
Albert pulang ke rumahnya dengan perasaan jengkel akibat pamannya yang tadi datang ke kantor dan mengatakan mengenai pernikahan dirinya dengan Nadira beberapa waktu lalu itu.
Albert sama sekali tidak menyangka kalau Darius ternyata sudah mengetahui semuanya dari Nadira, dan ia juga merasa kesal pada istrinya tersebut karena sudah membohonginya.
Selama ini yang ia tahu, Nadira memang tak bertemu dengan pamannya. Sehingga Albert tenang-tenang saja karena rahasianya pasti akan aman, tapi ternyata ia salah karena Darius dan Nadira sudah saling bertemu dan berbicara satu sama lain.
"Kurang ajar kamu Nadira! Beraninya kamu bohongi saya!"
Pria itu melangkah dengan cepat menuju kamarnya, ia mengepalkan dua tangannya ke bawah dan tampak dipenuhi oleh emosi.
"Tuan!"
Disaat ia hendak membuka pintu kamar, tiba-tiba Liam selaku penjaga disana memanggilnya dan membuat Albert menahan diri untuk membuka pintu kamar tersebut.
"Ya, ada apa?" tanya Albert dingin.
"Maaf tuan! Tapi, sebaiknya tuan jangan masuk ke dalam! Karena saat ini kondisi non Nadira sedang mengkhawatirkan, alangkah baiknya jika tuan tetap berada disini atau menggunakan kamar yang lain!" jelas Liam.
"Heh! Kamu udah berani atur saya sekarang? Ingat Liam, disini saya yang jadi bosnya bukan kamu! Jadi, kamu gak berhak larang saya kayak gitu! Urusan saya mau masuk kemana, itu terserah saya! Kamu itu disini cuma seorang bodyguard, jangan pernah mengatur kehidupan saya!" ujar Albert emosi.
"Baik tuan, maafkan kelancangan saya! Saya hanya tidak mau tuan Albert tahu kalau—"
"Kalau apa? Wajah Nadira gatal-gatal terus muncul bintik merah, iya?" potong Albert.
"Hah? Tu-tuan sudah tahu?" tanya Liam bingung.
"Iya, saya sudah tahu semuanya! Kamu jangan pikir saya ini bodoh Liam, apapun yang terjadi disini itu dalam pengawasan saya!" jawab Albert tegas.
"Maaf tuan!" ucap Liam menunduk.
"Yasudah, sekarang kamu pergi dan jangan halangi saya untuk menemui Nadira!" ucap Albert.
"Baik tuan, silahkan!" ucap Liam memberi jalan.
Albert kembali beralih menatap pintu kamar itu, ia membukanya dengan perlahan agar tidak mengganggu Nadira. Sedangkan Liam sendiri memilih pergi karena memang ia sudah tidak ada urusan lagi disana.
Ceklek...
Albert membuka pintu dan masuk ke dalam kamar, ia menutup kembali pintu dengan rapat sebelum melangkah mendekati Nadira yang tengah menangis terduduk di sofa meratapi nasibnya.
"Hiks hiks..."
Terdengar suara isak tangis dari Nadira, hal itu membuat Albert merasa tidak tega untuk memarahi wanitanya saat ini, walau sebenarnya ia sangat emosi dan ingin segera menghukum Nadira.
Akhirnya pria itu berjalan perlahan mendekati Nadira, ia duduk di samping sang istri lalu memegang lembut punggung Nadira dengan tangannya sembari mengucapkan nama wanita itu.
"Nadira!" ucapnya pelan.
Sontak Nadira menghentikan tangisannya, ia membuka wajahnya lalu menatap Albert yang sudah berada di sampingnya. Sebenarnya ia memang sudah tahu Albert masuk kesana, namun ia tak berani bertatapan langsung dengan pria itu.
"Tuan? Tolong jangan dekati saya dulu, tuan! Sekarang ini saya bukan wanita yang cantik lagi, wajah saya sudah rusak tuan!" ucap Nadira.
"Hahaha, kamu ini ada-ada aja Nadira! Kamu tetap cantik kok walau begitu!" ucap Albert.
"Hah? Tuan merayu saya?" ujar Nadira kaget.
