Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Ancaman


__ADS_3

"Hey! Dimana Albert?!" teriak seorang pria dengan masker yang menutupi wajahnya.


Keenan sang asisten bersama beberapa anak buahnya bersiap menghadapi sekumpulan pria tersebut dengan tangan kosong, memang bukan levelnya mereka bertarung menggunakan alat bantu seperti senjata atau apalah itu.


"Apa dia tidak berani datang sendiri kesini? Maka dari itu, dia menyuruh kalian untuk menghadapi kita, iya? Dasar pengecut si Albert itu!" ujarnya sekali lagi.


"Tuan Albert tidak ingin mengotori tangannya hanya untuk menghabisi cecunguk bodoh seperti kalian semua! Cukup saya dan anak buah saya, sekarang jelaskan apa mau kalian!" ucap Keenan santai.


"Hahaha bilang sama bos lu itu, berhenti buka bisnis rentenir! Atau kita bakal habisin dia dan kalian semua tanpa bersisa!" ucap pria itu.


"Siapa yang udah suruh kalian?" tanya Keenan.


"Lu gak perlu tau! Hiyaaa...."


Pria itu berteriak kemudian lari menghampiri Keenan dan berusaha memukulnya menggunakan batang kayu, pertarungan pun terjadi di sebuah tanah lapang yang cukup luas dan sepi itu.


Keenan dengan santainya mampu menghindari berbagai pukulan yang diarahkan pria itu, bahkan ia berhasil membalikkan keadaan dan menyerang si pria walau tanpa senjata apapun di tangannya.


Tak lama kemudian, seluruh pasukan pria bermasker itu tumbang di tangan Keenan serta anak buahnya yang jumlahnya lebih sedikit dibanding para pasukan tersebut.


Keenan pun melangkah mendekati pria itu, ia memelintir tangan si pria ke belakang sembari mencekiknya dengan kuat agar pria itu tak bisa pergi kemana-mana.


"Cepat katakan sekarang! Siapa yang udah suruh kalian semua buat ancam tuan Albert?" bentak Keenan.


"Aaaakkkhh!! Gu-gue gak tahu!"


"Jangan bohong!" tegas Keenan sambil mengencangkan cekikan nya.


"Aakhhh ampun ampun, gue beneran gak tahu!"


"Sekali lagi saya tanya, siapa yang udah suruh anda dan anak buah anda mengancam tuan Albert? Atau saya tidak akan segan-segan mematahkan leher dan tangan anda!" ancam Keenan.


"Silahkan aja! Gue emang beneran gak tahu siapa orangnya!"


Pria itu justru menantang Keenan, tentunya Keenan tersulut emosi dan akhirnya dengan satu gerakan ia berhasil mematahkan tangan kanan serta bagian leher pria tersebut, hingga si pria bersimpuh tak berdaya di tanah.


Kreekkk...


"Aaaakkkhh!!"


Para anak buah si pria itu merasa takut melihat kejadian yang dialami bosnya, mereka langsung berhamburan pergi meninggalkan bos mereka yang sedang kesakitan.


Perlahan pria yang tengah berjuang menahan sakit yang amat sangat itu, akhirnya kehabisan tenaga dan tergeletak tak berdaya di tanah. Liam maju mengecek kondisi pria tersebut, dan ternyata pria itu sudah meninggal.

__ADS_1


"Bos, kenapa dia dibunuh?" tanya Liam pada Keenan.


"Saya terbawa emosi, sudah lah yang penting dia udah gak bisa ganggu tuan Albert lagi! Urusan kita selesai, ayo pergi!" ucap Keenan.


"Baik bos! Tapi, bagaimana dengan mayatnya? Lalu, kita juga belum tahu siapa yang menyuruh mereka bos! Saya yakin ada orang besar yang ingin menjatuhkan tuan Albert," ujar Liam.


"Biarkan saja mayatnya membusuk disini! Kalau soal siapa yang suruh mereka, nanti akan saya cari tau lebih lanjut!" ucap Keenan.


"Baik bos!"


Setelahnya, Keenan serta beberapa anak buahnya pun melangkah pergi dari tempat itu.




Sementara itu, Albert tengah berada di sebuah bukit hijau yang indah bersama sang adik tercinta. Mereka menikmati sore hari yang sejuk ini sembari menanti momen terbenamnya matahari di atas bukit tersebut, keduanya memang sering mendatangi tempat itu saat Chelsea berada di negaranya.


Suasana yang nyaman dan menyejukkan, membuat Albert melupakan sejenak masalah yang tengah menimpa dirinya, yakni terkait surat ancaman dari seseorang beberapa saat sebelumnya. Ia sendiri tak tahu siapa pelaku yang mengirim surat tersebut, namun ia tak mau ambil pusing dan memilih santai.


