Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Akting Vanesa


__ADS_3

Keenan tengah bersama adiknya yang baru pulang sekolah itu, mereka saat ini sudah berada di dalam mobil dalam perjalanan menuju ke rumah.


Akan tetapi, saat di tengah jalan tiba-tiba ponsel milik Keenan berdering dan mengharuskan ia untuk mengangkatnya sejenak.


Drrttt...


Drrttt...


Keenan pun melipir ke pinggir, menjawab telpon dari Albert karena ia khawatir ada hal penting yang ingin disampaikan Albert padanya saat ini.


Sementara Celine hanya terdiam memperhatikan abangnya.


📞"Halo tuan! Ada apa ya tuan telpon saya? Kalau tuan butuh bantuan, saya akan segera datang kesana begitu saya selesai mengantar Celine pulang ke rumah!" ucap Keenan.


📞"Tidak Keenan. Saya hanya ingin sampaikan sama kamu, segeralah cari orang yang pantas menggantikan Vanesa di kantor saya! Karena saya cukup kewalahan harus mengerjakan cukup banyak pekerjaan disini," pinta Albert.


📞"Baik tuan! Tapi, apa tuan tidak mau memakai saran saya sebelumnya untuk menjadikan Chelsea sebagai pengganti Vanesa? Karena menurut saya, Chelsea itu sudah pantas kok tuan." kata Keenan.


📞"Yang menurut kamu pantas, belum tentu menurut saya pantas juga. Chelsea itu masih terlalu dini untuk diangkat sebagai sekretaris di perusahaan saya, dia masih harus banyak belajar. Sudahlah Keenan, kamu coba cari orang lain yang sudah berpengalaman dalam bidang ini! Untuk mengangkat performa perusahaan ini lagi," ucap Albert.


📞"Iya tuan, saya akan usahakan secepatnya untuk dapat mencari pengganti Vanesa. Tapi, saya butuh waktu tuan!" ucap Keenan.


📞"Ya, saya beri kamu waktu tiga hari. Lebih cepat lebih bagus," ujar Albert.


📞"Siap tuan!" ucap Keenan patuh.


Tuuutttt...


Setelah telpon dimatikan, Keenan pun tampak berpikir keras bagaimana caranya ia bisa mendapat pengganti Vanesa dengan cepat agar Albert tidak terus-terusan menekannya.


"Huft, saya harus cari kemana ya? Apa saya coba minta bantuan sama teman saya?" batinnya.


Keenan melirik ke arah Celine, ia heran melihat adiknya tengah kebingungan sembari memandangi wajahnya. Sontak saja Keenan menegur Celine dan mencolek pipi gadis itu untuk menyadarkannya dari lamunan.


"Heh! Kamu ngelamunin apaan sih?" tanya Keenan terheran-heran.


"Ah enggak kok. Gue tadi keinget sesuatu aja pas lu sebut nama Vanesa, gue kayak pernah dengar gitu, tapi lupa dimana. Soalnya tuh nama gak asing banget di telinga gue," jawab Celine.


"Ohh kebetulan aja kali, nama Vanesa kan banyak gak cuma satu. Mungkin teman lu ada yang namanya Vanesa," ucap Keenan.


"Seingat gue gak ada sih bang, tapi entahlah." kata Celine masih terus berpikir keras.


"Yaudah, nanti diingat-ingat lagi aja kalo udah ingat! Sekarang kita lanjut pulang yuk! Abis itu gue harus lanjut kerja lagi, dapat tugas khusus nih dari bos gue barusan." ujar Keenan.


"Oh, tadi yang telpon kak Albert?" tanya Celine.


"Iya sayang," jawab Keenan sambil tersenyum.


Celine manggut-manggut saja, lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela. Keenan pun menggeleng dan mulai menyalakan mesin mobilnya.


Tak lama setelah mereka kembali melaju, Celine tiba-tiba teringat sesuatu mengenai Vanesa yang pernah ia dengar sebelumnya.


"Ah iya bang, gue ingat sekarang!" ucap Celine.


"Hah? Ingat apa?" tanya Keenan bingung.


"Gue pernah dengar nama Vanesa disebut-sebut sewaktu gue disekap sama si Harrison itu, kalau gak salah sih ada anak buahnya yang sebut nama Vanesa itu. Tapi, gue gak tahu pasti sih siapa Vanesa yang dimaksud." jelas Celine.


