
Beberapa Minggu kemudian...
Keenan datang ke showroom mobil milik Albert untuk mengecek mengenai imbas dari masalah yang sedang menimpa perusahaan tuannya tersebut, ya tentu ia datang kesana sesuai perintah dari Albert sebelumnya.
Keenan menemui Mahesa, selaku manager yang mengelola showroom tersebut.
"Eh pak Ken, apa kabar pak?" ucap Mahesa.
"Saya baik!" ucap Keenan sambil tersenyum.
Mereka bersalaman sejenak disana dengan saling tersenyum satu sama lain.
"Oh ya, ada apa nih pak Ken datang kesini? Tumben banget!" tanya Mahesa penasaran.
"Iya pak, jadi begini saya diperintahkan oleh tuan Albert untuk mengecek data penjualan di showroom ini. Karena kan sekarang perusahaan sedang dilanda masalah, tuan Albert khawatir itu berimbas pada penjualan mobil-mobil disini!" ucap Keenan menjelaskan.
"Oh soal itu, baiklah silahkan duduk dulu pak! Biar saya tunjukkan laporan penjualan bulan ini ke bapak, mari pak!" ucap Mahesa.
"Terimakasih!" ucap Keenan.
Keenan pun duduk di kursi yang tersedia, sedangkan Mahesa tampak mengambil berkas laporan penjualan itu dan akan menunjukkan nya kepada Keenan disana.
"Nah, ini dia pak data penjualan kita bulan ini! Bisa dilihat kalau penjualan bulan ini sangat-sangat jauh dari ekspektasi, bahkan jika dibandingkan dengan penjualan bulan-bulan jauh, bulan ini memang merupakan bulan yang tersulit bagi kita!" ucap Mahesa.
Keenan fokus membaca laporan tersebut, ia merasa bingung dan heran bagaimana bisa tiba-tiba penjualan disana merosot tajam.
"Maaf pak! Kira-kira bapak tahu gak apa penyebab dari turunnya penjualan kita? Apa karena masyarakat sudah tidak tertarik dengan mobil kita? Atau justru kualitas mobil kita sudah menurun dan tak sebanding dengan sebelumnya?" tanya Keenan.
"Waduh, kalau soal kualitas sudah jelas mobil kita ini yang paling bagus dibanding mobil lainnya, pak! Saya akui itu dan saya yakin masyarakat luas juga tahu, pak! Nah masalahnya, mungkin saja ada alasan tertentu yang menyebabkan penjualan kita menurun pak! Untuk pastinya saya tidak tahu, karena saya hanya seorang manager!" jawab Mahesa.
"Iya pak, baiklah terimakasih atas waktunya! Saya izin bawa laporan ini untuk ditunjukkan pada tuan Albert!" ucap Keenan.
"Ya silahkan pak!" ucap Mahesa.
Keenan beranjak dari kursinya, lalu bergegas pergi dari showroom tersebut. Ia hendak menemui Albert di kantor dan menyerahkan data penjualan mobil bulan ini pada bosnya itu.
•
•
Singkat cerita, Keenan telah sampai di kantor dan langsung menemui Albert menyerahkan laporan tersebut padanya. Tampak Albert sangat emosi begitu melihatnya, ia sama sekali tak mengerti bagaimana bisa masalah ini terjadi bertubi-tubi.
"Aaarrgghh sialan! Ini kenapa semuanya jadi seperti ini? Penjualan kita menurun drastis, lalu para investor juga pergi tanpa kejelasan! Ada apa sih sebenarnya?" geram Albert.
"Sabar tuan! Saya curiga ada orang yang ingin menjatuhkan anda! Bisa saja semua ini adalah ulahnya, karena orang itu tidak suka melihat anda sukses tuan! Ya tapi, itu semua hanya dugaan saya semata dan belum tentu benar tuan! Bisa saja karena hal yang lain!" ucap Keenan.
"Tidak tidak Ken, saya rasa kamu benar! Ini pasti perbuatan orang yang tidak suka dengan saya, dan orang itu adalah..."
TOK TOK TOK...
Ucapan Albert terjeda lantaran muncul suara ketukan pintu dari arah luar.
"Masuk!" teriak Albert.
Ceklek...
Itu adalah Vanesa, si sekretaris cantik yang masuk dengan langkah tergesa-gesa ke dalam ruangan bosnya. Vanesa terlihat cemas, membuat Albert dan Keenan penasaran.
