
"Sayang, saya minta maaf ya! Saya—"
Disaat Albert hendak mendekati Nadira dan membujuk istrinya itu, tiba-tiba saja ponselnya berdering membuatnya mengurungkan niatnya.
Drrttt..
Drrttt...
"Pasti si Vanesa kan yang telpon?" ucap Nadira tanpa membalikkan tubuhnya.
"Enggak sayang, ini bukan Vanesa. Dari awal kan saya udah bilang, saya gak mau hubungin Vanesa." kata Albert.
"Terus dari siapa?" tanya Nadira.
"Keenan. Sebentar ya, saya angkat telponnya dulu!" ucap Albert.
Albert pun mengangkat telponnya di dekat Nadira, namun tetap saja Nadira masih merasa curiga pada suaminya itu.
📞"Halo Keenan! Ada apa?" ucap Albert.
📞"Halo pak! Gawat pak, polisi udah menyatakan kalau Cakra meninggal dan jasadnya gak bisa ditemuin!" ucap Keenan panik.
📞"Hah??" Albert terkejut bukan main.
Tak hanya Albert, Nadira juga merasakan hal yang sama ketika pria itu berteriak kaget.
"Mas, ada apa?" tanya Nadira penasaran.
Albert pun menoleh ke arah istrinya, menutupi ponselnya dengan telapak tangan dan berbicara sejenak dengan Nadira.
"Sebentar ya sayang, saya bicara dulu sama Keenan. Nanti saya akan ceritakan ke kamu kok," ucap Albert sambil tersenyum tipis.
"Iya mas, maaf aku ganggu!" ucap Nadira.
"Gak kok sayang," ucap Albert sembari mengelus puncak kepala Nadira dengan lembut.
Barulah Albert kembali berbicara dengan Keenan di telpon, sedangkan Nadira terdiam menunggu Albert selesai bicara bersama Keenan.
📞"Halo Ken! Maaf, tadi istri saya ikut kaget karena saya kaget!" ucap Albert.
📞"Ah iya, gapapa pak. Wajar aja kalau tuan kaget mendengar itu, saya pun tadi juga kaget saat polisi mengabari saya mengenai kondisi Cakra." ucap Keenan.
📞"Jadi, polisi sudah menghentikan pencarian terhadap Cakra dan menyatakan bahwa Cakra telah meninggal dunia?" tanya Albert memastikan.
📞"Iya tuan, benar begitu." jawab Keenan.
📞"Ya ampun! Lalu, bagaimana perasaan kedua orang tua pria itu? Mereka sempat hadir kan di lokasi kecelakaan Cakra?" tanya Albert.
📞"Iya tuan, kemarin saya juga sempat ketemu dengan mereka dan berbincang-bincang. Kebetulan ayah Cakra juga orang kepolisian, dia yang menugaskan anak buahnya untuk mencari jasad putranya, walau tidak berhasil ditemukan." jelas Keenan.
📞"Yasudah, kamu terus bantu urus semua prosesnya sampai tuntas ya!" pinta Albert.
📞"Baik tuan! Ini saya juga sedang dalam perjalanan menuju kesana," ucap Keenan.
📞"Oke, terus kabari saya tentang perkembangan disana! Maaf kalau saya tidak bisa ikut, karena di rumah sedang ada tamu!" ucap Albert.
📞"Tidak apa-apa, tuan." kata Keenan.
📞"Yaudah, kamu lanjutkan saja perjalanan kamu kesana! Saya juga masih ingin bicara dengan istri saya disini," ucap Albert.
📞"Siap tuan!" ucap Keenan menurut.
Tuuutttt tuuutttt...
Albert menutup telponnya, memasukkan ponselnya ke dalam saku celana dan berbalik menghadap Nadira.
"Mas, maksud kamu apa tadi? Kok aku dengar kamu sebut-sebut nama Cakra?" tanya Nadira.
"Iya sayang, Cakra kecelakaan dan masuk ke jurang. Barusan aku dapat info juga kalau dia dinyatakan meninggal dunia," jawab Albert.
"Innalilahi wa innailaihi Raji'un," ucap Nadira spontan seraya menutup mulutnya. "Kamu serius mas? Kamu gak lagi bercanda kan sama aku?" sambungnya masih tak percaya.
