
Hari sudah semakin larut dan gelap, cahaya bulan pun perlahan memudar tertutupi awan di malam hari yang membuat suasana makin dingin. Terlebih Nadira juga masih belum mau bicara pada Albert, setelah peristiwa mengerikan yang baru saja ia alami beberapa waktu lalu di kamar.
Sudah hampir dua jam Albert mencoba untuk membujuk Nadira masuk ke dalam, akan tetapi wanita itu tetap kekeuh tak mau mendengarkan perkataannya karena sedang emosi. Albert pun bingung harus melakukan apa, ia sadar yang tadi ia lakukan pada Nadira adalah salah karena ia terlalu mudah terbawa emosi.
Namun, hal itu terjadi karena Albert sangat tidak ingin Nadira pergi darinya, ia sudah terlanjur sayang pada Nadira dan ingin wanita itu selalu bersamanya sampai maut memisahkan.
"Nadira, ayolah jangan ngambek terus! Saya sadar apa yang saya lakukan tadi itu salah, karena saya terbawa emosi Nadira! Kamu mau kan maafin saya Nadira? Ini sudah malam, gak baik buat kesehatan kamu dan calon bayi kita!" ucap Albert pelan.
Ini adalah kali pertama Albert membujuk wanita selain ibu dan adiknya, karena biasanya para wanita lah yang merengek padanya.
"Kalau kamu masih gak mau masuk juga, oke deh gapapa saya akan temani kamu disini sampai pagi! Sebentar ya, saya ambil bantal sama selimut dulu di dalam supaya kita bisa tidur disini berdua dan kamu gak kedinginan Nadira!" ucap Albert beranjak dari duduknya.
"Jangan kemana-mana loh!" Albert kembali berbalik mengingatkan Nadira terlebih dulu.
Lagi-lagi wanita itu hanya diam tanpa menoleh sedikitpun ke arah Albert, ia masih belum bisa melupakan apa yang dilakukan Albert padanya tadi karena itu amat sangat menyakitkan.
"Terkadang aku bingung sama sikap tuan Albert, dia kadang baik dan manis banget! Bahkan dia juga perhatian sekali sama aku, tapi dia bisa tiba-tiba berubah jadi jahat cuma dalam waktu sekejap!" gumam Nadira dalam hati.
Tak lama, Albert kembali membawa serta selimut serta bantal yang tebal untuk menemani tidur malamnya hari ini di taman samping rumah.
"Nah Nadira, ini saya udah bawain selimut sama bantal buat kamu. Jadi, kamu gak perlu khawatir bakal kedinginan lagi ya! Sini deh aku tutupin tubuh kamu pakai selimut ini!" ucap Albert.
Pria itu mulai membentangkan selimut di atas tubuh Nadira yang masih terdiam itu.
"Dengan begini, maka kamu gak akan kedinginan walau ada di luar kayak gini! Ya tapi tetap aja sih, kamu masih butuh pelukan dari aku supaya meminimalisir kejadian yang gak diinginkan! Apalagi kamu kan lagi hamil, kedinginan itu bahaya banget loh Nadira!" ucap Albert.
"Eh ya, kamu mau minum yang hangat-hangat gak? Susu jahe gitu, atau kopi teh? Biar nanti aku sampein ke mbok Widya buat bikinin!" tanya Albert.
"...."
Suasana hening, tak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Nadira. Wanita itu terdiam menatap lurus ke depan dengan mulut tertutup, membuat senyum di wajah Albert perlahan menghilang karena mulai bosan.
"Mau sampai kapan sih kamu cuekin saya terus begini, ha? Nadira, udah lah saya kan udah minta maaf sama kamu tadi! Saya tahu saya salah, tapi apa tindakan kamu ini gak berlebihan? Kamu bisa membahayakan nyawa anak kita loh, ini udah malam dan kamu malah tetap disini gak mau diajak ke dalam!" ujar Albert kesal juga.
Akhirnya Albert mulai hilang kesabaran, ia tak mau ambil resiko dengan membiarkan Nadira disana terlalu lama, ya biar bagaimanapun Albert memikirkan keselamatan dari bayi dalam kandungan Nadira juga saat ini.