"Permisi pak Albert, pak Ken!" ucap Vanesa ngos-ngosan.
"Ya Vanesa, ada apa?" tanya Albert bingung.
"Gawat pak! Sekarang investor kita yang lain juga kompak mengundurkan diri, mereka bahkan menuntut perusahaan kita karena mereka merasa dirugikan setelah penjualan bulan ini sangat-sangat jauh dari target, pak!" jelas Vanesa.
"Apa? Udah gila kali mereka? Bisa-bisanya mereka mau tuntut perusahaan saya! Emang ini semua udah gak beres, saya jadi curiga kalau ada biang dari semua masalah ini!" ujar Albert geram.
"Benar tuan! Ini udah gak beres lagi, mana bisa mereka main tuntut tuntut aja kayak gitu? Kita kan sudah buat perjanjian sebelumnya, apa mereka mau menjatuhkan tuan?" ujar Keenan.
"Vanesa, sekarang kamu kembali ke ruangan kamu dan selidiki ini semua!" perintah Albert.
"Baik pak! Oh ya pak, saya juga dengar kabar kalau para karyawan di perusahaan ini akan melakukan mogok kerja dan berdemo untuk menuntut hak mereka yang belum terpenuhi, pak! Apa perlu saya minta polisi untuk mengawal mereka, pak?" ucap Vanesa.
"Tidak, biar nanti saya dan Keenan yang urus itu! Kamu coba dulu hubungi para investor tersebut, bujuk mereka supaya mau berubah pikiran!" ucap Albert terlihat panik.
"Siap pak! Kalau begitu saya permisi dulu!" ucap Vanesa.
__ADS_1
"Silahkan!"
Vanesa berbalik, lalu pergi dari sana. Albert langsung mengusap wajahnya kasar, ia sangat bingung bagaimana caranya untuk keluar dari masalah tersebut.
Braakkk...
Ia menggebrak meja karena kesal, hingga membuat Keenan terkejut.
"Aaarrgghh sial! Kenapa ini semua harus terjadi sama saya?!" geram Albert.
"Sabar tuan! Ini bukan akhir dari segalanya, kita masih bisa perbaiki semuanya!" ucap Keenan.
"Ya, tapi bagaimana caranya?" tanya Albert.
Keenan terdiam kebingungan. Ia pun juga bingung harus melakukan apa untuk membantu tuannya, apalagi masalah tersebut bukanlah masalah kecil yang biasa ia tangani sebelumnya.
Prok
Prok
Prok...
"Albert Albert... dari dulu sampai sekarang, kamu ternyata masih belum berubah ya?" ujar seseorang yang tiba-tiba masuk ke ruangan Albert sambil bertepuk tangan.
Sontak Albert dan Keenan langsung mengarahkan pandangan mereka ke asal suara, ya disana terdapat sosok Darius alias paman Albert yang sedang berjalan ke arah mereka sambil tersenyum.
"Om Darius? Om itu mau apa sih sebenarnya? Kalau kedatangan om kesini cuma mau ledekin saya, mending om keluar deh!" ujar Albert malas.
"Oh kamu usir om? Sungguh keterlaluan kamu Albert! Pantas saja perusahaan kamu ini dilanda banyak masalah, kamu aja gak bisa hormat sama orang yang lebih tua daripada kamu! Ingat Albert, disini cuma om yang bisa menyelesaikan masalah kamu ini!" ucap Darius.
"Apa? Saya gak salah dengar om? Om mau menyelesaikan masalah saya, yakin om? Duh, perusahaan yang om kelola aja masih belum bener om, gimana caranya om bisa selesaikan masalah saya?" ujar Albert geleng-geleng kepala.
"Kita lihat aja nanti Albert, kamu pasti butuh bantuan saya!" ucap Darius terkekeh.
Albert terdiam, ia sungguh malas meladeni Darius yang memang menyebalkan itu. Akhirnya Albert memutuskan untuk keluar dari ruangannya dan mengecek para karyawannya di bawah.
"Misi om, saya ada urusan penting! Ayo Ken, biarin saja om Darius disini terserah dia mau melakukan apa!" ucap Albert.
"Baik tuan!" ucap Keenan menurut.
"Hahaha, siap-siap aja Albert inilah awal kehancuran kamu!" batin Darius.