"Buat apa saya bercanda sayang? Ini menyangkut kematian seseorang loh, masa iya saya bercanda?" ucap Albert.
"Ta-tapi, kenapa Cakra bisa sampai kecelakaan begitu? Emangnya dia.."
"Iya, Cakra masuk ke jurang karena dia dikejar sama Keenan waktu itu. Ya tapi ini semua bukan karena kesalahan Keenan, si Cakra aja yang suka bikin ulah!" potong Albert menjelaskan.
"Tapi mas, urusannya bisa panjang loh kalo kayak gini. Gimana nanti semisal orang tua Cakra gak terima dengan kematian Cakra dan malah tuntut Keenan buat tanggung jawab?" ucap Nadira.
Albert terdiam bingung, ucapan Nadira sedikit membuatnya khawatir.
"Iya juga sih, yang dibilang Nadira benar juga. Kalau sampai Keenan harus berurusan dengan polisi gara-gara tugas dari saya, bisa gawat dong!" gumam Albert dalam hati.
•
•
Malam harinya, Albert pergi ke apartemen dimana Vanesa tinggal untuk menemui wanita itu.
Albert terlihat kesal mengingat Vanesa telah membuat Nadira curiga padanya tadi.
__ADS_1
TOK TOK TOK...
Albert mengetuk pintu tanpa berbicara, ia ingin membuat Vanesa penasaran dan segera membuka pintu tersebut.
"Siapa?" teriak Vanesa dari dalam yang tidak dipedulikan oleh Albert.
Ceklek...
Pintu terbuka, Vanesa langsung tersenyum lebar melihat keberadaan Albert disana.
"Albert? Kamu kesini?" ucap Vanesa.
"Iya, saya mau bicara sama kamu." kata Albert.
"Oh yaudah, ayo masuk dan kita bicara di dalam sekalian makan malam! Kamu pasti belum makan kan?" ucap Vanesa sembari menyentuh tangan Albert.
"Jangan pegang-pegang saya! Kamu gak perlu repot-repot siapin makanan untuk saya, karena saya hanya sebentar!" ujar Albert.
"Kenapa gitu? Lama juga gapapa kok, kalau perlu kamu nginep aja disini sekalian." ucap Vanesa.
"Jangan gila ya Vanesa! Gak mungkin saya nginep disini sama kamu, bisa-bisa nanti saya dihajar sama Nadira dan mama saya!" ucap Albert.
"Emangnya kenapa sih Albert? Kamu gak perlu takut gitu lah kehilangan Nadira, kalau dia emang mau pisah sama kamu kan masih ada aku. Jadi, kita bisa bersatu loh Albert." ucap Vanesa.
Albert menggeleng pelan sembari tersenyum heran dengan perkataan Vanesa.
"Sudahlah, ayo masuk!" ucap Albert.
Mereka pun masuk ke dalam apartemen itu, Albert bergegas menutup pintu dan membawa Vanesa hingga mepet tembok.
Albert mengungkung tubuh Vanesa disana, terlihat Vanesa justru kesenengan dan mengira Albert akan menyetubuhi dirinya.
"Bert, kamu pasti lagi butuh dipuaskan ya? Aku siap kok layani kamu!" ucap Vanesa.
"Saya gak sudi main dengan kamu lagi! Saya kesini hanya untuk bertanya sesuatu sama kamu, kenapa kamu telpon-telpon saya tadi? Asal kamu tahu ya, gara-gara itu Nadira jadi curiga sama saya dan kita hampir berselisih paham!" ucap Albert.
"Oh itu, yaelah istri kamu lebay banget sih Bert! Masa cuma gara-gara itu aja dia marah sama kamu? Mendingan kamu buruan deh ceraikan dia, terus nikahin aku!" ucap Vanesa.
"Jangan bertele-tele! Jawab saja, apa mau kamu sampai kamu telpon aku tadi?!" bentak Albert.
"Oke oke, tadi itu aku cuma mau tanya kebenaran soal berita meninggalnya Cakra ke kamu. Sekaligus aku mau minta maaf sama kamu dan Nadira, karena selama ini aku selalu mengganggu hubungan rumah tangga kalian." jawab Vanesa.
"Minta maaf? Kenapa kamu harus minta maaf sama saya dan Nadira? Saya gak yakin kalau kamu beneran tulus mau minta maaf," ujar Albert.
