Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Telah meninggal


__ADS_3

Keenan membuka matanya, ia heran melihat kondisi kasur di sebelahnya kosong alias tidak ada Celine yang menidurinya.


Keenan pun tampak panik, ia celingak-celinguk mencari sosok Celine sambil duduk tegak di atas ranjang empuk itu.


Barulah Keenan merasa lega saat mendapati adik tercintanya itu ternyata tengah tertidur di sofa dengan selimut tebal menutupi tubuhnya.


"Haish, jadi itu anak tidur di sofa semalaman? Ngeyel amat sih dibilangin!" ujar Keenan.


Akhirnya Keenan beranjak dari ranjangnya, turun menemui Celine disana dan langsung menyibakkan selimut itu dari tubuh adiknya.


"Heh bangun!" ucap Keenan dengan kasar.


"Eenngghh.." Celine berbalik dan membuka matanya sambil menguap.


"Bang, lu ngapa sih?" ujar Celine kesal.


"Lu yang kenapa! Gue kan suruh lu tidur di kasur bareng gue semalam, kenapa lu malah tidur disini? Lu mau ngelawan gue apa gimana?!" bentak Keenan.


"Ish, kok lu bentak-bentak gue? Kan gue cuma gak mau satu ranjang sama lu, itu gak benar tau bang." ucap Celine sedikit gemetar.


"Yaudah, tapi karena lu gak mau nurut sama gue semalam jadinya gue bakal tidur disini lagi nanti malam." ucap Keenan tegas.


"Hah? Kok gitu sih?" ujar Celine terkejut.


"Ya iyalah, suruh siapa lu gak mau nurut sama gue semalam?!" jawab Keenan.


"Ish, tapi bang—"


"Gak ada penolakan! Lu ngelawan lagi, gue bakal perpanjang waktu tidur gue di kamar lu." potong Keenan.


"Haish, lu seenaknya aja deh kalo ngomong. Okelah gue gak punya pilihan lain, suka-suka lu aja mau ngapain!" ucap Celine pasrah.


"Nah cakep! Kalo gitu sekarang kita mandi bareng yuk!" ucap Keenan menggenggam lengan Celine dan mengajaknya berdiri.


"Dih gak mau!" ucap Celine menolak.


"Gapapa sayang, cuma mandi bareng kok gue gak bakal ngapa-ngapain." kata Keenan.


"Tetap aja gue gak mau," ucap Celine.


"Ayolah, sekali ini aja ya! Lagian gue kan udah pernah lihat tubuh mulus lu itu, jadi lu gak perlu malu lagi sama gue." ucap Keenan nyengir.


"Emang kurang ajar banget ya lu, bang!" umpat Celine hendak memukul abangnya itu.


Namun, Keenan justru menangkap tangan Celine dan menariknya untuk berdiri.


"Hahaha, nah kena kan lu.." Keenan langsung mendekap tubuh adiknya itu dengan erat sambil tertawa puas.


"Ih bang lepasin!" ucap Celine meronta-ronta.


"Gue gak bakal lepasin lu, ayo kita mandi sama-sama ya!" ucap Keenan tersenyum lebar.


"Abang ih!" Celine terus berontak dan berusaha melepaskan diri dari dekapan abangnya itu, tetapi gagal karena cengkraman Keenan begitu kuat.


"Bang, lepasin gue! Gue gak mau mandi sama lu!" ucap Celine.


"Lu kenapa sih takut banget mandi bareng gue? Gak bakal gue apa-apain elah, gausah panik gitu kali!" ucap Keenan tersenyum berusaha menenangkan adiknya.


"Yang bener bang? Lu bisa janji gak bakal ngapa-ngapain nanti?" tanya Celine.


"Iya sayang, gue cuma bakal begitu kalau kita udah nikah nanti." jawab Keenan.


"Nikah?" Celine terkejut dan menganga lebar.


"Iya dong, abis lu lulus sekolah nanti gue bakal langsung nikahin lu. Gue gak mau keduluan sama orang lain, jadi gue harus cepat-cepat nikahin lu." ucap Keenan tersenyum.


"Lu gak waras ya bang? Mana bisa adik abang nikah? Udah deh, mending lu nikahin sana kak Chelsea jangan gue!" ucap Celine.


