
Albert baru selesai menyetel rekaman suara yang berisi percakapan Vanesa dengan Darius di telpon kemarin, kedua orang itu pun tampak cemas dan panik ketika mendengar suara mereka ada di ponsel milik Albert.
Sementara Albert sendiri hanya tersenyum dan mematikan rekaman suara itu, ia merasa puas melihat reaksi dari Vanesa dan Darius yang terkejut serta ketakutan itu.
"Bagaimana paman? Vanesa? Apa sekarang kalian masih tidak mau mengakui perbuatan kalian? Dengar ya, kalian salah kalau kalian ingin menghancurkan saya. Kalian tidak tahu sedang berurusan dengan saya, sekarang saya pastikan kalian berdua akan terhempas dari kantor ini! Terutama kamu, Vanesa!" ucap Albert.
"Ma-maksud bapak apa ya? Bapak mau pecat saya?" tanya Vanesa agak gugup.
"Yes! You're right baby! Kamu benar Vanesa, saya akan memecat kamu dan usir kamu sejauh mungkin dari perusahaan ini! Karena kehadiran kamu disini hanya menjadi benalu bagi perusahaan, kamu tidak benar-benar ingin bekerja melainkan hanya ingin menghancurkan saya! Kamu sudah bekerjasama dengan orang ini, jadi sebaiknya kamu tidak perlu ada disini lagi Vanesa!" jawab Albert dengan tegas.
"Ta-tapi pak, saya mohon jangan pecat saya! Hanya pekerjaan ini satu-satunya harapan saya, pak! Saya juga melakukan semuanya karena terpaksa pak, saya tidak benar-benar ingin melakukan itu! Semua ini adalah ulah anda, pak Darius! Jika saja anda tidak menghasut saya waktu itu, mungkin kejadian seperti ini tidak akan terjadi!" ucap Vanesa.
Wanita itu terlihat mengedipkan satu matanya ketika menatap Darius, ia memberikan kode pada Darius agar pria itu bisa paham kalau apa yang dikatakannya tadi hanyalah pura-pura.
"Sudah lah Vanesa, saya tidak mau mendengar perdebatan kalian disini! Sebaiknya kamu keluar, surat pemecatan resmi kamu akan segera saya urus dan saya kirimkan dalam waktu secepatnya! Anda juga paman, silahkan keluar karena saya muak melihat muka anda yang sok baik itu!" ucap Albert mengusir keduanya.
"Pak, saya mohon pertimbangkan lagi semuanya pak! Saya janji akan berubah menjadi pegawai yang lebih baik pak, saya tidak akan berbuat seperti itu lagi! Saya sangat butuh pekerjaan ini pak, saya harus membiayai pengobatan ayah saya yang sedang sakit pak!" rengek Vanesa.
"Saya tidak perduli dengan apapun yang menyangkut kehidupan kamu lagi, Vanesa! Saya juga ragu kalau ayah kamu sedang sakit, setelah saya mengetahui semua kebusukan kamu itu! Kamu adalah wanita yang pandai bersilat lidah Vanesa, kali ini saya tidak akan mudah terkecoh lagi dengan perkataan kamu!" tegas Albert.
"Saya memang sering berbohong pak, saya akui itu. Tapi, untuk urusan ayah saya itu semuanya benar dan saya tidak bohong sama sekali! Ayah saya itu memang sedang sakit keras, beliau butuh pengobatan untuk penyembuhan sakitnya. Tolonglah pak, jangan pecat saya!" ucap Vanesa.
"Cukup Vanesa! Saya tidak mau dengar apapun lagi tentang kamu atau keluarga kamu! Sekarang cepat keluar, jangan pancing emosi saya!" bentak Albert.
Vanesa tersentak kaget mendengar Albert mengusirnya, ia melirik sekilas ke arah Darius seakan meminta bantuan. Namun, Darius hanya memberikan kode melalui matanya agar Vanesa segera keluar dari ruangan itu.
