
Vanesa menghampiri papanya yang sudah menunggu di tempat parkir.
Vanesa tampak sangat panik, ia melangkah tergesa-gesa sambil sesekali menoleh ke belakang.
Sontak saja sikap Vanesa itu membuat Harrison curiga dan penasaran, ia pun khawatir terjadi sesuatu dengan putrinya.
"Pah, ayo pah kita pergi pah!" pinta Vanesa.
"Ada apa sih Vanesa? Kamu kenapa?" tanya Harrison keheranan.
"Tadi aku gak sengaja ketemu sama Keenan pas aku baru keluar dari apotik, dan sialnya dia lihat aku! Awalnya aku gak sadar kalau itu Keenan, tapi setelah dia sapa aku baru deh aku tahu kalau dia asistennya Albert." jelas Vanesa.
"Hah? Ada Keenan disini? Aduh bahaya nih! Dia bisa-bisa lapor ke Albert kalau kamu keluar rumah, dan kamu bisa dimarahin lagi sama Albert!" ucap Harrison.
"Iya pah, makanya ayo kita pergi sekarang!" ucap Vanesa masih sangat panik.
"Haish, lagian kamu sih pake lepas masker segala! Tuh kan jadi ketahuan sama Keenan!" ujar Harrison.
"Maaf pah! Kan gerah tau pake masker terus, aku juga jadi susah nafas." ucap Vanesa.
"Yaudah, ayo kamu masuk mobil! Semoga aja Keenan gak ngikutin kita!" ucap Harrison.
"Iya pah.." ucap Vanesa mengangguk setuju.
Mereka pun masuk ke dalam mobil, Harrison segera melajukan mobilnya dengan kencang meninggalkan tempat itu.
Biarpun sudah menjauh, namun Vanesa tetap saja celingak-celinguk ke kanan dan kiri khawatir kalau Keenan mengikuti mereka.
"Kamu ngeliatin apa sih Vanesa? Cari siapa kamu?" tanya Harrison keheranan.
"Enggak pah, aku khawatir aja kalau Keenan masih ngikutin kita. Apalagi kalau dia tau tempat persembunyian kita, bisa gawat pah! Makanya ayo cepat papa bawa mobilnya!" ucap Vanesa.
"Iya iya, ini papa udah ngebut kok sayang. Kalau mau tambah cepat lagi, nanti kita bisa ditangkap polisi sayang. Lagian Keenan juga udah gak ngejar kita kok, kamu tenang aja ya Vanesa!" ucap Harrison.
"Ya semoga aja deh pah! Kalau sampai Keenan ngikutin kita, bisa abis kita pah dimarahin sama Albert!" ucap Vanesa.
"Walaupun dia gak ngejar kita, tetap aja kita bakal dimarahin sama Albert. Udah pasti Keenan akan bilang sama tuannya itu, kalau dia ngeliat kita di depan apotik tadi." ucap Harrison.
"Oh iya juga ya," ucap Vanesa.
"Tapi, kamu gak perlu takut sayang! Papa bakal belain kamu di depan Albert nanti, tenang aja ya!" ucap Harrison sambil tersenyum.
Vanesa mengangguk saja, kemudian Harrison mengusap puncak kepalanya dengan lembut hingga membuat Vanesa merasa nyaman.
•
•
Albert pulang ke rumahnya, namun Nadira yang melihatnya justru langsung merasa tidak nyaman dan hendak pergi dari sana.
Padahal Nadira sedang bermain dengan Galen dan suster Alra di sofa, hal itu membuat Albert sangat keheranan.
"Halo papa pulang!" ucap Albert.
"Yeay papa udah pulang!" teriak Galen.
"Nih papa udah bawain mainan baru buat kamu, ambil gih!" ucap Albert.
"Yes asik! Makasih ya papa!" ucap Galen.
"Sama-sama sayang," ucap Albert.
"Galen, mama mau ke kamar dulu ya? Galen lanjut main aja sama suster Alra dan papa disini, nanti mama balik lagi kok." ucap Nadira pamit pada putranya.
"Oke mah!" ucap Galen menurut.
Disaat Nadira hendak pergi, Albert dengan cepat mencekal lengan istrinya dari belakang dan menahannya untuk tetap disana.
