
Perlahan Albert membuka kotak cincin tersebut dan menatap serius ke arah Nadira.
"Honey, will you marry me?" ucapnya lembut.
Nadira hanya bisa terperangah lebar mendengar pernyataan Albert, ia tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika ia menikah dengan pria yang sudah memperkosa dirinya.
"Apa yang anda inginkan tuan?" tanya Nadira heran.
Albert justru tercengang mendengar perkataan Nadira, ia tak mengerti apa yang dimaksud wanita itu dan mengapa bertanya seperti itu padanya.
Sementara Nadira masih dengan wajah dinginnya tak mau terus-terusan berada di dekat pria asing yang sudah menyetubuhinya kemarin.
"What do you mean, honey?" Albert tak mengerti.
"Aku tau banget kamu punya rencana jahat buat aku, gak mungkin pria jahat seperti kamu mau nikahin aku kalau bukan karena sesuatu hal! Cepat jelasin ke aku, apa permasalahan kamu dan kedua orang tua aku?!" tegas Nadira.
Nadira juga menarik tangannya secara kasar dari genggaman Albert hingga pria itu geram.
"Kamu bicara apa sih? Saya serius loh melamar kamu disini, saya tau cara saya salah. Tapi, saya mencintai kamu Nadira dan saya ingin kamu menjadi milik saya! Itulah alasan saya melakukan hal itu semalam sama kamu, agar kamu tidak bisa pergi dari saya Nadira!" ucap Albert meyakinkan.
"No, you're lying! Aku gak semudah itu percaya sama kata-kata kamu, pria kejam! Kamu sudah mengambil apa yang menjadi harta terbesar saya, dan kamu pikir aku akan rela menikah dengan kamu? Tidak, tidak sama sekali tuan Albert!" ujar Nadira emosi.
"Sabar Nadira! Kamu sekarang ini sedang terbawa emosi, sebaiknya kita bicarakan ini dengan kepala dingin supaya tidak terjadi salah paham diantara kita! Aku ini bukan pria jahat seperti yang kamu pikirkan, justru aku ingin menyelamatkan hidup kamu dari kesengsaraan! Maka dari itu, menikahlah denganku honey!" paksa Albert.
Braakkk...
Nadira berdiri sembari menggebrak meja, ia menatap tajam ke arah Albert dan menunjuk wajah pria itu dengan telunjuknya yang bergetar.
"Kamu jangan asal bicara! Justru kalau saya menikah dengan kamu, hidup saya akan menjadi sengsara tuan Albert! Sampai kapanpun saya tidak akan pernah mau menerima cincin itu!" bentak Nadira.
Albert menyunggingkan senyum tipis sembari perlahan bangkit dari kursinya.
"Hahaha luar biasa Nadira, luar biasa! Kamu memang wanita yang pemberani, saya salut sama kamu! Tapi, lamaran tadi itu hanya formalitas saja sayang! Walaupun kamu tidak setuju, saya akan tetap menikahi kamu! Karena apa? Karena Suhendra, papa kamu itu tadi datang menemui saya dan dia sudah setuju dengan pernikahan kita berdua!" ucap Albert.
"Apa? Jangan berbohong kamu tuan! Tidak mungkin ayah saya begitu, dia itu sayang sama saya dan dia akan selalu melindungi saya! Lebih baik kamu pulangkan saya ke rumah, saya ingin bertemu ayah dan ibu saya!" ucap Nadira.
Nadira amat terkejut mendengar penuturan Albert tadi, namun ia masih belum percaya dengan itu semua dan ia yakin sekali bahwa tidak mungkin ayahnya tega menyerahkan ia pada pria seperti Albert yang menyeramkan itu.
"Tenang Nadira! Kamu gak perlu ketakutan begitu, kalau kamu gak percaya dengan kata-kata saya yasudah kita lihat saja besok!" ucap Albert.
"Besok? Ada apa sama besok?" tanya Nadira terheran-heran.
"Kok kamu tanya begitu sih? Besok itu hari pernikahan kita honey, aku sudah persiapkan semuanya jauh-jauh hari supaya pesta pernikahan kita itu bisa berlangsung meriah!" jawab Albert.
"Hah??"
__ADS_1
Nadira terkejut bukan main mendengar perkataan dari Albert, ia menutup mulutnya seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar tadi. Besok adalah hari pernikahannya dengan Albert, bagaimana mungkin itu bisa terjadi?
Pria itu menepuk kedua tangannya memanggil pelayan disana, seketika seorang pelayan datang membawa segelas minuman strawberry untuk diserahkan pada Albert.
"Terimakasih!" ucap Albert singkat.
