Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Bangun bang!


__ADS_3

Tuuutttt....


Telpon sudah terputus, dengan cepat Harrison mengambil ponsel itu dari tangan Celine dan menyimpannya.


"Kapan abang kamu ingin datang?" tanya Harrison pada gadis itu.


"Gue gak tahu, tadi bang Ken cuma bilang secepatnya. Mungkin aja sekarang dia lagi jalan kesini, dan gue yakin sebentar lagi pasti lu sama anak buah lu bakalan dihabisin!" ucap Celine.


"Hahaha, teruslah bermimpi sayang! Yasudah, kalau begitu aku akan menunggu kedatangan abang kamu itu di luar. Kamu tetap disini, tunggu sampai aku selesai bicara dengan calon kakak ipar ku itu!" ucap Harrison tersenyum smirk.


"Terus aja berkhayal, dasar aki-aki!" cibir Celine meledek pria tua di hadapannya.


"Kamu sekarang boleh bicara begitu sayang, tapi kita lihat apa yang akan terjadi dua hari ke depan! Aku yakin cepat atau lambat kamu pasti bisa terima aku sebagai suami kamu!" ucap Harrison.


"Jangan gila deh lu! Mana mungkin gue mau nikah sama aki-aki kayak lu? Itu cuma bisa terjadi di mimpi lu doang!" ujar Celine kesal.


"Kita lihat aja nanti sayang!" ujar Harrison.


Pria itu menggerakkan tangannya mengusap puncak kepala Celine dengan lembut, Celine langsung bergerak mundur menghindari sentuhan tangan dari Harrison sembari menunjukkan ekspresi tidak sukanya.


"Jangan sentuh-sentuh gue! Gue gak sudi ya disentuh sama aki-aki kayak lu!" ucap Celine kesal.


"Okelah, kali ini aku turuti kemauan kamu gadis cantik. Tapi, begitu kamu jadi istri aku nanti aku pastikan kamu gak bisa nolak lagi perintah dari aku sayang!" ucap Harrison tersenyum.


Celine hanya diam membuang muka, ia malas sekali meladeni omongan laki-laki tua tersebut. Jujur saja ia muak lama-lama bicara dengan Harrison yang selalu berkhayal ingin menjadi suaminya itu.


"Yasudah, saya keluar dulu ya sayang? Kamu tidak perlu khawatir, nanti saya akan segera kembali untuk kamu!" ucap Harrison.


"Lu mau pergi selamanya juga gue ridho kok!" ujar Celine.


"Hahaha lucu sekali kamu Celine..." Harrison justru tertawa kecil mendengar ucapan gadis itu.


Setelahnya, Harrison pun berbalik lalu pergi keluar dari kamar itu meninggalkan Celine seorang diri. Ya Harrison akan bersiap untuk menyambut kedatangan Keenan di tempatnya, ia sudah tidak sabar ingin segera menghabisi pria itu agar rencananya untuk meruntuhkan Albert dapat berjalan dengan lancar.


Celine pun terduduk di sofa dengan memegangi wajahnya, ia bersedih meratapi nasibnya yang cukup mengenaskan karena diculik dan hendak dinikahi oleh seorang aki-aki.


"Hiks hiks... sampai kapan gue harus disini coba? Gue gak mau nikah sama tuh aki-aki, biar begini juga selera gue masih tinggi tau!" ujar Celine.


Gadis itu terus berdoa dan berharap kalau abangnya bisa datang menyelamatkannya, tentu karena ia sudah tak tahan terus berada di rumah Harrison dan ingin segera keluar lalu kembali berkumpul bersama abangnya.




TOK TOK TOK...


Abigail mendatangi kediaman Suhendra alias ayah kandung dari Nadira untuk mencari tahu apakah menantunya ada disana atau tidak, ya Abigail memiliki firasat jika Nadira memang kabur ke rumah kedua orangtuanya karena tak tahan dengan sikap dan kelakuan Albert.


Wanita itu datang bersama sang supir, ia langsung mengetuk pintu berharap seseorang bisa segera membukakan pintu untuknya. Wajahnya terlihat cemas, biar bagaimanapun ia sudah menganggap Nadira sebagai putri kandungnya sendiri, karena sikap dan perilaku Nadira yang baik.