"Lah, kalo gue maunya nikah sama lu gimana? Atau sekaligus dua-duanya aja gue nikahin, ya?" ucap Keenan terkekeh kecil.


"Dih anjir, mana bisa gitu?!" ucap Celine.


"Hahaha, udah kita bahas itu nanti aja. Sekarang waktunya kita mandi bareng," ucap Keenan.


"Iye iye.." ucap Celine pasrah.


Keenan pun melangkah menuju kamar mandi bersama Celine yang masih berada di dekapannya.


Celine terpaksa diam saja menuruti kemauan abangnya, biarpun ia sangat-sangat takut.


"Bang Ken udah benar-benar gak waras!" umpat Celine dalam hati.




Devano bersama Nadya dan juga kedua anaknya kini telah sampai di kediaman Albert.


Sesuai janjinya, Devano memang ingin mengunjungi Albert di rumahnya sekaligus berkenalan dengan istri dari sahabatnya tersebut.


Mereka terdiam sejenak di dalam mobil, Devano menoleh ke arah Nadya yang sedang menggendong putri kedua mereka di sampingnya.


"Honey, ini dia rumah teman aku." ucap Devano.


Nadya pun mengalihkan pandangannya menatap ke arah rumah mewah di sebelahnya, ia cukup terpukau dengan kemewahan rumah milik Albert.

__ADS_1


Sama seperti Nadya, Abila selaku putri mereka pun turut merasa terpukau. Bahkan, gadis manis yang saat ini duduk di bangku SMP itu sampai menganga cukup lebar.


"Wah mas, rumahnya mewah banget ya! Abila pasti suka nih main disini," ucap Nadya.


"Iya dong mah, kayaknya tempatnya asik deh buat aku main sama dedek Agnez." sahut Abila.


"Hahaha, boleh boleh tuh. Tapi ingat, ini kan rumah paman Albert dan kamu gak boleh nakal ya cantik! Ajarin yang baik-baik ke adik kamu ini, jangan bandel!" ucap Devano mengingatkan.


"Iya papa, aku kan udah gede. Lagian aku juga gak pernah nakal kok kalau di rumah orang, iya kan mama?" ucap Abila.


"Iya sayang.." ucap Nadya sambil tersenyum.


"Yaudah, sebentar ya aku mau turun dulu temuin satpam Albert di luar. Dia kayaknya belum tahu kalau aku ini teman Albert," ucap Devano.


"Pasti lah mas, dia kan cuma satpam disini." kata Nadya.


Devano tersenyum tipis, lalu turun dari mobilnya dan menemui penjaga gerbang disana.


"Permisi pak!" ucap Devano sambil tersenyum.


James selaku satpam yang menjaga pintu gerbang rumah Albert pun mendekati Devano, ia menatap heran ke arah pria itu dari atas sampai bawah.


"Iya pak, ada apa ya?" tanya James bingung.


"Eee perkenalkan, saya Devano. Saya ini sahabat Albert, saya datang kesini atas undangan Albert. Bisa kan saya dan keluarga saya masuk ke dalam untuk menemui Albert?" jelas Devano.


"Oalah, bapak ini temannya tuan Albert? Kalau gitu, silahkan aja masuk pak!" ucap James.


"Alhamdulillah! Terimakasih ya pak!" ucap Devano.


"Iya pak, sama-sama." kata James.


James pun membuka gerbang dengan lebar agar Devano dapat membawa mobilnya masuk.


Sementara Devano berbalik dan hendak masuk ke mobilnya.


Akan tetapi, Albert dan Chelsea lebih dulu kembali kesana dan berpapasan dengan Devano.


"Loh Vano?" ucap Albert terkejut.


Devano pun menoleh saat namanya disebut, ia turut terkejut dengan kehadiran Albert disana.


"Albert?" ucap Devano seraya mendekati pria itu.


"Hahaha, kamu kok kesini gak bilang-bilang dulu sih sama saya? Tau gitu tadi saya gak jogging deh," ucap Albert berpelukan singkat dan bersalaman dengan Devano.


"Iya nih Bert, kebetulan sekarang kan saya lagi libur jadi enaknya ya saya ajak istri sama anak-anak saya kesini aja." ucap Devano tersenyum.


"Ohh, jadi ada Nadya juga sama anak-anak kamu?" tanya Albert.


