Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Pingsan


__ADS_3

"Devano!" Albert sudah tiba di kantornya, ia langsung membuka pintu dan masuk ke dalam ruangannya.


Terlihat Devano masih bersama Carolina disana, mereka pun tampak terkejut dan reflek menoleh begitu ada seseorang yang muncul serta memanggil nama pria itu.


"Albert?" Devano bangkit dari duduknya, melangkah ke dekat Albert dan berpelukan.


"Wahaha, lama gak ketemu makin sukses aja nih kelihatannya!" ucap Devano.


"Ah bisa aja kamu! Saya lihat-lihat juga kamu kayaknya makin berjaya nih. Gimana kabar perusahaan kamu?" ucap Albert.


"Ya begitulah, namanya usaha ada turun naiknya. Tapi, Alhamdulillah sekarang lagi naik dan dapat untung banyak!" jawab Devano.


"Syukurlah ya Van!" ucap Albert tersenyum.


"Eh yasudah, ayo duduk lagi!" ucap Albert.


"Iya iya.." Devano menurut dan kembali duduk di sofa bersama Albert.


Carolina merasa tidak enak jika terus berada disana, ia pun berinisiatif untuk pamit kepada bosnya dan pergi dari sana.


"Maaf pak! Saya mohon izin kembali ke ruangan saya!" ucap Carolina.


"Ah iya Lina, kamu bisa kembali. Terimakasih ya sudah mau menemani Devano tadi!" ucap Albert.


"Sama-sama pak, kalau begitu saya permisi dulu!" ucap Carolina.


"Ya ya, silahkan!" ucap Albert.


"Terimakasih ya Carolina!" ucap Devano.


"Iya pak," ucap Carolina.


Setelah gadis itu pergi, Albert kembali menatap wajah Devano dengan senyum melingkar di bibirnya.


"Heh! Mata itu dijaga! Nanti kalau ketahuan bini kamu bisa gawat loh! Emangnya mau terjadi perang dunia ketiga?" ujar Albert.


"Hahaha, bisa aja kamu Albert! Saya kan cuma kagum aja sama sekretaris kamu itu, selain baik dia juga sopan loh. Udah gitu orangnya asik banget, padahal saya baru beberapa menit tadi bicara sama dia tapi udah ngerasa nyaman. Gimana kamu yang sering disini sama dia?" ucap Devano.


"Ya begitulah, tapi saya gak akan pernah tertarik dengan wanita lain. Saya ini setia sama istri saya, lagian Carolina mah gak ada apa-apanya dibanding istri saya!" ucap Albert.


"Loh, memangnya kamu sudah menikah? Kapan? Kok kamu tidak mengundang saya sih?" tanya Devano terkejut.


"Ya itu dia, maaf ya saya kelupaan! Abisnya kamu juga jarang sih kasih kabar ke saya, jadinya saya kira kamu masih di Amsterdam sama keluarga kamu." jawab Albert.


"Iya Albert, kamu kan tau sejak ditinggal Shella hidup saya ini sempat hancur." ucap Devano.


"Sabar ya Van! Saya turut berdukacita atas kepergian Shella, dan maaf juga saya gak bisa hadir di pemakaman Shella karena waktu itu saya ada urusan mendadak!" ucap Albert.


"Gapapa Bert, santai aja!" ucap Devano.


"Oh ya, terus kabar Nadya sama anak kamu gimana? Baik-baik aja kan, gak ada masalah?" tanya Albert.


"Alhamdulillah mereka semua baik! Terutama Abila, dia sudah semakin besar dan punya banyak teman. Ya tapi sampai sekarang dia juga belum tahu, kalau ibu kandungnya sudah gak ada." jawab Devano.


"Mau sampai kapan kamu tutup-tutupi masalah itu dari Abila? Bukannya dia berhak tau ya siapa ibu kandungnya?" tanya Albert.


"Sebenarnya saya juga mau kasih tahu ke Abila, tapi gimana lagi? Pesan terakhir Shella sebelum dia pergi kan dia gak mau Abila tau kalau ibu kandungnya itu sudah meninggal, jadi saya bingung Bert sekarang." jawab Devano.


"Yasudah, kamu renungi saja dulu dengan Nadya dan orang tua kamu!" ucap Albert.