"Baiklah pak, kalau memang ini keputusan bapak maka saya terima semuanya dengan berat hati! Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya pada bapak dan keluarga, karena saya sudah menyebabkan istri bapak itu kabur dari rumah! Tolong maafkan saya pak!" ucap Vanesa.
"Sampai kapanpun saya tidak akan pernah memaafkan kamu Vanesa! Kelakuan kamu sudah benar-benar kelewatan, saya benci kamu Vanesa, benci!" ujar Albert emosi.
"Tidak mengapa pak, saya memang pantas mendapat itu semua. Yasudah, saya akan segera pergi dari sini dan juga kantor ini. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih pada bapak, karena bapak sudah mau membantu saya selama ini! Kalau begitu saya permisi pak!" ucap Vanesa.
"Silahkan!" ucap Albert ketus.
Vanesa pun membalikkan tubuhnya, berjalan keluar dari ruangan sang bos dengan perlahan.
"Gimana ini...??" batin Vanesa panik.
Sementara Darius masih tetap disana bersama Albert, sontak saja Albert pun menatap tajam ke arah pamannya tersebut seperti orang yang tidak suka.
"Kenapa anda masih disini paman? Sana ikut keluar dengan teman anda itu!" tegur Albert.
"Ada suatu hal yang ingin saya bicarakan dengan kamu Albert, ini menyangkut Nadira. Saya yakin kamu pasti akan syok berat begitu tahu berita ini!" ucap Darius tersenyum smirk.
"Berita apa?" tanya Albert penasaran.
"Ini," Darius menunjukkan layar ponselnya pada Albert.
Seketika Albert tercengang begitu melihat foto istrinya bersama seorang pria di tengah jalan yang hujan, tampak kalau pria tersebut menggendong tubuh Nadira dan membawanya ke dalam mobil.
"You see that? Istrimu sekarang sedang bersama lelaki lain, dia kabur dari rumah karena kecewa dengan sikap kamu. Lalu, Nadira melampiaskan amarahnya dengan cara pergi bersama laki-laki lain, untuk membalas kamu Albert!" ucap Darius.
"Darimana paman dapat foto dan video itu?" tanya Albert pada pamannya.
"Kamu tidak perlu tahu, Albert. Lebih baik sekarang kamu urungkan niat kamu untuk memecah Vanesa, karena keputusan kamu itu salah Albert! Vanesa adalah sosok paling berpengaruh di perusahaan kamu ini! Jika dia dipecat, maka perusahaan ini akan semakin hancur!" ucap Darius langsung mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Tidak usah ikut campur ke dalam urusan perusahaan saya paman! Saya tahu mana yang terbaik untuk perusahaan, jadi paman tidak perlu repot-repot begitu!" ucap Albert.
"Baiklah, saya terima itu!" ucap Darius tersenyum.
"Sekarang lebih baik paman kasih tahu saya, dimana keberadaan Nadira dan siapa laki-laki yang membawa Nadira itu! Saya yakin dia pasti orang suruhan paman, iya kan?!" ujar Albert curiga.
"Hahaha, kamu terlalu stress Albert! Mana mungkin saya menyuruh orang ini untuk membawa Nadira? Kurang kerjaan banget saya!" ucap Darius.
"Lalu, bagaimana bisa paman mendapatkan foto Nadira dengan laki-laki itu? Kalau memang bukan paman yang menyuruh lelaki itu, setidaknya paman pasti tahu dimana Nadira sekarang! Cepat beritahu saya paman!" ucap Albert menelisik.
"Kamu benar Albert! Saya memang mengetahui semuanya, bahkan tempat laki-laki itu menyimpan Nadira juga saya mengetahuinya!" ucap Darius.
"Lantas kenapa paman hanya diam saja sekarang? Ayo cepat beritahu saya dimana Nadira!" bentak Albert sudah semakin emosional.
"Apa keuntungannya buat saya, jika saya beritahu keberadaan Nadira ke kamu Albert? Saya tidak akan pernah beritahu kamu, terkecuali kamu mau rubah keputusan kamu untuk tidak memecat Vanesa dari sini! Barulah saya akan beberkan dimana keberadaan Nadira sekarang," ucap Darius.
