
Nadira dan Albert baru selesai berbelanja bulanan di sebuah supermarket, mereka pun keluar dari pusat perbelanjaan itu dengan mendorong sebuah troli belanja yang sudah penuh oleh belanjaan mereka kali ini.
Sepasang suami-istri itu pun menghentikan langkah mereka begitu tiba di tempat parkir, Nadira menoleh sejenak ke arah Albert lalu tersenyum hingga membuat Albert terheran-heran.
"Kamu kenapa lihatin saya sambil senyum begitu? Terpesona?" tanya Albert kepedean.
"Ih tuan pede banget sih! Aku bukan terpesona, tapi aku cuma senang aja karena tuan mau temenin aku belanja kayak gini. Padahal biasanya tuan selalu gak mau ikut aku ke supermarket, ada angin apa sih yang bikin tuan jadi berubah begini?" ujar Nadira keheranan.
"Bukan gara-gara angin saya berubah, tapi karena saya gak mau kehilangan kamu lagi. Bagi saya, udah cukup satu kali aja kamu pergi dan jangan pernah hal itu terjadi lagi! Jujur aja saya gak bisa jauh-jauh dari kamu, jiwa saya ini udah disetting untuk selalu ada di dekat kamu!" ucap Albert.
"Ohh sekarang tuan Albert udah jadi tukang gombal ya? Bagus deh, jangan cuma bisanya marah-marah terus!" ucap Nadira.
"Saya gak lagi gombal kok, semua yang saya katakan tadi itu benar. Sekarang kita mau kemana lagi nih? Langsung pulang atau mau mampir dulu?" ucap Albert langsung mengalihkan pembicaraan.
"Eee kalau aku minta buat mampir ke rumah ayah sama ibu boleh gak, tuan?" tanya Nadira.
"Mau ngapain kamu kesana?" Albert balik bertanya pada wanitanya itu.
"Ya gak ngapa-ngapain sih tuan, saya cuma kangen aja sama ayah dan ibu. Tapi, kalau tuan gak kasih izin juga gapapa sih. Aku gak bakal maksa kok, jadi semuanya tergantung tuan." kata Nadira.
"Saya izinin kok, asal kamu jangan lama-lama disana! Soalnya saya pengen berduaan lagi sama kamu di rumah," ucap Albert.
"Iya deh tuan," Nadira tersenyum senang.
Albert pun merangkul pundak Nadira dan membawa wanita itu ke dalam dekapannya sambil sesekali ia mengusap serta mengecup puncak kepala Nadira dengan lembut.
"Tuan, jangan kayak gini ah malu banyak orang yang lihat!" ucap Nadira.
"Gapapa. Kamu gak perlu perduliin orang lain Nadira! Hubungan kita ya biar kita aja yang urus, orang lain mah gak usah diperhatiin! Mereka juga bukan siapa-siapa kita, ngapain kamu harus malu sama mereka?" ujar Albert.
"Iya sih, tapi kan lebih baik kita segera masuk ke mobil sekarang. Supaya tuan juga bisa lebih leluasa peluk-peluk aku atau cium aku tanpa ada orang yang lihat, ya kan tuan?" saran Nadira.
"Yaudah, ayo deh kita masuk ya!" ujar Albert.
Disaat mereka hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka dan menyapa sepasang suami-istri itu.
"Waw halo Nadira! Halo juga om!" Albert dan Nadira pun kompak terkejut melihat kehadiran Cakra disana.
"Mau apa anda kesini?" Albert langsung melontarkan pertanyaan dengan nada tegas.
"Loh, ini kan tempat belanja umum om. Semua orang itu boleh datang kesini, termasuk saya. Om gak bisa dong larang saya! Kalau om gak mau saya datang kesini, om buat lah supermarket om sendiri yang cuma boleh didatangi sama om dan Nadira! Katanya orang kaya, masa buat begituan aja gak bisa?" ucap Cakra dengan nada mengejek.
"Oke! Mulai saat ini saya akan dirikan supermarket pribadi milik saya, jadi anda tidak memiliki alasan lagi untuk dekat-dekat dengan Nadira!" ucap Albert serius.
