
Nadira membuka matanya, ia tersenyum lebar saat melihat Albert suaminya sudah berada di sampingnya dan tengah terduduk memandang ke arahnya.
"Mas," ucap Nadira dengan suara yang lemah akibat kelelahan tadi.
"Eh sayang, kamu udah bangun?" ucap Albert.
"Iya mas, aku senang bisa lihat kamu disini. Aku tadi udah berhasil melahirkan buah hati kita, mas. Kamu tahu itu kan?" ucap Nadira.
Albert langsung merubah ekspresinya begitu mendengar ucapan Nadira, hal itu membuat Nadira heran sekaligus bingung karena Albert tiba-tiba menunjukkan ekspresi sedihnya.
Nadira pun menatap wajah suaminya, ia coba bangkit walau dengan kondisi yang masih belum membaik.
"Hey, kamu jangan bangun dulu! Kamu kan masih sakit sayang, udah tiduran aja!" ucap Albert.
"Abisnya kamu diem aja, aku kan jadi heran ngeliatnya. Kamu kenapa sih mas, ada masalah?" ucap Nadira terheran-heran.
"Eee enggak kok, saya baik-baik aja. Saya itu tadi cuma kasihan lihat kondisi kamu, saya jadi nyesel udah hamilin kamu." kata Albert.
"Hah? Kamu gak boleh bilang gitu mas, itu sama aja kamu nyesel kita punya anak!" ujar Nadira.
"Iya iya, saya salah bicara. Yaudah, kamu lanjut istirahat aja ya! Jangan banyak gerak dulu!" ucap Albert.
"Iya mas, daritadi kan aku juga cuma istirahat. Oh iya, anak kita dimana mas? Aku belum sempat lihat wajah dia tadi, kamu udah lihat?" ucap Nadira.
"Eee itu..." ucap Albert ragu-ragu.
"Kenapa mas? Kamu udah lihat anak kita apa belum? Dia cantik kan mas kayak aku?" tanya Nadira penasaran.
"Belum sayang, saya belum lihat anak kita. Dia masih dibersihkan sama perawat di ruang khusus, mungkin nanti setelah semuanya selesai baru kita bisa lihat anak kita." jawab Albert.
"Ohh, aku gak sabar deh pengen gendong dia mas! Tadi aku malah langsung pingsan sih, jadinya aku gak bisa lihat dia." ujar Nadira cemberut.
"Sabar aja ya sayang! Nanti kan kita juga bisa lihat anak kita," ucap Albert sembari mengusap kening istrinya dengan lembut.
"Iya mas, tapi kamu kan ngerti gimana perasaan aku sekarang. Aku ini seorang ibu yang mau lihat bayinya, wajar kan kalau aku gak sabar mas?" ucap Nadira tersenyum manis.
"Iya sayang, saya paham kok. Kan nanti kamu bisa lihat plus gendong dia," ucap Albert.
Nadira mengangguk pelan sambil tersenyum, Albert terus mengelus rambut serta wajah Nadira dan sesekali mengecup keningnya.
Cupp!
Ia cukup lama menempelkan bibirnya di kening sang istri, pikirannya mengarah pada kondisi putrinya yang sedang kritis saat ini.
"Seandainya kamu tahu kondisi putri kita sekarang, pasti kamu gak akan bisa senyum bahagia kayak gini. Tapi, saya gak mungkin kasih tahu itu ke kamu sekarang. Saya gak mau bikin kamu sedih dan banyak pikiran," batin Albert.
Tak lama kemudian, dokter Fadila masuk kesana menemui Nadira dan Albert.
"Eh, ibu Nadira sudah sadar. Mari Bu saya periksa sebentar!" ucap dokter Fadila sambil tersenyum.
"Iya dok, eee sekarang anak saya dimana ya dok? Saya mau ketemu dong sama dia, saya udah gak sabar pengen gendong dia!" ucap Nadira.
"Sabar ya Bu! Anak ibu masih ada sama kami, nanti begitu semuanya selesai kami pasti akan bawa anak ibu kesini." kata dokter Fadila.
"Sayang, saya kan udah bilang tadi tunggu sebentar. Kamu kok masih tanya begitu sih sama dokter Fadila?" ucap Albert.
"Iya mas, maaf!" ucap Nadira merengut.
