Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Cari Cakra!


__ADS_3

Ceklek...


"Masuklah!" titah Albert.


"Kamu gak mau ikut masuk? Ini berat loh Bert, apa kamu tega biarin aku bawa koper ini sendirian?" tanya Vanesa dengan nada manja.


"Kamu gausah manja, kamu pasti bisa sendiri kok!" jawab Albert menolak.


"Aku emang bisa, tapi kalau nanti aku kecapekan dan anak kamu iniβ€”"


"Ah sudah sudah! Okay, saya bawakan koper kamu ke dalam. Saya malas dengar ocehan kamu itu!" potong Albert.


Albert pun langsung membawa koper itu dan masuk ke dalam kamar, diikuti Vanesa di belakangnya yang tampak ceria.


Albert lupa tidak menutup pintu dengan rapat, sehingga Cakra dapat menahan pintu tersebut dan mengintip dari balik pintu untuk mengawasi pergerakan mereka.


"Saya harus pantau mereka!" batinnya.


Albert masih tidak menyadari itu, ia masuk saja ke dalam kamar tidur apartemen itu dan menaruh koper milik Vanesa disana.


"Ini sudah saya bawakan sampai ke kamar kamu, tidak ada alasan lagi untuk menahan saya tetap disini. Kamu pasti bisa kan bereskan sendiri baju-baju kamu itu?" ucap Albert.


"Iya iya, aku bisa kok. Lagian emang kamu mau kemana sih buru-buru banget?!" ujar Vanesa.


"Pake nanya lagi, udah jelas lah saya harus pulang dan temui istri saya di rumah! Dia sekarang masih syok dengan kejadian yang dia alami tadi, dan itu semua karena kamu! Seharusnya kamu itu menyesal, bukannya malah santai-santai begini!" ucap Albert emosi.


"Albert, bisa gak kamu jangan marah-marah terus kalau bicara sama aku?! Kasihan dong sama anak kita, masa dia harus dengar ayahnya ngomel terus?! Emang kamu mau nanti pas dia lahir langsung ikut ngomel juga?" ucap Vanesa.


"Haish, ya ya ya saya minta maaf!" ucap Albert.


"Okay, tapi kamu harus minta maaf juga sama anak kamu disini! Ayo dong Albert, elus dia pakai tangan kamu!" pinta Vanesa.


"Apa? Saya gak bisa!" ucap Albert menolak.


"Kenapa? Aku lihat kamu sering bicara sama anak kamu dan Nadira. Kenapa giliran sama anak aku, kamu malah gak mau? Padahal dia ini kan juga anak kamu loh," tanya Vanesa.


"Dia emang anak saya, tapi kalau kamu bandingkan anak kamu dengan anak Nadira itu jelas berbeda." jawab Albert.


"Mengapa begitu? Apa yang bikin mereka beda? Apa karena aku ini cuma selingkuhan kamu? Jadi, kamu seakan gak mau anggap anak kamu ini? Albert, ingat loh biar gimanapun dia ini gak salah!" ucap Vanesa.


"Iya Vanesa, saya ngerti. Sudahlah, tidak usah bersikap seperti ajak kecil begitu! Saya akan turuti kemauan kamu," ucap Albert mengalah dan akhirnya menuruti kemauan Vanesa.


Albert pun berlutut di hadapan Vanesa, lalu mengusap perut Vanesa sambil berbicara.


"Anak papa, kamu yang anteng ya disana! Jangan bikin mama kamu capek atau kelelahan ya sayang! Papa mau pergi dulu, nanti kapan-kapan papa bakal datang kesini lagi buat jengukin kamu." ucap Albert dengan lembut.


Cupp!


Albert bahkan mengecup perut Vanesa yang sudah mulai membesar itu, lalu kembali berdiri tegak dan menatap wajah Vanesa yang tengah tersenyum.


"Gimana? Puas kan?" tanya Albert.


"Iya sayang, aku senang deh." jawab Vanesa.


Vanesa langsung reflek memeluk Albert dan membenamkan wajahnya di dada sang kekasih, Albert yang syok hanya bisa terdiam pasrah.


Kejadian itu diabadikan oleh Cakra melalui kamera ponselnya, ya Cakra sudah berani masuk ke dalam apartemen Albert dengan mengendap-endap.


