
"Maaf Albert! Aku itu reflek tadi, beneran deh aku gak ada niat buat celakai Nadira!" ucap Vanesa.
"Dia bohong kak! Aku lihat sendiri kok, dia itu sengaja dan emang pengen bikin mbak Dira celaka. Buktinya waktu aku panik pengen bantu mbak Dira, dia malah santai-santai aja dan gak kelihatan merasa bersalah." ucap Chelsea.
"Itu fitnah, aku juga panik kok! Aku mau usaha bantu Nadira, tapi apa daya aku kan lagi hamil besar." kata Vanesa mengelak.
"Heh! Bisa-bisanya lu bicara kayak gitu di depan kak Albert, emang kurang ajar lu ya!" Chelsea yang emosi hendak maju dan menjambak rambut Vanesa, tetapi ditahan oleh Albert.
"Cukup Chelsea!" pinta Albert tegas. "Vanesa, kamu keluar dari rumah ini sekarang juga!" sambungnya sembari menatap wajah Vanesa.
"Apa??" Vanesa terkejut dan langsung membelalakkan matanya.
"Ka-kamu gak salah bicara Albert? Kamu usir aku dari rumah ini? Yang bener aja, atas dasar apa kamu usir aku Albert?" tanya Vanesa dengan wajah cemasnya.
"Kamu masih tanya atas dasar apa?! Kamu pasti gak lupa dong Vanesa, sama apa yang kamu lakuin tadi ke Nadira! Dan kamu masih tanya kenapa aku usir kamu? Dimana otak kamu Vanesa? Kamu gak bisa mikir ya?" jawab Albert kasar.
"Iya, aku tahu Albert. Tapi, apa kamu gak bisa maafin aku dan kasih aku kesempatan satu kali lagi untuk tinggal di rumah ini? Please lah Albert, tolong pikirkan ini lagi! Bukannya kamu sendiri yang bilang, kalau kamu mau bertanggung jawab sama aku? Iya kan? Terus, kenapa kamu malah pengen usir aku dari sini?" ucap Vanesa.
"Gausah drama deh lu! Kak Albert pasti bakal tanggung jawab kok, tapi dengan cara yang lain!" ucap Chelsea.
"Iya, benar yang dikatakan Chelsea. Saya akan tetap bertanggung jawab atas bayi yang ada di dalam kandungan kamu, tetapi kamu harus pergi dari rumah ini!" ucap Albert.
"Albert, kalau aku pergi lalu gimana caranya kamu bisa tanggung jawab?" tanya Vanesa bingung.
"Saya akan berikan kamu tempat tinggal di apartemen milik saya, disana kamu bisa mendapat apapun yang kamu mau untuk memenuhi kebutuhan anak kita. Ayo cepat bereskan semua barang-barang kamu, kita akan segera menuju ke apartemen itu!" jawab Albert.
"Tapi Albert, aku—"
"Gak ada tapi tapian! Kamu harus ikut dengan saya keluar dari rumah ini, atau saya tidak akan pernah mau mengakui anak itu!" potong Albert.
"I-i-iya Albert, oke aku ikut sama kamu. Yang penting ini semua demi kebaikan anak kita, aku gak mau kalau dia lahir tanpa sosok ayah di dekatnya." ucap Vanesa.
"Yasudah, cepatlah bereskan barang-barang kamu! Saya tunggu disini!" pinta Albert.
Vanesa mengangguk pelan, kemudian melangkah kembali ke dalam kamarnya dan bersiap merapihkan barang-barang miliknya.
Sementara Albert serta Chelsea tetap berada disana, mereka menunggu Vanesa sampai wanita itu selesai beberes.
"Kak, kenapa kakak masih mau kasih tempat tinggal buat Vanesa?" tanya Chelsea heran.
"Kenapa kamu masih tanya begitu? Kakak kan udah bilang, kakak mau tanggung jawab sama Vanesa. Lagipun, bayi di kandungan dia itu kan anak kakak." jawab Albert.
"Iya juga sih, tapi kan Vanesa udah bikin mbak Dira celaka. Harusnya kak Albert kasih hukuman dong ke dia, gimana kalau terjadi sesuatu sama anak kakak dan mbak Dira? Apa kakak gak perduli dengan itu?" ucap Chelsea.
