Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Pakai dasi


__ADS_3

Nadira tengah memakaikan dasi di leher suaminya yang hendak berangkat kerja itu, namun ia nampak kesulitan karena belum terbiasa melakukan hal itu sebelumnya dan ini merupakan kali pertama ia memasangkan dasi pada seorang pria.


Albert terus-terusan memandangi wajah Nadira, tak ada satu inci pun bagian dari wajahnya yang lepas dari tatapan Albert, pria itu ingin menggoda Nadira dan membuat wanita itu merasa tersipu.


"Hey, pakaikan yang benar dong!" tegur Albert.


"Maaf tuan! Tapi, saya belum pernah pakein dasi begini!" ucap Nadira merunduk.


Albert menarik dagu Nadira dengan telunjuknya, ia menatap tajam ke arah mata wanita itu hingga membuat Nadira merasa cemas dan ketakutan, bahkan Nadira sampai memejamkan mata tak berani menatap langsung mata suaminya itu.


"Kalau kamu gak bisa, ngomong dong! Sini biar saya ajarin kamu cara memakai dasi yang baik dan benar!" ucap Albert dingin.


Wanita hanya mengangguk, saat Albert melepaskan jarinya dari dagunya Nadira pun kembali merasa lega dan menghembuskan nafas yang sempat tersendat akibat tatapan Albert tadi.


Lalu, Albert meraih tangan Nadira dan membantu wanita itu memasang dasi di lehernya. Namun, pandangan matanya terus saja mengarah pada wajah Nadira yang manis dan cantik itu.


"Nah begini Nadira, paham kan?" tanya Albert.


"Eee iya tuan, saya paham!" jawab Nadira gugup.


"Yasudah, kamu boleh pergi mandi sekarang! Saya mau berangkat kerja dulu, ingat Nadira jangan pernah keluar dari rumah ini tanpa seizin saya!" ucap Albert tegas.


"Iya tuan, saya mengerti kok! Hati-hati ya, semangat kerjanya!" ucap Nadira sambil tersenyum.


"Apa? Barusan kamu semangatin saya?" ujar Albert.


"I-i-iya tuan, emangnya salah ya? Eee kalau salah, saya minta maaf tuan! Saya gak akan begitu lagi kok lain kali!" ucap Nadira ketakutan.


"No no no, kamu gak salah! Saya cuma kaget aja dengan apa yang barusan kamu bilang, karena sebelum ini kamu kan gak pernah sama sekali semangatin saya kayak gitu!" ucap Albert.


"Eee kalau tuan gak suka, saya bisa ralat kata-katanya kok!" ucap Nadira.


"Why? Kasih saya alasan kenapa saya gak suka disemangatin sama kamu! Justru saya senang loh, itu tandanya kamu sudah mau menerima keadaan kalau saya ini sekarang statusnya adalah suami kamu yang harus kamu hormati!" ucap Albert.


"Iya tuan, saya emang udah terima itu kok! Lagipun, mau sampai kapan saya harus bersedih? Toh ini sudah menjadi takdir saya!" ucap Nadira.


"Bagus! Kalau begini kan enak dengarnya, jangan pernah sekali-sekali kamu berkhianat dari saya! Karena kalau sampai itu terjadi, saya tidak akan segan-segan untuk menghabisi kamu!" ujar Albert.


Nadira tertegun saat ditatap seperti itu oleh Albert, apalagi tangan pria itu mencengkram lengannya dengan kuat.


"Awhh sa-sakit tuan!" rintih Nadira.


"Jangan cengeng! Udah, kamu mandi sana! Saya gak tahan sama bau tubuh kamu!" ucap Albert.


"Hah??"

__ADS_1


Nadira reflek mencium bau tubuhnya sendiri, namun ia tak merasa kalau tubuhnya saat ini berbau tidak sedap seperti yang dikatakan Albert tadi.


"Ah enggak tuh!" ujar Nadira.


"Hey, kamu mau ngebantah saya lagi?" ujar Albert.


"Eee i-i-iya tuan, saya emang bau kok! Yaudah, kalo gitu saya mandi dulu tuan!" ujar Nadira.


Wanita itu berbalik mengambil handuk, lalu masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Albert.


Albert dibuat tersenyum dengan tingkah Nadira yang memang sangat menggemaskan, seketika sikap arogan dan kasarnya hilang saat melihat Nadira dengan tingkah lucunya itu.




Albert keluar kamar dan menuju ruang tamu, ia melihat adiknya tengah bermesraan dengan Keenan disana sambil saling peluk di atas sofa.


Tentu saja Albert dibuat geram dengan tingkah sang adik dan asistennya itu, ia pun maju mendekati mereka dan menegur sepasang kekasih yang tengah dilanda asmara itu.


"Ehem ehem..." Albert berdehem pelan.