"Kamu kenapa sih? Kamu mau menghindar dari saya? Kamu marah sama saya?" tanya Albert.
"Apa sih mas? Aku gak marah kok sama kamu, lepasin tangan aku!" jawab Nadira.
"Kamu jujur aja sama saya, ada apa?! Jangan cuma diam-diam kayak gini!" tegas Albert.
"Mas, aku lagi gak mau ribut. Lagian gak enak didengar Galen sama suster Alra, mending kamu lepasin aku deh!" ucap Nadira.
"Ya ya, saya lepas tangan kamu. Tapi, nanti kamu ceritain semuanya di kamar ya! Saya gak mau ada problem diantara kita!" ucap Albert.
Nadira mengangguk saja, sehingga Albert melepaskan tangannya dan membiarkan Nadira pergi ke kamar lebih dulu.
Lalu, Albert pamit pada putranya dan mengatakan kalau dia ingin menyusul Nadira ke kamar sekaligus mandi.
"Galen sayang, papa juga mau ke kamar ya? Papa kan baru pulang nih, jadi papa harus mandi dulu sebelum main sama kamu. Nah, kamu mainnya sama suster dulu ya! Jangan bandel loh Galen, nurut sama suster!" ucap Albert.
"Iya pah, jangan lama-lama ya mandinya!" ucap Galen.
"Siap ganteng!" ucap Albert tersenyum.
Albert mengusap puncak kepala Galen dengan lembut, kemudian pergi menuju kamarnya untuk menyusul Nadira.
"Ini sebenarnya ada apa sih sama Nadira? Kenapa dia cuek gitu ke saya? Perasaan saya gak ngerasa punya salah sama dia, atau mungkin saya yang gak sadar ya?" gumam Albert dalam hati.
Sementara Galen terus menatap ke arah papanya yang sudah menjauh dengan wajah bingung.
__ADS_1
"Sus, papa sama mama lagi berantem ya? Tadi kok mereka langsung pergi gitu aja ninggalin aku?" tanya Galen pada suster Alra.
"Ah enggak kok sayang, mungkin aja mama sama papa kamu lagi ada urusan penting yang gak bisa diomongin disini. Jadi, mereka pada ke kamar deh dan lanjut ngobrol disana." jawab suster Alra.
"Ohh, gitu ya sus?" ujar Galen.
"Iya den Galen, sekarang aden lanjut main aja yuk sama suster! Nanti pasti papa sama mama bakal balik lagi kesini kok!" ucap suster Alra.
"Oke sus!" ucap Galen tersenyum renyah.
Mereka pun lanjut bermain disana, Galen nampak sangat senang dengan mainan barunya yang dibelikan Albert tadi.
•
•
Ceklek...
Albert membuka pintu dan masuk ke dalam kamarnya, menghampiri Nadira yang sedang berdiri membelakanginya.
Albert menarik paksa lengan Nadira dan membawanya ke tembok, ia cengkram kedua tangan wanita itu di atas kepala.
"Mas, kamu apa-apaan sih?! Kamu gak bisa paksa aku kayak gini!" protes Nadira.
"Saya bisa! Saya ini suami kamu!" ucap Albert.
"Ih kamu emang suami aku, mas. Tapi, kamu gak bisa perlakukan aku seenaknya aja kayak gini dong! Lepasin aku mas, aku gak mau begini!" protes Nadira terus meronta-ronta.
"Saya gak akan giniin kamu, kalau kamu mau cerita ke saya kenapa kamu ngambek sama saya!" ucap Albert dengan lantang.
"Aku gak ngambek kok sama kamu," elak Nadira.
"Bohong! Buktinya tadi begitu saya datang, eh kamu langsung mau pergi ke kamar. Itu apa namanya kalau gak ngambek, ha? Dari raut wajah kamu juga kelihatan kok, udah deh kamu gak bisa ngelak lagi dari saya!" ujar Albert.
"Ya iya sih, aku emang sedikit kesal sama kamu. Abisnya kamu tadi gak jemput aku di kampus, malah yang datang pak Liam. Padahal kamu udah janji sama aku sebelumnya," ucap Nadira.
Albert tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke bibir sang istri.