Braakkk...
"Kurang ajar!" umpat Albert kesal seraya menggebrak meja kerjanya dengan kasar.
"Paman jangan main-main dengan saya! Biarpun paman ini paman saya, tapi saya tidak akan segan-segan untuk menghabisi paman jika paman terus seperti ini!" ucap Albert.
Darius tersenyum smirk dan tampak senang melihat Albert yang sedang terbawa emosi itu.
"Saya tidak main-main, saya hanya ingin mendapat imbalan dari informasi yang saya akan berikan ke kamu. Wajar aja dong, toh informasi ini sangat berguna buat kamu bisa menemukan Nadira!" ucap Darius.
Albert terdiam, menatap bengis ke arah Darius dengan dua tangan terkepal.
•
•
Tak hanya Keenan, Celine sendiri pun ikut senang melihat abangnya telah berhasil pulih, ia tersenyum lalu mengusap wajah sang kakak dengan lembut sembari mengucapkan kalimat kebahagiaan.
"Bang, syukurlah lu udah sadar bang! Gue panik banget daritadi, mau coba sembuhin lu tapi gue gak bisa apa-apa!" ucap Celine.
"Gapapa, bisa ngeliat lu dalam keadaan baik-baik aja gue juga udah senang kok! Cel, ini dimana? Kenapa gue bisa ada disini sama lu?" ucap Keenan.
"Eee ini di tempat penculik gue, bang. Tadi mereka bawa lu kesini dalam keadaan pingsan, makanya gue langsung panik dan berusaha buat sadarin lu, tapi karena disini gak ada apa-apa jadinya gue cuma bisa berdoa sambil terus tepuk-tepuk wajah lu supaya lu segera sadar!" jelas Celine.
"Apa? Jadi, ini kita sekarang lagi di tempat penculik?" ujar Keenan terkejut.
"Iya bang, gue juga bingung kenapa lu bisa dibawa dalam keadaan pingsan. Emangnya tadi ceritanya kayak gimana sih bang?" ucap Celine.
"Seingat gue, tadi gue baru sampai di lokasi yang lu bilang ke gue. Terus tanpa gue sadari, ada orang yang mukul pundak gue dari belakang. Gue gak tahu siapa dia, karena gue langsung pingsan!" ucap Keenan menjelaskan pada adiknya.
"Gak salah lagi, itu pasti ulah si penculik gue. Untung aja lu bisa sadar sekarang bang, gue jadi gak sedih lagi deh! Ya walau tetap aja gue bingung gimana caranya keluar dari sini," ucap Celine.
"Tenang aja! Gue bakal cari cara untuk bebasin lu dari sini Celine!" ucap Keenan.
Pria itu menggerakkan tangannya, mengusap wajah Celine dengan lembut dari posisi berbaring di atas paha sang adik, Celine juga melakukan hal yang sama karena ia pun rindu pada abangnya tersebut.
"Bang, tapi lu udah bisa bangun kan? Gue pegel nih daritadi pangku lu terus!" ucap Celine.
"Eh iya iya..." Keenan langsung bangkit dan duduk di sebelah adiknya, ia memeluk Celine dengan erat sambil mengecupnya berkali-kali.
__ADS_1
"Gue senang banget bisa ketemu lu lagi, Cel! Gue gak akan bisa dipisahkan dari lu!" ucap Keenan.
"Iya bang, gue juga senang kok! Cuman kayaknya sekarang bukan waktu yang tepat deh buat peluk-peluk kangen begini, soalnya kita harus segera cari cara buat bebas dari sini!" ucap Celine.
"Kenapa emang?" tanya Keenan bingung.
"Ya karena tuh penculik katanya mau abisin lu, bang. Terus dia juga mau nikahin gue, kan gue gak mau nikah muda bang, apalagi sama aki-aki! Makanya kita harus bisa lepas dari sini, supaya kita bisa bareng-bareng terus!" jawab Celine.