•
•
Saat di luar, Albert kembali bertemu dengan Vanesa yang tengah sibuk juga mengurus masalah tersebut. Albert pun menghampiri Vanesa bersama Keenan asistennya, ia bertanya apakah wanita itu telah berhasil menemukan inti dari masalah itu.
"Vanesa, bagaimana? Apa kamu sudah berhasil menghubungi salah satu investor kita? Dan apa masalah ini bisa terselesaikan?" tanya Albert.
"Eee maaf pak! Barusan memang saya berhasil menghubungi sekretaris pak Jaya, tapi beliau bilang kalau pak Jaya sedang tidak ingin diganggu setelah perusahaannya juga mengalami kerugian yang sama seperti kita! Begitupun dengan investor bapak lainnya, mereka juga mengalami hal yang sama!" jawab Vanesa.
"Hah? Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Ada apa ini sebenarnya? Kita harus segera selidiki ini semua sebelum terlambat, pasti ada yang tidak beres dari semua ini!" ucap Albert.
"Benar tuan!" ucap Keenan.
"Oh ya, gimana juga dengan karyawan karyawan yang ingin melakukan demo? Apa mereka masih bersikeras untuk melakukan itu?" tanya Albert.
"Iya pak, bahkan sekarang saja hanya beberapa orang yang datang bekerja! Sisanya mereka akan melakukan demo esok hari, pak! Tapi, bisa saja karyawan yang sekarang sedang bekerja juga ikut melakukan demo besok, pak!" jawab Vanesa.
"Ah sialan! Bukannya kerja yang bener buat bantu perusahaan yang lagi kesusahan, mereka malah mau demo begitu! Emangnya mereka gak ingat apa, siapa yang kasih makan mereka selama ini kalau bukan perusahaan kita? Kurang ajar karyawan seperti itu!" umpat Albert kesal.
"Sabar tuan! Tidak ada asap kalau tidak ada api, saya yakin mereka begitu karena ada satu orang yang mengompori, ya anda tau sendiri lah disini banyak yang seperti itu!" ucap Keenan.
"Iya pak, benar yang dikatakan pak Ken! Lalu, apa yang harus saya lakukan selanjutnya pak?" ucap Vanesa.
"Tetap selidiki semuanya! Saya ingin menemui para karyawan yang masih bekerja disini, saya akan paksa mereka untuk mengaku siapa yang sudah memprovokasi mereka untuk berdemo kepada saya!" ucap Albert kesal.
"Biar saya temani tuan!" ucap Keenan.
"Tidak perlu! Kamu bantu saja Vanesa untuk selidiki semua yang terjadi di perusahaan ini, karena itu lebih penting!" ucap Albert.
"Baik tuan!" ucap Keenan patuh.
Albert pun melangkah pergi meninggalkan kedua manusia itu, ya Albert masuk ke dalam lift kosong dan akan menemui karyawannya yang masih masuk bekerja hari ini.
__ADS_1
Sementara Keenan kini menatap Vanesa, ia tersenyum dan mendekati wanita itu.
"Hey, kamu beneran gak tahu dengan semua yang terjadi di perusahaan ini? Atau cuma pura-pura gak tahu supaya nama kamu bersih?" tanya Keenan.
Vanesa terkejut bukan main mendengar pertanyaan Keenan, matanya terbelalak lebar dan hampir saja mulutnya menganga jika tidak ditutup lebih dulu oleh telapak tangannya.
"Kenapa? Kok kaget gitu?" ujar Keenan.
"Umm, pak Ken ini apaan sih? Sukanya bercanda terus, kita lagi dalam keadaan genting loh pak! Jadi sebaiknya sekarang kita fokus buat selidiki ini semua, karena kalau tidak itu akan semakin berbahaya buat perusahaan kita pak!" ucap Vanesa.
"Ya, kamu benar! Apalagi kalau ternyata orang yang dipercaya oleh tuan Albert, ternyata justru dialah biang keladinya!" ucap Keenan tersenyum seringai.
Vanesa menunduk dan memasang wajah kesal, ia heran bagaimana bisa Keenan mencurigai dirinya.