"Yasudah, sebentar ya pak saya cek kondisi bu Nadira dulu!" ucap dokter Fadila.
"Ah siap dok!" ucap Albert menyingkir.
Dokter Fadila pun mulai memeriksa kondisi Nadira, sedangkan Albert berdiri di dekatnya sambil terus memikirkan kondisi putrinya.
"Saya makin penasaran dengan kondisi putri saya, semoga aja dia bisa cepat pulih!" batin Albert.
Nadira sempat melirik ke arah suaminya, lagi-lagi pikirannya dibuat penasaran dengan tingkah laku Albert yang sering terdiam.
"Mas Albert kenapa ya? Apa ada yang mas Albert sembunyiin dari aku?" batin Nadira.
•
•
Sementara itu, Vanesa masih menyusui putranya di ruang bersalin seperti sebelumnya. Ia tampak bahagia karena dapat melahirkan putra yang tampan dan sehat.
Namun, entah mengapa Vanesa masih kepikiran dengan Albert yang hingga kini belum kunjung ada di sebelahnya, padahal ia ingin sekali Albert menemaninya saat ini.
"Albert, kamu itu kemana sih? Kok kamu malah pergi dan gak temenin aku? Apa kamu gak mau lihat putra kamu yang tampan ini?" batin Vanesa.
Disaat ia tengah asyik melamun, seorang suster muncul dari luar dan berjalan menghampirinya.
"Permisi Bu! Saya periksa dulu kondisinya ya," ucap suster itu yang kini sudah berada di dekat Vanesa.
"Iya sus," ucap Vanesa singkat.
"Oh ya, sepertinya putra ibu sudah cukup menyusu. Untuk sekarang sudah dulu ya Bu, tapi nanti enam jam kemudian putra ibu harus kembali diberi ASI Bu." kata suster.
"Iya sus," ucap Vanesa melepas mulut putranya dan tersenyum memandang wajah putranya.
"Udah dulu ya sayang," ucap Vanesa.
"Oh ya sus, suami saya masih belum ada? Dia beneran gak ada di depan sus?" tanya Vanesa menatap wajah suster itu.
"Iya Bu, tadi saya sudah cek ke depan dan suami ibu masih belum kembali." jawab suster itu.
"Duh, kemana sih papa kamu sayang? Masa dia pergi gitu aja tinggalin kita disini?" ujar Vanesa.
"Yang sabar ya Bu! Apa ibu sudah coba menelpon suami ibu?" ucap suster itu.
"Ah iya, handphone saya mana ya sus? Saya mau coba deh telpon dia, siapa tahu diangkat." ujar Vanesa.
__ADS_1
"Sebentar ya Bu, saya ambilkan." kata suster itu.
"Iya sus," ucap Vanesa mengangguk singkat.
Suster itu pun mengambilkan ponsel milik Vanesa dan memberikannya kepada Vanesa.
"Ini bu hp nya," ucap suster itu.
"Terimakasih sus!" ucap Vanesa.
"Sini Bu, biar saya yang gendong anak ibu!" ucap suster itu.
"Baik sus, makasih!" ucap Vanesa.
Vanesa pun memberikan putranya kepada suster itu, lalu mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Albert.
"Albert, semoga kamu mau angkat telpon aku!" batin Vanesa.
Akan tetapi, telpon darinya tidak diangkat oleh Albert hingga membuatnya kesal.
"Duh, kamu kemana sih? Kenapa telpon aku gak kamu angkat, Albert?" geram Vanesa.
"Sabar ya Bu! Mungkin suami ibu sedang ada urusan lain, dicoba aja telpon lagi nomornya!" ucap suster itu.
"Ah iya sus," ucap Vanesa.
Vanesa kembali mencoba menghubungi nomor Albert, tapi lagi dan lagi tetap tidak diangkat oleh Albert.
Akhirnya Vanesa pasrah, ia melempar ponselnya begitu saja ke ranjang yang ia tiduri hingga membuat suster disana terkejut.
"Loh Bu, kenapa hp nya dilempar?" tanya suster itu.
"Percuma aja sus saya pakai hp itu, suami saya gak mau angkat telpon dari saya." jawab Vanesa.
"Ohh, ibu yang sabar ya!" ucap suster itu.