"Oh ya, terus mereka waktu itu juga sebutnya pake tambahan kata non, bisa jadi si Vanesa ini anak bos mereka alias si Harrison itu." sambungnya.


Seketika wajah Keenan berubah, ia berpikir keras setelah mendapat informasi berharga dari Celine barusan. Keenan pun mempunyai pikiran apakah mungkin Vanesa anak Harrison adalah Vanesa yang sama dengan mantan sekretaris Albert yang berusaha menghancurkan perusahaannya.


"Apa emang betul Vanesa yang dimaksud Celine itu sama dengan Vanesa sekretaris tuan Albert? Kalau iya, berarti akar dari semuanya itu si Harrison dong!" gumam Keenan dalam hati.


•


•


Disisi lain, Nadira tiba di rumah ayah dan ibunya bersama Liam sang pengawal pribadinya yang memang ditugaskan oleh Albert untuk selalu mengawasi kemanapun Nadira pergi.

__ADS_1


"Pak Liam, kamu tunggu disini aja ya! Saya gak lama kok di dalam," pinta Nadira.


"Baik Bu Dira!" ucap Liam menurut.


Nadira pun turun dari mobil, berjalan ke arah rumah sang ayah dengan membawa tentengan rantang berisi makanan yang ia buat sendiri.


TOK TOK TOK...


"Bu, ayah, ini aku Nadira. Assalamualaikum," ucap Nadira seraya mengetuk pintu.


Ceklek...


Pintu terbuka, Nadira langsung tersenyum renyah mengira yang muncul adalah ayah atau ibunya. Namun, dugaannya salah karena ternyata orang dibalik pintu itu adalah Cakra.


"Waalaikumsallam, halo Nadira! Senang bisa bertemu dengan kamu lagi. Sungguh ini adalah hari yang luar biasa bagi saya!" ucapnya.


"Cakra? Kamu ngapain disini?" tanya Nadira heran.


"Enggak ngapa-ngapain kok, seperti biasa aku cuma lagi main-main aja disini. Asal kamu tahu Nadira, biarpun kita sudah berjarak sekarang dan gak sedekat dulu, tapi aku tetap selalu main kesini loh sama ayah dan ibu kamu." jelas Cakra.


"Terus, sekarang ayah sama ibu dimana? Mereka ada di dalam kan?" tanya Nadira.


"Kamu tenang aja! Mereka ada di dalam kok, tadi aja aku abis bicara sama mereka. Eh ya, kamu kesini sendirian? Mana suami kamu yang udah berumur itu?" ujar Cakra.


"Tuan Albert lagi kerja, dia memang berumur tapi bukan pemalas seperti kamu. Sudahlah, kamu minggir sekarang karena aku mau masuk ke dalam!" ucap Nadira kesal.


"Iya iya..." Cakra menurut lalu memberi Nadira jalan untuk masuk.


Nadira pun melangkah masuk dengan cepat, Cakra menggunakan kesempatan itu untuk menghirup aroma tubuh Nadira.


"Mmhhh harumnya luar biasa!" ujar Cakra.


***


"Ayah, ibu!" Nadira tersenyum senang begitu melihat kedua orangtuanya disana.


Wanita itu bergegas menghampiri ayah serta ibunya, lalu memeluk mereka sambil menangis.


"Iya Bu, aku juga senang karena sekarang tuan Albert gak melarang aku lagi buat datang kesini temuin ibu dan ayah!" ucap Nadira.


Mereka melepas pelukan, Suhendra yang sedari tadi terdiam kini menangkup wajah putrinya disertai air mata yang perlahan keluar. Suhendra masih menyesali perbuatannya karena sudah menggunakan Nadira sebagai alat untuk melunasi hutang-hutangnya pada Albert.


"Nadira, ayah minta maaf ya sama kamu! Ayah telah gagal jaga kamu, sampai kamu bisa dibawa pergi oleh tuan Albert. Ayah ini benar-benar tidak berguna!" ucap Suhendra.


"Ayah gak boleh bilang begitu! Lagian semuanya kan udah masa lalu, gausah dipikirin lagi ya! Sekarang juga tuan Albert udah banyak berubah, dia gak kasar lagi sama aku. Dia sekarang seperti udah anggap aku sebagai istrinya, bukan lagi hanya pelayanannya." kata Nadira.