Sontak Chelsea serta Keenan menoleh, mereka reflek menjauh dan bahkan Keenan juga berdiri menghadap tuannya sembari menundukkan kepala karena merasa malu.


"Ih gapapa sayang, kak Albert gak berhak larang kita tau! Dia aja sering asik-asik sama cewek, aku gak ngelarang atau marah tuh!" ucap Chelsea.


"Hey, jaga mulut kamu ya Chelsea!" tegur Albert.


"Apaan sih kak? Harusnya kakak yang jaga tuh burung, supaya gak masuk ke sana-sini!" cibir Chelsea.


"Chelsea!" bentak Albert emosi.


"Kenapa? Emang bener kan kak? Coba deh udah berapa cewek yang kakak tidurin? Banyak kan? Termasuk salah satunya gadis belia yang masih sekolah itu, kakak gak kasihan apa sama nasib mereka?" ujar Chelsea.


"Sayang, udah ya udah! Kamu jangan ribut gitu sama kakak kamu, gak baik!" ucap Keenan.


"Aku gak ribut Keenan! Aku cuma mau minta keadilan dari kak Albert, kalau dia bisa bebas berduaan sama cewek kenapa aku enggak?!" ucap Chelsea.


"Chelsea, kamu itu udah benar-benar jadi liar sekarang sejak sekolah di Washington! Kakak pikir setelah kamu pulang dari sana, sikap kamu akan jauh lebih baik! Tapi nyatanya malah tambah buruk!" ucap Albert.


"Ya wajarlah, kakak aja begitu!" cibir Chelsea.


"Chelsea!" bentak Albert.


Albert sudah semakin emosi, bahkan pria itu hendak menampar Chelsea jika tak dihalangi oleh Keenan.

__ADS_1


"Jangan tuan, nanti anda menyesal!" ucap Keenan.


"Ah sudahlah! Keenan, ayo antarkan saya ke kantor!" ucap Albert.


"Baik tuan!"


Albert melangkah lebih dulu, sedangkan Keenan berusaha menenangkan gadisnya yang juga tengah terbawa emosi itu.


"Sayang, kamu tenang ya! Aku mau anterin kakak kamu dulu, nanti aku kesini lagi kok!" ucap Keenan.


"Iya sayang, makasih ya tadi kamu udah belain aku di depan kak Albert!" ucap Chelsea tersenyum.


"Sama-sama, yaudah ya aku pergi dulu? Bye sayang!" ucap Keenan mencium kedua pipi Chelsea dan kening gadisnya itu.


"Iya, bye juga sayang!" ucap Chelsea.


Setelahnya, Keenan pun pergi keluar menyusul Albert yang sudah lebih dulu berada di depan.


Sementara Chelsea tampaknya masih tak terima dengan perkataan Albert tadi, ia memiliki rencana yang buruk kepada Nadira karena ia tahu wanita itu sedang sendirian di dalam kamarnya.


"Lihat aja kak, perlahan-lahan aku bakal singkirin gadis itu dari rumah ini! Supaya kakak gak bisa seenaknya lagi ngomong kayak gitu ke aku! Kalau kakak larang aku buat berduaan sama Keenan, aku juga bisa jauhin Nadira dari kakak!" batinnya.


Chelsea melangkah menuju kamar tempat Nadira berada, gadis itu terus senyum-senyum seperti tak sabar memulai rencana pertamanya.


Sesampainya di depan pintu, Chelsea pun langsung berusaha membuka pintu tersebut. Namun sayang, pintu tersebut terkunci dan tidak bisa dibuka olehnya walau dengan sekuat tenaga.


"Aaarrgghh sial! Pake dikunci segala lagi! Terus gimana cara gue masuknya?" gumam Chelsea.


Chelsea yang sedang bingung, tak sengaja bertemu dengan Liam selaku penjaga di rumah itu yang sedang ingin pergi ke kamar mandi.


"Non Chelsea? Non lagi ngapain di depan kamar tuan Albert?" tanya Liam.


"Eee ini pak, saya diminta kak Albert buat temenin Nadira di dalam. Kan bapak tahu sendiri, kak Albert lagi pergi kerja terus Nadira sendirian disana! Jadi, saya mau temenin dia supaya gak kesepian pak! Bapak punya kunci kamar ini kan? Soalnya tadi kak Albert kayaknya lupa deh kasih kuncinya, aku juga gak tahu kalau kamar ini dikunci!" jelas Chelsea.


"Oh begitu, iya non saya ada kuncinya kok! Sebentar ya saya bukain dulu pintunya!" ucap Liam.


"Iya, silahkan pak!" ucap Chelsea.


Liam bergerak membuka kunci kamar itu, sedangkan Chelsea tampak senyum-senyum puas karena akhirnya ia bisa masuk ke dalam sana.


"Hahaha yes gue berhasil!" gumamnya dalam hati.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2