"Hus! Kamu jangan ngomong begitu ah! Gak baik tau! Kakak ini perduli sama semua anak-anak kakak, paham?!" ujar Albert.
"Iya kak iya, maaf!" ucap Chelsea menurut.
Ceklek...
Pintu kembali terbuka, Vanesa terlihat sudah siap dan membawa tas berisi baju-bajunya.
"Sudah selesai?" tanya Albert tersenyum.
"Iya, sudah kok." jawab Vanesa singkat.
"Bagus, ayo kita pergi sekarang!" ucap Albert.
Vanesa mengangguk pelan, lalu mengikuti langkah kaki Albert pergi dari sana bersama Chelsea.
•
•
Ketika mereka bertiga menuruni tangga, tanpa sengaja justru mereka berpapasan dengan Abigail yang baru keluar dari kamar Nadira.
Sontak Abigail langsung menghampiri ketiga orang itu dan menatap mereka dengan sorot mata tajam, Abigail penasaran apa yang hendak mereka lakukan saat ini.
"Loh loh, kalian mau kemana? Albert, kenapa kamu malah asik sama Vanesa? Kamu lupa kalau istri kamu baru kena musibah?" tanya Abigail.
"Enggak dong mah, masa iya aku lupa sama istri aku sendiri? Aku pengen banget temuin Nadira, tapi kan mama yang bilang tadi kalau aku harus kasih hukuman dulu ke Vanesa. Nah, itu alasan kenapa aku sekarang sama Vanesa." jawab Albert.
"Memangnya kamu mau hukum dia pakai cara apa?" tanya Abigail.
"Eee..."
"Kak Albert usir dia dari rumah ini, mah." Chelsea memotong dengan cepat sambil tersenyum.
"Apa? Yang benar kamu Albert?" Abigail terkejut bukan main mendengarnya.
__ADS_1
"Benar mah, tapi kak Albert kasih tempat tinggal buat Vanesa di apartemennya." ucap Chelsea.
"Hah? Ya ampun, itu mah sama saja kamu masih bantu dia dong Albert. Dimana letak hukumannya coba? Kamu ada-ada aja deh Bert, mama benar-benar gak habis pikir!" ujar Abigail.
"Sabar mah! Aku ngelakuin ini semua tuh demi anak aku yang dikandung Vanesa, aku gak mau dia sampai kurang terawat." kata Albert.
"Haish, terserah kamu ajalah Albert! Yang penting dia keluar dari rumah ini, karena mama gak sudi lihat Vanesa ada disini lagi!" ucap Abigail.
"Iya mah," ucap Albert singkat.
"Yasudah, mama mau minta pelayan bikinin susu untuk Nadira. Chelsea, kamu tolong gantian temani Nadira ya di kamarnya!" ucap Abigail.
"Baik mah!" ucap Chelsea menurut, lalu langsung melangkah menuju kamar Nadira.
"Mah, kalo gitu aku sama Vanesa pergi dulu ya? Aku titip Nadira sama mama, jangan bilang ke dia kalau aku lagi sama Vanesa!" ucap Albert.
"Kenapa? Kamu takut istri kamu tau kalau kamu lebih mentingin Vanesa daripada dia?" tanya Abigail ketus.
"Gak gitu mah, aku takut aja Nadira salah paham. Biar nanti aku yang jelasin ke dia deh, tolong ya mah!" ucap Albert.
"Ya ya ya, sudah kamu pergi saja sana!" ucap Abigail tampak kesal dan berlalu pergi.
Albert pun merasa bersalah telah membuat mamanya emosi, namun ia memilih untuk mengantar Vanesa lebih dulu menuju apartemennya agar semua masalah selesai.
"Vanesa, ayo kita pergi!" ucap Albert.
"Bert, aku heran deh sama kamu. Kenapa sih kamu segitu patuhnya sama mama kamu? Padahal dia kan bukan mama kandung kamu, dia gak berhak dong atur-atur kamu kayak gitu! Kamu bisa tentuin pilihan kamu sendiri, tanpa harus libatin dia!" ucap Vanessa.
"Kamu lebih baik diam, jangan banyak bicara! Ayo kita pergi sekarang, supaya saya bisa selesaikan semua masalah ini secepatnya!" ujar Albert.
