Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Healing dong


__ADS_3

"Yasudah, terimakasih ya Lina!" ucap Keenan.


"Sama-sama pak, apa bapak mau saya antar ke ruangan pak Albert sekarang?" ucap Carolina.


"Ah tidak usah, saya bisa sendiri." ucap Keenan.


"Baik pak! Kalau begitu saya permisi dulu ya? Jika ada yang bapak butuhkan, hubungi saja saya!" ucap Carolina.


"Kamu lupa ya? Saya ini kan udah bukan asisten tuan Albert lagi, jadi saya gak bisa seenaknya minta bantuan kamu. Lagipun, saya datang kesini sebagai tamu." ucap Keenan.


"Justru itu pak, tamu kan harus diperlakukan dengan baik." ucap Carolina sambil tersenyum.


"Ahaha, ya benar juga sih. Tapi, saya bisa lakukan semuanya sendiri kok." ucap Keenan.


"Baiklah pak, saya gak maksa." ucap Carolina.


"Iya, lanjutkan saja pekerjaan kamu!" ucap Keenan.


Carolina mengangguk, kemudian berbalik dan pergi meninggalkan Keenan disana.


Pukkk...


Tiba-tiba saja ada yang menepuk pundak Keenan dari belakang, membuat Keenan terkejut dan reflek membalikkan badannya.


"Anda siapa?"


Keenan sempat terbengong sesaat, sebelum akhirnya ia tersentak untuk mencairkan suasana.


"Ah eee saya Keenan, salam kenal!" jawabnya.


"Saya belum pernah lihat kamu disini sebelumnya, kamu siapa dan cari siapa?" ucap pria itu mengabaikan uluran tangan Keenan.


"Iya, saya memang jarang datang kesini. Sekarang saya ada perlu dengan tuan Albert, saya mau bertemu dengan beliau." jelas Keenan.


"Ohh, anda tamu nya tuan Albert? Sudah buat janji?" tanya pria itu.


"Eee belum sih.." ucap Keenan sambil garuk-garuk kepala.


"Kalau begitu, anda sebaiknya pergi dan kembali setelah membuat janji! Tuan Albert itu sangat sibuk, beliau tidak bisa bertemu dengan sembarang orang seperti kamu." ucap orang itu.


"Ah iya, saya paham. Omong-omong, kamu pasti asisten barunya tuan Albert ya?" ucap Keenan.


"Bukan, saya sudah lima tahun menjabat sebagai asisten tuan Albert disini. Kalau anda tidak tahu, jangan sok tahu!" jawab pria itu.


"Ya ya ya, siapa nama kamu?" tanya Keenan.


"Anda gak perlu tahu nama saya, sebaiknya anda kembali saja dan datang lain waktu! Buat janji lebih dulu jika ingin bertemu dengan tuan Albert, silahkan pergi!" ucap Javier dingin.


Keenan mengangguk pelan, ia berbalik dan hendak pergi dari sana.


Akan tetapi, Keenan justru berpapasan dengan Albert yang baru tiba disana.


"Keenan? Kamu mau kemana?" ucap Albert.


"Eh tuan, saya kira tuan gak datang. Saya diminta beliau ini buat pulang dan bikin janji dulu kalau ingin ketemu sama tuan," jelas Keenan.


"Ohh, jadi kalian sudah saling bertemu. Javier, dia ini Keenan mantan asisten saya yang dulu. Keenan gak perlu bikin janji kalau mau ketemu saya, karena dia sudah saya anggap keluarga." ucap Albert.


"Maaf tuan! Saya tidak tahu tentang pak Keenan ini," ucap Javier menunduk malu.


"Gapapa, kamu bisa kembali bekerja. Keenan, kamu ikut saya ke ruangan!" ucap Albert.


"Baik tuan!" ucap Keenan menurut.


Keenan pun pergi bersama Albert menuju ruangannya, sedangkan Javier melanjutkan langkahnya untuk kembali bekerja.




Keenan tiba di ruangan kerja mantan bosnya itu, ia dan Albert sudah duduk berhadapan dan saling berbicara.


Sebetulnya Keenan masih ragu untuk bicara kepada Albert, apalagi saat ini ia sudah bukan siapa-siapa lagi di kantor itu.


"Jadi, apa yang mau kamu bicarakan dengan saya, Keenan?" tanya Albert penasaran.