Albert mengambil gelas itu, lalu meminta Nadira untuk segera meminumnya sampai habis.
"Minum!" ucap Albert.
"Itu minuman apa?" tanya Nadira cemas.
"Don't worry! Ini minuman biasa kok, kamu gak perlu takut sayang!" ucap Albert tersenyum.
Nadira menatap ke arah lirik mata dari Albert, ia yakin ada sesuatu yang ditaruh ke dalam minuman tersebut dan ia tak ingin meminumnya.
"Aku gak mau!" ucap Nadira menolak.
"Minum sayang, ini enak kok! Kamu pasti haus kan habis marah-marah? Kamu juga kan tadi lihat sendiri, minuman ini dibuat sama pelayan itu. Gak mungkin saya bisa mencampurkan sesuatu ke dalamnya, iya kan?" ucap Albert.
"Iya juga ya," pikir Nadira.
Akhirnya Nadira mengambil gelas minuman tersebut dari tangan Albert dan mulai meminumnya.
Albert tersenyum saat melihat Nadira menenggak habis minuman di gelas tersebut, lalu menaruhnya di atas meja seperti tadi.
"Gimana? Segar kan?" tanya Albert.
"Iya, lalu apa?" ucap Nadira bingung.
"Kita tunggu reaksinya sayang!" batin Albert.
Tak lama kemudian, wanita itu mulai merasa pusing pada bagian kepalanya dan pandangannya pun terasa kabur sehingga ia tak dapat melihat dengan jelas sekelilingnya.
"Loh loh kamu kenapa?" tanya Albert pura-pura panik.
"Aku pusing banget! Pasti kamu taruh sesuatu kan di dalam minuman tadi?" ujar Nadira sambil memegangi keningnya.
"Enggak kok sayang, serius!" ucap Albert.
"Terus kenapa aku bisa langsung kayak gini setelah minum minuman itu?" ujar Nadira heran.
"Eee entahlah..."
Pria itu bergerak maju mendekati Nadira, ya seketika Nadira pingsan di dalam pelukan Albert dan sang CEO muda yang licik itu pun merasa puas, ia menyunggingkan senyum sembari menatap wajah Nadira yang pingsan.
__ADS_1
"Malam ini aku akan bikin kamu menjerit sayang!" desis Albert.
Albert mulai menggendong tubuh Nadira ala bridal style dan membawanya ke dekat mobil.
Terlihat masih ada sosok Keenan berdiri disana dan langsung membukakan pintu mobil saat melihat tuannya itu mendekat.
"Silahkan tuan!" ucap Keenan.
"Terimakasih!" ucap Albert singkat.
Albert langsung masuk ke dalam begitu saja, ia meletakkan tubuh Nadira lebih dulu dan barulah ia ikut duduk di sampingnya.
Sementara Keenan menutup pintu, lalu masuk ke dalam mobil di bagian kemudi.
"Tuan, apa yang terjadi sama nona Nadira? Mengapa dia bisa pingsan seperti itu?" tanya Keenan heran.
"Semakin dikit yang kamu tahu, semakin bagus Keenan!" jawab Albert sambil melirik sinis ke arah Keenan.
"Ma-maaf tuan!" ucap Keenan gugup.
"Jalan!"
"Siap tuan!"
Keenan langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh tuannya, ia melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang disekitaran 70 kilometer perjam.
Sementara Albert masih terus memandangi wajah cantik Nadira yang tak berdaya itu, ia membelai bibir mungil si wanita dengan jarinya lalu mengecupnya lembut dan tersenyum sendiri.
"Masih tetap manis, biarpun semalam sudah saya cium berkali-kali!"
Tanpa rasa ragu ataupun malu, Albert membuka sedikit gaun yang dikenakan Nadira dan mulai menelusup kan tangannya ke dalam bagian atas wanita itu.
Albert memegang pelan dua bukit milik Nadira sambil menciumi lehernya dengan lembut.
Kelakuannya itu dilihat jelas oleh mata kepala Keenan yang berada di depan, namun pria itu tak dapat berbuat apa-apa dan hanya bisa menelan saliva menyaksikan aksi gila tuannya tersebut.
Bahkan Albert mulai tak terkendali, tangannya merayap ke seluruh tubuh Nadira sampai ke bagian bawah yang cukup sensitif itu. Ia mengusap milik Nadira sambil meraup bibir wanita yang sedang pingsan itu.
Biarpun Nadira tengah pingsan, namun Albert dapat merasakan reaksi tubuh Nadira saat ia menyentuh bagian sensitif miliknya.
"Sableng nih tuan!"
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1