"Syukurlah nak! Ayah ikut senang dengarnya!" ucap Suhendra mengusap rambut Nadira.


"Yaudah, ayah sama ibu jangan nangis lagi! Nih Dira udah bawain makanan buat ayah dan ibu, kita makan bareng-bareng yuk!" ucap Nadira tersenyum.


"Yuk sayang!" ucap Suhendra setuju.


Disaat mereka hendak pergi ke meja makan, Cakra muncul menghampiri ketiganya sambil tersenyum yang entah bermaksud apa.


"Om, tante, saya pamit dulu ya? Sekarang kan sudah ada Nadira disini, jadi om sama tante gak kesepian lagi deh. Selain itu, saya juga masih ada urusan lain yang harus diurus." kata Cakra.


"Oalah begitu toh, padahal baru aja kami mau ajak nak Cakra makan bareng disini." kata Suhendra.


"Gapapa om, lain kali aja kita makan bareng. Yasudah ya om dan tante, saya pamit dulu! Nadira, aku pulang ya? Assalamualaikum," ucap Cakra.


"Waalaikumsallam," ucap Nadira dan kedua orangtuanya bersamaan.


Setelah itu, Cakra pun melangkah pergi keluar dari rumah Suhendra. Pria itu tampaknya tidak benar-benar ingin pulang, karena ia malah menghubungi rekannya dan mengatakan jika Nadira saat ini ada di rumah ayahnya.


Sementara Nadira sendiri kembali melanjutkan langkahnya menuju meja makan bersama kedua orangtuanya, mereka tak menaruh curiga sama sekali terhadap Cakra karena mereka mengira jika Cakra adalah orang baik-baik.


•


•

__ADS_1


Singkat cerita, sesudah menikmati makan siang bersama dengan ayah dan ibunya, kini Nadira hendak pergi untuk kembali ke rumahnya karena hari pun sudah sore.


Nadira pamit pada kedua orangtuanya, lalu bergegas menuju mobil dan meminta Liam untuk segera melaju pulang. Nadira khawatir jika Albert ternyata sudah lebih dulu pulang, pastinya Albert akan kecewa saat tahu di rumah belum ada dirinya.


Di dalam perjalanan, tiba-tiba saja Liam menginjak rem ketika seorang perempuan mencegat mobil mereka di tengah jalan.


Ciiitttt...


Tiiinnnn....


"Pak, ada apa sih? Kenapa ngerem mendadak?" tanya Nadira dengan wajah kesal.


"Maaf Bu! Itu di depan ada wanita aneh yang cegat mobil kita, kalau saya gak injak rem nanti dia bisa ketabrak Bu." jawab Liam.


"Hah??" Nadira terkejut, lalu mengarahkan pandangan pada sosok wanita yang berdiri di luar sana.


"Dia siapa ya?" gumam Nadira bertanya-tanya.


"Entahlah Bu, saya juga kurang tahu. Apa perlu saya turun sekarang lalu usir dia, Bu?" tanya Liam pada majikannya itu.


"Tidak pak, biar aku aja yang turun. Sepertinya wanita itu sedang hamil dan butuh bantuan. Kamu tunggu disini saja!" pinta Nadira.


"Baik Bu! Tapi, hati-hati ya Bu! Biasanya yang beginian itu cuma modus doang," ucap Liam.


"Tenang aja! Saya bisa bedain kok yang mana modus dan asli," ucap Nadira.


Liam mengangguk saja membiarkan Nadira keluar dari mobil dan menemui wanita yang masih berdiri di luar sana, namun tentu saja Liam tetap memperhatikan Nadira dari dalam mobilnya.


"Hey! Kamu siapa?" Nadira bertanya pada wanita tersebut sembari melangkah menghampirinya.


"Kamu tidak kenal saya? Tapi, saya rasa kamu masih ingat dengan surat yang saya berikan waktu itu, Nadira." kata si wanita sambil tersenyum.


"Surat? Surat apa?" tanya Nadira bingung.


"Coba kamu ingat-ingat lagi, Nadira! Saya yakin kamu tidak akan melupakan begitu saja hal yang bikin kamu kecewa dengan suami kamu, lalu pergi dari rumah selama beberapa hari." jawab si wanita memberikan teka-teki pada Nadira.


