Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Dikenalkan


__ADS_3

"Oh ya om, kira-kira om tahu gak perihal keluarga Vanesa mantan sekretaris mas Albert itu?" tanya Nadira pada Darius.


Seketika Darius terkejut mendengar pertanyaan Nadira, ia menatap wanita itu dengan muka heran seakan mencurigai Nadira.


"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya soal Vanesa?" kata Darius dengan nada curiga.


Nadira sedikit panik saat dicurigai oleh Darius, namun ia berusaha tetap tenang agar paman dari suaminya itu tidak benar-benar mencurigainya dan rencananya dapat berjalan mulus.


"Eee jadi begini om, sebelumnya Vanesa itu pernah temui aku di jalan. Dia minta bantuan aku buat minta tanggung jawab dari mas Albert, makanya aku mau tanya ke om kira-kira om tahu apa enggak soal keluarganya Vanesa. Soalnya aku mau temui mereka dan bicara soal kehamilan dia," jelas Nadira.


"Oh begitu, sebenarnya om tahu banyak tentang keluarga Vanesa. Kebetulan om juga sering main ke rumah dia dan om cukup akrab dengan ayahnya, tapi Vanesa selalu meminta om merahasiakan identitas keluarganya dari siapapun. Jadi, om gak bisa kasih tahu ke kamu Nadira." kata Darius.


"Yah jangan gitu lah om! Aku ini kan cuma mau bantu Vanesa, aku gak tega lihat Vanesa harus menanggung semuanya sendirian. Jujur aku kasihan sama dia!" ucap Nadira.


"Iya om tahu, tapi mau gimana lagi? Vanesa sendiri yang bilang begitu sama om. Ya sebagai lelaki yang baik, om gak mungkin dong ingkar janji dan kasih tahu perihal keluarganya ke kamu. Nanti yang ada Vanesa malah marah sama om," ucap Darius.


"Terus gimana dong om? Apa yang harus aku lakuin buat bisa bantu Vanesa?" tanya Nadira memelas.


"Begini aja Nadira, nanti biar om bicara dulu sama Vanesa. Om akan minta persetujuan dari dia apa om boleh kasih tahu ke kamu tempat tinggal dia dan tentang keluarganya," jawab Darius.


"Iya deh om, semoga aja Vanesa bolehin ya! Aku udah gak tega banget sama dia!" ucap Nadira.


"Semoga! Tapi, kalau dia gak bolehin ya kamu cari cara lain aja buat bantu Vanesa! Misalnya dengan bujuk suami kamu supaya dia mau tanggung jawab atau kami buat janji aja sama Vanesa, terus kalian ketemuan dah tuh di suatu tempat dan bahas soal ini." usul Darius.


"Tapi om, menurut aku cara yang paling mudah itu aku datang ke rumah Vanesa dan bantu bicara sama orangtuanya." kata Nadira.


"Iya emang, om ngerti kamu pengen bantu Vanesa untuk bicara sama orangtuanya, tapi kan kamu juga gak bisa berbuat itu kalau gak diizinin sama Vanesa. Jadi, kamu harus cari cara lain buat bantu dia!" ucap Darius.


"Nanti aku pikirin cara lainnya om, ya semoga aja deh Vanesa mau kasih izin!" ucap Nadira.


"Iya iya..." Darius mengangguk pelan.


"Aku harus beritahu Vanesa perihal ini, dia pasti senang karena Nadira sudah berhasil ada di pihaknya dan ingin membantunya!" batin Darius.


Nadira hanya diam menikmati sarapannya, wanita itu sungguh bingung harus bicara bagaimana lagi agar bisa mendapat informasi mengenai Vanesa dan keluarganya.


"Aduh! Om Darius susah banget dibujuk sih, aku harus gimana lagi ya...??" batin Nadira.




Keenan berbalik, lalu melangkah pergi dari ruangan tersebut.


Namun, Keenan sangat terkejut saat ia membuka pintu lantaran terdapat Carolina yang masih berdiri disana.


Sama halnya dengan Keenan, gadis itu pun juga terkejut dan salah tingkah dibuatnya.


"Carol, lagi ngapain kamu disini? Bukannya pak Albert sudah minta kamu kembali bekerja?" tanya Keenan dingin.


"Eee..."