"Tadinya aku juga gak yakin, tapi sepertinya kejadian yang menimpa Cakra itu bikin aku sadar. Aku gak mau lah meninggal dengan cara mengenaskan seperti itu," ucap Vanesa.
"Ohh, jadi kamu takut mati?" tanya Albert.
"Baguslah, saya senang kalau kamu mau taubat. Asal kamu jangan berpura-pura aja," ucap Albert.
"Enggak lah Albert, aku serius. Aku juga minta izin sama kamu buat temuin Nadira," ucap Vanesa.
"Ketemu Nadira?" ujar Albert terkejut.
Vanesa mengangguk pelan, sedangkan Albert tampak bingung disana.
•
•
Nadira masih merasa curiga pada suaminya, ia berpikir kalau Albert saat ini sedang menemui Vanesa bukannya pergi untuk mengurus kerjaannya.
Nadira pun terus berdiri di depan pintu seraya menunggu Albert pulang, wajahnya tampak cemas menandakan ia begitu khawatir pada Albert dan tak mau kehilangan suaminya itu.
Liam yang berjaga disana langsung mendekat ke arah Nadira, karena tidak tega.
"Misi Bu! Maaf, kenapa ibu berdiri disini terus ya? Emangnya ibu gak capek atau pegal gitu? Disini juga kan dingin loh Bu," ucap Liam.
"Gapapa pak, aku mau disini aja sampai mas Albert pulang nanti." kata Nadira.
"Ohh, jadi Bu Nadira lagi nunggu tuan Albert? Sebaiknya ibu tunggu di dalam saja sambil duduk, biar gak capek atau kedinginan. Paling sebentar lagi tuan Albert juga pulang kok Bu," saran Liam.
"Gak mau pak, aku pengen disini aja." ujar Nadira.
"Baik Bu! Tapi, ibu mending duduk di kursi ini aja ya Bu supaya gak pegal." ucap Liam menarik kursi ke dekat Nadira.
"Terimakasih!" ucap Nadira singkat.
Nadira langsung bergerak dan duduk di kursi tersebut dengan perlahan masih sambil mengusap perutnya.
"Sama-sama, Bu." ucap Liam seraya berbalik dan kembali berjaga di tempatnya.
"Mas, kamu pasti lagi temuin selingkuhan kamu itu ya? Aku benar-benar gak bisa tenang kalau kayak gini," batin Nadira.
Tak lama kemudian, Abigail muncul dari dalam untuk menemui menantunya disana.
Abigail langsung mengusap puncak kepala Nadira dari belakang hingga membuat wanita itu kaget.
"Sayang.." ucap Abigail lembut.
"Mama?" Nadira terkejut saat mama mertuanya itu datang di dekatnya. "Kenapa mah?" tanyanya pada sang mama dengan tersenyum.
__ADS_1
"Kamu lagi ngapain disini sayang? Kok duduknya malah di depan rumah kayak gini? Masuk aja yuk, dingin tau disini!" ucap Abigail.
"Enggak mah, aku gak mau masuk sebelum mas Albert pulang. Biarin aja aku nunggu disini, sampai mas Albert pulang nanti." kata Nadira.
"Jadi, kamu lagi tungguin suami kamu pulang?" ucap Abigail sambil terus mengusap rambut Nadira dengan lembut.
"Iya mah, aku curiga mas Albert lagi samperin selingkuhannya itu!" ucap Nadira.
"Hah? Emangnya tadi dia pamit ke kamu bilangnya mau kemana sayang?" tanya Abigail kaget.
"Bilangnya sih ada urusan kerjaan, tapi aku gak yakin mah kalau mas Albert beneran pergi karena kerjaan!" jawab Nadira.
"Kamu percaya aja sama suami kamu sayang! Mama yakin Albert gak mungkin begitu kok, dia kan sayang sama kamu!" ucap Abigail.
"Entahlah mah, aku masih belum tenang. Rasanya aku takut banget kalau mas Albert lebih pilih vanesa dibanding aku," ucap Nadira.
Abigail tersenyum tipis, kemudian menangkup wajah Nadira untuk menenangkan wanita itu.
"Sayang, kita masuk dulu yuk! Tunggu Albert nya di dalam aja biar enak, kalau disini kan kamu nanti kedinginan sayang. Kasihan juga anak kamu, dia pasti kedinginan!" ucap Abigail.