"Iya, pasti!" ucap Devano tersenyum tipis.


Albert terus menepuk-nepuk pundak Devano memberi semangat untuk sahabatnya itu agar tidak putus as.


"Eh ya, ngomong-ngomong istri kamu itu siapa? Coba kenalin dong ke saya!" ujar Devano.


"Hahaha, ada deh. Pokoknya dia itu cantik banget, nanti saya kasih lihat deh fotonya ke kamu. saya yakin kamu juga pasti terpesona begitu melihat rupanya!" ucap Albert.


"Iya deh, saya juga yakin gak mungkin seorang Albert memilih istri yang biasa-biasa aja!" ujar Devano terkekeh.


"Hahaha..." mereka tertawa bersama disana.




Keenan datang ke rumah Albert berniat menemui bosnya itu untuk melapor mengenai proses pencarian jasad Cakra.


Namun, Keenan justru berpapasan dengan Chelsea saat hendak melangkah masuk ke dalam rumah itu.


Keenan pun tersenyum menatap Chelsea dengan penuh keceriaan, akan tetapi gadis itu justru memasang raut kesal di wajahnya.


"Hai sayang! Yang namanya jodoh emang gak kemana ya, niat mau ketemu tuan Albert eh malah ketemu kesayangan. Senang banget deh aku lihat kamu lagi!" ujar Keenan.


"Kamu ngapain kesini?" tanya Chelsea ketus.


"Ya seperti yang aku bilang tadi sayang, aku mau ketemu tuan Albert. Tapi, Tuhan malah mempertemukan aku sama kesayangan aku yang cantik ini. Kamu cantik banget sih sayang, gemesin lagi!" ucap Keenan merayu gadisnya.

__ADS_1


"Gausah gombal! Kalo kamu mau ketemu kak Albert, dia gak ada disini!" ucap Chelsea cuek.


"Yah kok gak ada sih? Padahal aku mau laporin sesuatu yang penting sama dia. Emangnya tuan Albert lagi pergi kemana?" tanya Keenan.


"Kantor," jawab Chelsea dingin.


"Ohh ke kantor, terus kamu sendiri mau kemana ini?" tanya Keenan.


"Huh nanya mulu sih kamu!" cibir Chelsea.


"Eh eh, kamu kenapa sih sayang? Kok jutek begitu sama aku? Apa kamu marah sama aku? Emang aku ada salah apa sama kamu sayang?" tanya Keenan heran.


"Gak tahu ah, pikir aja sendiri! Udah awas, aku mau pergi!" ujar Chelsea.


"Tunggu dulu dong sayang! Kamu jelasin dulu ke aku, kamu kenapa dan ada masalah apa?! Kalau emang aku punya salah, kamu bilang dong supaya aku bisa tahu apa kesalahan aku!" ucap Keenan.


"Chelsea, ayo kita pergi!" Nadira yang baru muncul tak tahu jika disana ada Keenan, ia pun terkejut dan langsung tersenyum menatap pria itu.


"Eh ada pak Ken," ucap Nadira.


"Halo Bu!" ucap Keenan menyapa Nadira.


"Iya, kamu kesini mau ajak Chelsea jalan-jalan ya?" tanya Nadira.


"Enggak kok Bu, saya mau cari tuan Albert. Tadi gak sengaja aja ketemu sama Chelsea disini. Ini ibu sama Chelsea pada mau kemana, kok rapih-rapih semua?" ucap Keenan.


"Ah iya nih, kita mau shopping shopping gitu di mall. Kebetulan aku bosan juga di rumah terus, jadi Chelsea kasih saran buat ajak aku pergi ke mall." kata Nadira.


"Oh begitu, apa mau saya antar bu?" tanya Keenan.


"Gausah! Kita mau pergi sama pak Liam aja. Udah, kamu mending susulin kak Albert ke kantor deh sana katanya ada hal penting!" ucap Chelsea.


"Sayang, kamu itu kenapa sih? Kayaknya daritadi kamu ketus banget sama aku, apa aku punya salah sama kamu?" tanya Keenan heran.


"Gak ada kok, udah sana pergi aja!" ujar Chelsea.