"Yaudah sus, kalo gitu saya boleh gak gendong anak saya lagi?" tanya Vanesa.
"Boleh kok Bu, silahkan!" jawab suster itu.
Vanesa tersenyum dan mengambil alih putranya dari gendongan sang suster, ia memandangi wajah bayi itu sambil mengusap dan mengecup wajahnya dengan lembut.
"Eee apa ibu sudah memutuskan nama untuk putra ibu ini?" tanya suster itu.
"Belum sus, saya mau tunggu suami saya aja. Saya pengennya nama dia itu diambil dari keputusan saya dan juga suami saya," jawab Vanesa.
"Oh begitu, baiklah Bu semoga suami ibu segera kembali ya!" ucap suster itu.
"Iya sus," ucap Vanesa mengangguk singkat.
"Eee kalau begitu saya mohon izin permisi sebentar ya Bu! Kalau ibu butuh sesuatu, pencet saja bel yang ada disitu ya Bu." ucap suster itu.
"Sama-sama Bu, permisi!" ucap suster itu.
Suster itu pun berbalik dan pergi keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Vanesa.
Vanesa masih terus menggendong putranya, ia tersenyum menatap wajah bayi yang benar-benar membuatnya merasa tenang.
Hingga tiba-tiba ia merasakan sakit yang amat sangat di bagian perut bawahnya.
"Awhh sshh! Kok perut aku tiba-tiba sakit banget ya?" rintihnya.
•
•
Albert yang berkali-kali ditelpon oleh Vanesa pun merasa risih, ia akhirnya membisukan ponselnya dan menaruhnya di saku celananya.
Nadira merasa heran melihat tingkah suaminya, ia langsung menatap wajah sang suami sambil bertanya penuh keheranan.
"Mas, siapa yang telpon kamu?" tanya Nadira.
"Eh eee bukan siapa-siapa kok," jawab Albert.
"Terus kenapa gak kamu angkat? Siapa tahu itu penting loh mas, angkat aja dulu!" ujar Nadira.
"Gausah sayang, ini mah gak penting. Bagi saya, yang penting itu sekarang cuma kamu. Jadi, saya gak mau ada siapapun ganggu kita saat ini." ucap Albert sambil tersenyum.
"Ah kamu bisa aja mas, angkat telpon kan gak sampe lima menit. Udah, kamu angkat aja dulu telponnya!" ucap Nadira.
"Enggak sayang, biarin aja. Lagian telponnya juga udah mati kok, apa coba yang mau diangkat?" ucap Albert.
"Yaudah, kamu telpon balik dong!" ucap Nadira.
"Males ah! Saya kan udah bilang, saya maunya temenin kamu aja disini. Gak ada siapapun yang bisa ganggu kita kali ini," ucap Albert.
"Haish, kamu lebay ah mas!" ucap Nadira.
"Gapapa saya lebay, yang penting saya sayang sama kamu!" ucap Albert.
"Udah ah jangan gombal terus!" ucap Nadira malu-malu.
"Hahaha..." Albert tertawa lepas sembari mencubit kedua pipi istrinya.
Dokter Fadila yang kebetulan masih ada disana pun ikut tersenyum, ia kagum pada Albert yang berhasil membuat fokus Nadira teralihkan dan tidak lagi menanyakan kondisi bayinya.
"Eee maaf pak, Bu!" ucap dokter Fadila.
"Eh iya dok, kenapa?" tanya Albert bingung.
"Saya mau permisi ke depan dulu ya pak, Bu! Kalau butuh sesuatu, tinggal pencet bel aja ya pak!" ucap dokter Fadila.
__ADS_1
"Baik dok! Terimakasih ya!" ucap Albert.
"Sama-sama pak, saya permisi!" ucap dokter Fadila.
"Silahkan dok!" ucap Albert.
Dokter Fadila pun keluar dari ruangan itu, sedangkan Albert tetap berada disana menemani Nadira sembari menggenggam tangan istrinya itu.
"Mas, mama sama Chelsea dimana? Mereka ada disini kan?" tanya Nadira.
"Bukan cuma mereka, tapi ayah sama ibu juga ada disini kok." jawab Albert.
"Hah? Serius kamu mas?" tanya Nadira kaget.
"Iya dong sayang, emang kenapa? Kamu mau ketemu sama mereka?" ucap Albert.