Ceklek..


Pintu pun terbuka, Sulastri keluar dari balik pintu lalu tersenyum menatap Abigail disana.


"Eh ada Bu Abigail. Mari masuk Bu!" ucap Sulastri melebarkan pintu dan meminta Abigail masuk ke dalam rumahnya.


"Iya Bu, ini saya. Apa kabar Bu Sulastri? Sehat-sehat aja kan?" tanya Abigail sembari bersalaman dengan Sulastri.


"Alhamdulillah saya sehat kok Bu! Silahkan masuk Bu!" ucap Sulastri.


"Ah iya Bu," Abigail menurut kemudian melangkah masuk ke dalam rumah sederhana itu.


Abigail terus celingak-celinguk mencari tahu apakah Nadira ada disana atau tidak begitu ia tiba di ruang tamu rumah bersama Sulastri, namun terlihat kalau disana cukup sepi karena tak ada tanda-tanda kehidupan lainnya.

__ADS_1


"Silahkan duduk Bu!" pinta Sulastri.


"Iya, terimakasih." Abigail pun duduk di sofa sesuai kemauan Sulastri sambil terus berusaha mencari keberadaan Nadira disana.


"Eee maaf Bu! Ibu ini lagi cari siapa sebenarnya? Daritadi saya perhatikan ibu selalu celingak-celinguk begitu, siapa yang ibu cari?" tanya Sulastri penasaran.


"Eh bukan siapa-siapa kok Bu, saya cuma heran aja pak Hendra kemana ya gak kelihatan? Soalnya ini rumah kayak sepi banget gitu!" ujar Abigail.


"Oalah, bapak mah kalo jam segini masih di ladang. Memangnya ada apa ya Bu? Kalau misal ibu ada perlu sama bapak, nanti bisa saya telpon dan minta bapak untuk pulang!" ucap Sulastri.


"Eh gausah Bu, jangan! Nanti malah ganggu kerjaan si bapak lagi, biar aja saya bicara sama ibu. Lagian tadi saya cuma bingung doang kok, bukan ada perlu sama bapak!" ucap Abigail tersenyum.


"Oh gitu, yasudah sebentar ya Bu! Saya mau buatkan minuman dulu di dapur," ucap Sulastri.


"Aduh pakai repot-repot segala Bu, jadi gak enak nih saya!" ujar Abigail.


"Gapapa lah Bu, besan datang masa gak disediakan apa-apa sih? Justru saya yang gak enak kalo begitu mah, tunggu sebentar ya Bu!" ucap Sulastri tersenyum lebar.


"Baik Bu, terimakasih!" ucap Abigail.


Sulastri pun berbalik pergi menuju dapurnya untuk membuat minuman, sedangkan Abigail tetap duduk disana dan tampak mencari-cari keberadaan Nadira yang saat ini entah ada dimana.


"Duh, kamu sebenarnya pergi kemana Nadira? Kalau aku bilang atau tanya langsung ke Sulastri, takutnya malah bikin dia syok kalau Nadira ternyata tidak ada disini! Aku harus bisa pandai-pandai nih supaya gak bikin Bu Lastri kaget," batin Abigail.




Disisi lain, Albert terus menekan Vanesa agar mau memberitahu apa maksud dan rencana yang sudah atau sedang dijalankan oleh wanita itu bersama pamannya, yakni Darius. Ya biarpun Albert telah mengetahui semuanya dari Rio, tetap saja pria itu ingin mengetes apakah Vanesa mau berkata jujur padanya atau tidak


Darius yang ada disana pun berupaya membela Vanesa agar tidak terjebak dengan perkataan dari Albert dan mengakui semua perbuatannya, tentu Darius tak mau jika Albert mengetahui semuanya saat ini karena waktunya memang belum tepat.


"Cepat jawab dengan jujur Vanesa! Kamu tahu kan, saya paling tidak suka dibohongi!" ujar Albert.