"Hahaha, rasakan kamu Albert! Kali ini saya akan bikin hubungan kamu dan Nadira semakin retak, Nadira itu harus menjadi milik saya! Hanya saya yang berhak memiliki dia, bukan kamu!" batin Cakra.


Disaat Cakra hendak memundurkan langkahnya, ia tanpa sengaja justru menyenggol meja kecil yang ada di belakangnya hingga menimbulkan suara berisik dan membuat Albert terkejut.


Breekk..


"Siapa itu?" Albert spontan melepas pelukannya dan melangkah ke asal suara.


"Waduh gawat!" Cakra panik dan langsung berlari cepat keluar.


β€’


β€’


"Ada apa Albert?" Vanesa menghampiri Albert yang tiba-tiba saja pergi meninggalkannya.


"Ah sial!" umpat Albert kesal.


"Kamu kenapa? Memangnya siapa yang tadi datang kesini?" tanya Vanesa bingung.


"Saya lihat seseorang masuk ke apartemen ini, dia sepertinya mirip dengan Cakra, mantan kekasih Nadira. Saya gak tahu dia berbuat apa tadi, tapi saya harus bisa tangkap dia!" jelas Albert.


"Cakra? Kok bisa sih dia ada disini? Apa dia tinggal di apartemen ini juga?" ujar Vanesa terheran-heran.


"Entahlah, saya gak tahu pasti. Sekarang kamu masuk aja ke dalam, kunci yang rapat dan jangan keluar! Saya harus kejar Cakra, saya khawatir dia melakukan sesuatu yang bisa membahayakan saya atau kamu!" ucap Albert.


"Iya, kamu hati-hati ya Bert!" ucap Vanesa.

__ADS_1


Albert mengangguk, kemudian pergi dari sana dengan langkah tergesa-gesa. Tak lupa Albert juga menghubungi Keenan asistennya untuk meminta bantuan.


πŸ“ž"Halo Ken! Kamu datang ke apartemen saya sekarang, saya butuh bantuan kamu untuk menangkap Cakra!" perintah Albert.


πŸ“ž"Baik tuan! Saya segera meluncur kesana sekarang!" ucap Keenan.


πŸ“ž"Ya, saya tunggu." ucap Albert singkat lalu langsung mematikan teleponnya.


Albert kembali melanjutkan langkahnya, ia menekan tombol lift berusaha mengejar Cakra sebelum pria itu pergi dari sana.


Tiiingg...


Pintu lift terbuka, Albert langsung masuk ke dalam sana dan mengatur nafasnya lebih dulu.


Sementara Vanesa masih penasaran mengapa Cakra bisa ada di tempat yang sama dengannya.


"Kenapa Cakra bisa disini ya?" gumamnya.


"Apa dia tadi tahu kalau aku lagi sama Albert? Jangan-jangan dia punya rencana aneh, aku harus coba hubungi nomor dia!" sambungnya.


Vanesa berbalik, masuk ke dalam apartemennya dan mengambil ponselnya dari tas tenteng miliknya yang ia letakkan pada nakas dekat tv.


"Aku gak akan biarin rencana kamu berjalan mulus, Cakra!" ucap Vanesa.


Ia langsung menghubungi nomor Cakra, berharap pria itu mau mengangkat telpon darinya.


Namun, kenyataannya justru berbanding terbalik karena Cakra tidak mau mengangkat telpon dari Vanesa.


"Haish, kurang ajar nih anak! Berani banget dia gak mau angkat telpon dari gue!" umpatnya kesal.


Akhirnya karena kesal tak kunjung diangkat, Vanesa memilih mengirim pesan ke nomor Cakra dengan harapan pria itu dapat membacanya nanti dikala tidak sibuk.


..."Cakra, apa yang kamu lakuin di apartemen aku tadi? Ingat ya, kamu jangan macam-macam sama aku Cakra! Aku bisa bikin kamu menyesal nantinya, kalau kamu berani main-main denganku! Sebaliknya kamu jangan ulangi perbuatan itu, atau Albert tidak akan segan-segan membunuh mu!"...


Setelah mengirim pesan, Vanesa kembali ke kamarnya untuk menata barang-barang yang ia bawa tadi sebelum membersihkan tubuhnya.