Pria itu langsung bangkit, menggendong tubuh Nadira dengan cekatan. Nadira yang sedang melamun pun terkejut saat tiba-tiba tubuhnya sudah melayang di atas gendongan Albert, ia meronta-ronta minta dilepaskan tapi tak digubris oleh Albert.
"Ish, lepasin aku tuan! Aku gak mau ikut sama tuan lagi! Aku takut!" ujar Nadira berontak.
"Sssttt!! Kamu gak perlu takut Nadira, saya gak akan ngelakuin itu lagi ke kamu! Saya cuma mau kamu tidur di kamar, bukan di luar kayak gini! Dingin tau, ini udah tengah malam!" tegas Albert.
"Tapi tuan, aku masih kesel sama tuan! Aku ini juga punya perasaan, kalau tuan seenaknya gituin aku apa aku masih bisa sabar?" ujar Nadira.
"Iya, saya minta maaf ya Nadira!" ucap Albert.
Nadira terdiam memalingkan wajahnya, kini ia hanya pasrah membiarkan Albert membawanya ke kamar walau ia masih merasa jengkel pada kelakuan suaminya itu, ya tapi ia tak memiliki pilihan lain karena melawan pun rasanya susah jika sudah seperti ini.
"Good girl, saya suka dengan wanita penurut seperti kamu cantik!" puji Albert tersenyum.
Albert terus melangkah menggendong tubuh Nadira ala bridal style, membawanya ke dalam kabar dan menidurkan wanita itu di atas ranjang perlahan-lahan.
Cupp!
Pria itu mengelus dan mengecup kening Nadira, lalu menaikkan selimut menutupi setengah tubuh wanitanya yang sedang terpejam itu.
"Good night Nadira! Mimpi indah ya, sekali lagi saya minta maaf!" ucap Albert pelan.
•
•
Keesokan harinya, Darius mendatangi suatu tempat asing yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Pria tua itu turun dari mobil, lalu melangkah ke dekat pagar yang tinggi menjulang itu secara perlahan.
"Disini!" Darius terkejut saat suara seorang wanita muncul secara tiba-tiba disana, ia menolak dan menatap Vanesa yang sedang berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Oh hahaha, pantas saja saya tidak menemukan siapa-siapa di depan!" ujar Darius tertawa.
"Kamu benar-benar datang sendiri kan, pak Darius? Tidak ada orang lain yang mengikuti anda selama perjalanan kemari?" tanya Vanesa menelisik.
"Ya, saya sendiri. Lihat saja, bahkan saya juga menyetir mobil tanpa supir!" jawab Darius.
"Baguslah! Anda sudah ditunggu di dalam oleh ayah saya, mari ikut dengan saya!" ucap Vanesa.
"Baik!" Darius mengangguk setuju.
Vanesa berjalan lebih dulu, menuntun Darius ke dalam rumah besar yang sudah tua itu. Memasuki area pekarangan rumah, Darius langsung disambut dengan suara anjing menggonggong yang cukup keras dan mengagetkan dirinya.
Oouukk oouukk oouukk...
"Eh anjing kaget!" umpat Darius secara spontan.
"Tenang pak! Dia emang begitu kalau sama orang yang baru dilihatnya, tapi dia baik kok! Ya asal anda gak punya niat buruk disini!" ucap Vanesa.
"Oh begitu, bagus deh! Kebetulan saya emang phobia sama anjing, soalnya sewaktu kecil dulu saya pernah dikejar-kejar anjing dan dia gigit bagian belakang saya sampai berdarah!" ucap Darius menceritakan masa kecilnya pada Vanesa.
"Saya tidak mau tahu! Kita lanjut jalan aja, ayah saya itu orang yang sangat sibuk dan dia tidak mempunyai banyak waktu untuk menunggu anda pak!" ucap Vanesa.
"Baiklah, saya mengerti wahai ananda Vanesa yang cantik jelita!" ucap Darius tersenyum.
Vanesa yang saat ini mengenakan kaos rumahan serta rok pendek sedengkul, hanya memutar bola mata ketika pujian itu dilontarkan oleh Darius.