"Enggak, saya cuma bilang yang sejujurnya! Kamu kan cantik natural Nadira, makanya saya memilih kamu untuk jadi pemuas saya! Selain itu, bukan cuma wajah kamu yang menjadi daya tarik bagi saya! Tapi juga tubuh kamu, jadi udah ya kamu gak perlu sedih-sedih begitu lagi!" bujuk Albert.
"Tapi tuan, wajah saya ini rusak karena kelalaian saya! Harusnya ini semua gak terjadi, kalau saya lebih berhati-hati lagi tuan! Tolong maafin saya tuan, jangan hukum saya!" ucap Nadira memelas.
"Siapa yang ingin menghukum kamu? Saya kan sudah bilang, ini bukan kesalahan kamu! Sekarang coba kamu ceritakan kronologinya, kenapa kamu bisa sampai seperti ini?!" ucap Albert.
Nadira pun menghapus air mata di wajahnya, lalu menarik nafas sebelum mulai bercerita pada Albert.
"Eee tadi saya baru selesai mandi tuan, terus saya pengen pakai bedak pemberian tuan itu! Tapi setelah saya pakai, gak lama wajah saya jadi panas dan gatal terus muncul bintik-bintik ini! Akhirnya pak Ken ajak saya ke dokter ahli wajah, disana saya diperiksa dan katanya wajah saya terkena efek dari bubuk yang berbahaya tuan!" jelas Nadira.
Albert mendengarkan dengan serius untuk bisa menangkap apa yang sebenarnya terjadi.
"Tapi tuan, barusan saya baru sadar kalau ternyata isi di dalam botol ini bukan bedak pemberian tuan! Karena semua bedaknya itu tumpah ke atas kasur, tuan bisa lihat sendiri sprei kita dipenuhi sama putih-putih yang wangi!" sambung Nadira.
"Apa??"
Albert sedikit terkejut mendengar penuturan Nadira, ia langsung mengarahkan pandangan ke ranjang miliknya dan ternyata benar kalau disana banyak sekali bedak yang tumpah.
"Ya ampun! Siapa sih sebenarnya yang ngelakuin ini semua? Tega sekali dia, tenang Nadira biar saya selidiki semuanya!" ucap Albert.
"Tuan, mau kemana?" tanya Nadira.
"Saya akan selidiki semua ini! Karena rasanya ada yang janggal dari kejadian ini, jadi saya mau cek cctv yang ada di kamar ini sayang! Kamu tunggu disini ya, sebentar doang kok!" jawab Albert.
__ADS_1
"I-i-iya tuan,"
Albert langsung beranjak dari sofa dan pergi keluar kamar meninggalkan Nadira.
Wanita itu dibuat kebingungan dengan tingkah Albert yang amat perduli dengannya, apalagi baru saja pria itu tak sengaja mengucap kata sayang padanya yang tentu membuat hati Nadira berbunga-bunga.
"Barusan aku gak salah dengar kan? Tuan Albert panggil aku sayang, ini seriusan?" gumam Nadira.
•
•
Albert melangkah dengan tergesa-gesa menuju ruang kerjanya, ia masuk kesana dan langsung membuka laptop miliknya untuk melihat semua kejadian yang terjadi saat ia sedang berasa di kantor karena ia merasa ada yang tidak beres.
Albert seorang diri menyalakan rekaman cctv pagi tadi di kamarnya, kebetulan memang semua kamera cctv di rumahnya itu tersambung ke laptop miliknya sehingga ia bisa mudah mengeceknya.
"Kira-kira pukul berapa ya?"
Setelah mencari kurang lebih tiga menit, akhirnya Albert mendapati momen rekaman saat seseorang masuk ke dalam kamarnya pagi tadi. Ya Albert langsung syok begitu mengetahui bahwa adiknya lah yang masuk ke kamar itu.
"Chelsea?" ujarnya kaget.
Sambil menggigit jari, Albert terus menyaksikan rekaman itu hingga terlihat kalau Chelsea menuangkan semua isi bedak di botol itu ke atas ranjangnya dan menukarnya dengan sebuah bubuk aneh dari kantong celananya.
Braakkk...
Pria itu memukul meja kerjanya karena emosi, ia tak menyangka kalau semua ini dalangnya adalah sang adik tercinta.
"Aaarrgghh!! Bisa-bisanya Chelsea ngelakuin ini, dia mau apa sih sebenarnya?!" ujar Albert emosi.
