Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Amarah dan kekecewaan


__ADS_3

Chelsea baru kembali dari membeli minuman untuk dirinya dan juga Albert, ia heran melihat kakaknya itu tampak panik seperti sedang tertimpa masalah, padahal sebelumnya pria itu baik-baik saja.


Chelsea pun menghampiri Albert dan duduk di samping sang kakak, ia menyodorkan gelas minuman pada Albert sambil bertanya apa yang membuat Albert sampai seperti itu.


"Kak, ini minumnya!" ucap Chelsea.


"Makasih!" ucap Albert singkat.


"Kakak kenapa sih? Kok aku balik tiba-tiba muka kakak langsung sepet kayak gitu? Ada masalah apa gimana?" tanya Chelsea penasaran.


"Ohh ini barusan Keenan telpon kakak, dia bilang kalau di rumah lagi ada om Darius!" jawab Albert.


"Hah? Terus apa hubungannya ada om Darius di rumah, sama kakak yang cemas kayak gini? Emang kenapa sih kak kalau om Darius ke rumah? Kan dia om kita, wajar dong dia datang kesana mungkin mau ketemu kita!" ujar Chelsea heran.


"Iya sih, emang dia om kita. Tapi, dia itu orang yang licik sayang! Kakak gak yakin dia cuma mau mampir temuin kita, pasti ada sesuatu yang pengen dia lakuin disana!" ucap Albert.


"Ya ampun kak, curigaan banget sih!" ujar Chelsea.


"Itu kenyataan sayang, makanya kamu harus lebih hati-hati kalau ketemu sama om Darius! Yaudah, yuk sekarang kita balik!" ucap Albert.


"Balik? Kok cepet banget sih kak? Ini sunset nya aja belum muncul, masa udah mau pulang?" ujar Chelsea.


"Iya sayang, kakak pengen tahu apa alasan om Darius datang ke rumah! Besok deh kita dateng kesini lagi, gapapa kan?" bujuk Albert.


"Huft, yaudah lah suka-suka kak Albert aja!" ucap Chelsea cemberut.


"Hey, jangan ngambek dong sayang! Nanti cantiknya ilang loh kalo sering ngambek, kakak minta maaf ya karena belum bisa bikin kamu senang hari ini!" ucap Albert merayu adiknya.


"Ya gapapa kak, aku gak ngambek kok!" ucap Chelsea.


"Kalau emang gak ngambek, senyum dong!" pinta Albert.


Chelsea pun menuruti kemauan kakaknya, ia tersenyum ke arah Albert dengan sangat ceria. Albert sendiri langsung mengusap wajah sang adik dengan lembut, lalu merangkulnya agar Chelsea bisa terus tersenyum untuknya.


"Nah gitu dong! Kan makin cantik, terus dilihatnya juga enak sayang!" ucap Albert.


"Iya kak, udah yuk pulang!" ucap Chelsea.


"Ayo!"


Albert dan Chelsea pun berdiri, mereka segera melangkah pergi dari sana walau Chelsea masih agak kecewa pada kakaknya setelah gagal melihat sunset di hari ini.


__ADS_1



"Dasar bodoh! Menghabisi Albert begitu saja tidak becus! Apa sebenarnya kebisaan kalian, ha?" bentak seorang pria tua agak berkeriput pada anak buahnya.


Kedua lelaki muda yang tak lain adalah pesuruh dari si pria tua tersebut, hanya dapat menunduk sembari melipat kedua tangan mereka di depan, mereka sadar kalau saat ini bos mereka itu sedang diselimuti rasa emosi akibat kesalahan mereka.


"Heh! Kenapa diam aja? Apa yang harus saya lakukan pada orang-orang seperti kalian, ha?!" bentaknya lagi.


"A-ampun bos! Tapi, Albert tidak berani datang bos! Dia malah mengirim anak buahnya untuk menghadapi kami, tentu saja kekuatan kita tidak seimbang bos!" ucap salah satu dari mereka.


Braakkk...


Sang bos menggebrak meja dengan keras, tampak sebuah papan nama bertuliskan Mr. Harrison yang tergeletak disana ikut terangkat sedikit akibat dari gebrakan pria itu sendiri.


"Halah alasan! Melawan anak buahnya saja kalian tidak becus! Bagaimana kalian bisa menghabisi Albert nantinya, ha?!" ujar Harrison.


Lagi-lagi mereka dibuat terdiam, keduanya tak berani menatap mata bos mereka saat sedang marah. Lalu, Harrison pun berjalan maju mendekati anak buahnya itu dengan bantuan tongkatnya, ia mengarahkan gagang tongkatnya dan menarik dagu salah satu anak buahnya.