Tiiingg...
Pintu terbuka secara perlahan, memperlihatkan halaman yang luas namun dihiasi dengan berbagai dekorasi kuno menambah kesan legendaris di dalam rumah tersebut.
Darius yang menyaksikannya amat terpukau, ia baru sadar kalau ayah dari Vanesa memiliki selera yang sangat menarik dan luar biasa.
"Waw amazing!" puji Darius terpukau.
"Ini belum seberapa, masih banyak yang lainnya di dalam sana! Sudah yuk, kita masuk!" ucap Vanesa.
Keduanya menginjakkan kaki di lantai rumah yang bersih dan berkilau itu, angin berhembus membuat Darius merasa bergidik ditambah suasana disana yang cukup antik dan Darius semakin tak sabar ingin segera keluar dari rumah itu.
Prokk..
Prokk..
Prokk...
"Selamat datang di kediaman mister Harrison! Siapapun anda, saya tetap akan memberikan sambutan yang hangat pada anda!" Darius lagi-lagi dibuat kaget dengan suara yang muncul tiba-tiba itu.
"Nah, itu ayah saya!" ucap Vanesa menunjuk ke depan, sebuah ruangan gelap yang disebut ruang tengah.
"Ayah sama anak sama saja, sukanya ngagetin orang!" gumam Darius dalam hati.
"Ayo pak, kita temui ayah saya! Tidak usah takut, disana aman kok dan tidak ada apapun yang akan melukai anda, pak! Lagipun, kita kesini untuk membahas kerjasama bukan?" ucap Vanesa.
"Iya, benar!" ucap Darius masih agak gugup.
"Mari pak!" ucap Vanesa membungkuk sedikit meminta Darius jalan lebih dulu di depan.
Darius mengangguk, kemudian melangkahkan kakinya mendahului Vanesa sambil terus menatap ke depan untuk coba melihat seperti apa rupa dari pria yang akan ia temui itu.
Perlahan Darius mendekat, dan wajah seorang pria tua yang tengah terduduk di sebuah kursi goyang itu terlihat di matanya. Vanesa pun mengenalkan lelaki itu sebagai ayahnya, membuat Darius menganga tipis saat menyaksikan itu.
"Itu ayah saya, dia mister Harrison si pebisnis ilegal yang paling populer di seluruh dunia!" ucap Vanesa menjelaskan dengan bangga.
Darius hanya melongok menatap sosok Harrison dari tempatnya berdiri saat ini.
•
__ADS_1
•
Nadira terbangun dari tidurnya, ia terkejut saat menyadari di sampingnya sudah tidak ada Albert yang sebelumnya menemani ia dan memeluknya sampai tertidur pulas.
Nadira bangkit dan terduduk di atas ranjang, menoleh kesana-kemari mencari dimana Albert. Namun, ia tak berhasil menemukan suaminya itu yang hilang bagai ditelan bumi.
"Tuan Albert kemana ya? Apa dia udah berangkat ke kantor? Ish, jahat banget sih gak nungguin istrinya bangun!" geram Nadira.
Akhirnya wanita itu beranjak dari ranjangnya, merapihkan selimut serta sprei yang berantakan karena tidur semalam. Barulah ia melangkah menuju kamar mandi sembari mengucek-ngucek matanya dan sedikit menguap karena ngantuk.
Ceklek...
Tanpa disadari, Albert keluar dari kamar mandi dan melihat wanitanya tengah berjalan ke arahnya. Ia tersenyum memandang wajah Nadira dan memeluknya ketika wanita itu sedang berjalan.
Sontak Nadira terkejut karena tiba-tiba ada yang menahan tubuhnya, ia membuka mata menyingkirkan tangan yang sedari tadi tengah asyik mengucek-ngucek itu.
"Tuan? Ternyata tuan masih ada disini, aku kira tuan udah pergi ke kantor!" ucap Nadira.
"Iya dong, mana mungkin saya tega berangkat gitu aja tanpa pamitan sama kamu? Apalagi saya kan juga pengen cium-cium kamu dan calon anak kita di perut kamu itu, kalo gak gitu rasanya kurang afdol dan bikin saya gak tenang!" ucap Albert.
