Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Bodyguard tidak benar


__ADS_3

Albert dan Keenan mengantar Rio keluar dari kantor sesudah pembicaraan diantara mereka bertiga selesai, ya ketiga pria itu berjalan bersama menuju halaman depan perusahaan milik Albert itu karena Rio harus segera pergi.


"Terimakasih pak Rio! Karena anda sudah mau datang ke tempat saya untuk membantu saya, saya harap kerjasama kita kali ini dapat berjalan lancar dan saya bisa menemukan siapa dalang dari semua masalah yang selama ini terjadi di kantor saya!" ucap Albert sambil tersenyum ke arah Rio.


"Sama-sama, pak. Kita ini kan teman dari SD, sudah sewajarnya kalau kita saling bantu seperti ini. Ya tapi saya butuh waktu setidaknya beberapa hari ke depan, untuk menyelidiki ini semua!" ucap Rio.


"Baik pak!" ucap Albert singkat.


Tanpa sepengetahuan mereka, rupanya Vanesa juga mengintip dari jauh dan memperhatikan gerak-gerik ketiga pria tersebut.


"Gue jadi penasaran banget, apa sih yang mereka obrolin tadi?" gumam Vanesa.


"Yasudah pak, saya permisi dulu ya! Masih ada urusan lain yang harus saya urus, kalau misal ada yang ingin dibicarakan lagi bisa lewat chat atau telpon ya pak Albert!" ucap Rio.


"Siap pak! Mari silahkan!" ucap Albert memberi jalan untuk Rionaldo.


"Ya. Pak Keenan, saya permisi!" ucap Rio juga pamit pada Keenan.


"Silahkan pak! Terimakasih atas kunjungannya!" ucap Keenan tersenyum.


Setelahnya, Rionaldo pun melangkah menuju mobilnya dan pergi dari sana. Sementara kedua pria itu masih tetap berdiri disana memikirkan dalang dari terjadinya masalah di kantor tersebut, karena hingga kini masih belum ada petunjuk tentang pembuat masalah itu.


"Keenan, kamu ikut saya sekarang!" pinta Albert.


"Kemana tuan?" tanya Keenan bingung.


"Sudah ikut saja!" ucap Albert.


"Baik tuan!" ucap Keenan menurut.


Lalu, mereka pun juga pergi menggunakan mobil yang terparkir disana, walau Keenan masih bingung Albert hendak mengajaknya kemana.


Vanesa yang daritadi terus mengintip, kini berjalan ke depan setelah Albert dan Keenan pergi. Ia penasaran sekali apa yang terjadi hingga kedua pria itu ikut pergi dari sana.


"Ini sebenarnya ada apa sih? Apa gue ikutin aja ya mereka biar gue tahu?" gumam Vanesa.


Saat Vanesa hendak pergi, tiba-tiba seseorang mencegahnya membuat wanita itu mengurungkan niatnya untuk pergi dari sana.


"Tunggu bu Vanesa!" teriak seorang wanita.


"Hadeh! Mau apa sih dia?" batin Vanesa kesal.


"I-i-iya Bu, ada apa ya?" tanya Vanesa berbalik dan tersenyum menghadap manager disana.


"Saya ingin bicara, mari ikut dengan saya!"


"Eee baik Bu!" ucap Vanesa menurut.


Ya Vanesa pun terpaksa ikut dengan sang manager tersebut, walau sebenarnya ia ingin mengikuti Albert karena ia sangat penasaran kemana Albert pergi bersama Keenan, namun tak mungkin tentunya jika Vanesa menolak kemauan manager.


"Haish, rusuh banget sih nih orang! Gagal deh gue ngikutin mereka!" umpat Vanesa dalam hati.




Disisi lain, Celine memutuskan ikut dengan dua orang pria yang mengaku sebagai suruhan Keenan untuk menjemputnya itu. Biarpun ia belum yakin seratus persen, namun Celine berani mengambil resiko walau taruhannya bukan lagi soal nyawa, tapi lebih dari itu.


Celine duduk di kursi belakang, sedangkan kedua pria tersebut ada di depan. Awalnya semua baik-baik saja ketika mereka berada di mobil, Celine masih merasa percaya pada sosok Alif dan juga Daffa itu, namun entah mengapa lambat laun Celine sadar bahwa ia telah dibohongi.