"Saya harus temui dia! Bagaimanapun juga, dia harus pertanggung jawabkan semua yang sudah dia lakukan kepada Nadira! Walau Nadira cuma mainan saya, tapi tetap saja Chelsea tidak boleh menyakiti wanita saya itu walau sedikitpun!" geramnya.
Akhirnya Albert kembali keluar dari ruang kerjanya, ia berteriak keras memanggil nama adiknya dengan penuh emosi.
"CHELSEA, CHELSEA KELUAR KAMU!" teriaknya.
Teriakan itu membuat seisi rumah terkejut, mbok Widya pun berlari ke ruang tamu menghampiri Albert yang sedang berteriak itu karena penasaran apa yang terjadi.
"Waduh tuan! Ini ada apa? Kenapa tuan teriak-teriak manggil nama non Chelsea begitu?" tanya Widya.
"Mbok, apa Chelsea ada di rumah?" ucap Albert.
"Oh gitu, yaudah makasih mbok!" ucap Albert.
Albert langsung pergi begitu saja kembali ke kamarnya dengan perasaan kesal, sedangkan mbok Widya tetap disana kebingungan mengapa Albert terlihat semarah itu pada Chelsea.
"Ada apa ya ini? Kok tuan Albert bisa sampai semarah itu sama non Chelsea?" ujar Widya bingung.
❤️
Nadira yang berada di kamar, juga mendengar suara teriakan Albert memanggil nama Chelsea di luar sana. Ia ingin sekali menyusul keluar menemui suaminya itu, namun mengurungkan niatnya dan tetap menunggu disana karena takut jika Albert justru marah padanya.
"Tuan Albert kenapa ya? Kok kayak marah gitu sama Chelsea?" batin Nadira.
Tak lama kemudian, pintu kamarnya terbuka dari luar dan membuat Nadira terkejut lalu reflek melihat ke arah pintu menanti siapa yang datang.
Ya itu adalah Albert suaminya yang masuk kembali menemuinya disana, pria itu duduk di sampingnya dan menatap ke arahnya.
"Tuan, ada apa?" tanya Nadira bingung.
Albert melirik ke arah Nadira dengan tatapan kasihan, sungguh baru kali ini Nadira ditatap seperti itu oleh suaminya. Sebelumnya Albert tidak pernah menatap wajah Nadira dengan lembut begitu.
"Nadira, kamu tahu gak apa yang barusan saya lihat dari cctv?" ucap Albert memberi teka-teki.
"Umm, saya gak tahu tuan! Kan saya daritadi disini sesuai perintah tuan, jadi saya belum lihat video cctv nya itu kayak gimana!" ucap Nadira.
"Iya sih, saya ini gimana ya?" ujar Albert garuk-garuk.
Nadira tersenyum tipis mendengarnya, baru kali ini ia melihat tingkah lucu dari Albert yang biasanya kejam dan galak itu, tentu saja Nadira menyukainya karena ia lebih suka melihat Albert yang begitu.
"Yaudah, saya ceritain semuanya sama kamu ya? Walau saya juga masih ragu!" ucap Albert.
"Eee emangnya ada apa sih, tuan?" tanya Nadira.
"Begini Nadira, berdasarkan yang saya lihat di cctv tadi ternyata ini semua ulah Chelsea, adik saya sendiri! Dia yang menaburkan bedak pemberian saya ke atas ranjang, lalu menggantinya dengan bubuk berbahaya yang bikin wajah kamu jadi kayak gini Nadira!" jawab Albert menjelaskan.
"Hah??" Nadira terkejut mendengar penjelasan dari Albert, ia menganga lebar tak percaya dengan apa yang diceritakan oleh suaminya.
"Ka-kamu serius, tuan? Gimana mungkin itu bisa terjadi?" tanya Nadira tak percaya.
__ADS_1
"Iya Nadira, maka dari itu saya mau minta maaf ke kamu atas nama adik saya! Nanti pasti saya tegur dia karena saya juga tidak membenarkan tindakan seperti ini! Untuk urusan wajah kamu, saya pastikan saya akan bertanggung jawab dan mengobati luka di wajah kamu sampai hilang sepenuhnya!" ucap Albert tegas.
"Eee tu-tuan gak perlu lah kasih hukuman ke Chelsea! Dia pasti cuma iseng aja, gapapa aku juga udah maafin dia kok! Kita lupain aja ya semuanya tuan?" ucap Nadira.