"Chelsea, jangan begitu dong sama pacar kamu! Bukannya kamu katanya kangen ya sama Keenan? Ini kan mumpung ketemu, mending kamu coba ngobrol-ngobrol dulu deh sama dia!" ucap Nadira.


"Gak perlu mbak, gue pengen temenin lu aja refreshing ke mall." ucap Chelsea.


"Kamu yakin? Gak nyesel nih nanti?" tanya Nadira.


"Enggak lah, ngapain juga gue nyesel? Udah ayo mbak, nanti keburu siang tau!" ucap Chelsea.


"I-i-iya iya.." ucap Nadira gugup.




Keenan keluar dari kantor sesudah menemui Albert di dalam sana dan mengatakan semuanya mengenai Cakra.


Tampak Keenan masih belum bisa melupakan kejadian saat ia bertemu dengan Chelsea di rumahnya tadi.


Keenan pun terus berpikir mengapa sikap Chelsea mendadak berubah padanya, padahal biasanya gadis itu selalu ingin dimanja tiap kali berada di dekatnya.


"Huh, Chelsea itu kenapa ya? Dia kok kayak berubah gitu ke saya?" gumam Keenan.


Saat Keenan hendak masuk ke mobil, tiba-tiba saja Carolina muncul memanggil namanya dan membuat pria itu spontan menoleh.


"Pak Keenan, tunggu!" teriak Carolina.


"Ada apa Carol?" tanya Keenan heran.


"Saya bisa minta bantuan bapak gak? Soalnya ban mobil saya kempes dan saya bingung harus gimana, bapak bisa kan bantu saya?" ucap Carolina dengan wajah memelas.


"Kalau ban kamu kempes, harusnya kamu minta tolong sama ob di dalam sana, bukan ke saya! Saya mana ngerti soal begituan? Udah ya, saya harus pergi sekarang!" ujar Keenan.


"Eee tunggu dulu pak! Tadi saya udah minta bantuan ob, dan katanya orang bengkel lagi mau datang sebentar lagi kesini." ucap Carolina.


"Nah, terus kenapa kamu masih minta bantuan sama saya coba?" tanya Keenan bingung.


"Sebenarnya saya ini mau minta bantuan ke bapak untuk anterin saya pulang, bisa kan pak?" jawab Carolina gugup.


"Hah? Antar kamu pulang?" Keenan terkejut.


"I-i-iya pak, kenapa? Bapak gak bisa ya anterin saya? Ayo dong pak, sebentar doang kok! Saya lagi buru-buru nih udah ada janji sama teman." ucap Carolina.


"Hadeh, memangnya kamu pikir saya gak ada urusan lain? Kamu mah enak udah selesai kerja, lah saya masih harus urus urusan pak Albert yang lain. Maaf ya Carol, tapi saya gak bisa antar kamu pulang!" ucap Keenan menolak.


"Pak, tunggu pak!" ucap Celine menahan Keenan.


"Aduh Carol! Kamu ini kenapa sih? Kan udah saya bilang, saya gak bisa antar kamu!" ujar Keenan.


"Iya pak, kalo gitu saya minta maaf ya!" ucap Carolina.


Melihat ekspresi Carolina saat ini, hati Keenan jadi merasa tidak enak karena sudah menolak keinginan gadis itu tadi.

__ADS_1


"I-i-iya iya, gapapa kok." jawab Keenan gugup.


"Yaudah pak, saya permisi ya!" ucap Carolina.


"Oke!" ucap Keenan pelan.


Carolina pun berbalik dan hendak pergi, namun entah apa yang terjadi tiba-tiba saja gadis itu pingsan dan membuat Keenan terkejut.


Keenan pun dengan cepat menangkap tubuh Carol yang hendak jatuh itu, untunglah ia cekatan sehingga Carol tidak terjatuh ke bawah.


"Eh eh eh, kamu kenapa Carol?" ujar Keenan panik.


"Duh, dia pake pingsan segala lagi! Saya harus gimana ini ya?!" gumamnya kebingungan.


"Ah udah deh, saya bawa ke mobil aja!" sambungnya.


Karena tak memiliki pilihan lain, akhirnya Keenan terpaksa membawa tubuh Carol ke dalam mobilnya walau Keenan tidak tahu kemana ia harus membawa gadis itu nantinya.