"Ada apa Keenan?" Albert tiba-tiba muncul karena penasaran melihat asistennya terdiam disana.


"Eh tuan, ini loh Carol ternyata masih ada di depan pintu. Saya tanya ke dia lagi ngapain, tapi dia malah diam aja gak mau jawab." jelas Keenan.


Albert mengalihkan pandangan ke arah Carolina dengan tatapan heran.


"Lina, ada urusan apa lagi? Kenapa kamu masih disini? Saya kan sudah minta kamu kembali ke ruangan kamu, kerjaan kamu masih banyak kan?" tanya Albert dingin.


"I-i-iya pak, saya minta maaf! Tadi saya mau tanya ke bapak tentang wanita bernama Vanesa itu, dia siapa ya pak?" jawab Carolina.


"Carol, kamu—"


Ucapan Keenan dihentikan oleh Albert yang menepuk pundak asistennya itu, nampaknya Albert ingin berbicara sendiri dengan Carolina tanpa bantuan Keenan.


"Jadi, kamu penasaran dengan Vanesa? Kamu mau tau dia siapa?" tanya Albert.


"Benar pak, saya heran aja kenapa berkas Vanesa bisa ada di ruangan saya. Udah gitu saya juga penasaran kenapa bapak minta saya buat berikan berkas itu ke bapak," ucap Carolina.


"Kalau berkasnya ada di ruangan kamu, itu artinya Vanesa adalah bekas sekretaris disini. Baru beberapa hari yang lalu saya pecat dia karena dia terlalu ingin tahu dengan urusan saya, kamu gak mau bernasib sama seperti dia kan?" ucap Albert.


"Ah enggak pak, sekali lagi saya minta maaf kalau saya lancang! Saya janji gak akan penasaran lagi!" ucap Carolina ketakutan.


"Yasudah, kamu bisa kembali bekerja sekarang! Saya punya harapan tinggi sama kamu untuk bisa membantu saya memajukan perusahaan ini!" ucap Albert.


"Baik pak! Saya permisi dulu!" ucap Carolina.


"Silahkan!" ucap Albert singkat.


Gadis itu pun melangkah pergi meninggalkan Albert dan Keenan dengan perasaan gugup.


"Tuan, saya minta maaf ya!" ucap Keenan.


"Loh, untuk apa kamu minta maaf sama saya?" tanya Albert kebingungan.


"Ya karena sikap Carolina tadi, saya tidak tahu kalau dia orangnya seperti itu. Seharusnya saya beritahu dia dulu untuk tidak menguping pembicaraan bosnya," jelas Keenan.


"Tidak apa, yang penting sekarang dia sudah tau konsekuensinya. Saya yakin dia tidak akan mengulanginya lagi!" ucap Albert.


Keenan mengangguk dengan wajah tertunduk.

__ADS_1


"Yasudah, kamu bisa lanjut pergi!" ucap Albert.


"Baik tuan!" ucap Keenan.


Keenan pun melangkah pergi untuk memastikan apakah rumah Vanesa yang tersedia di berkasnya itu benar atau tidak.


Sementara Albert kembali ke dalam ruangannya.




Nadira kembali ke mobilnya setelah selesai berbicara dengan Darius, ia segera meminta pada Liam untuk melaju karena ia akan menelpon Albert untuk memberitahu semuanya.


"Pak Liam, kita jalan sekarang ya!" pinta Nadira.


"Baik Bu!" ucap Liam menurut.


Liam pun bergegas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sesuai perintah Nadira, sedangkan wanita itu mengambil ponselnya dan menelpon suaminya.


📞"Halo mas!" ucap Nadira begitu telponnya diangkat oleh Albert.


📞"Iya halo sayang! Gimana? Kamu udah berhasil dapetin informasi tentang Vanesa?" tanya Albert penasaran.


📞"Itu dia mas, om Darius gak mau kasih tahu ke aku dimana Vanesa tinggal. Padahal katanya dia tahu dan kenal dekat sama keluarga Vanesa," jawab Nadira.


📞"Yah, terus kamu gak coba bujuk gitu? Minta om Darius buat kasih tahu semuanya!" tanya Albert.


📞"Udah kok mas, aku udah paksa juga dan bilang kalau aku mau bantu Vanesa ke om Darius. Tapi, om Darius tetap kekeuh gak mau bilang. Akhirnya aku pulang aja deh mas, sambil nunggu kabar dari dia." jelas Nadira.