"Okay, aku ikut aja sama apa yang kamu bilang deh sayang." ucap Vanesa sengaja memancing Albert dengan berlagak manja dan menaruh tangannya di sela-sela lengan Albert.
"Bisa gak jangan pegang-pegang saya?!" ucap Albert tegas.
Vanesa langsung ciut saat ditatap tajam oleh Albert, ia pun melepaskan tangannya. Albert menghela nafas sejenak sebelum lanjut melangkah diikuti Vanesa di belakangnya.
•
•
Chelsea masuk ke kamar Nadira, menghampiri kakak iparnya yang masih terduduk di atas ranjang sambil bersandar dengan dua kaki lurus ke depan.
"Huh, untung kamu datang juga Chelsea! Sini sini kamu duduk samping aku!" ucap Nadira tampak ceria dan meminta Chelsea duduk di sebelahnya.
"Eee iya mbak.." ucap Chelsea bingung.
Chelsea pun duduk di samping Nadira sesuai permintaan kakak iparnya itu.
"Kenapa ya mbak?" tanya Chelsea heran.
"Ah gapapa, aku cuma mau tanya sama kamu. Mas Albert lagi ngapain sekarang? Dia kok gak masuk-masuk kesini sih buat jenguk aku? Apa dia gak perduli lagi sama aku, ya?" ucap Nadira.
"Hah? Mbak gak boleh ngomong gitu! Kak Albert pasti perduli kok sama mbak, tapi sekarang dia lagi urus Vanesa dulu. Mbak yang sabar aja dulu ya! Kak Albert nanti pasti kesini kok temuin mbak, jangan sedih gitu!" ucap Chelsea.
"Apa? Jadi, mas Albert sekarang lagi sama Vanesa? Mereka mau ngapain, Chelsea?" tanya Nadira langsung jengkel.
"Eee tenang dulu mbak! Kak Albert emang lagi sama Vanesa, tapi dia tuh mau hukum Vanesa kok karena udah bikin mbak Dira celaka." jawab Chelsea sambil tersenyum.
"Yang benar?" tanya Nadira curiga.
"Iya mbak, benar. Malahan kak Albert tadi bilang sendiri di depan aku, dia tuh usir Vanesa dari rumah ini. Jadi, mulai sekarang mbak gak perlu khawatir lagi bakal dicelakai sama Vanesa! Karena Vanesa gak akan tinggal disini lagi, dan mbak gak bakal ketemu dia lagi deh." jawab Chelsea.
"Serius kamu? Kamu gak bohong kan sama aku, Chelsea?" tanya Nadira.
"Iya mbak, aku serius kok. Kak Albert itu kelihatannya marah besar sama Vanesa, makanya dia sampai usir Vanesa dari rumah ini. Ya wajar aja sih, emang ngeselin banget tuh cewek!" ucap Chelsea.
"Syukur deh, Alhamdulillah kalau Vanesa udah diusir dari rumah ini! Aku bisa ngerasa lega sekarang," ucap Nadira tersenyum.
"Yaudah, mbak jangan sedih lagi ya! Kasihan nanti keponakan aku ikutan sedih kalau lihat mamanya sedih," ucap Chelsea.
"Ahaha, iya juga ya. Makasih ya Chelsea karena kamu udah bikin aku terhibur!" ucap Nadira.
"Sama-sama mbak, aku senang kok kalau mbak terhibur. Aku tahu mbak masih trauma gara-gara kejadian itu, makanya aku disuruh mama buat datang kesini dan jagain mbak." ujar Chelsea.
"Iya, tapi kayaknya sekarang aku udah gak trauma lagi deh. Ini semua berkat kamu Chelsea!" ucap Nadira.
"Bagus deh mbak!" ucap Chelsea.
"Oh ya, aku boleh gak peluk kamu? Kayaknya keponakan kamu ini lagi pengen meluk tantenya deh, dia merong-merong terus nih." tanya Nadira.
__ADS_1
"Ya boleh dong mbak, masa iya aku nolak keinginan keponakan aku?" jawab Chelsea.
"Hahaha..." Nadira tertawa, kemudian memajukan tubuhnya dan memeluk Chelsea sembari mengusap punggungnya.
Pelukan itu berlangsung cukup lama, bahkan keduanya sama-sama merasa nyaman dan memejamkan mata dengan senyum di wajah masing-masing.