"Gawat! Ini kenapa pak Ken jadi curiga sama aku sih? Gak gak, aku gak boleh kelihatan panik di depan pak Ken! Aku harus biasa-biasa aja, karena itu bisa bikin pak Ken makin curiga! Ya, pokoknya semua rencana balas dendam aku dan papa ini harus berjalan sempurna! Pak Albert harus mendapat balasan, karena dia sudah mencelakai mama sampai meninggal!" gumam Vanesa dalam hati.
Keenan menyadari perubahan sikap dari Vanesa, ia semakin yakin bahwa dugaannya selama ini benar karena Vanesa memang sangat-sangat mencurigakan, hanya saja bosnya itu cukup payah untuk menyadari sebab lekuk tubuh Vanesa yang indah.
"Saya harus selidiki Vanessa, dia ini berbahaya jika terus dibiarkan! Bisa-bisa dia akan menjadi duri di dalam daging untuk tuan Albert, saya tidak akan biarkan itu terjadi!" batin Keenan.
•
•
Disisi lain, Nadira tampak kesepian karena belakangan ini memang Albert sangat sibuk di kantornya mengurus semua masalah yang sedang terjadi disana, sehingga Nadira hanya sendirian di kamarnya dan bahkan seringkali tidur seorang diri.
Sudah berminggu-minggu Nadira tak pernah lagi disentuh oleh Albert, ia merasakan sesuatu yang aneh karena biasanya setiap hari Albert selalu meminta jatah darinya. Walau ia merasa senang akan hal itu, namun ia tak dapat memungkiri kalau ia rindu pada sentuhan suaminya tersebut.
Kini Nadira tengah berbaring di atas ranjang sambil memeluk guling, ia memejamkan mata dan membayangkan guling itu adalah Albert, karena sejak Albert terkena masalah pria itu jarang sekali pulang ke rumah menemuinya, jika pulang pun pasti malam sekali dan ia sudah tertidur.
"Tuan Albert, tuan lagi apa sekarang? Udah makan apa belum? Jangan lupa makan ya tuan, supaya gak sakit nantinya!" gumam Nadira dalam hati.
Wanita itu membuka matanya saat mendengar suara ketukan dari luar kamarnya.
TOK TOK TOK...
Ya Nadira pun beranjak dari ranjangnya, lalu melangkah menuju pintu sambil mengikat rambutnya yang tergerai.
Ceklek...
Ia membuka pintu dan tersenyum melihat mbok Widya sudah berdiri disana membawa segelas susu hangat di tangannya.
"Eh mbok Widya?" ucap Nadira.
"Iya non, maaf ganggu! Ini saya bikinin susu hangat buat non Dira, diminum ya non!" ucap mbok Widya.
"Ah iya mbok, makasih ya!" ucap Nadira.
"Sama-sama non, kalo gitu saya permisi dulu ya? Mau lanjut kerja masih banyak yang harus diurus, non Dira sabar aja jangan kebanyakan ngelamun! Tuan Albert pasti pulang kok, jadi gausah khawatir non!" ucap mbok Widya terkekeh kecil.
"Apa sih mbok? Yaudah, sekali lagi makasih ya mbok susu hangatnya!" ucap Nadira.
"Hehe iya non..."
Tiba-tiba saja, Nadira merasa ingin muntah saat ia hendak masuk ke dalam kamarnya.
"Uwekk..." Nadira menutup mulutnya dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lain memegang gelas susu.
Mbok Widya pun cemas pada kondisi Nadira, ia tidak jadi pergi dari sana karena melihat Nadira mual-mual seperti itu.
"Eh non, non kenapa?" tanya mbok Widya cemas.
"Gak tahu mbok, tolong pegang ini dulu mbok! Saya mau ke kamar mandi sebentar!" ucap Nadira.
"I-i-iya non..."
Nadira langsung berbalik setelah menyerahkan gelas susu itu pada mbok Widya, ia masuk ke kamar mandi dan muntah-muntah disana. Mbok Widya yang ada di depan kamar pun mendengar jelas suara tersebut, ia khawatir pada Nadira dan takut jika Nadira kenapa-napa.
"Huweekk huweekk..."
Namun, pikiran mbok Widya tiba-tiba mengarah pada pertanda hamil, ya mungkin saja wanita itu hamil walau sudah dua Minggu lebih tak disentuh oleh Albert.
"Apa non Dira lagi hamil, ya? Wah bakal seru nih kalo di rumah ini ada anak kecil, pasti rame dan gak bosen!" gumam mbok Widya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
^^^JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!^^^