"Oh begitu, saya tidak percaya dengan apa yang kamu lontarkan Vanesa! Kamu mengaku saja pada saya, apa maksud dan tujuan kamu melakukan itu! Saya akan maafkan kamu, kalau kamu mau berbicara jujur pada saya Vanesa! Saya ini hanya ingin kamu jujur, itu saja!" ujar Albert tegas.


"Kejujuran apa lagi yang bapak minta? Saya sudah mengungkap semua kebenarannya loh tadi, memang itu yang saya rasakan dan saya pendam selama ini dari bapak!" ucap Vanesa.


Wanita itu mulai melakukan dramanya, ia pura-pura menangis sedih di depan Albert agar bosnya itu iba dan mau memberinya maaf.


"Hiks hiks... sebenarnya saya sudah lama ingin mengatakan itu, tapi saya gak berani pak! Saya khawatir kalau saya mengaku, maka saya akan kehilangan pekerjaan saya dan saya tidak bisa membiayai pengobatan ayah saya!" ucap Vanesa.


"Tenang lah Vanesa! Albert, apa kamu tidak kasihan melihat sekretaris kamu ini? Apa kamu tidak punya hati nurani? Masih mau kamu mencurigai dia tanpa alasan yang jelas? Padahal disini seharusnya yang emosi adalah Vanessa, karena dia dijadikan pemuas oleh kamu Albert!" ucap Darius membela Vanesa.


Albert terdiam bingung, dirinya sudah satu langkah di bawah Vanesa dan Darius yang memang cukup ahli berakting, sehingga ia tak tahu harus berbicara apa lagi di hadapan keduanya saat ini.


"Om, bisa tidak om keluar dari ruangan saya sekarang? Ini urusan saya dengan Vanesa, jadi om tidak perlu ikut campur!" pinta Albert emosi.


"Oh jelas saya tidak bisa, saya harus melindungi Vanesa dari orang seperti kamu Albert! Bisa saja kamu bertindak dan melakukan hal-hal yang tidak mungkin disini, jadi saya ingin mencegah itu semua terjadi!" ucap Darius.


"Hahaha, aduh om ini ada saja alasannya ya! Sudah lah om, daripada om terus berpura-pura seperti ini, lebih baik om jujur dan mengaku saja sama saya kalau om memang bekerjasama dengan wanita ini untuk menghancurkan saya dari dalam, iya kan?" ucap Albert sengaja memancing pamannya itu.


"Maksud kamu apa Albert? Mana mungkin saya begitu?" ujar Darius berpura-pura tidak tahu.


"Cih dasar tukang drama!" cibir Albert kesal.


"Kalau saya tunjukkan sebuah bukti yang menyatakan bahwa kalian berdua ini saling bekerjasama untuk menghancurkan saya, apa yang akan kalian lakukan setelahnya ha?" ujar Albert.


Tampak Darius melirik ke arah Vanesa dengan wajah bingung dan gugup, mereka seperti panik jika memang Albert memiliki bukti.


"Memangnya bukti apa yang kamu miliki Albert? Saya tidak akan pernah takut dengan itu, karena saya memang tidak melakukan apa yang kamu tuduhkan itu! Saya ini selalu membantu kamu loh, tapi kamu malah bersikap seperti ini dan menuduh saya yang tidak-tidak!" ucap Albert.


"Hahaha, kita lihat saja paman bukti apa yang saya miliki ini!" ucap Albert tertawa kecil.

__ADS_1


Albert pun membuka laci mejanya, lalu mengambil sesuatu dari dalam sana yang tidak lain adalah sebuah bukti tentang kejahatan Vanesa serta Darius yang berhasil ia dapatkan dari Rionaldo.


"Inilah buktinya paman..." Darius serta Vanesa terkejut melihat sebuah ponsel yang ditunjukkan Albert pada mereka.




Keenan telah tiba di lokasi yang sebelumnya diberikan oleh sang adik, ia masih berada di dalam mobil berupaya mencari tahu apakah benar ia ada di tempat yang sama dengan adiknya atau tidak, karena ia khawatir itu hanya tipuan semata.


Barulah pria itu memutuskan keluar dari mobil, lalu celingak-celinguk mencari seseorang untuk ditanyakan mengenai adiknya. Keenan tampak sangat cemas, ia sudah tidak sabar ingin segera bertemu Celine dan membebaskannya.