"Kak, aku paling suka deh kalo udah duduk berdua sama kakak di tempat ini! Apalagi pas sunset nanti, pasti tambah keren kak!" ucap Chelsea.


"Iya sama, kakak juga suka banget berduaan sama kamu Chelsea! Kita kan udah lama gak kayak gini, anggap aja ini sebagai pelepas rindu kita berdua sayang!" ucap Albert tersenyum.


"Entahlah, mungkin mereka pada sibuk. Jadi, mereka gak bisa menikmati indahnya senja seperti kita berdua sayang!" jawab Albert.


"Hahaha kasihan dong mereka!" ujar Chelsea.


"Benar banget!" ucap Albert.


Chelsea yang sedari tadi menaruh wajahnya di pundak sang kakak, kini mengangkatnya dan menatap wajah Albert dari samping dengan tatapan gemasnya.


"Kenapa?" tanya Albert heran.


"No, aku cuma masih bingung sama kakak. Gimana bisa seorang kak Albert menikahi cewek yang gak jelas kayak gitu? Aku heran deh, apa menariknya sih dia di mata kakak? Kayak gak ada cewek lain aja, padahal kakak itu kan ganteng, kece, kaya raya! Pasti banyak yang suka sama kakak, kenapa kakak malah pilih istri model begitu sih?" ujar Chelsea.


"Chelsea, kamu jangan ikut campur masalah pribadi kakak! Urusan istri, itu masalah kakak dan kakak yang berhak menentukan itu bukan kamu! Mending kamu urus aja hubungan kamu dengan Keenan, kapan tuh kalian mau nikah?" ujar Albert.


"Yaelah kak, sewot amat sih! Aku kan cuma sampein pendapat aku! Menurut aku, Nadira itu gak pantes jadi istri kakak! Mending kakak ceraikan dia, terus cari wanita lain yang lebih keren!" ucap Chelsea.


"Mana bisa gitu sih sayang? Kakak sama dia aja baru nikah beberapa Minggu, masa mau langsung cerai sih? Tenang aja, kamu gak perlu minta juga nanti kakak bakal pisah kok sama dia!" ucap Albert.


"Hah? Serius kak?" ujar Chelsea kaget.

__ADS_1


"Yap! Udah ya, jangan dibahas lagi!" ucap Albert.


Chelsea tersenyum sambil menganggukkan kepala, Albert pun merangkul pundak adiknya itu lalu mengusap puncak kepalanya dengan lembut.




Darius alias paman Albert yang memiliki beberapa usaha maju, tiba di halaman rumah Albert. Pria dewasa itu turun dari mobilnya, dan melepas kacamata yang ia kenakan.


Suasana rumah Albert terlihat cukup sepi, hanya ada beberapa penjaga disana yang berdiri tepat di depan teras rumah untuk berjaga seperti perintah dari Albert pada mereka.


Darius pun melangkah mendekati kedua penjaga tersebut, lalu berbicara pada mereka.


"Hey, apa Albert ada di dalam?" tanya Darius.


"Eee maaf pak! Tapi, tuan Albert kebetulan sedang pergi keluar. Kalau bapak ingin bertemu dengan tuan Albert, sebaiknya menunggu lebih dulu beberapa saat atau bisa pulang saja ke rumah anda!" jawab salah satu penjaga disana.


"Ohh sedang pergi? Berarti di dalam tidak ada siapa-siapa dong?" ujar Darius.


"Begitulah pak, memangnya kenapa ya?" ujar penjaga itu.


"Oh gapapa, saya menunggu di dalam saja sampai Albert datang. Kalau tuan kalian itu sudah datang, langsung suruh dia temui saya!" ucap Darius.


"Baik pak, silahkan!" ucap penjaga itu memberi izin.


Tanpa berlama-lama lagi, Darius melangkah ke depan dan masuk ke dalam rumah Albert dengan santainya sembari celingak-celinguk melihat sekeliling rumah besar itu.


"Albert Albert, rumah kok gak pernah dikasih perawatan!" ujarnya saat memasuki rumah ponakannya itu.


Darius yang telah sampai di ruang tamu, memilih duduk pada sofa yang tersedia walau belum diberi izin oleh siapapun. Ia mengangkat satu kaki di atas kaki yang lainnya, masih sembari mendongak melihat-lihat sekeliling rumah Albert mencari sudut negatif pada rumah tersebut.


Tak lama kemudian, seorang pelayan muncul mendekati Darius untuk menawarkan minuman.


"Permisi pak, bapak mau minum apa?" tanya pelayan bernama Fadia itu.


"Susu coklat aja!" jawab Darius.


"Baik pak, ditunggu!" ucap Fadia.


Fadia berbalik pergi, sedangkan Darius tetap disana sambil bergoyang kaki seperti di rumah sendiri.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2