Ia usap lembut bibir mungil istrinya itu menggunakan ibu jarinya.
"Ohh, jadi karena itu? Iya sayang, saya minta maaf ya kalau saya gak tepati janji! Tapi, bukan saya sengaja buat ingkar janji loh. Tadi itu saya ada urusan mendadak yang gak bisa ditunda, makanya saya gak bisa jemput kamu. Kamu jangan marah ya sama saya, cantik!" ucap Albert dengan lembut.
"Huh kamu mah pasti setiap kali janji selalu diingkari! Aku gak percaya lagi sama alasan kamu itu, terlalu klasik!" ucap Nadira.
"Jangan pasang wajah begitu di depan saya! Saya bisa abisin kamu dan bikin kamu gak bisa jalan sampe besok, mau?!" ucap Albert.
Deg!
"Makanya kamu jangan marah lagi sama saya! Kamu maafin saya ya, saya janji gak akan ulangi kesalahan saya itu kok! Saya gak bisa lihat kamu ngambek terus begini sayang!" ucap Albert.
"I-i-iya mas, aku gak ngambek lagi kok. Sekarang kamu lepasin tangan aku ya!" ucap Nadira.
"Gak! Kita main dulu ya?" ucap Albert dengan senyum seringai nya.
Glekk..
Nadira susah payah menelan saliva nya, Albert semakin mendekatkan wajahnya hingga diantara mereka tidak ada jarak lagi.
Kedua dada mereka saling bersentuhan, Albert kembali tersenyum saat merasakan sesuatu menggesek miliknya di bawah sana.
"Uhh baru begini aja udah nikmat sayang.." goda Albert sambil mengigit cuping telinga istrinya.
"Masss cukup!" Nadira berusaha mendorong tubuh Albert, tetapi gagal.
Akhirnya hubungan mereka berlanjut ke atas ranjang, Albert terus memimpin permainan dan tak membiarkan Nadira memberi perlawanan.
•
•
Keesokan paginya, Nadira sudah bersiap-siap untuk pergi ke kampus melanjutkan kuliahnya.
Albert terbangun dari tidurnya, terkejut saat melihat istrinya sudah tampil cantik di depannya.
"Hey baby!" Albert memanggil istrinya itu hingga si wanita menoleh ke arahnya.
"Eh mas, kamu udah bangun? Maaf ya, aku pasti ganggu tidur kamu ya! Soalnya aku ada kuliah pagi ini mas, jadinya aku bangun lebih awal deh. Walaupun rasanya aku masih lelah banget dan badan aku kayak mau remuk, tapi kelas ini penting mas." ucap Nadira.
Albert melongok mendengarnya, ia bangkit dari kasur dan melangkah menghampiri Nadira.
"Emangnya kita semalam main sampai jam berapa sih? Perasaan gak lama tuh, kan abis keluar kita langsung udahan terus makan malam bareng mama dan Galen di luar." ujar Albert.
"Hadeh, ya iya emang kita sempat udahan dulu. Tapi, abis makan malam kamu langsung tarik aku ke kamar lagi dan kita lanjut main sampe hampir subuh. Masa kamu lupa sih mas?" ucap Nadira.
"Ah masa sih? Perasaan enggak deh, kamu mimpi kali sayang. Orang semalam aja abis makan saya langsung tidur kok," elak Albert.
"Terserah kamu aja!" cibir Nadira.
Saat Nadira hendak pergi, Albert justru mencekal lengannya dan menahannya tetap disana.
"Mau kemana, ha?" tanya Albert.
"Ya ampun mas! Aku kan udah bilang tadi, aku mau kuliah." jawab Nadira.
__ADS_1
"Masa berangkat sekarang sih? Ini masih jam tujuh loh sayang, gak bisa nanti aja?" tanya Albert.
"Dosen aku ada waktunya sekarang, mas. Jadi, aku harus berangkat sekarang!" jawab Nadira.
"Yaudah, saya antar ya!" ucap Albert.
"Ih kamu aja belum mandi, aku gak mau dianterin sama kamu! Nanti yang ada aku kebauan terus, apalagi iler kamu masih kemana-mana tuh!" ucap Nadira.