"Gue gak nyangka, akhirnya gue benar-benar akrab sama mbak Dira! Ya semoga aja semua ini bisa berlangsung sampai seterusnya!" batin Chelsea.
"Lu yang tenang ya mbak!" ucap Chelsea.
"Iya Chelsea, terimakasih!" ucap Nadira.
•
•
Albert dan Vanesa tiba di apartemen, pria itu langsung menurunkan barang bawaan milik Vanesa dari dalam mobilnya dan meminta Vanesa untuk segera melangkah.
"Ayo Vanesa, kita masuk ke dalam! Saya akan perlihatkan apartemen ini pada kamu!" ujar Albert.
"Bert, seriusan kamu mau minta aku tinggal di apartemen ini?" tanya Vanesa.
"Hadeh, gausah banyak tanya deh! Ayo cepat masuk, atau saya batalkan semua niat baik saya ini!" bentak Albert.
"I-i-iya iya.." ucap Vanesa menurut.
Mereka pun melangkah ke dalam apartemen yang sangat mewah itu.
Tanpa disadari, kehadiran mereka itu rupanya diketahui oleh Cakra yang kebetulan ada disana.
"Loh loh, itu kan si Albert suaminya Nadira. Dia kok kesini bareng sama Vanesa, bukan sama Nadira? Emangnya kemana Nadira?" gumam Cakra.
"Wah gak beres nih! Gue harus ikutin mereka, ini pasti ada apa-apanya nih! Gue gak bisa biarin si Albert selingkuh dari Nadira!" sambungnya.
Cakra menutup kembali pintu mobilnya, ia mengurungkan niat untuk pergi dan lebih memilih mengikuti Albert serta Vanesa ke dalam sana.
Sementara Albert bersama Vanesa saat ini sudah berada di dalam lift, mereka hanya berdua disana.
"Albert, terimakasih ya kamu masih mau perduli dengan aku! Kamu bahkan sampai rela biarin aku tinggal di apartemen mewah ini dengan gratis, kamu benar-benar baik deh!" ucap Vanesa kembali memeluk Albert dari samping.
"Jangan lancang Vanesa! Saya baik ke kamu, bukan berarti kamu bisa peluk-peluk saya sesuka hati kamu! Cepat lepaskan, atau saya seret kamu keluar dari sini!" ujar Albert.
"Ma-maaf Albert! Tapi, barusan itu bukan keinginan aku. Anak kamu yang minta dipeluk, masa kamu gak mau turuti kemauan dia sih? Kasihan loh dia, dia cuma mau dipeluk Daddy nya yang tampan ini!" ucap Vanesa mencibirkan bibirnya.
"Haish, ada-ada saja!" ucap Albert kesal.
"Yasudah, sini saya peluk kamu!" Albert akhirnya mengalah dan mendekap Vanesa walau dengan perasaan malas.
Tiiingg...
Pintu lift terbuka, Albert reflek melepas pelukannya setelah melihat cukup banyak orang di depan sana.
"Ayo keluar!" pinta Albert.
Vanesa mengangguk pelan, kemudian mengikuti langkah kaki Albert yang sudah berjalan lebih dulu sambil membawa kopernya.
Mereka tiba di depan pintu, Albert mengambil kunci dibalik jasnya dan membuka pintu tersebut lalu mempersilahkan Vanesa untuk masuk.
Ceklek...
"Masuklah!" titah Albert.
"Kamu gak mau ikut masuk? Ini berat loh Bert, apa kamu tega biarin aku bawa koper ini sendirian?" tanya Vanesa dengan nada manja.
"Kamu gausah manja, kamu pasti bisa sendiri kok!" jawab Albert menolak.
"Aku emang bisa, tapi kalau nanti aku kecapekan dan anak kamu ini—"
"Ah sudah sudah! Okay, saya bawakan koper kamu ke dalam. Saya malas dengar ocehan kamu itu!" potong Albert.
Albert pun langsung membawa koper itu dan masuk ke dalam kamar, diikuti Vanesa di belakangnya yang tampak ceria.
Albert lupa tidak menutup pintu dengan rapat, sehingga Cakra dapat menahan pintu tersebut dan mengintip dari balik pintu untuk mengawasi pergerakan mereka.
"Saya harus pantau mereka!" batinnya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1