"Hey, Johan! Dimana Elryan? Kenapa kalian hanya berdua?" tanya Harrison.


Johan melirik ke arah Toby, temannya yang berada di samping. Ia bingung harus menjelaskan bagaimana pada Harrison, karena takut akan membuatnya tambah marah.


"Jawab!" bentak Harrison.


"Aaarrgghh!!! Dasar payah kalian semua!" teriak Harrison penuh emosi.


Pria tua itu mengacak-acak seluruh barang yang ada di ruangannya dengan tongkat miliknya, ia tak perduli lagi dengan kondisi disana karena ia sangat marah.


"Sekarang kalian pergi dari sini!" bentak Harrison.


"Tapi bos, kami—"


"Pergi!" potong Harrison sangat emosi.


"Ba-baik bos! Ayo kita cabut!" ucap Johan gugup.


Kedua pria itu keluar dari ruangan sang bos dengan rasa cemas dan panik, sedangkan Harrison tampak masih emosi. Pria tua itu kini duduk kembali di tempatnya, ia mencengkram tangan dan coba mengatur nafasnya.


"Sialan kamu Albert! Beraninya kamu melawan saya, baiklah akan saya turuti permainan kamu! Dan saya akan membuat usaha kamu hancur!" geramnya.



__ADS_1


Albert telah sampai di rumahnya, ia turun dengan tergesa-gesa bahkan sampai meninggalkan Chelsea yang masih berada di dalam, nampaknya Albert benar-benar cemas kalau sampai pamannya bertemu dengan Nadira saat ia sedang pergi bersama sang adik tadi.


Terlihat Keenan menyambut kedatangan Albert dengan tersenyum, ia menghampiri tuannya itu serta mencuri kesempatan untuk bisa menatap wajah sang kekasih di belakangnya.


"Selamat datang tuan!" ucap Keenan.


"Tidak usah basa-basi! Dimana om Darius sekarang?" ujar Albert panik.


"Tenang tuan! Pak Darius sudah pergi sedari tadi, beliau hanya menitip salam untuk anda karena ia tidak punya banyak waktu katanya!" jawab Keenan.


"Lalu, apa dia sempat menemui Nadira?" tanya Albert kembali.


"Eee saya kurang tahu, tuan. Tapi, sepertinya sih belum tuan! Karena pas tadi saya bertemu dengan pak Darius, beliau kelihatan santai saja tidak seperti orang yang sedang kaget atau apa setelah tau tuan sudah menikah!" ucap Keenan.


"Huh syukurlah! Yasudah, saya masuk dulu!" ucap Albert bernafas lega.


"Baik tuan!"


Keenan menyingkir dan Albert pun langsung bergegas masuk ke dalam rumahnya, ia hendak menemui Nadira lalu bertanya langsung pada istrinya itu mengenai apa yang ia khawatirkan.


Sementara Chelsea tetap disana bersama Keenan, ia masih ingin menikmati waktu berdua dengan sang kekasih yang telah lama ia lewatkan, Chelsea pun melangkah lebih dekat ke arah Keenan sambil tersenyum sendiri.


"Sayang! Kamu gak sapa aku atau apa gitu? Emang kamu gak kangen ya sama aku?" tegur Chelsea.


"Eh sayang, maaf ya! Aku terlalu fokus sama urusan kakak kamu, jadinya aku agak sedikit lupa sama kamu sayangku!" ucap Keenan tersenyum.


"Yah parah kamu ah!" ujar Chelsea kesal.


"Hey, jangan ngambek dong! Aku emang tadi sibuk dengan urusan dari kakak kamu, tapi aku tetap rindu banget sama kamu sayang! Cuma kan aku sadar kita gak bisa berduaan sering-sering," ujar Keenan.


"Huh iya sih, harusnya tuh kak Albert tahu gitu ya kalau kita juga pengen punya waktu berduaan! Emangnya dia aja yang pengen begitu?" ujar Chelsea cemberut.


"Sabar sayang! Ini kan urusan kakak kamu udah kelar, gimana kalau kita jalan-jalan?" ucap Keenan.


"Yang bener? Aku mau dong sayang! Udah lama banget kita gak jalan-jalan berdua, iya kan?" ujar Chelsea langsung ceria kembali.


"Nah, yaudah yuk kita pergi!" ucap Keenan.


"Oke yuk!" ucap Chelsea tersenyum.


Keenan menggandeng tangan kekasihnya, membawa gadis itu ke dalam mobilnya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2