Seketika Nadira teringat pada janin di perutnya, ia pun tidak mau bersikap egois dan malah membahayakan anaknya nanti.
"Iya deh mah, aku mau masuk." ucap Nadira.
"Syukurlah! Yaudah, yuk mama bantu masuk ke dalamnya!" ucap Abigail tersenyum.
"Iya mah," ucap Nadira mengangguk cepat.
Nadira pun bangkit dari duduknya, lalu masuk ke dalam rumah itu dengan bantuan Abigail.
•
•
Singkat cerita, Albert telah kembali ke rumahnya bersama Vanesa.
Kehadiran Vanesa disana membuat Liam serta para penjaga lainnya terkejut, mereka khawatir akan terjadi kegaduhan lagi di rumah itu.
Albert pun menatap bingung ke arah Liam dan yang lainnya, ia menegur mereka seakan meminta mereka untuk mengatakan apa yang terjadi.
"Heh! Kenapa kalian saling tatap-tatapan begitu? Ada yang salah dengan saya?" ujar Albert.
"Eee enggak ada kok tuan, semua baik-baik aja." jawab Liam gugup dan menundukkan kepala.
"Yasudah, kalian tetap jaga-jaga disini! Ayo Vanesa, kita masuk ke dalam!" ucap Albert.
"Okay!" ucap Vanesa menurut.
Akhirnya mereka berdua melangkah masuk ke dalam rumah itu, sedangkan Liam bersama yang lainnya tetap berjaga disana.
"Vanesa, tolong kamu jangan bertingkah yang tidak-tidak lagi disini! Ingat, kamu itu kesini untuk meminta maaf pada Nadira bukan mencari gara-gara!" ucap Albert.
"Iya Albert, aku juga ngerti kok. Aku kan udah janji sama kamu sebelumnya," ucap Vanesa tersenyum.
"Yasudah, awas ya kalau kamu masih aja berbuat ulah! Saya gak akan segan-segan untuk satukan kamu dengan papa kamu!" ancam Albert.
"Kamu tenang aja!" ucap Vanesa.
Saat di dalam, Albert langsung bertemu dengan Nadira serta Abigail disana.
Baik Nadira maupun Abigail sama-sama terkejut melihat kehadiran Vanesa disana.
"Hai sayang!" ucap Albert menyapa istrinya.
"Loh Albert, kamu kenapa bawa wanita ini kesini lagi? Ada masalah apa sama otak kamu sih Albert?" tanya Abigail keheranan.
"Eh mama, aku gak ada masalah otak atau apa kok mah, aku baik-baik aja." jawab Albert tersenyum.
Albert langsung mendekati Nadira dan hendak mencium istrinya itu, namun Nadira segera menghindar seakan tak mau disentuh oleh Albert.
"Hey! Kamu kenapa menghindar sayang?" tanya Albert bingung.
"Mas, kamu tega ya! Bisa-bisanya kamu bohong sama aku, tadi kamu bilang mau ada urusan kerjaan. Tapi, ini kenapa sekarang kamu balik sama Vanesa, mas?" ucap Nadira.
"Dengar dulu penjelasan saya, Nadira! Kamu jangan berpikiran yang enggak-enggak dong!" ucap Albert menyentuh pundak wanita itu.
"Yaudah, ayo cepat jelasin!" ujar Nadira.
"Iya sayang, jadi begini..." ucapan Albert harus terpotong lantaran Chelsea muncul dan langsung mencak-mencak menuju kesana.
"Kak Albert! Ngapain lagi cewek pelakor ini dibawa kesini sih kak? Kakak mau bikin mbak Dira celaka lagi ya?!" geram Chelsea. "Lu juga Vanesa, kenapa sih lu gak bisa ngerti-ngerti? Kak Albert ini udah punya istri, jadi lu jangan deketin dia terus dong! Dasar pelakor!" sambungnya.
"Jaga ucapan kamu Chelsea! Kakak gak mau ada keributan disini!" bentak Albert.
"Kalau kakak gak pengen ada keributan disini, kenapa kakak bawa dia balik kesini? Otak kakak dimana sih? Kasihan tahu mbak Dira, dia pasti sakit lihatnya!" ucap Chelsea.
Albert melotot tajam disertai dua tangan yang sudah terkepal dan bergetar hebat.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1