"Yeh jahat banget kamu sama suami sendiri! Bentar ya, saya siap-siap dulu! Gak perlu mandi juga saya udah wangi kok, saya gak mau biarin kamu berangkat sendiri!" tegas Albert.
"Iya deh iya, terserah kamu aja mas!" ucap Nadira.
Albert tersenyum dan mengecup bibir Nadira sekilas, lalu berbalik untuk bersiap-siap mengantar istrinya.
Setelahnya, mereka langsung berangkat menuju kampus Nadira dengan tergesa-gesa.
Sesampainya di kampus, Nadira langsung pamit pada suaminya dan hendak keluar dari mobil.
"Mas, udah ya aku kuliah dulu?" ucap Nadira.
"Eh eh eh, tunggu dulu dong!" ujar Albert.
"Apa lagi mas? Aku takut telat nih!" ucap Nadira.
"Iya saya tau, tapi sebentar aja dong. Saya mau kasih sesuatu buat kamu," ucap Albert.
"Sesuatu apa?" tanya Nadira penasaran.
Albert tersenyum singkat, kemudian mengambil sesuatu dari dashboard mobilnya.
Nadira terkejut saat Albert menunjukkan sebuah kalung padanya.
"Ini buat kamu," ucap Albert.
"Kalung? Kamu kasih aku kalung lagi, mas? Yang ini kan udah, terus buat apa lagi coba kamu kasih aku kalung?" tanya Nadira terheran-heran.
"Ini kalungnya beda, disini ada kamera pengawas dan gps yang udah saya pasang supaya saya bisa awasin kamu. Jadi, saya gak perlu khawatir kalau saya gak ada di dekat kamu." jelas Albert.
"Segitunya ya kamu khawatir sama aku, gak mau kehilangan aku ya?" ledek Nadira.
"Gausah kege'eran deh! Ini pake aja buru!" ucap Albert.
"Iya iya.." ucap Nadira menurut dan menundukkan kepalanya.
Albert langsung memasangkan kalung itu di leher istrinya, ia tersenyum sejenak sembari mengusap wajah Nadira dengan lembut.
"Nah kan tambah cantik!" ucap Albert.
"Ah bisa aja!" ucap Nadira malu-malu.
•
•
Keenan datang ke kantor Albert, berniat menemui mantan bosnya itu untuk membahas mengenai kemungkinan ia bekerja di perusahaan Devano.
Namun, Keenan justru mendapat informasi dari Carolina bahwa Albert sedang tidak ada di kantor untuk saat ini.
"Maaf ya pak Keenan! Tapi, pak Albert memang belum datang ke kantor hari ini." ucap Carolina.
"Oh gitu, baiklah saya akan menunggu saja disini. Tapi, kira-kira hari ini tuan Albert bakalan datang ke kantor apa enggak ya?" tanya Keenan.
"Eee sepertinya iya pak, mungkin agak kesiangan. Karena pak Albert ada meeting dengan klien nanti siang," jawab Carolina.
"Yasudah, terimakasih ya Lina!" ucap Keenan.
"Sama-sama pak, apa bapak mau saya antar ke ruangan pak Albert sekarang?" ucap Carolina.
"Ah tidak usah, saya bisa sendiri." ucap Keenan.
"Baik pak! Kalau begitu saya permisi dulu ya? Jika ada yang bapak butuhkan, hubungi saja saya!" ucap Carolina.
"Kamu lupa ya? Saya ini kan udah bukan asisten tuan Albert lagi, jadi saya gak bisa seenaknya minta bantuan kamu. Lagipun, saya datang kesini sebagai tamu." ucap Keenan.
"Justru itu pak, tamu kan harus diperlakukan dengan baik." ucap Carolina sambil tersenyum.
"Ahaha, ya benar juga sih. Tapi, saya bisa lakukan semuanya sendiri kok." ucap Keenan.
"Baiklah pak, saya gak maksa." ucap Carolina.
"Iya, lanjutkan saja pekerjaan kamu!" ucap Keenan.
Carolina mengangguk, kemudian berbalik dan pergi meninggalkan Keenan disana.
Pukkk...
Tiba-tiba saja ada yang menepuk pundak Keenan dari belakang, membuat Keenan terkejut dan reflek membalikkan badannya.
"Anda siapa?"
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1