"Eee sebenarnya ini gak terlalu penting sih tuan, kalau tuan gak mau dengar juga gapapa." ucap Keenan.


"Kamu ini apa sih? Sudahlah Keenan, langsung aja bicara ke intinya!" ucap Albert.


"Iya tuan, saya cuma mau cerita aja sama tuan kalau saya belum dapat pekerjaan sampai sekarang. Selain itu, saya datang kesini untuk menanyakan mengenai tawaran pak Devano. Siapa tahu saya bisa bekerja di perusahaannya," ucap Keenan.


"Ohh, kamu mau bahas tentang lowongan pekerjaan di kantor Devano? Terus kenapa kamu gak datang aja langsung ke tempatnya? Hari ini saya gak ada jadwal ketemuan sama dia, jadi dia gak datang kesini." ucap Albert.


"Eee saya gak tahu alamat lengkap kantor pak Devano, tuan." ucap Keenan.


"Hahaha, nanti saya kasih nomor teleponnya ke kamu. Kamu bisa hubungi dia dulu sebelum datang ke kantornya, kamu gak perlu takut karena Devano itu orangnya baik kok!" ucap Albert.


"Baik tuan, terimakasih!" ucap Keenan.


"Oh ya, kabar adik kamu gimana? Dia masih kuliah seperti biasanya kan?" tanya Albert.


"Masih kok tuan, malahan dia itu senang sekali setiap mau berangkat kuliah. Terimakasih ya tuan, karena tuan sudah baik banget sama saya dan adik saya!" jawab Keenan.


"Ini gak seberapa dengan apa yang sudah kamu lakukan untuk saya, Keenan. Kalau saja kamu mau kembali bekerja sebagai asisten saya, pasti saya akan dengan senang hati menerima kamu kembali di tempat ini." ucap Albert.


"Eee tidak usah tuan, saya gak mau menghilangkan rezeki asisten tuan yang sekarang. Lebih baik saya bekerja di tempat lain," ucap Keenan.

__ADS_1


"Ya baiklah, saya menghargai keputusan kamu. Tapi, kalau kamu berubah pikiran, saya selalu terbuka untuk menerima kamu kembali disini." ucap Albert sambil tersenyum.


"Baik tuan!" ucap Keenan singkat.


"Lalu, apa lagi yang mau kamu bicarakan dengan saya sekarang?" tanya Albert.


"Ah ada tuan, jadi kemarin itu saya sempat bertemu dengan Vanesa saat sedang mencari lamaran pekerjaan. Tapi, begitu saya sapa dia eh dia malah kabur." jawab Keenan.


"Vanesa? Kamu ketemu Vanesa dimana?" tanya Albert tampak kesal.


"Kemarin itu saya baru cek kerjaan di toko, terus saya gak sengaja ketemu Vanesa. Sepertinya dia baru keluar dari apotik, tuan." jelas Keenan.


"Apotik??" ujar Albert.


"Iya tuan, mungkin dia baru beli obat dari sana." ucap Keenan menebak-nebak.


Albert terdiam mengepalkan tangannya, ia geram lantaran Vanesa tidak mau menurut dengannya.


"Benar-benar kamu Vanesa!" batin Albert.




Disisi lain, Nadira baru menyelesaikan kuliahnya dan hendak menelpon Albert untuk minta dijemput saat ini.


Namun, nomor Albert tidak bisa dihubungi sehingga Nadira merasa kesal dan bingung harus bagaimana.


"Ish, mas Albert kebiasaan deh. Kenapa sih nomornya gak aktif?!" geram Nadira.


"Hey Nadira!" tiba-tiba seseorang menyapanya dari belakang dan membuat Nadira terkejut.


"Ih ya ampun Sabrina! Kamu kenapa sih kalo muncul selalu ngagetin? Bisa gak datangnya biasa aja gitu, gausah pake ngagetin segala?!" ucap Nadira sembari mengelus dada.


"Hehe, maaf Nadira cakep! Lu kan tau sendiri gue ini kayak gimana, mana bisa gue muncul baik-baik?" ucap Sabrina sambil nyengir.


"Hadeh, terserah deh!" cibir Nadira.


"Lu ngapain berdiri aja disini? Mending ke kantin yuk!" ucap Sabrina.


"Aku mau pulang, soalnya udah gak ada kelas lagi." jawab Nadira.