"Sial! Ini kan bukan jalan ke rumah gue..."


Menyadari jalanan di sekitarnya cukup asing, Celine pun berbicara pada dua orang pria tersebut dengan nada tinggi.


"Heh! Kalian ini sebenarnya siapa dan mau apa, ha?" tegur Celine cukup kesal.


"Maksud non apa ya? Kita gak ngerti deh, kan kita udah jelasin tadi dan non pun percaya kalau kita disuruh sama pak Keenan buat jemput non Celine di sekolah. Kenapa non pake nanya lagi?" ujar Daffa keheranan.


"Oh gapapa, gue cuma mau mastiin aja kok. Soalnya gue kurang yakin sama apa yang kalian bicarakan tadi, cepet ngaku aja deh kalian ini sebenarnya siapa!" ujar Celine.


"Mau ngaku gimana lagi non? Kita kan daritadi juga udah ngaku!" ucap Daffa.


"Cih! Gue tahu ya kalian bukan orang suruhan bang Ken, kalian ini penipu! Berhentiin mobilnya, gue mau turun!" ucap Celine tampak panik.


"Jangan non! Percaya sama kita!" tegas Daffa.

__ADS_1


"Iya non, kalau non turun malah bahaya nanti! Gimana kalau ada penculik yang muncul lagi dan mau culik non Celine? Itu bahaya loh non, terus kita nanti bisa dimarahin sama pak Keenan karena udah lalai jaga non Celine!" sahut Alif.


"Halah udah deh cukup, gausah pura-pura lagi kayak gitu! Ngaku aja kalian, gue tahu kalian bukan orang suruhan abang gue! Siapa kalian? Oh atau jangan-jangan, kalian ini komplotan penculik yang kemarin ya? Cepat berhenti, gue mau turun disini berhenti!" rengek Celine ketakutan.


Dua pria itu saling pandang dan tampak kebingungan menyaksikan Celine yang histeris.


"Bro, gimana nih?" tanya Daffa bingung.


Alif hanya menggeleng dengan menaikkan kedua bahunya tanda tak tahu, ia pun bingung harus bagaimana untuk dapat menenangkan Celine yang tampak histeris dan cemas itu.


"Heh! Kalian dengerin gue gak sih? Gue bilang berhenti ya berhenti anj bukan malah jalan terus!" teriak Celine kesal.


"Sabar non! Ini kita sebentar lagi sampai kok, non tenang dulu ya jangan panik! Kita gak akan lukai non Celine kok, kita ini orang baik non dan kita berniat lindungin non!" ucap Daffa.


"Sampai kemana ha? Jelas-jelas ini bukan jalan ke rumah gue, kalian gak bisa bohongin gue! Emang kalian pikir gue ini anak kecil apa?" ujar Celine.


"Memang bukan ke rumah non, kita bakal bawa non ke suatu tempat dan dijamin non akan suka dengan tempat itu!" ucap Daffa tersenyum.


"Tempat apa?" tanya Celine penasaran.




Singkat cerita, mobil yang dikendarai oleh Alif itu berhenti tepat di depan sebuah rumah besar yang cukup antik. Membuat Nadine merasa heran dan penasaran siapa pemilik rumah itu sekiranya, karena dari halamannya saja sudah nampak kotor seperti tak pernah diurus.


"Nah, ini dia tempatnya non... kita sudah sampai, jadi non gak perlu cemas lagi!" ucap Daffa.


"Rumah siapa ini? Kenapa kalian bawa gue ke rumah ini? Apa sebenarnya mau kalian, ha? Gue ini pengen pulang, gue gak mau ada disini!" ujar Celine sangat cemas dan ketakutan.


"Tenang aja non! Ini itu rumah saudaranya pak Keenan, masih keluarga non Celine juga. Jadi, non gak perlu takut gitu!" jawab Daffa berbohong.


Terlihat Daffa menyenggol tubuh Alif dengan sikunya, bermaksud memberi kode padanya untuk segera menghubungi bosnya.