"Huh, tinggal sendiri deh. Tapi gapapa, yang penting apartemen ini mewah dan lumayan lah buat aku senang-senang disini. Albert ternyata baik juga ya orangnya!" gumam Vanesa.


"Sayang aja, disini gak ada papa. Kira-kira kabar papa sekarang gimana ya? Aku tiba-tiba kangen banget sama papa, belum pernah aku jauh dari papa selama ini sebelumnya." ucapnya.


"Apa nanti aku minta izin aja ya sama Albert buat ketemu papa? Siapa tau dikasih izin, aku tinggal bilang aja kalau ini kemauan anaknya." ujar Vanesa senyum-senyum sendiri.


β€’


β€’


Namun, Keenan merasa khawatir kalau nantinya Celine terbangun dari tidurnya akibat gerakan yang ia buat.


Saat ini Celine memang tertidur di sofa, gadis itu meletakkan kepalanya pada bahu Keenan sehingga mau tidak mau Keenan harus bertahan seperti itu agar tak membangunkan adiknya.


"Huft, ini gimana ya? Saya harus apa supaya Celine gak bangun?" gumam Keenan.


Karena tak ingin membuat Albert kecewa menunggu lama, Keenan pun terpaksa menyingkirkan kepala Celine secara perlahan dari bahunya agar ia dapat pergi menemui Albert.


"Eenngghh.." Keenan terkejut mendengar suara lenguhan dari adiknya, namun ia lega karena Celine masih memejamkan mata.


"Huh untung aja gak bangun!" ujarnya pelan.


Perlahan-lahan Keenan menempelkan kepala Celine pada sandaran sofa, lalu bangkit dari duduknya sembari menggerakkan bahunya yang terasa pegal.


"Duh, berasa abis gendong karung beras gue. Padahal Celine cuma tidur di bahu gue," ujarnya.


"Gue harus cepat-cepat pergi, gue gak boleh bikin tuan Albert nunggu lama!" sambungnya.


"Bang tunggu!" Keenan terkejut saat tiba-tiba Celine bersuara dan bahkan menahan lengannya dari belakang.


"I-i-iya dek, kenapa?" tanya Keenan gugup.


"Lu mau kemana? Kok gue ditinggal?" ucap Celine mengerjipkan matanya.


"Eee gue..." Keenan tampak bingung menjawabnya.


"Katanya sayang, tapi kok mau ditinggal sih? Lu emang jahat bang, bete gue sama lu!" ucap Celine tampaknya ngambek.


"Eh eh, jangan dong sayang!" ucap Keenan cemas.


"Bodo!" cibir Celine sembari beranjak dari sofa.


Celine melepas tangan Keenan, lalu hendak pergi sembari menguap. Akan tetapi, Keenan cekatan mencekal lengannya dari belakang dan tak membiarkan Celine pergi.


"Tunggu dulu Cel, lu jangan marah ya! Gue ini dapat tugas dari tuan Albert, sebentar doang kok. Abis itu gue bakal balik lagi kesini temenin lu, sekarang lu lanjut aja tidurnya di kamar! Nanti begitu gue balik, gue langsung susul ke kamar deh." bujuk Keenan.


"Ya, gue gak marah kok. Udah sana lu pergi aja, lagian gue tuh gak punya hak buat larang lu." kata Celine masih lemas.


"Makasih ya adek gue yang paling cantik! Tapi, beneran kan lu gak marah?" tanya Keenan ragu.

__ADS_1


"Iya bang, asal pulangnya nanti lu mau bawain gue fuyunghai." jawab Celine.


"Ohh lu lagi kepengen makan itu?" tanya Keenan.


Celine mengangguk cepat disertai senyuman yang menghiasi wajahnya.


"Oke deh, gue bakal beliin yang banyak buat lu nanti pulangnya. Lu jangan marah lagi ya! Mending lu mandi biar seger, atau mau lanjut tidur juga terserah." ucap Keenan.


"Iya bang, kalo gitu gue ke kamar dulu ya? Jangan lupa loh pesanan gue!" ucap Celine.


"Siap cantik!" ucap Keenan mencubit pipi Celine.


Keenan pun melepaskan tangan Celine dan membiarkan gadis itu pergi, ia juga langsung berbalik masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap.


Setelah selesai, Keenan bergegas keluar dari rumahnya. Namun, tak lupa Keenan mengunci pintu kamar Celine lebih dulu untuk mencegah gadis itu keluar dari sana.