📞"Oh gitu, kirain kamu gak bujuk om Darius. Yaudah, sekarang kamu kesini aja ya! Saya lagi butuh ditemenin nih sama kamu," pinta Albert.


📞"Loh emangnya gapapa kalau aku samperin kamu ke kantor, mas? Aku kan belum pernah kesana, kalau ada karyawan kamu yang gak suka gimana?" tanya Nadira cemas.


📞"Kamu ngapain mikir begitu sih? Yang punya kantor ini kan saya, jadi kamu gak perlu cemas! Udah, kamu datang aja kesini ya sekalian saya mau kenalin kamu ke mereka!" jawab Albert.


📞"Hah? Kamu serius mas?" Nadira terkejut.


📞"Masa saya bohong sih? Kamu sekarang diantar sama Liam kan?" ucap Albert.


📞"I-i-iya mas, emang kenapa?" tanya Nadira.


📞"Yaudah, minta sama dia buat anterin kamu ke kantor saya! Saya tunggu 15 menit dari sekarang, kamu harus sudah sampai!" tegas Albert.


📞"Iya deh mas, aku ke kantor kamu kok." kata Nadira.


📞"Oke! Hati-hati di jalan ya honey! I love you.." ucap Albert dengan lembut.


📞"Iya mas," ucap Nadira pelan.


📞"Kok cuma iya aja sih?" tanya Albert kecewa.


📞"Terus apa?" Nadira tak mengerti.


📞"Ya balasan untuk kalimat i love you itu apa? Masa kamu gak tahu sih sayang?" ujar Albert.


📞"Eee iya tahu, terus aku harus apa?" ucap Nadira merasa malu.


📞"Ya jawab dong sayang! Aku mau dengar kalimat itu keluar dari mulut kamu," pinta Albert.


📞"Nanti aja ya mas, pas kita ketemu. Kalau sekarang aku malu." kata Nadira.


📞"Gapapa. Gausah malu! Ayo bilang dong sayang! Jangan bikin suami kamu yang tampan ini kecewa!" ucap Albert.


📞"I-i-iya mas.." ucap Nadira malu-malu.


📞"Yaudah, bilang dong sayang!" ucap Albert.


📞"Umm... i love you too, mas." ucap Nadira pelan dan sedikit gemetar.


📞"Apa? Saya gak dengar sayang, agak kerasan dikit dong ngomongnya!" ucap Albert.


📞"I love you too, mas." ucap Nadira.


Nadira langsung memerah setelah mengucapkan itu, apalagi ia merasa malu pada Liam yang mendengar ucapannya barusan.


📞"Nah iya gitu dong sayang! Yaudah, saya tunggu kedatangan kamu disini ya! Bye Nadira!" ucap Albert terdengar bahagia.


📞"Iya mas, sampai ketemu nanti!" ucap Nadira gugup.


Tuuutttt...


Telpon terputus, Nadira langsung cepat-cepat menyimpan ponselnya di tas dan berbicara pada Liam untuk mengantarnya ke kantor Albert.


Namun, Liam yang sudah mendengar semuanya pun berbicara lebih dulu dibanding Nadira.


"Kita mau ke kantor tuan Albert kan Bu?" tanya Liam seraya melirik ke belakang.


"Ka-kamu sudah tahu?" Nadira kebingungan.


"Hehe.. maaf Bu! Tadi saya gak sengaja dengar obrolan ibu sama tuan Albert di telpon, makanya saya sekarang langsung arahin mobilnya ke arah kantor tuan Albert." jelas Liam.

__ADS_1


"Oh yaudah bagus, agak cepetan dikit ya bawa mobilnya!" pinta Nadira.


"Baik Bu!" ucap Liam tersenyum.




Singkat cerita, Nadira pun sampai di depan kantor suaminya. Wanita itu tampak kagum melihat besarnya perusahaan yang dimiliki oleh Albert.


"Mas Albert emang keren banget!" ujarnya sambil tersenyum renyah.


Lalu, Liam yang baru selesai memarkir mobilnya pun kembali menghampiri Nadira disana.


"Bu, mari kita masuk ke dalam! Saya antar ibu buat bertemu dengan tuan Albert di dalam, karena ibu kan baru pertama kali datang kesini. Jadi, pasti ibu belum tahu jalan menuju ruangan tuan Albert kan?" ucap Liam.