Namun, belum sempat ia melangkah jauh tiba-tiba sudah ada seseorang yang memukulnya dari belakang dengan keras.


Bughh... Keenan pun terjatuh akibat pukulan yang dilayangkan tepat di area pundak Keenan.


"Awhh!!" rintih Keenan memegangi pundaknya, ia tak bisa melihat siapa yang memukulnya karena pandangannya mulai kabur dan akhirnya ia pingsan disana dengan posisi tengkurap.


Lalu, pria yang memukulnya itu pun menyeret tubuh Keenan memasuki sebuah rumah tua yang ada di dekatnya.


Setibanya di dalam, orang itu bertemu dengan bosnya yang tak lain ialah Harrison sendiri. Harrison pun tersenyum smirk ketika melihat Keenan telah berhasil dilumpuhkan oleh anak buahnya itu, melihat Keenan tidak berdaya membuatnya senang dan ingin segera menghabisi pria tersebut saat ini juga.


"Bos, saya sudah berhasil melumpuhkan dia!" ucap pria yang tak lain ialah Zayn.


"Bagus! Masukkan dia ke dalam kamar yang sama dengan Celine, agar wanita itu bisa bertemu abangnya untuk terakhir kali sebelum nantinya saya akan habisi pria itu!" titah Harrison.


"Baik bos!" ucap Zayn menurut.


Zayn pun kembali menyeret tubuh Keenan yang pingsan itu menuju kamar tempat dimana Celine disekap, ia cukup kesulitan melakukan itu lantaran tubuh Keenan lumayan berat sehingga ia harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menyeretnya.


"Duh, berat banget sih! Tapi kalo gue gak lakuin semua ini, bisa-bisa gue didor juga sama bos!" ucap Zayn sedikit mengeluh.


Singkat cerita, Zayn telah berhasil membawa Keenan ke depan kamar tempat Celine berada. Pria itu pun membuka pintu secara susah payah, lalu memasukkan Keenan ke dalam sana.


Ceklek...


Celine yang sedang terduduk dibuat kaget saat mendengar suara pintu terbuka.


"Bang Ken?" ujarnya panik lalu menghampiri Zayn yang tengah menyeret tubuh abangnya.


"Bang, heh apa yang lu lakuin ke abang gue!" ucap Celine emosi pada Zayn.


"Sssttt!! Mending lu diem aja deh, gue lagi capek nih abis nyeret tubuh abang lu dari depan sampe kesini! Sekarang lu nikmati dah waktu berdua sama abang lu ini untuk yang terakhir kalinya, sebelum besok bos Harrison bakal bunuh dia!" ucap Zayn.


"Hah? Maksud lu apa?" tanya Celine kaget.


"Iya, abang lu ini bakal mati di tangan bos Harrison! Dan setelah itu, lu juga akan jadi istri dari bos Harrison yang kaya raya itu!" jawab Zayn.


Celine menggeleng, "Gak! Itu semua gak akan terjadi! Bos lu gak mungkin bisa bunuh abang gue, karena dia cowok kuat! Lu bilang sama bos lu itu, jangan kebanyakan mimpi!" geram Celine.


"Hahaha, terserah lu aja deh dek! Yaudah, gue mau pergi dulu ya? Bye bye..." ujar Zayn tersenyum.


Setelahnya, Zayn pun kembali keluar dan mengunci pintu kamar itu meninggalkan Celine bersama abangnya berduaan disana.


Tanpa berpikir panjang, Celine langsung mendekati abangnya dan berusaha membangunkan Keenan dengan menggerak-gerakkan tubuh sang abang berulang kali sambil menangis sesenggukan.


"Bang, bangun bang bangun! Lu harus bangun dan bisa bawa gue kabur dari sini bang! Gue gak mau nikah sama aki-aki itu, dan gue juga gak pengen lu dibunuh sama mereka! Ayo bang, cepat bangun!" ucap Celine.


Namun, Keenan masih tak bergerak sedikitpun dan membuat Celine semakin bersedih.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2