"Haish, ada-ada aja kamu Carol! Kenapa coba kamu bisa pingsan?" ujar Keenan sembari menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Carol.


Drrttt..


Drrttt...


Ponsel Keenan berbunyi, ada telpon dari adiknya yang semakin membuat Keenan merasa bingung.


"Haish, Celine nelpon lagi. Gimana nih?" gumamnya.




Devano dan Albert juga sama-sama keluar dari kantor, mereka menyudahi obrolan mereka hari ini mengingat hari sudah sore dan keduanya harus pulang ke rumah masing-masing.


"Yaudah ya Albert, saya harus pulang dulu nih. Ya kamu tahu kan di rumah saya itu ada anak-anak yang nunggu saya buat pulang, kebetulan saya juga gak bisa jauh dari mereka. Terutama Agnez, dia selalu nangis kalau gak lihat saya." ucap Devano.


"Hahaha, kangen anak atau kangen sama Nadya kamu Vano? Saya tahu loh isi hati kamu, jangan jadikan anak sebagai alasan!" sarkas Albert.


"Waduh ketahuan deh! Ya saya kangen sama mereka semua lah, tapi emang paling utama istri saya sih soalnya senyumannya itu selalu terbayang-bayang di pikiran saya." kata Devano.


"Iya, begitu juga dengan istri saya Nadira. Nanti kapan-kapan saya main deh ke rumah kamu, sekalian saya ajak istri saya itu." ucap Albert.


"Oke! Tapi, kayaknya sih saya duluan yang bakal main ke rumah kamu. Kebetulan Abila sama Agnez itu suka banget main-main ke rumah orang, jadi mereka bisa dah tuh acak-acak rumah kamu." ujar Devano terkekeh kecil.


"Hahaha, boleh boleh. Saya tunggu ya kedatangan kamu!" ucap Albert.


"Siap! Kalo gitu saya duluan ya? Sampai ketemu lagi Albert!" ucap Devano pamit.


"Iya, hati-hati di jalan!" ucap Albert tersenyum.


"Kamu juga." balas Devano.


Mereka saling melambai satu sama lain, lalu Devano pun masuk ke dalam mobilnya dan mulai melaju pergi dari tempat itu.


Sementara Albert tetap berdiri disana dengan dua tangan dimasukkan ke dalam saku celana seraya berpikir keras.


"Saya harus bisa manfaatkan ini! Devano itu pebisnis hebat, semua usaha yang dia kelola pasti ada jaminan sukses. Mungkin dia bisa membantu saya untuk memperbaiki masalah di kantor ini, ya semoga saja!" gumam Albert dalam hati.


"Ini ngomong-ngomong Lina kemana ya? Masa iya jam segini dia udah pulang?" ujar Albert.


"Ah biarin aja deh, mungkin dia emang sudah pulang. Lebih baik sekarang saya hubungi Nadira, kira-kira dia masih di mall atau enggak ya?" gumam Albert.


Akhir pria itu memutuskan untuk menghubungi nomor Nadira dan menanyakan apakah istrinya itu masih berada di mall atau tidak.


📞"Halo sayang!" ucap Albert lembut.


📞"Iya, halo mas! Kenapa? Kamu kangen ya sama aku sampai nelpon begini?" ucap Nadira.


📞"Hahaha, bisa aja kamu. Iya nih, saya kebetulan lagi kangen sama kamu. Oh ya, kamu masih di mall atau udah pulang nih?" ujar Albert.


📞"Eee aku lagi di jalan pulang nih sama Chelsea, emang kenapa mas?" ucap Nadira.


📞"Oh, gapapa kok. Tadinya kalau kamu masih di mall, saya mau susulin. Tapi, karena kamu udah pulang yaudah deh kita ketemu di rumah aja ya!" ucap Albert.


📞"Oke mas!" ucap Nadira.


📞"Bye sayang! Mmuuaacchh.." ucap Albert memberi kecupan online.


📞"Bye juga mas!" ucap Nadira.


Tuuutttt...


Nadira langsung memutus telponnya, membuat Albert merasa kecewa karena tak mendapat ciuman balasan dari istrinya itu.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2