
Nadira ikut bersama mbok Widya belanja di minimarket dekat rumah, tentunya ia juga terus dikawal oleh beberapa bodyguard suruhan Albert untuk menjaganya agar tidak kabur.
Biarpun begitu, mbok Widya tetap saja cemas dan panik karena Nadira tidak mau mengabari Albert lebih dulu kalau ia pergi keluar bersamanya, ia khawatir jika nantinya Albert akan marah dan menghukum dirinya.
"Non, apa gak sebaiknya non Nadira kabari dulu tuan Albert?" tanya mbok Widya cemas.
"Gausah mbok, biarin aja! Aku kan cuma pergi sebentar, lagian aku pergi juga sama si mbok dan pengawal itu!" jawab Nadira.
"Tapi non—"
"Udah mbok, jangan kebanyakan mikir kayak gitu! Mending sekarang kita buruan beli barangnya, supaya bisa cepat balik ke rumah! Eh tapi aku gak pengen cepet-cepet sih mbok, karena aku rindu banget sama suasana di luar kayak gini! Kan udah lama aku gak pergi ke luar!" potong Nadira.
"Iya non, si mbok paham! Tapi masalahnya, tuan pasti marah non sama kita kalau tau non Dira pergi gitu aja tanpa bilang dulu sama tuan!" ucap mbok Widya masih cemas.
Nadira justru tersenyum dan melangkah meninggalkan mbok Widya, ia memilih beragam makanan untuknya.
"Non, mau kemana non? Tunggu!" teriak mbok Widya panik.
"Tenang aja mbok! Aku cuma mau beli jajan kok, biar di rumah gak bosen cuma duduk-duduk aja gak ada cemilan! Udah sana mbok ambil yang pengen dibeli, aku gak kemana-mana kok!" ucap Nadira.
"I-i-iya non," ucap mbok Widya gugup.
Akhirnya mbok Widya berpisah dengan Nadira, karena gadis itu asyik memilih makanan untuk dirinya. Ia memasukkan cukup banyak snack ke dalam keranjang yang dibawakan oleh para pengawalnya itu tanpa rasa ragu.
Ya memang itu merupakan keinginan Nadira selama ini, yakni membeli cukup banyak makanan ringan untuk dinikmati diwaktu santai. Kebetulan juga saat ini ia sudah menjadi istri dari seorang pria kaya raya, sehingga ia bisa membeli apapun yang ia mau walau tanpa sepengetahuan suaminya itu.
"Non, ini gak kebanyakan?" tanya salah seorang pengawal yang bernama Liam.
"Eee gak kok, itu kan buat stok saya di rumah. Emang kenapa? Kamu keberatan bawa jajanan saya itu? Badan kamu kan besar, masa segitu aja udah berat sih?" ucap Nadira santai.
"Bukan begitu non, tapi—"
"Udah deh, saya cuma mau beli makanan buat di rumah supaya gak bosan! Kamu mending diem aja, jangan berisik!" potong Nadira.
"Iya, baik non!" ucap Liam mengalah.
Nadira pun kembali melanjutkan mengambil beberapa makanan untuk dirinya, ia tak perduli dengan apa yang dibicarakan oleh Liam karena menurutnya itu hanya sebuah omong kosong yang tidak harus ia dengarkan.
Mbok Widya kembali menemui Nadira, rupanya ia sudah selesai mengambil apa yang ingin ia beli dan mengajak Nadira untuk segera pergi ke kasir membayar semuanya.
"Non, si mbok sudah selesai. Ayo non kita bayar ke kasir!" ucap mbok Widya.
"Hah? Kok cepet banget sih mbok? Aku kan masih pengen disini, udah mbok duluan aja deh!" ucap Nadira.
__ADS_1
"Eee non, kita bayarnya sekalian ya!" ucap mbok Widya.
"Tapi mbok, aku belum mau pulang! Kalau aku pulang sekarang, aku gak bisa keluar lagi nanti!" ucap Nadira menolak.
"Iya non, tapi kan demi kebaikan non juga!" ucap mbok Widya meyakinkan Nadira.
"Huft, iya deh!" ucap Nadira menghela nafasnya.
Akhirnya Nadira mau menurut dengan mbok Widya, ia pun pergi ke kasar bersamanya dan membayar semua yang ia beli itu di kasir.
"Totalnya jadi lima ratus ribu rupiah, Bu!" ucap kasir.
Mbok Widya terbelalak mendengarnya, namun ia mewajarkan itu karena Nadira memang membeli cukup banyak makanan di dalam keranjang tadi, sehingga wajar saja semua totalnya sampai segitu.