"Wow keren!" ujar Cakra.
"Udah lah tuan, kita pergi aja yuk! Tuan jangan bikin keributan disini, gak enak tau dilihat orang banyak!" bisik Nadira.
"Iya iya, kamu masuk duluan ya!" ucap Albert sembari membukakan pintu mobil untuk Nadira.
Nadira hanya mengangguk setuju, lalu masuk ke dalam mobil itu meninggalkan Albert berdua dengan Cakra disana.
Albert tampak tak memperdulikan sosok Cakra, ia melintas begitu saja membawa troli belanja itu dan memasukkan barang-barang belanjaan miliknya ke dalam bagasi, Cakra yang melihatnya pun tersenyum dan tak beranjak sedikitpun dari sana.
"Ngapain anda masih disini? Sana masuk katanya mau belanja! Oh atau itu cuma alasan anda saja ya? Sebenarnya anda datang kesini, karena anda tahu saya dan Nadira belanja disini?" ucap Albert.
"Tidak usah sok tahu! Dengar ya om, saya ini masih belum ikhlas karena om udah rebut Nadira dari saya. Lihat saja, saya pastikan om akan mendapat balasan dari saya!" ucap Cakra.
"Saya tidak takut dengan ancaman murahan anda itu! Sudah ya, permisi!" Albert berbalik, lalu masuk ke dalam mobilnya menyusul Nadira.
Saat di dalam, Nadira kembali berbicara pada Albert dengan wajah sedikit cemas plus panik.
__ADS_1
"Tuan, tadi tuan bicara apa lagi sama Cakra? Kok tuan sampai emosi kayak gini? Apa Cakra ada bicara macam-macam ya soal aku?" tanya Nadira penasaran.
"Enggak ada, sudah ya kita pergi sekarang!" ucap Albert singkat dan tegas.
"I-i-iya tuan.."
Albert pun bergegas melajukan mobilnya pergi dari sana dengan perasaan kesal, sedangkan Nadira masih tampak penasaran mengapa Albert bisa sampai semarah itu setelah berbincang dengan Cakra di luar tadi.
•
•
Cakra tersenyum smirk menatap ke arah mobil Albert yang sudah menjauh, ia tahu ada raut kecemasan di wajah Albert ketika dirinya berkata akan merebut Nadira darinya.
Setelahnya, Cakra pun masuk ke dalam supermarket itu untuk membeli sesuatu. Namun, baru saja ia masuk sudah ada seorang wanita yang mendekatiku dan membuatnya terkejut.
"Tunggu!" wanita itu menyapanya dan menghalangi jalannya dengan berdiri tepat di depannya.
"Ya, ada apa? Kenapa kamu cegat saya begitu? Emangnya kita saling kenal ya?" tanya Cakra keheranan.
"Eee belum sih, kenalin aku Vanesa." wanita itu mengenalkan dirinya sembari mengulurkan tangan ke arah Cakra dan tersenyum.
"Oh, saya Cakra. Lalu, kamu mau apa samperin saya? Kalau cuma untuk menggoda saya, percuma aja karena itu gak akan mempan!" ujar Cakra.
"Hah?" Vanesa terkejut dan menganga sedikit.
"Nih orang pedenya kelewat batas banget sih! Siapa juga yang mau godain dia?" batinnya.
"Eee tenang aja ya, Cakra! Aku kesini bukan mau godain kamu kok, aku cuma pengen bicara aja sama kamu berdua. Bisa kan kita ngobrol sambil keliling-keliling milih belanjaan? Soalnya ini lumayan penting menurut aku," ucap Vanesa.
"Emangnya kamu mau bicara soal apa? Kok bisa sampai sepenting itu? Padahal kita aja baru kenal sekarang, masa udah ada urusan penting aja?" ujar Cakra keheranan.
"Sama Nadira nya iya, tapi sama si om tua itu gak terlalu kenal sih. Emangnya kenapa? Apa hubungannya kamu sama mereka?" ujar Cakra.