"Yah jangan dong! Kita ke kantin dulu aja sebelum pulang!" ucap Sabrina.


"Aku gak bisa, suami aku udah bilang kalau aku harus langsung pulang setelah selesai kelas." ucap Nadira.


"Aduh gak asik banget sih suami lu itu! Masa sebentar aja gak boleh?" ujar Sabrina.


"Ya mau gimana lagi? Aku gak mungkin ngelawan suami aku dong?" ucap Nadira.


"Udah lah Sab, ini kan udah jadi takdir aku. Lagian mas Albert gak buruk-buruk amat kok, kadang dia juga kasih kesempatan buat aku jalan bareng teman-teman aku, termasuk kamu." ucap Nadira.


"Yaudah, kapan-kapan kita jalan lagi mau gak? Biar lu gak stres, jadi mending kita healing!" ucap Sabrina.


"Apa sih kamu? Emangnya aku stres?" ujar Nadira.


"Ya kan biar lu gak stres, berarti mencegah dong, bukannya gue ngatain lu stres." jelas Sabrina.


"Oh iya, hehe.." ucap Nadira sambil nyengir.


"Jadi gimana? Setuju gak?" tanya Sabrina.


"Nanti aku pikir-pikir dulu deh," jawab Nadira.


"Okay, tapi jangan kelamaan ya! Gue butuh jawaban secepatnya, supaya gue bisa atur semuanya dengan baik dan benar!" ucap Sabrina.


"Iya iya, by the way ini Alea sama Caca pada kemana? Kok kamu cuma sendirian? Tumben banget, biasanya juga bertugas terus." tanya Nadira.


"Caca sama Alea masih sibuk nugas, makanya gue sendirian deh sekarang." jawab Sabrina.


"Ohh, yang sabar ya Sab! Kamu temenin aja mereka nugas gih!" saran Nadira.


"Ih ogah banget! Mending gini deh, gimana kalo gue main ke rumah lu? Gue kan pengen ketemu juga sama anak lu, boleh ya?" ucap Sabrina.


"Hah? Main ke rumah aku??" Nadira terkejut dan menganga lebar.




Albert kini tiba di lokasi persembunyian Vanesa dan Harrison, tampak bahwa saat ini Albert sedang dalam keadaan marah dan emosi.


Kedatangan Albert itu juga membuat James serta para penjaga disana gemetar ketakutan, mereka tidak ada yang berani menatap wajah Albert.


Muncullah Darius, sang paman dari Albert yang memang juga ditugaskan untuk menjaga dan memastikan Vanesa tetap disana.


"Eh Albert, kamu datang lagi ternyata. Ada apa ini? Mau ketemu siapa kamu?" tanya Darius.


"Ketemu paman," jawab Albert dengan tegas.


"Hah? Emangnya ada masalah apa lagi Albert? Kenapa kamu kelihatan emosi gitu? Paman bikin kesalahan?" tanya Darius bingung.


"Saya yakin paman sudah tahu apa kesalahan paman, karena Vanesa tidak mungkin kabur dari tempat ini begitu saja tanpa sepengetahuan paman. Apa paman yang bantu dia buat pergi keluar?" jelas Albert.


"Kamu bicara apa sih Albert? Paman gak pernah begitu kok, paman ini setia bantu kamu buat jagain Vanesa disini. Memangnya kapan sih Vanesa kabur lagi?" ujar Darius dengan wajah polosnya.


"Mau sampai kapan paman bersandiwara terus kayak gini di depan saya? Gak perlu paman jelasin pun, saya sudah tahu semua kebusukan paman! Paman bekerjasama kan dengan mereka untuk membodohi saya?" ucap Albert.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih? Paman gak pernah kayak gitu, kamu tanya aja sama James!" elak Darius.


"Gausah bawa-bawa orang lain, paman! Sekarang mending paman jujur aja sama saya, benar kan yang tadi saya katakan itu?!" tegas Albert.


"Sekali lagi paman bilang sama kamu, paman benar-benar gak tahu menahu tentang kaburnya Vanesa beberapa hari ini. Setahu paman, Vanesa itu tetap stay kok di kamarnya dari kemarin." ucap Darius.


"Apa paman Darius gak bohong?" batin Albert.


"Oke paman, sekarang dimana Vanesa sama Harrison?" tanya Albert.