❤️
Setelah selesai membayar, mereka pun keluar dari minimarket itu dan kembali ke mobil. Namun, saat di luar justru Nadira tak sengaja bertemu dengan teman sekolahnya yang baru pulang itu.
"Nadira!"
Sontak Nadira menoleh ke asal suara dan mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil, ia tersenyum ketika melihat sahabatnya di sekolah yang ternyata memanggil namanya.
"Raya, Tata, Mala?" ucapnya.
"Hai Nadira! Lu kemana aja sih, kok gak sekolah udah dua Minggu lebih?" tanya temannya yang bernama Raya itu.
"Udah lah Dira, lu ketinggalan semua pelajaran tuh! Kenapa sih lu gak sekolah aja Dira?" ujar Tata.
"Gue gak bisa sekolah guys, kan gue udah bilang gue lagi ada masalah berat! Mungkin kalau masalahnya udah kelar, baru gue bisa sekolah!" ucap Nadira masih coba tersenyum walau ia sangat bersedih.
"Ohh yah sayang banget dong! Eh ya, itu mereka siapa? Kok gue baru pertama kali lihat mereka sama lu?" tanya Raya penasaran.
"Eee ini namanya mbok Widya, terus yang dua itu pak Liam sama pak Frets! Mereka ini pengawal gue," jawab Nadira.
"Hah? Sekarang lu udah punya pengawal? Wih keren banget lu Dira!" ujar Tata terkejut.
"Iya ih, gimana caranya lu bisa punya pengawal sebanyak itu?" tanya Mala.
"Eee hehe ya gitu deh, kalian gak perlu tau!" ucap Nadira kebingungan.
Tiba-tiba mbok Widya mendekati Nadira dan berbisik pada wanita itu, ia meminta Nadira untuk segera masuk ke mobil karena mereka memang harus pulang ke rumah sebelum Albert datang dan tahu kalau Nadira tidak ada di rumah.
"Maaf non! Sebaiknya kita segera pulang ke rumah, sebelum tuan Albert pulang lebih dulu!" bisik mbok Widya.
__ADS_1
"Sebentar mbok, aku masih pengen bicara sama teman-teman aku!" ucap Nadira.
"Iya non, si mbok tau kalau non kangen sama teman-teman non! Tapi, ini waktunya kita pulang non! Ayo non si mbok takut tuan Albert marah nanti!" ucap mbok Widya cemas.
"Iya mbok iya, sebentar ya!" ucap Nadira.
"Ada apa sih Dira?" tanya Raya heran.
"Eee sorry ya guys, gue harus balik sekarang! Mungkin lain kali kita bisa ngobrol lebih banyak lagi, bye semua!" ucap Nadira.
"Yah kok gitu sih? Eh gimana kalo kita main ke rumah lu?" ucap Raya memberi usul.
"Nah gue setuju! Gue kangen tahu sama lu, Dira! Gue pengen ngobrol-ngobrol sama lu kayak sebelumnya!" sahut Tata.
"Duh, maaf gak bisa!" ucap Nadira.
"Yah kenapa?" tanya Tata.
"Ada alasannya guys, maaf banget ya!" ucap Nadira.
"Huft, oke deh gapapa! Kita saling calling aja, nomor lu berapa sih? Dari kemarin-kemarin gue hubungin kok gak aktif terus, lu ganti nomor ya?" ucap Raya keheranan.
"Eee gue gak pegang hp sekarang, makanya gak bisa balas pesan kalian!" jawab Nadira.
"Hah kok bisa??" ujar Raya kaget.
"Iya,"
"Non, ayo cepat non!" ucap mbok Widya dari belakang.
"Yaudah ya guys, gue balik dulu! Sampai ketemu lagi lain waktu!" ucap Nadira.
"Iya Dira, hati-hati ya!" ucap Raya.
Sebelum pulang, Nadira berpelukan lebih dulu dengan teman-temannya itu disana untuk melepas rindu setelah sekian lama mereka tak berjumpa.
Barulah Nadira pamit pada ketiga temannya itu, lalu berbalik dan melangkah menuju mobilnya bersama para pengawal serta mbok Widya, sedangkan Raya dan yang lainnya masih terus melambaikan tangan.
"Nadira tunggu!" teriak seorang pria yang muncul dari belakang Raya.
Sontak Nadira menghentikan langkahnya, ia menoleh lagi ke belakang dan melihat siapa yang memanggilnya. Nadira cukup kaget saat mengetahui pria itu adalah Cakra, teman sekolahnya sekaligus pria yang ia cintai.
"Cakra?" ucapnya lirih.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...