"Nah itu dia, jadi aku ini mantan sekretarisnya pak Albert sekaligus wanita simpanan dia. Aku dengar-dengar tadi kamu pengen rebut Nadira dari pak Albert kan? Kalau begitu kita bisa kerjasama, karena aku juga mau rebut pak Albert dari Nadira!" ucap Vanesa.
"Apa??"
•
•
Malam harinya, Nadira menghampiri Albert yang tengah termenung di balkon seorang diri. Ia turut membawakan secangkir teh hangat untuk sang suami serta beberapa cemilan, ia merasa kasihan pada Albert yang sepertinya sedang pusing itu.
Meskipun Nadira tak tahu apa masalah yang melanda suaminya, namun tetap saja dirinya akan selalu berusaha menenangkan hati Albert agar bisa dibilang sebagai istri yang baik.
"Tuan, aku bawain teh nih buat tuan. Tuan jangan melamun terus ya, gak baik!" ucap Nadira.
Albert menoleh terkejut dan tersenyum tipis saat melihat istrinya yang muncul, Nadira menaruh teh itu di atas meja lalu mendekati Albert yang langsung merangkulnya.
"Tuan lagi mikirin apa sih?" tanya Nadira.
"Saya gak mikir apa-apa kok, saya cuma lagi menikmati indahnya malam. Tuh kamu lihat deh, banyak bintang-bintang di langit yang bersinar bersama bulan purnama. Momen kayak gini kan gak boleh terlewati, karena saya suka banget lihat bintang itu sejak kecil." jawab Albert.
"Oh ya? Berarti hobi kita sama dong tuan? Aku juga suka banget lihatin bintang di malam hari, kadang kalau beruntung aku juga ketemu sama bintang jatuh, kata ibu aku bisa minta permohonan sewaktu ada bintang jatuh," ucap Nadira.
"Ya, saya juga sering begitu kok. Tapi, permohonan saya tidak pernah terkabul sampai sekarang. Apa mungkin itu cuma mitos ya?" ucap Albert.
"Gak tahu juga sih, tuan. Emangnya tuan minta apa sama bintang jatuh?" ucap Nadira.
"Saya cuma minta satu hal, dicintai dengan tulus oleh wanita yang saya cintai. Tapi, sampai sekarang saya tidak pernah menemukan wanita yang seperti itu semenjak kepergian mama saya. Itu artinya, bintang jatuh cuma mitos belaka dan tidak benar adanya! Harusnya kalau memang dia bisa mengabulkan permintaan kita, pasti sekarang saya sudah mendapatkan wanita itu!" ujar Albert.
__ADS_1
"Mungkin tuan harus banyak sabar! Atau bisa jadi wanita itu sebenarnya udah ada disisi tuan, tapi tuan sendiri yang gak sadar. Coba deh tuan periksa sekali lagi di sekeliling tuan!" ucap Nadira.
"Maksud kamu gimana?" tanya Albert bingung.
"Ya barangkali aja kan, wanita yang tuan cari itu sudah ada di dekat tuan dan dia lagi bersama tuan saat ini. Tapi, tuan gak sadar karena tuan belum bisa merasakan itu. Menurut aku, banyak kok wanita yang tulus mencintai tuan!" jawab Nadira.
"Siapa? Coba kamu sebutkan satu persatu di depan saya, para wanita-wanita itu!" ujar Albert.
"Umm... mommy Abigail, terus Chelsea? Mereka itu kan juga sayang sama kamu tuan, masa iya sih tuan gak sadar?" ucap Nadira.
"Iya sih, tapi bukan mereka yang saya maksud." Albert beralih menatap ke langit.
"Lalu, tuan ingin siapa yang mencintai tuan?" tanya Nadira penasaran.
"Istri. Saya mau mendapatkan istri yang tulus cinta sama saya dan menyayangi saya selayaknya seorang suami, dengan begitu pasti saya akan merasa lebih bahagia dibanding sebelumnya!" jawab Albert sambil tersenyum.