"Nah aman, lu gak bisa kemana-mana Cel. Mulai sekarang gue bakal batasi pergerakan lu, karena lu cuma boleh sama gue!" ucap Keenan.


β€’


β€’


Albert tiba di parkiran apartemen, ia melirik ke kanan dan kiri mencari dimana Cakra.


Akan tetapi, Albert sama sekali tidak menemukan keberadaan Cakra disana.


"Haish, kemana ya tuh orang? Cepat amat larinya, apa dia sembunyi di sekitar sini? Saya harus bisa temuin dia, pasti tadi dia udah lakuin sesuatu dan saya harus tau itu!" ujar Albert.


"Tapi, kira-kira ngapain ya dia disini? Kok bisa gitu Cakra masuk ke apartemen saya? Apa dia juga tinggal di apartemen ini?" gumamnya.


Albert berpikir keras sembari menggaruk puncak kepalanya dan menaruh satu jari pada dagunya, ia sungguh bingung mengapa ia bisa bertemu dengan Cakra di tempat itu.


"Ini Keenan juga kemana lagi? Disuruh datang cepat malah lama banget!" ujarnya merasa heran.


Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Orang yang Albert tunggu-tunggu pun tiba dan keluar dari mobil itu.


Ya, itulah Keenan asistennya.


"Maaf tuan, saya terlambat! Tadi sayaβ€”"


"Saya gak mau dengar alasan kamu. Sekarang kamu cepat pergi dan cari Cakra sampai dapat, saya gak mau tau pokoknya kamu harus bisa tangkap dia dan bawa dia ke saya!" potong Albert.


"Baik tuan! Tapi, saya harus cari Cakra kemana tuan?" tanya Keenan bingung.


"Mana saya tau? Saya ini perintahkan kamu, kok kamu malah tanya saya? Kamu cari saja dia ke seluruh penjuru negeri, dia harus berhasil kamu dapatkan!" tegas Albert.


"Siap tuan! Kalau begitu, saya permisi dulu? Saya akan usahakan untuk menemukan Cakra dan membawanya menemui tuan," ucap Keenan.


"Ya, saya tunggu kabar dari kamu!" ujar Albert.


"Siap tuan!" ucap Keenan.


Setelahnya, Keenan langsung kembali ke mobilnya dan melaju pergi dari sana untuk melaksanakan tugas dari Albert.


Sementara Albert tetap berdiri disana, ia hendak pulang namun masih khawatir kalau mamanya belum mengizinkan ia untuk menemui Nadira.


"Saya harus kemana sekarang? Pulang atau tetap disini? Jujur saya ingi bertemu dengan Nadira, tapi saya gak bisa berbuat apa-apa kalau mama melarang saya temui Nadira." ucap Albert.


"Ah saya tidak perduli! Pokoknya saya harus pulang dan temui Nadira sekarang!" sambungnya.


Setelah mengumpulkan niat dan tekad yang kuat, Albert pun mantap untuk pulang ke rumah karena ia sudah sangat merindukan istrinya.


✨


Nadira masih menantikan kehadiran suaminya di kamar, wanita itu terus bersandar pada ranjang dan sesekali melirik ke arah jam dinding.


"Duh, mas Albert kemana ya? Kok lama banget anterin Vanessa nya? Apa jangan-jangan mereka berbuat sesuatu disana?" gumam Nadira.


"Haish Nadira, kamu gak boleh berpikir begitu sama suami kamu sendiri! Kamu itu harus positif thinking!" sambungnya berdebat dengan dirinya sendiri.


Tliingg...


Tiba-tiba ponselnya berbunyi, Nadira menyangka bahwa itu adalah pesan dari Albert.


"Ah itu pasti dari mas Albert!" ucapnya.


Nadira langsung mengambil ponselnya, membuka layar dan melihat siapa yang mengirim pesan ke nomornya.


Akan tetapi, raut wajahnya berubah seketika saat mengetahui pengirim pesan tersebut bukanlah Albert suaminya.


"Cakra? Kok Cakra sih?" ujarnya kesal.


"Tapi, ini Cakra kirim foto apa ya?" sambungnya.


"Buka aja ah!" Nadira pun membuka pesan tersebut dan ia langsung syok melihatnya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2