"Iya sih, makasih ya pak Liam!" ucap Nadira.


"Sama-sama, bu. Mari!" ucap Liam.


Nadira tersenyum dan melangkahkan kakinya lebih dulu daripada Liam, wanita itu juga menyapa dua orang security yang berjaga di depan dengan senyum manisnya.


Terlihat mereka semua kebingungan dan penasaran siapakah wanita yang bersama Liam itu, namun tak ada satupun yang berani bertanya langsung padanya.


"Sayang!" Nadira terkejut saat mendengar suara Albert di telinganya.


Wanita itu menoleh ke asal suara, menatap Albert dan tersenyum manis saat sang suami datang mendekatinya.


"Kamu udah sampai. Baguslah, yuk sekarang kita ke ruang meeting dulu! Saya sudah minta semua pegawai disini untuk kumpul disana, karena saya akan kenalkan kamu ke mereka." kata Albert sembari memegang pundak istrinya.


"Iya mas," ucap Nadira singkat.


"Eee Liam, terimakasih ya sudah antar Nadira sampai sini! Kamu sekarang bisa kembali ke rumah, biar nanti saya yang antar istri saya pulang!" ucap Albert pada Liam.


"Baik tuan, saya permisi!" ucap Liam pamit.


Liam pun pergi dari sana.


"Oh ya, kenalin sayang ini sekretaris baru saya, namanya Carolina. Nah Lina, ini istri saya yang tadi saya ceritakan ke kamu." ucap Albert.


"Ah iya pak. Halo Bu, saya Carol sekretaris pak Albert!" ucap Carolina menyapa Nadira.


"Iya, salam kenal ya." ucap Nadira tersenyum.


Kedua wanita itu saling berjabat tangan sejenak, sebelum Albert membawa Nadira menemui para karyawan di perusahaannya itu.


"Yaudah, yuk kita jalan sekarang!" pinta Albert.


"Yuk mas!" ucap Nadira.


Mereka bertiga pun melangkah menuju ruang meeting yang mana disana sudah terdapat seluruh karyawan di perusahaan itu.


***


"Nah semuanya, perkenalkan ini istri saya yang sangat saya cintai dan saya sayangi." kata Albert mengenalkan Nadira pada seluruh karyawan di perusahaannya.


Ya mereka memang sudah sampai di ruang meeting saat ini.


"Halo semua! Saya Nadira." ucap Nadira menyapa seluruh karyawan disana.


"Halo Bu Nadira!" seluruh karyawan itu berbalik menyapa Nadira sembari membungkukkan tubuh mereka memberi hormat.


"Yasudah, itu saja yang ingin saya sampaikan. Sekarang kalian semua bisa kembali bekerja, jangan buat saya kecewa!" ujar Albert.


"Baik pak!" ucap mereka serentak.


"Semangat ya kalian!" ucap Nadira menyemangati karyawan-karyawan itu.


"Makasih Bu!" seluruh karyawan itu pun melangkah keluar dari ruang tersebut dan hanya tersisa sepasang suami-istri itu bersama Carolina.


"Eee Lina, kamu juga boleh lanjut kerja. Saya dan istri saya mau keliling sebentar, ya lihat-lihat kawasan kantor ini saja." ucap Albert.


"Baik pak! Kalau bapak atau ibu butuh bantuan saya, panggil saya aja ya pak!" ucap Carolina.


"Iya," ucap Albert singkat.


Setelahnya, Carolina pun juga beranjak pergi dari ruang meeting itu.


Albert merangkul Nadira dan mengecup pipi sang istri secara tiba-tiba, Nadira hanya membalas dengan senyuman dan sedikit tersipu.


"Hey! Kamu mau lihat ruangan saya?" bisik Albert mengendus leher Nadira.


"Boleh mas, emang dimana ruangan kamu?" tanya Nadira melirik ke arah suaminya.


"Dekat kok. Mau saya gendong atau kamu bisa jalan sendiri kesana?" ujar Albert.


"Apaan sih mas? Jalan berdua aja." pinta Nadira.


"Oke!" Albert tersenyum tipis lalu mengecup bibir Nadira, mereka juga bergandengan tangan dan keluar dari ruangan itu.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2