"Haish, yaudah misi tuan aku mau mandi!" ucap Nadira coba berontak melepaskan diri dari pelukan suaminya itu.
"Eits gak boleh! Kamu mandinya nanti aja ya? Sekarang saya mau minta servis dari kamu, soalnya dia udah tegang banget nih dari semalam gak dikasih jatah sama kamu!" ucap Albert.
"Hah? Tuan lupa? Kan semalam tuan udah paksa saya buat layanin tuan!" ujar Nadira.
"Oh iya sih, tapi itu kan saya kondisinya lagi emosi. Jadi, ya kurang enak lah buat saya! Sekarang saya mau kamu kulum dia pake mulut kamu, saya kangen banget sama servis mulut kamu yang enak banget itu! Udah yuk, kita balik ke ranjang karena disana lebih enak!" ucap Albert tersenyum.
"Tapi tuan, aku mau cuci muka dulu deh biar gak ngantuk! Lagian aku juga masih lemas baru bangun tidur, boleh ya tuan?" ucap Nadira.
"Yah kelamaan Nadira! Dia udah keburu gak tahan nih pengen tumpahin cairannya ke mulut kamu, udah nanti aja kamu mandi atau cuci mukanya setelah puasin saya!" paksa Albert.
"Tuan, aku gak mau ah!" ujar Nadira menolak.
"Kenapa?" tanya Albert heran.
"Ingat ya tuan, aku ini juga masih belum maafin tuan loh atas perbuatan tuan semalam yang kasar itu! Apalagi tuan udah tuduh saya yang enggak-enggak, ngapain juga aku harus puasin tuan pagi ini?" ujar Nadira ketus.
"Ya ampun Nadira! Jadi, kamu masih belum mau maafin saya?" ujar Albert.
Nadira mengangguk dengan ekspresi kesalnya.
"Hadeh, saya kira semalam kamu udah peluk-peluk saya tuh karena kamu mau maafin saya, eh ternyata malah masih marah!" ucap Albert.
"Suruh siapa kasar banget jadi orang, udah gitu gampang emosi lagi! Aku gak suka sama tuan yang kayak gitu, aku maunya tuan itu lemah lembut dan perhatian sama aku!" ucap Nadira.
"Eee iya iya saya kan udah minta maaf sama kamu, kan kamu juga tahu sendiri saya ini lagi banyak masalah di kantor! Ya jadi begitu tahu kamu dan om Darius ketemuan, saya jadi mikir yang enggak-enggak! Makanya lain kali tuh kamu jangan pernah temuin om Darius lagi!" ucap Albert.
"Apa salahnya sih tuan? Kan om Darius itu paman kamu, kenapa aku gak boleh temuin dia?" tanya Nadira penasaran.
"Udah nurut aja, pokoknya kamu jangan temuin om Darius lagi selamanya! Kalau kamu ngeyel dan masih ketemu sama om Darius, jangan salahin aku kalo aku lakuin hal seperti semalam lagi! Kamu harus nurut sama saya Nadira!" tegas Albert.
"Iya yaudah aku nurut sama tuan! Yang penting tuan gak kasar lagi sama aku!" ucap Nadira.
"Tenang aja! Yaudah yuk, aku gak tahan lagi deh pengen diservis sama kamu Nadira!" ucap Albert.
"Huft, tapi cuma pake mulut ya!" ucap Nadira.
"Iya iya..." Albert yang sudah tidak tahan lagi, langsung saja tancap gas mendorong tubuh Nadira sampai kembali ke ranjang dan mendudukkan istrinya itu disana.
Tanpa berlama-lama lagi, ia membuka handuk yang melilit di pinggang dan memperlihatkan pusaka nya yang besar itu di hadapan Nadira.
Lalu, dengan cepat ia memasukkan miliknya ke dalam mulut Nadira. Wanita itu hanya diam pasrah mengikuti kemauan suaminya, yang terpenting Albert sudah mengatakan bahwa dia tidak akan berlaku kasar lagi pada Nadira.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...