"Mereka ada di kamar, kebetulan tadi paman juga abis cek dan antar obat untuk Vanesa." jawab Darius.


Albert mendekat ke arah pamannya dan berbisik di telinganya.


"Kalau paman bohongi saya, paman akan terima akibatnya!" ancam Albert.


Darius gemetar hebat, namun Albert segera pergi dari sana menuju kamar Vanesa untuk menegur wanita itu.


Ceklek..


Albert langsung membuka pintu kamar Vanesa dan melangkah masuk ke dalamnya begitu saja.


Terlihat Vanesa tengah bersama papanya disana, mereka berdua menoleh secara bersamaan ke arah Albert dengan wajah bingung.


"Albert? Kenapa kamu datang gak pake ketuk pintu dulu?" ucap Harrison.


Praaangg...


"Gausah banyak bicara ya anda!" ucap Albert sembari membanting vas bunga ke lantai.


"Apa-apaan kamu Albert? Mau bikin putri saya dan saya jantungan, ha?!" geram Harrison.


Albert tersenyum smirk, menatap Harrison dan Vanesa secara bergantian.


"Apa yang sedang kalian rencanakan pada saya? Katakan sekarang, atau saya akan melakukan tindakan yang buruk kepada kalian berdua disini!" ucap Albert mengancam mereka.


Harrison melongok lebar sambil melirik ke arah putrinya, mereka terdiam tak bisa menjawab pertanyaan Albert barusan.




"Suster ayo kejar aku!" ucap Galen sambil terus berlari dan tertawa ria di dalam rumah.


"Den Galen, udah dong den suster capek nih! Kita main yang lain aja yuk, jangan lari-larian di dalam rumah kayak gini!" ucap suster Alra.


"Gak mau! Ayo dong sus kejar aku! Suster harus tangkap aku dulu!" ucap Galen.


Suster Alra yang sudah ngos-ngosan pun hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia benar-benar lelah saat ini karena Galen tak kunjung berhenti berlari.


Galen malah semakin aktif, ia berlari menjauh dari suster Alra dengan terus tertawa keras.


"Ahaha, suster cemen gak bisa tangkap aku!" ledek Galen sambil tertawa mengejek.


"Oh gitu, awas ya kamu! Suster bakal tangkap kamu!" ucap suster Alra.


Suster Alra mempercepat langkahnya, ia akhirnya berhasil menangkap Galen dan langsung memeluknya erat.


"Hayo kena!" ucap suster Alra.


"Hihihi suster curang, aku belum siap tau! Ulang ah sus, ulang!" ucap Galen meronta-ronta.


"Enggak den, kita udahan ya main kejar-kejaran nya! Sekarang aden istirahat dulu!" ucap suster Alra.


"Gak mau sus, aku mau main!" ucap Galen.


Galen terus menggerakkan tubuhnya ke kanan dan kiri dengan kuat, hingga ia berhasil melepaskan diri dari pelukan suster Alra.


Namun, gerakan Galen tidak dapat terkontrol dan membuat ia tanpa sengaja menyenggol guci antik milik Abigail yang ditaruh disana.


Praaangg...


Akibatnya, guci tersebut pun pecah dan berserakan di lantai.


"Hah??" suster Alra terkejut hebat disertai mulut terbuka lebar.


"APA-APAAN INI...??!!" teriak Abigail dari tangga.


Mereka berdua kompak menoleh, menatap Abigail penuh ketakutan.


"Sus, gimana dong ini?" tanya Galen panik.


"Tenang ya den!" ucap suster Alra.


"Galen? Kamu itu kenapa sih bikin ulah terus? Gak bisa apa sehari aja kamu itu gak nakal? Asal kamu tahu ya, guci ini guci kesayangan saya dan saya gak suka kamu pecahin guci ini!" bentak Abigail.


"Ma-maaf nek!" ucap Galen sembari bersembunyi di pelukan suster Alra.


"Jangan panggil saya nenek! Saya ini bukan nenek kamu, dan kamu juga bukan cucu saya! Kamu itu cuma anak nakal yang selalu bikin saya kesal!" ucap Abigail penuh emosi.


"DASAR ANAK PELAKOR!!" umpat Abigail.


"Apa mah??" Abigail terkejut dengan suara Nadira yang muncul dari depannya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2