"Oalah.." ucap Albert mengangguk pelan.


"Eh ya, ini istri kamu Bert?" tanya Devano menunjuk ke arah Chelsea.


"Hah? Bukan bukan, aku adik kak Albert." ucap Chelsea langsung menyangkal dugaan Devano.


"Ahaha, iya Van ini tuh adik saya namanya Chelsea. Dulu waktu kita temenan, dia lagi sekolah di Belanda." jelas Albert.


"Ohh pantes saya serasa asing tadi pas lihat kamu, saya kirain kamu istrinya Albert." ujar Devano.


"Bukanlah, istri saya mah ada di dalam. Dia lebih cantik lagi daripada ini," ucap Albert.


"Yeuh!" cibir Chelsea.


"Hahaha..." dua lelaki itu tertawa berbarengan.


"Oh ya, kenalkan saya Devano! Saya ini teman masa sekolah Albert, kakak kamu." ucap Devano mengulurkan tangan ke arah Chelsea.


"Ah iya kak, aku Chelsea." ucap Chelsea meraih tangan Devano dan bersalaman dengannya.


"Jangan lama-lama Van, inget bini tuh di mobil!" ucap Albert mengingatkan Devano.


Sontak Devano langsung melepas tangannya dan tampak salah tingkah, sedangkan Albert justru terkekeh dibuatnya.




Sementara itu, Vanesa masih berada di apartemen Albert dan saat ini tengah menikmati sepotong pudding yang ia buat sembari menonton tv di sofa.


Baru saja Vanesa hendak menyuap, namun tiba-tiba berita di tv tersebut membuatnya merasa terkejut dan tidak jadi memakan pudding itu.


"Pemirsa televisi dimanapun anda berada, kami ingin menyampaikan sekilas info mengenai kondisi terkini dari korban kecelakaan yang terjadi beberapa waktu lalu di daerah sekitar jurang Cihamede. Dari informasi yang kami dapat, petugas telah menghentikan pencarian karena diduga tubuh korban sudah hanyut terbawa arus sungai dan tidak bisa ditemukan. Oleh karena itu, petugas pencarian pun menyimpulkan bahwa korban dinyatakan meninggal dunia."


Deg!


Jantung Vanesa seketika berhenti berdetak setelah mendengar berita tersebut, ia tahu betul bahwa korban yang dimaksud oleh reporter tadi adalah Cakra alias rekan kerjasamanya.


"Astaga! Jadi, ternyata Cakra dinyatakan meninggal?" ucap Vanesa merasa syok.


"Malang banget nasib dia, harus meninggal karena masih berharap sama wanita yang udah jelas-jelas gak cinta lagi sama dia. Cakra Cakra, semoga lu tenang deh di alam sana ya!" sambungnya.


Vanesa pun kembali hendak memakan pudding miliknya, tapi lagi-lagi tidak jadi karena tiba-tiba terlintas sesuatu di dalam kepalanya.


"Gue kenapa ya? Kok tiba-tiba gue ketakutan gini? Gue gak mau kejadian yang menimpa Cakra terjadi juga sama gue, apalagi dia meninggal dengan cara yang mengenaskan." gumam Vanesa.

__ADS_1


Vanesa menaruh piring berisi pudding itu di meja, lalu mengambil ponselnya.


"Aku coba telpon Albert kali ya?" ujarnya.


"Iya deh, barangkali aku bisa minta maaf sama Albert dan janji gak akan ulangi kejahatan aku lagi. Supaya aku bisa hidup tenang," sambungnya.


Akhirnya Vanesa mencari nomor Albert dan menghubungi pria itu dengan segera.


Akan tetapi, telpon Vanesa tidak dijawab oleh Albert yang membuat Vanesa sedikit kesal.


"Ish, kok gak diangkat sih? Albert lagi ngapain coba?" geram Vanesa.


Karena tak kunjung diangkat oleh Albert, Vanesa pun merasa jengkel dan mengurungkan niatnya untuk meminta maaf pada pria itu.


"Ah gak jadi deh, gausah minta maaf segala! Sombong banget emang tuh orang!" umpat Vanesa sembari melempar ponselnya ke sofa.




Albert sengaja menjauh dari Nadira saat mendapat telpon dari Vanesa, ia tidak mau Nadira salah paham dan malah terjadi keributan lagi diantara mereka.