"Kalau boleh, iya aku mau ketemu." kata Nadira.
"Yaudah, saya panggilin mereka ya buat masuk kesini. Tapi, kamu disini aja ya jangan kemana-mana!" ucap Albert.
"Iya mas, aku tunggu disini kok." ucap Nadira.
Albert tersenyum tipis masih sambil mengusap wajah Nadira.
Lalu, pria itu nampak mendekatkan wajahnya ke bibir Nadira dan mengecup bibir wanita itu.
Cupp!
Tak cukup dengan kecupan, Albert pun juga melumatt bibir mungil istrinya dengan lembut namun menuntut hingga membuat Nadira kewalahan untuk membalasnya.
Setelah puas, barulah Albert melepas pagutannya dan sedikit menjauh dari wajah Nadira. Sedangkan wanita itu langsung mengambil nafas panjang akibat ulah suaminya tadi.
"Hah! Hah! Hah! Kamu jahat ih mas! Kamu mau bunuh aku ya?" ujar Nadira.
"Ahaha, maaf sayang saya kebawa suasana tadi! Jangan emosi dong, lagian kan kita udah lama gak ciuman begitu!" ucap Albert.
"Iya sih," ucap Nadira pelan.
"Yaudah, aku ke depan dulu ya? Kamu janji jangan kemana-mana, okay!" ucap Albert.
"Oke mas!" ucap Nadira.
Cupp!
Albert kembali mengecup bibir Nadira sekilas dan langsung pergi keluar menemui keluarganya, Nadira menggeleng sambil terkekeh melihat tingkah suaminya barusan.
Di luar, Albert pun menghampiri Abigail serta yang lainnya yang masih menunggu disana.
"Mah, pak, Bu, barusan Nadira bilang sama saya kalau dia mau ketemu sama kalian." ucap Albert.
"Apa? Jadi, Nadira sudah sadar?" tanya Abigail.
"Iya mah, Nadira udah sadar kok dan dia baik-baik aja." jawab Albert.
"Oh syukurlah! Kalo gitu mama sama pak Hendra dan Bu Lastri mau masuk ya?" ucap Abigail.
"Iya mah, silahkan!" ucap Albert.
Abigail beserta Suhendra dan Sulastri pun masuk secara bersama-sama ke dalam sana untuk menemui putri mereka.
Sementara Albert tetap disana bersama Chelsea, ia tersenyum singkat lalu menitikkan air mata saat mengingat kondisi bayinya.
"Kak, kakak jangan sedih ya! Kita doakan aja supaya anak kakak gak kenapa-napa!" ucap Chelsea sembari memegang pundak abangnya.
"Iya Chelsea, itu juga yang kakak harapkan." ucap Albert menahan tangisnya.
•
•
Dokter Fadila dan dua orang perawat bergegas menghampiri bayi milik Nadira di dalam inkubator tersebut untuk diperiksa.
Mereka semua panik saat mengetahui indikator detak jantung yang dipasang itu tak berbunyi kembali.
"Dok, ini gawat dok!" ucap perawat itu panik.
"Ka-kalian tenang dulu! Kita coba cara lain untuk mengembalikan detak jantung putri Bu Nadira!" ucap dokter Fadila.
"Baik dok!"
Dokter Fadila dan kedua perawat itu terus melakukan berbagai cara untuk dapat menyelamatkan nyawa bayi milik Nadira.
Namun, usaha mereka semuanya gagal dan tidak berhasil membuat jantung bayi itu berdetak kembali.
Akhirnya dua perawat itu menyerah, tapi tidak dengan dokter Fadila yang terus berusaha keras walau tidak ada hasilnya.
"Dok, kita telah gagal. Bayi Bu Nadira sudah—"
"Jangan bicara begitu! Kita belum gagal, kita pasti bisa selamatkan nyawanya!" potong dokter Fadila.
"Ta-tapi dok..."
"Diam kamu! Bayi ini masih bisa diselamatkan, dia harus selamat!" bentak dokter Fadila.
Kedua perawat itu pun terdiam menunduk, mereka benar-benar belum pernah melihat dokter Fadila berekspresi seperti sekarang ini.
Dokter Fadila tiba-tiba saja menangis, menutupi wajahnya dengan dua telapak tangan seperti menyesali semuanya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1