Nadira terdiam sejenak, pikirannya menuju pada kejadian beberapa waktu lalu ketika ia kabur dari rumah setelah membaca sebuah pesan yang berisi keterangan hamil serta beberapa foto mesra Albert dengan sekretarisnya.


"Jadi, kamu ini sekretaris tuan Albert?" Nadira berhasil mengingatnya dan langsung bertanya pada wanita itu.


"Syukurlah kamu ingat Nadira! Ya, saya emang sekretaris pak Albert dan nama saya Vanesa. Senang dapat bertemu dengan kamu disini, Nadira!" jawab wanita itu sambil tersenyum smirk.


"Mau apa kamu cegat mobil saya begitu?" tanya Nadira agak sinis.


"Santai Nadira! Saya hanya ingin bicara dari hati ke hati dengan kamu, saya yakin kamu pasti bisa mengerti masalah saya karena kita ini sama-sama wanita! Asal kamu tahu Nadira, saya sudah dipecat dari kerjaan saya setelah saya hanya menunjukkan fakta bahwa saya hamil karena ulah pak Albert. Sekarang saya sudah kehilangan pekerjaan saya, ladang uang saya. Saya bingung harus cari uang kemana lagi untuk menghidupi anak saya ini, sedangkan ayahnya saja tidak mau bertanggung jawab!" ucap Vanesa memulai dramanya.


Nadira terdiam kebingungan, ia merasa sangat heran ketika melihat perut Vanesa yang mulai membesar, padahal sebelumnya Albert telah memberitahu padanya kalau Vanesa sudah menggugurkan bayi itu.


"Bagaimana bisa perut kamu membesar seperti ini? Bukannya kamu sudah menggugurkan bayi itu?" tanya Nadira.


"Tidak Nadira, saya ini bukan tipe orang yang bisa setega itu untuk menggugurkan bayi. Bayi yang saya kandung ini tidak bersalah, dia juga berhak untuk hidup seperti bayi-bayi yang lain. Ya saya tahu ayahnya sendiri yang memaksa saya untuk menggugurkan bayi ini, tetapi naluri saya sebagai seorang ibu tak membenarkan perbuatan tersebut!" jelas Vanesa.


"Berarti selama ini kamu masih mengandung anak tuan Albert?" tanya Nadira.


"Iya Nadira, itu sebabnya sekarang saya temui kamu. Saya ingin meminta bantuan sama kamu, kamu lihat sendiri kan perut saya semakin membesar dan butuh biaya yang tidak sedikit untuk mengurus anak ini. Tapi, ayahnya tetap tak perduli dengan dia dan malah mengusir saya setiap kali saya mendekatinya!" jawab Vanesa.


"Maaf! Saya gak bisa bantu kamu, semua keputusan ada di tangan tuan Albert. Jadi, kamu temui saja dia dan bicara langsung dengannya! Saya harus pergi sekarang, permisi!" ujar Nadira.


"Tunggu Nadira!" ucap Vanesa menahannya.


"Ada apa lagi Vanesa? Saya kan sudah bilang, saya gak bisa bantu kamu! Lagipun, disini yang sedang hamil bukan cuma kamu, tapi saya juga. Dan kehamilan kamu itu bukan urusan saya, kamu bicara saja dengan tuan Albert!" tegas Nadira.


"Iya, saya mengerti kamu juga sedang mengandung anak Albert seperti saya. Tapi, nasib kita berbeda Nadira. Kamu enak karena mendapat perhatian lebih dari suami kamu, sedangkan saya? Saya sama sekali tidak diperhatikan olehnya, justru saya malah diusir dan diperlakukan layaknya seorang penjahat! Padahal saya hanya ingin meminta pertanggungjawaban dari Albert, apa kamu masih mau membela dia Nadira? Dimana sisi kewanitaan kamu?" ujar Vanesa.


Nadira yang bingung memilih memalingkan wajah dari Vanesa, lalu terdiam sejenak untuk berpikir.


Sementara itu, dari kejauhan tampak Cakra tengah memperhatikan mereka sambil senyum-senyum sendiri.


"Hahaha... akting kamu memang jos Vanesa! Pasti Nadira yang hatinya lembut itu tidak tega melihat kondisi kamu sekarang, dan dia akan bantu kamu untuk mendekati Albert lagi!" batin Cakra.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2