Alif yang mengerti pun langsung mengambil ponsel miliknya, kemudian mengirim pesan ke nomor yang tertera dengan nama Zayn. Sedangkan Daffa terus mencoba menenangkan Celine dan meyakinkan pada gadis itu bahwa mereka adalah orang baik tak seperti yang dipikirkannya.


^^^Alif^^^


^^^Bos, kita udah berhasil bawa nih cewek. Terus kita harus gimana lagi bos?^^^


Tliingg...


Zayn


Bawa dia turun!


^^^Alif^^^


^^^Baik bos!^^^


Setelahnya, Alif pun memberi kode pada Daffa dengan alisnya untuk segera membawa Celine turun dari mobil.


"Non, ada baiknya kalau kita segera turun! Kebetulan saudara pak Keenan sudah menunggu di dalam ingin bertemu dengan non Celine, mari non kita sama-sama masuk ke dalam!" ucap Daffa.


Celine hanya diam, namun ia tetap mengikuti kemauan kedua pria itu dan turun dari mobil.


"Gue mau diapain ya?" batin Celine bingung.


Setelah turun dari mobil, Celine tampak bingung dan mencemaskan nasibnya. Suasana di depan sana saja sudah cukup mencekam, bagaimana jika Celine harus masuk ke dalam rumah itu? Bisa dipastikan Celine akan semakin ketakutan.


"Mari non, kita masuk ke dalam! Non sudah ditunggu oleh paman non di dalam, tidak baik loh membuat orang menunggu!" ucap Daffa.


"Paman? Seingat gue, gue udah gak punya paman sekarang ini! Kalian berdua bohong kan? Kalian mau jebak gue, iya? Ngaku aja deh, pasti kalian penculik itu kan!" ujar Celine.


"Tenang non! Kita bukan penculik kok, mana mungkin juga kita kayak gitu?" elak Daffa.


"Iya non, udah non percaya aja sama kita! Ayo non ikut kita ke dalam supaya aman dan gak ada yang berani ganggu non lagi!" sahut Alif.


"Gak! Gue gak mau!" tolak Celine cemas.


"Jangan begitu non! Kita ini gak ada niat jahat kok, kita cuma mau bawa non Celine ketemu sama paman non, sesuai perintah dari pak Keenan ke kita sebelumnya non!" bujuk Daffa.


"Gue gak percaya sama omongan kalian! Gue pengen pulang ke rumah, bukan kesini!" ujar Celine.


"Iya non, tapi disini lebih aman. Non bisa dijagain sama paman non itu, supaya non gak diculik lagi kayak kemarin. Ayolah non, kita masuk ke dalam dan sebaiknya non jangan melawan terus seperti ini!" ucap Alif ikut membujuk Celine.

__ADS_1


"Benar non! Kita ini orang baik-baik kok, jadi non ikut sama kita ya!" sahut Daffa.


Akhirnya mau tidak mau, Celine terpaksa menuruti kemauan kedua pria itu daripada dirinya dalam bahaya, ia pun memasuki rumah tersebut bersama Daffa dan Alif di sisinya.


"Ya Tuhan, selamatkan lah hamba!" batin Celine.


Ceklek....


Pintu terbuka memperlihatkan sosok lelaki tinggi dengan jenggot tipis di wajahnya berdiri menatap Celine sambil tersenyum.


"Selamat datang, Celine!" ucap pria yang tak lain ialah Zayn, anak buah Harrison itu.


"Lu siapa?" tanya Celine kebingungan.


"Nanti juga kamu tahu, yang terpenting sekarang mari ikut saya karena kamu sudah ditunggu oleh seseorang di dalam sana!" ucap Zayn sambil tersenyum smirk.


Celine hanya diam memalingkan wajahnya, sedangkan Zayn terlihat memberi kode pada Daffa dan juga Alif bahwa mereka diperbolehkan pergi.


Celine dan Zayn pun melangkah bersamaan ke dalam rumah tersebut, Celine terus menoleh kesana-kemari menatap sekeliling rumah tersebut disertai wajah bingungnya yang masih penasaran dengan siapakah orang yang dimaksud oleh Zayn tadi sedang menunggunya.


"Heh! Yang lu bilang lagi nunggu gue itu siapa? Tadi dua orang itu ngomong katanya ini rumah paman gue, apa benar begitu?" tanya Celine.