"Ohh emangnya menurut tuan, aku ini gimana? Aku gak tulus gitu sama tuan?" tanya Nadira.
"Kok tiba-tiba kamu jadi tanya begitu? Bukannya selama ini kamu emang gak pernah cinta sama saya? Begitupun saya, saya menikahi kamu bukan atas dasar cinta, tetapi nafsuu. Gak mungkin juga kamu bisa cinta sama saya, karena saya sudah merusak hidup kamu!" ucap Albert.
"Gak ada yang gak mungkin tuan, buktinya tuan juga udah mulai jatuh cinta sama aku. Jadi, aku pun bisa seperti itu!" ucap Nadira tersenyum.
"Hah? Kamu bicara apa sih Nadira? Siapa yang jatuh cinta sama kamu?" ujar Albert mengelak.
"Tuh kan, tuan emang belum bisa menyadari perasaan tuan sendiri. Aku aja udah tahu, kalau tuan cinta sama aku. Masa tuan sendiri gak sadar sih?" ucap Nadira.
Albert terdiam menatap mata Nadira yang begitu indah, mulutnya terkunci namun hatinya terus merasa bimbang apakah benar yang dikatakan Nadira bahwa ia sudah mencintai wanita itu.
•
•
Disisi lain, Darius mendatangi rumah Harrison dengan ekspresi marah dan kesal. Tentu setelah ia mengetahui jika Harrison gagal menculik dan menghabisi Keenan, padahal ia sudah menjalankan tugasnya dengan baik yakni membuat Nadira keluar dari rumah Albert.
"Dasar tidak bisa diandalkan! Menculik seorang gadis remaja saja kau tidak bisa, saya memang salah sudah menawarkan kerjasama dengan orang lemah seperti anda! Seharusnya anda bilang dari awal kalau anda tidak sanggup, maka semuanya tidak akan sia-sia seperti ini! Kegagalan yang memalukan!" ucap Darius.
"Hey, kalau memang anda merasa mampu melakukan itu, kenapa bukan anda saja yang menculik Celine ha?" ujar Harrison santai.
"Hah? Anda ini sudah pikun atau gimana sih? Kan kita sudah membuat rencana dan pembagian tugas, anda akan menculik salah satu keluarga Keenan lalu menghabisi pria itu, sedangkan saya menghasut Nadira bersama Vanesa. Lalu, mengapa anda justru gagal disaat saya sudah berhasil dengan tugas saya?" ucap Darius.
"..." Harrison hanya terdiam memalingkan wajahnya merasa malu karena sudah gagal.
"Kenapa diam? Anda mengakui kesalahan anda kan, ha? Baguslah, setidaknya anda bisa sadar bahwa anda itu lemah dan tidak bisa diandalkan!" ucap Darius emosi.
"Kata siapa paman?" tiba-tiba Vanesa muncul dan langsung bersuara sembari melangkah mendekati kedua pria yang tengah berseteru itu.
"Paman memang sudah berhasil membuat Nadira pergi dari rumahnya, tetapi itu kemarin. Sekarang Nadira sudah kembali bersama Albert, bahkan mereka terlihat lebih mesra. Begitu juga dengan ayah saya, ayah berhasil kok culik Celine dan Keenan kemarin. Berarti paman dan ayah itu tidak ada bedanya, sama-sama gagal!" lanjut Vanesa.
"Apa maksud kamu? Tahu darimana kamu Vanesa kalau Nadira sudah kembali?" tanya Darius.
"Saya lihat sendiri," jawab Vanesa singkat.
"Tidak mungkin! Saya sangat yakin Nadira waktu itu benar-benar marah dan kecewa pada Albert, bagaimana bisa dia kembali lagi kesana? Kamu jangan mengarang Vanesa!" ujar Darius.
"Kalau paman tidak percaya, silahkan saja paman lihat sendiri dan pastikan itu di rumah Albert!" ucap Vanesa dengan santai.
Kali ini giliran Darius yang terdiam kebingungan, dirinya masih tak menyangka bagaimana mungkin Nadira kembali ke rumah Albert sesuai yang dikatakan Vanesa.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1