanesa! Dia mau apa sih sebenarnya? Kenapa dia harus datang ke kampus dan temuin Nadira?" gumam Albert.



Nadira masih terus menangis di dalam taksi, ia membayangkan masa-masa indahnya bersama Galen yang ternyata bukan anak kandungnya.


"Kamu benar-benar jahat mas! Kamu tega udah bohongin aku selama ini! Kamu mengatakan Galen itu anak aku, tapi nyatanya bukan. Kamu itu manusia paling jahat!" batin Nadira.




Vanesa tiba di depan rumah Albert, memandang sejenak ke arah sana dengan senyum tipis di bibirnya dan mengirim pesan pada seseorang.


Aku udah sampe!


Setelah mengirim pesan tersebut, Vanesa pun langsung turun dari mobil yang ia tumpangi dan melangkah ke dekat gerbang.


Wanita itu menghampiri seorang penjaga gerbang disana seraya membuka kacamatanya dan membuat penjaga itu ketar-ketir.


"Permisi! Saya mau masuk, tolong kamu cepat bukakan pintu untuk saya!" perintah Vanesa.


"Maaf! Tapi, buat apa kamu datang lagi kesini? Tolong jangan cari masalah, saya gak mau ada keributan lagi di dalam rumah ini! Lebih baik kamu pergi aja!" ucap Arul.


"Kamu gausah banyak bicara! Lakukan aja apa yang saya minta!" ucap Vanesa.


"Gak bisa! Saya disini punya hak untuk melarang kamu masuk ke dalam!" ucap Arul dengan tegas.


"Okay! Kalo gitu saya bakal teriak dari sini supaya orang di dalam sana pada keluar," ucap Vanesa.


"Tolong jangan cari masalah!" pinta Arul.


"Saya gak mau cari masalah, saya cuma mau masuk ke dalam ketemu sama orang disana. Kalau kamu halangi saya, berarti kamu yang cari masalah sama saya!" ucap Vanesa.


"Baiklah, saya akan buka pintunya. Tapi, kamu harus janji untuk tidak bikin masalah disini!" ucap Arul.


"Ya, saya berjanji!" ucap Vanesa sambil tersenyum.


Arul pun membuka pintu gerbangnya, mempersilahkan Vanesa untuk masuk ke dalam walau dengan perasaan takut.


"Silahkan masuk!" ucap Arul.


"Terimakasih!" ucap Vanesa singkat.


Vanesa langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam halaman rumah itu.


Ia memakai kembali kacamatanya, berjalan perlahan menuju teras rumah Albert.


Sesampainya disana, ia pun dihadang oleh para penjaga yang dipimpin Liam.


"Mau apa kamu kesini?" tanya Liam dingin.


"Saya mau ketemu orang rumah, ada kan?" jawab Vanesa santai.


"Saya gak akan izinin kamu buat masuk! Arul, kenapa kamu bawa dia kesini?" ujar Liam.


"Maaf bos! Tapi, dia udah janji buat gak bikin masalah lagi." ucap Arul.


"Bodoh! Kenapa kamu percaya sama wanita seperti dia?" ucap Liam.


Arul hanya menunduk ketakutan.


"Hahaha, kamu gausah ketar-ketir gitu Liam! Masa cuma berhadapan dengan satu orang wanita seperti aku aja kamu takut?" ucap Vanesa.


"Saya tidak takut, saya hanya ingin menjaga kedamaian di rumah ini. Jadi, sebaiknya kamu pergi sebelum ada keributan disini!" ucap Liam.


"Kalau saya gak mau pergi gimana? Saya bakal tetap disini, sampai Albert atau siapapun di dalam keluar menemui saya." ucap Vanesa.


"Kamu—"


"Ada apa ini?"


Liam menghentikan ucapannya dan menoleh ke belakang saat sebuah suara terdengar begitu saja.


Mereka semua pun terkejut melihat Abigail muncul dari dalam rumahnya.


"Nyonya? Maaf nyonya besar! Tapi, mbak Vanesa ini memaksa masuk dan ingin bertemu dengan orang rumah." ucap Liam gugup.


"Vanesa?" ucap Abigail dengan tatapan mengarah pada Vanesa.


Vanesa langsung tersenyum dan membuka kacamatanya, ia membungkuk menyapa Abigail dengan sopan.


"Halo tante! Apa kabar?" ucap Vanesa.


"Tidak usah sok baik kamu! Cepat katakan apa mau kamu datang kesini!" ujar Abigail.


"Tenang tante! Aku kesini cuma mau jemput anak aku kok," jawab Vanesa sambil tersenyum.


Deg!


Sontak Abigail melotot lebar ke arah Vanesa akibat perkataan wanita itu tadi.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2