"Kamu tidak usah banyak tanya! Ikuti saja saya, kamu juga akan tahu nantinya!" ucap Zayn dingin.


"Cih sok cool banget!" gumam Celine yang tentu masih didengar oleh Zayn.


"Bukan begitu, saya cuma gak mau terlalu banyak bicara dengan kamu. Jadi, kamu cukup diam dan lihat saja nanti siapa yang akan kamu temui!" ucap Zayn.


"Iye iye..."


Gadis itu mencibirkan bibirnya bermaksud meledek Zayn, namun tak berpengaruh bagi lelaki tersebut karena ia tetap teguh pada pendiriannya.


Tiba-tiba Zayn menghentikan langkahnya, membuat Celine terkejut dan menatap heran ke arah pria tersebut.


"Kenapa berhenti?" tanya Celine bingung.


"Itu dia yang sudah menunggu kamu..." jawab Zayn seraya menunjuk ke arah depan.


Sontak Celine segera mengarahkan pandangan ke arah yang ditunjuk Zayn, terlihat seseorang tengah terduduk di kursi menghadap ke belakang sehingga Celine tak dapat melihatnya dengan jelas.


"Siapa dia?" tanya Celine penasaran.


"Hello, Celine Leonia!"




Malam harinya, Albert pulang ke rumah setelah seharian mengurus urusan pekerjaannya. Ia sudah sangat merindukan sosok Nadira, rasanya ingin sekali Albert membelai wanitanya itu dan melanjutkan aktivitas panas mereka yang belakangan jarang dilakukan.


Akan tetapi, baru saja Albert hendak melangkah ke dalam rumahnya, tiba-tiba Keenan berteriak dari arah belakang dan membuatnya terkejut. Pasalnya, Keenan memang masih berada di dalam mobil selepas mengantar Albert pulang.


"Aaarrgghh!!!"


Mendengar itu, Albert pun membalikkan tubuhnya melihat ke arah Keenan. Ia bergegas menghampiri asistennya itu untuk bertanya apa yang terjadi, tentu saja Albert ingin tahu karena masalah yang menimpa Keenan juga termasuk masalahnya, ya mereka adalah satu kesatuan yang tak bisa dilepaskan.


"Ada apa Keenan?" tanya Albert penasaran.


"Tu-tuan, saya baru saja dapat kabar kalau Celine adik saya diculik, tuan. Ini saya dikirim foto oleh penculik itu, dia mengirim foto Celine yang sedang tertidur disertai pesan mengancam tuan!" jawab Keenan menjelaskan pada Albert.


"Apa? Bagaimana bisa itu terjadi? Apa kamu tidak menyewa orang untuk menjaga adik kamu seperti yang sudah saya perintahkan?" ujar Albert kaget.


"Sudah tuan, saya juga tidak tahu mengapa orang-orang itu sulit dihubungi sekarang. Padahal tadi siang saat pulang sekolah, mereka bilang kalau Celine baik-baik saja. Tapi, sekarang nyatanya Celine justru diculik dan ditahan oleh penjahat itu!" ucap Keenan histeris.


"Ini benar-benar keterlaluan Keenan! Kita berada dalam bahaya, karena pasti penculik itu akan menekan kita dengan Celine sebagai ancamannya!" ucap Albert.


"Iya tuan, saya juga tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada adik saya tuan! Hanya dialah satu-satunya keluarga yang saya miliki saat ini, maka dari itu saya harus selamatkan dia sekarang juga tuan! Saya mohon izin tuan!" ucap Keenan.


"Tahan Keenan! Kamu tidak boleh pergi dalam keadaan emosi seperti ini, yang ada itu hanya membahayakan keselamatan kamu!" ujar Albert.


"Tapi tuan, saya gak punya pilihan lain! Saya harus bebasin Celine dari orang itu!" tegas Keenan.


"Iya saya ngerti Keenan! Kamu harus sabar! Memangnya kamu tahu dimana Celine adik kamu itu berada sekarang, ha?" ujar Albert.


Keenan terdiam menunduk, dirinya memang tidak tahu dimana penculik itu menyekap Celine, sehingga ia harus menuruti perkataan Albert untuk tetap disana dan bersabar dalam mengambil keputusan.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2