"Anjir banget tuh orang! Bisa-bisanya dia mau nikahin lu, lihat aja pasti gue bakal abisin mereka satu persatu! Lu tenang aja, gue ada di samping lu sekarang!" ucap Keenan.
Celine mengangguk pelan, lalu menenggelamkan wajahnya pada bahu Keenan. Hanya itulah satu-satunya tempat yang dapat membuat Celine merasa tenang, apalagi ditambah dengan usapan lembut dari tangan sang kakak.
"Thanks bang! Gue juga berharap lu bisa hajar mereka dan bawa gue lepas dari sini, karena gue takut banget bang!" ucap Celine.
"Iya iya, semua yang lu takutkan itu gak akan terjadi kok tenang aja!" ucap Keenan.
Disaat mereka tengah asyik berpelukan sambil saling menenangkan satu sama lain, tiba-tiba saja pintu terbuka dari luar dan mengagetkan keduanya.
Ceklek...
"Bang, ada yang datang!" ujar Celine.
"Lu tenang ya!" pinta Keenan.
Rupanya itu adalah Zayn, anak buah Harrison yang datang kesana bersama seorang preman. Mereka nampaknya membawakan makanan dan minuman untuk Celine serta Keenan disana.
"Heh! Ini makanan buat kalian, ayo dimakan!" ujar Zayn menaruh piring di atas nakas.
"Kenapa kalian bawain makanan buat kita?" tanya Celine tanpa melepas pelukannya pada Keenan.
"Hahaha, ya udah jelas lah supaya lu berdua bisa tahan sampe besok! Bos Harrison gak mau kalian mati sebelum waktunya, udah makan cepat gausah pake banyak tanya! Masih untung dikasih makan," ucap Zayn dengan emosinya.
Zayn serta seorang preman itu kembali keluar setelah menaruh makanan disana, tak lupa Zayn juga mengunci pintu agar Keenan serta Celine tidak bisa kabur dari sana.
Keenan pun menatap dan menangkup wajah adiknya yang masih ketakutan itu, ia berusaha menenangkan Celine walau ia sendiri juga merasa cemas akan kehilangan sang adik.
"Sudah ya, lu gak perlu cemas! Ada gue disini yang selalu jagain lu kok!" ucap Keenan.
"Bang, gimana kalo kita gak bisa lepas dari sini? Terus mereka bakalan bunuh lu seperti yang tadi dibilang sama Zayn? Gue juga gak mau bang nikah sama si aki-aki Harrison itu!" ucap Celine.
"Harrison? Itu nama bosnya?" tanya Keenan.
"Iya bang, emang kenapa? Lu kenal sama nama itu?" Celine penasaran.
"Eee gue kayak pernah dengar sih, tapi gue gak tahu dia siapa. Yaudah, sekarang kita makan dulu aja supaya ada tenaga buat lawan mereka! Lu pasti lapar kan? Gue tahu lu gak bisa makan kalo gak ada gue, jadi sekarang kita makan sama-sama!" ucap Keenan tersenyum dan mengambil piring makanan itu.
"Gue gak mau ah bang! Itu lauknya telur ceplok, nanti kulit gue gatal-gatal lagi. Lu kan tahu gue alergi telur, mending buat lu aja!" ucap Celine.
"Udah gapapa, ini kan ada perkedelnya juga. Lu bisa makan pake perkedel, sekalian gue tambahin punya gue buat lu! Jangan gak makan, nanti lu malah sakit!" ucap Keenan.
"Iya deh bang," ucap Celine menurut.
Akhirnya mereka pun sama-sama menikmati makanan itu, walau Celine serta Keenan juga masih cemas jika tidak bisa lepas dari sana.
"Kasihan Celine! Gue harus bisa bawa dia kabur dari sini, gak mungkin gue rela adik gue dinikahin sama penculik aneh itu! Gue juga udah janji sama mama papa buat jagain lu, pasti gue bakal pertaruhkan seluruh nyawa gue buat lu Celine!" gumam Keenan dalam hati.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...