"Hadeh, ngapain sih Vanesa telpon segala? Ganggu aja deh ini orang!" ujar Albert.


Disaat Albert hendak menghubungi nomor Vanesa kembali, tiba-tiba saja Nadira datang menyusulnya karena merasa curiga dengan sikap suaminya itu.


"Mas, kamu lagi ngapain?" tanya Nadira.


"Eh sayang?" Albert terkejut dan ponsel di tangannya itu hampir saja terjatuh ke lantai.


"Sayang, kamu kok kesini sih? Emang kamu gak mau ngobrol-ngobrol sama Nadya?" ucap Albert.


"Aku mau kok, malahan aku senang. Tapi, aku heran kenapa kamu harus jauh-jauh kayak gini? Emang kamu mau telpon siapa sih?" ujar Nadira.


"Eee saya.." Albert terlihat bingung menjawabnya.


"Jangan-jangan kamu mau hubungi si pelakor itu lagi ya? Mas, kamu tuh kenapa sih masih aja ngurusin dia?!" potong Nadira.


"Hah? Pelakor?" ujar Albert terkejut terheran-heran.


"Iya, si Vanesa. Kamu mau telpon dia kan sekarang? Makanya kamu menjauh dari aku, supaya aku gak tahu kalau kamu pengen telpon selingkuhan kamu itu!" ucap Nadira.


"Enggak sayang, saya kan udah bilang tadi saya ada urusan sebentar. Saya bukan mau hubungi Vanesa, tapi karyawan saya di kantor." elak Albert.


"Halah bohong! Aku tau kamu mau telpon Vanesa, coba sini hp kamu biar aku lihat!" ucap Nadira.


"Buat apa sih sayang? Beneran kok saya gak pengen telpon Vanesa, kamu percaya dong sama saya kan saya ini suami kamu!" ucap Albert.


"Gimana aku mau percaya kalau tingkah kamu mencurigakan begitu?" ujar Nadira.


"Mencurigakan gimana coba? Saya daritadi biasa-biasa aja tuh, kamu nya aja yang terlalu curigaan!" ucap Albert.


"Kok jadi aku sih?" ucap Nadira kesal.


"Ya emang kamu kan, harusnya kamu itu percaya sama suami kamu! Jangan malah curigaan terus kayak gini, gimana saya bisa bebas coba?" ucap Albert.


"Bebas apa maksud kamu? Bebas hubungi Vanesa, iya?" tanya Nadira.


"Gak gitu sayang, maksudnya tuh bebas ngurusin urusan di kantor saya." jawab Albert.


"Ah tau ah!" Nadira pun ngambek dan membuang muka sambil melipat kedua tangannya.


"Sayang, jangan marah dong! Beneran kok saya gak mau hubungin Vanesa, kamu percaya dong sama saya!" ucap Albert membujuk Nadira.


Nadira hanya diam tak menggubris ucapan suaminya, bahkan ia berbalik membelakangi Albert walau masih tetap berada disana.


"Haish, ini semua gara-gara si Vanesa! Ngapain coba dia pake telpon segala?" batin Albert.


"Sayang, saya minta maaf ya! Saya—"


Disaat Albert hendak mendekati Nadira dan membujuk istrinya itu, tiba-tiba saja ponselnya berdering membuatnya mengurungkan niatnya.


Drrttt..


Drrttt...


"Pasti si Vanesa kan yang telpon?" ucap Nadira tanpa membalikkan tubuhnya.


"Enggak sayang, ini bukan Vanesa. Dari awal kan saya udah bilang, saya gak mau hubungin Vanesa." kata Albert.


"Terus dari siapa?" tanya Nadira.


"Keenan. Sebentar ya, saya angkat telponnya dulu!" ucap Albert.


Albert pun mengangkat telponnya di dekat Nadira, namun tetap saja Nadira masih merasa curiga pada suaminya itu.


📞"Halo Keenan! Ada apa?" ucap Albert.


📞"Halo pak! Gawat pak, polisi udah menyatakan kalau Cakra meninggal dan jasadnya gak bisa ditemuin!" ucap Keenan panik.


📞"Hah??" Albert terkejut bukan main.


Tak hanya Albert, Nadira juga merasakan hal yang sama ketika pria itu berteriak kaget.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2