
...Chelsea Nadine Keisha...
Sang adik dari tuan Albert, yang selama ini berkuliah di luar negeri. Ia kembali ke rumah setelah kurang lebih tiga tahun menempuh pendidikan disana, ia juga merupakan kekasih dari Keenan alias asisten kakaknya sendiri, tentu saja Chelsea terpincut dengan ketampanan Keenan saat pertama kali bertemu dengan pria itu di rumah kakaknya.
Nama asli : Chelsea Nadine Keisha
Umur : 20 tahun
Sikap : Manja, cerewet, bawel
Hobi : Belanja, liburan, jalan-jalan
Cita-cita : Berumah tangga dengan Keenan
Oke Let's go masuk ke ceritanya!
>>>>>>>
...•...
Albert mengantarkan adik kesayangannya itu ke kamar, ia melewati kamar tempat Nadira dikurung saat ini karena memang itu satu-satunya jalan menuju tangga di tengah rumah.
Tanpa diduga, pintu terbuka dan Nadira keluar dari dalam kamar tersebut. Wanita itu bahkan menghampiri Albert serta Chelsea dan menyapa keduanya sambil tersenyum, ia cukup heran melihat adanya sosok wanita muda di samping Albert dan mereka cukup akrab.
"Tuan!"
Albert yang melihat Nadira muncul, tentu saja merasa geram padanya. Ia lagi-lagi dibuat kesal oleh istrinya tersebut, padahal sebelumnya ia sudah memerintahkan Nadira untuk tetap diam di kamar dan ia ingat sekali kalau ia sudah mengunci pintu.
"Kak, dia siapa?" tanya Chelsea sembari menoleh ke arah kakaknya dengan wajah penasaran.
"Halo salam kenal, aku Nadira!" ucap Nadira.
"Nadira? Ohh jadi lu yang dinikahin sama kakak gue?" ucap Chelsea.
"Iya, kamu adiknya tuan Albert?" tanya Nadira.
Chelsea terdiam, ia mengamati seluruh tubuh Nadira dari atas sampai bawah dengan tatapan tak suka.
"Ya ampun kak, selera lu kok rendah banget sih? Bisa-bisanya lu pilih istri kayak gini, gue pikir lu paksa dia buat nikah karena dia cantik, eh ternyata rendahan begini!" cibir Chelsea.
__ADS_1
"Sssttt! Udah ya, kamu kan capek. Mending ayo ikut kakak ke kamar kamu! Udah dirapihin kok sama pelayan, kamu istirahat ya!" bujuk Albert.
"Iya kak," ucap Chelsea mengangguk.
Albert merangkul adiknya, lalu melangkah tanpa perduli dengan Nadira. Mereka pergi menaiki tangga dan menuju kamar Chelsea yang ada di lantai dua, sedangkan Nadira masih terperangah disana.
Nadira sama sekali tak menyangka, sosok Albert yang kasar dan kejam itu ternyata bisa bersikap lembut juga pada adiknya. Ini adalah kali pertama Nadira melihat momen tersebut, ia kini tahu kalau Albert juga memiliki sisi baik.
"Ternyata tuan Albert bisa lembut juga ya, aku pikir dia orangnya keras terus!" gumam Nadira.
Namun, Nadira tentunya tahu kalau sikap lembut Albert hanya untuk sang adik. Tak mungkin Albert bisa bersikap seperti itu juga pada dirinya, walau ia sangat mengharapkan itu.
Akhirnya Nadira memilih kembali ke kamar untuk menghindari amarah Albert, apalagi tampak jelas tadi kalau Albert emosi melihat dirinya keluar dari kamar dan tidak menurut pada perkataan suaminya.
❤️
"Kamu istirahat ya! Ini semuanya udah dibersihin kok sama pelayan, sprei nya udah diganti sesuai kesukaan kamu. Terus gordennya juga yang paling bagus diimpor langsung dari Perancis, biar kamu nyaman tidur disini sayang!" ucap Albert.
"Wah keren banget kak!" ucap Chelsea terpesona.
Ya keduanya saat ini sudah berada di dalam kamar Chelsea, gadis itu sangat terkesima melihat keindahan yang tersaji di kamarnya tersebut.
"Kak, ini semua kakak yang rancang?" tanya Chelsea.
"Ya iya dong, kan yang tahu tentang kesukaan kamu itu cuma kakak seorang!" jawab Albert.
Albert sangat menyayangi adiknya itu, ia tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada sang adik. Itulah sebabnya dimanapun Chelsea berada, ia selalu meminta orangnya untuk mengawasi Chelsea tanpa sepengetahuan gadis itu.