"Gak Nadira! Chelsea itu harus ditegur, supaya dia gak kebiasaan dan kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi! Kamu gak perlu khawatir, saya hanya akan menegur Chelsea bukan memberi hukuman yang berat atau apalah itu!" ucap Albert.
"Yasudah tuan, terserah tuan saja!" ucap Nadira.
"Ya, wajah kamu sudah diobati?" tanya Albert.
Nadira mengangguk dan berkata, "Sudah tuan!" dengan lirikan mata yang mengarah ke atas dan bawah secara cepat.
"Bagus! Jangan sampai kamu telat minum obatnya, dan kamu harus bisa tahan diri dengan rasa gatal yang kamu rasakan itu! Saya tidak mau wajah kamu semakin memburuk!" ucap Albert.
"Iya tuan, saya juga tidak mau itu terjadi! Tapi, ini sulit tuan karena rasanya gatal sekali!" ucap Nadira.
"Tenang! Biar tangan kamu saya ikat pakai borgol, supaya kamu gak bisa garuk-garuk wajah kamu itu!" ucap Albert langsung menarik dua tangan Nadira.
"Ta-tapi tuan—"
"Sssttt! Ingat peraturan disini? Kamu tidak boleh membantah semua perkataan saya!" potong Albert.
"I-i-iya tuan," ucap Nadira menurut.
Albert mengambil sebuah borgol yang kecil dan muat di tangan dari dalam laci, lalu mengikat tangan Nadira menggunakan borgol tersebut dengan teliti karena ia tak mau Nadira menggaruk wajahnya lagi.
"Nah udah, sekarang kamu harus tahan sampai sembuh!" ucap Albert.
"Tapi tuan, gimana caranya saya bisa makan nanti kalau tangan saya diikat seperti ini?" tanya Nadira kebingungan.
"Tenang aja! Saya yang suapi!" jawab Albert.
Nadira melongok tak percaya, sedangkan Albert justru tersenyum lebar sembari mengecup bibir Nadira sekilas.
Cupp!
•
•
Sementara itu, di luar rumah Chelsea sudah kembali bersama Keenan. Mereka turun dari mobil, lalu saling bertatapan dan tersenyum. Keenan memegang dua pundak Chelsea, mengecup kening gadis itu lembut dan mengusap rambutnya.
"Sayang, kamu cantik banget sih! Aku gak bisa berpaling dari wajah kamu tau!" ucap Keenan.
"Ah bisa aja kamu, dasar gombal!" cibir Chelsea.
"Yeh enggak dong sayang, itu aku bicara jujur sama kamu!" ucap Keenan.
"Iyain biar kamu seneng!" ujar Chelsea tersenyum.
Disaat mereka tengah asyik berduaan dan saling berbicara, tiba-tiba saja mbok Widya muncul dari dalam dengan wajah panik menemui Chelsea disana.
"Non, non Chelsea gawat non!" ujar mbok Widya.
"Iya mbok, kenapa sih? Kok panik gitu? Tenang aja mbok, tarik nafas dulu terus cerita!" tanya Chelsea.
"Iya non, anu tadi tuan Albert eee anu..."
"Anu-anu apa sih, mbok?" ujar Chelsea geram.
"Anu non, tuan Albert tadi teriak-teriak manggil nama non Chelsea di dalam! Kelihatannya tuan Albert marah besar sama non Chelsea, soalnya dari mukanya kayak emosi gitu non!" jelas mbok Widya.
"Hah? Yang bener mbok? Emang aku salah apa sampai kak Albert marah gitu?" tanya Chelsea.
"Saya gak tahu, non! Mending non temuin aja tuan Albert di dalam supaya jelas!" jawab mbok Widya.
"Duh, gimana ini? Sayang?" ujar Chelsea panik.
"Tenang ya!" ucap Keenan menenangkan gadisnya.
Chelsea merasa cemas dan bingung mengapa Albert bisa marah padanya, pikirannya menuju ke arah kejahatan yang sudah ia lakukan pada Nadira tadi.
"Ada apa ya? Jangan-jangan kak Albert udah tahu lagi kalau gue yang taruh bubuk gatal di botol bedak Nadira, duh bisa gawat nih ceritanya kalau emang benar begitu!" gumam Chelsea dalam hati.
Keenan terus memeluk gadisnya erat dan mengusap rambut Chelsea untuk menenangkannya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1