Namun, untuk kali ini ia bingung karena orang yang ia perintahkan mengawasi Chelsea justru tidak memberi kabar padanya sama sekali kalau Chelsea sudah dalam perjalanan menuju rumahnya.
"Saya harus hubungi Mike, bisa-bisanya dia lalai!" batin Albert geram.
"Eee sayang, kamu istirahat aja ya disini! Kakak mau keluar dulu sebentar, nanti kalau kamu butuh apa-apa tinggal pencet aja bel yang ada disana! Otomatis pelayan bakal samperin kamu, paham kan sayang?" ucap Albert.
"Paham kak, makasih ya!" ucap Chelsea.
"Sama-sama sayang,"
Cupp!
Pria itu mengecup kening sang adik, lalu berbalik dan pergi dari kamar itu. Tak lupa Albert menutup pintu agar adiknya bisa beristirahat dengan tenang tanpa adanya gangguan.
Sementara Nadira kini duduk di atas ranjang, ia merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata menikmati lembutnya ranjang mahal tersebut.
__ADS_1
"Uhh nyaman banget ini kasur, kak Albert emang paling best lah soal beginian! Sayang aja dia malah nikah sama wanita yang salah, gue gak yakin kalau cewek itu orang baik-baik! Dia bisa jadi benalu di dalam rumah ini, gimana ya caranya nyadarin kak Albert?" gumam Chelsea.
•
•
Ceklek...
Nadira reflek berdiri saat melihat pintu kamarnya terbuka, ia pun amat ketakutan ketika tahu yang datang adalah Albert dengan raut emosi terpampang di wajahnya.
Albert membanting pintu dengan keras, lalu berjalan pelan menghampiri Nadira. Pria itu nampak sangat emosi dan tak mampu menahannya lagi mengingat ini kali kedua Nadira membangkang padanya.
"Hey, kenapa kamu keluar dari kamar ini? Bukannya saya udah bilang, kamu tetap disini?!" tegas Albert.
Nadira hanya diam merunduk, dalam situasi seperti ini ia sangat bingung harus bagaimana. Apalagi ia juga harus susah payah menahan area miliknya yang terus-menerus bergetar dan semakin basah.
"Jawab, jangan diam aja!" bentak Albert sembari mencengkeram rahang istrinya.
"Ma-maaf tuan! Saya tadinya hanya ingin memohon sama tuan, supaya saya boleh melepas celana ini! Saya sudah tidak tahan tuan!" ucap Nadira.
"Ohh begitu? Baiklah, karena kamu membangkang maka hukuman kamu saya tambah Nadira! Kamu harus memakai celana itu sampai malam nanti, dan kamu tidak boleh membukanya sama sekali atau saya akan melakukan tindakan yang lebih daripada ini!" ucap Albert.
"Apa? Tapi tuan, saya—"
"Tidak ada bantahan! Kamu turuti perintah saya, supaya kamu bisa selamat!" potong Albert.
"Ba-baik tuan!" ucap Nadira gugup.
Albert melepas rahang Nadira dengan kasar, sampai gadis itu meringis memegangi bagian dagunya yang sedikit memerah.
"Ingat ini Nadira, mulai sekarang Chelsea adik saya akan tinggal disini. Jadi, kamu tidak boleh sembarangan keluar kamar tanpa seizin saya! Dan kamu juga tidak saya izinkan menemui adik saya, apapun itu alasannya! Paham?!" ujar Albert.
Nadira mengangguk pelan tanpa berani menatap wajah suaminya yang tengah emosi itu.
Setelahnya, Albert yang emosi memilih keluar dari kamar itu karena ia juga ada keperluan lain saat ini dan bukan hanya meladeni Nadira yang selalu membuatnya emosi itu.
Nadira pun kembali duduk di atas kasur, ia menangis menutupi mukanya atas perlakuan buruk yang ia dapat saat ini. Sungguh, Nadira sudah tidak tahan dengan apa yang ia rasakan dan ingin segera mengakhiri itu, namun apa daya ia tak mungkin bisa melakukannya.
"Sampai kapan aku harus menderita seperti ini ya Tuhan? Mengapa engkau begitu dahsyat memberikan cobaan kepada hamba?" batin Nadira.
Disaat-saat seperti ini, Nadira amat rindu dengan masa kecilnya yang penuh keceriaan. Ia rindu saat bermain dengan teman masa kecilnya, dan terhindar dari yang namanya kesedihan atau cobaan berat seperti yang sekarang ia rasakan.
Namun, lagi-lagi ia hanya bisa pasrah menerima keadaan dan takdir yang menimpa dirinya. Sebagai seorang manusia beragama, ia yakin bahwa dibalik penderitaan yang ia alami saat ini pasti akan muncul sebuah kebahagiaan.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...