
Waktu sudah menunjukkan tengah malam, Albert memutuskan untuk pulang ke rumah begitupun juga dengan Keenan, mereka belum berhasil menemukan keberadaan Celine setelah mencari kesana-kemari.
Namun, Albert sudah menugaskan seluruh anak buahnya yang berjumlah cukup banyak itu untuk mencari Celine tanpa henti. Biar bagaimanapun, Albert sudah menganggap Keenan dan Celine sebagai keluarganya sendiri, ia tak bisa membiarkan mereka menderita sedikitpun.
Ceklek...
Perlahan Albert membuka pintu, melangkah ke dalam rumahnya yang sudah lumayan sepi itu, wajar saja karena saat ini tengah malam dan pastinya orang-orang sedang beristirahat.
"Nadira pasti udah tidur, gagal deh saya minta jatah dari dia!" batin Albert.
Disaat Albert hendak melangkah menuju kamar, tiba-tiba Abigail muncul dan memanggil namanya membuat pria itu menghentikan langkahnya.
"Albert!" Abigail memanggil putranya cukup keras sembari melangkah mendekati pria itu.
"Iya mah, kenapa?" ucap Albert pelan.
"Darimana aja kamu? Tadi bukannya kamu sudah di depan rumah? Kenapa kamu malah pergi gitu aja gak pamit dulu sama mama atau istri kamu? Asal kamu tahu Albert, tadi Nadira merengek minta ketemu sama kamu. Eh begitu kamu pulang, malah langsung pergi lagi! Kasihan tau istri kamu, kayaknya dia udah mulai ngidam!" ucap Abigail.
"Oh ya? Waduh, maaf deh mah aku gak tahu! Kenapa mama gak telpon aku sih dan kasih tahu kalau Nadira ngidam pengen ketemu aku? Kalau aku tahu, pasti aku bakal pulang temuin Nadira!" ucap Albert justru menyalahkan mamanya.
"Hadeh malah nyalahin mama! Sudah berkali-kali mama coba telpon kamu, tapi hasilnya nihil. Hp kamu sibuk terus gak bisa dihubungi, emang abis ngapain sih kamu?!" ujar Abigail kesal.
"Eee tadi tuh aku habis bantuin Keenan cari adiknya yang diculik, mah." Albert menjawab jujur.
"Apa? Diculik?" Abigail terkejut mendengarnya.
"Iya mah, itu dia kenapa tadi aku langsung pergi lagi. Karena aku mau bantu Keenan cari adiknya, tapi sayang kita juga belum berhasil temuin keberadaan Celine, mah!" jelas Albert.
"Ya ampun. Terus dimana Keenan sekarang? Kenapa kamu gak ajak dia kesini? Keenan pasti terpukul banget atas penculikan adiknya, harusnya kamu gak biarin dia sendirian di rumah! Itu bisa bahaya buat dia, kalau dia nekat berbuat macam-macam gimana?" ucap Abigail.
"Tenang aja mah! Keenan gak mungkin kayak gitu kok, tadi aku udah titip pesan ke dia supaya bisa sabar dalam menyikapi masalah ini. Karena aku yakin Celine pasti bisa ditemukan, cepat atau lambat!" ucap Albert.
"Yasudah, kamu tidur sana! Ingat loh, jangan ganggu istri kamu kalau dia sudah tidur! Kasihan Nadira pasti butuh istirahat, dia juga kan lagi hamil. Kamu gak bisa paksakan dia buat terus layanin kamu tiap malam, itu gak baik!" ucap Abigail.
"Iya mah, siapa juga yang mau minta jatah dari Nadira? Aku juga tahu diri kali, kan aku suami yang pengertian!" ucap Albert tersenyum.
"Halah suka-suka kamu ajalah mau ngomong apa! Mama ngantuk pengen tidur!" ucap Abigail.
Abigail berbalik sembari menguap karena rasa kantuk yang sudah menyerangnya, wanita itu pergi meninggalkan Albert dan masuk ke kamarnya karena sudah tidak kuat lagi.
Sementara Albert hanya tersenyum menggelengkan kepalanya menyaksikan tingkah sang mama itu, ia juga terpikirkan dengan kondisi Nadira dan sedikit khawatir setelah mendengar perkataan mamanya tadi tentang Nadira.
"Kalau Nadira nyariin saya terus daritadi karena pengaruh bayi di kandungannya, itu artinya saya harus segera temuin dia dong biar anak saya gak kecewa nantinya!" gumam Albert.
Albert pun bergerak cepat menuju kamarnya, menemui Nadira demi mewujudkan keinginan sang anak di dalam perut Nadira, namun tentu saja Albert juga memang ingin menemui wanitanya yang cantik nan seksi itu.
•
•
Cupp!
Albert sudah berada di kamarnya, ia berbaring di samping tubuh Nadira yang sedang tertidur pulas dan langsung mengecup kening istrinya sembari mengusap perut sang istri dengan lembut disertai senyum yang melingkar di wajahnya.
Albert memang telah banyak berubah sejak menikah dengan Nadira, ia yang selalu kasar kini menjadi lebih lemah lembut kepada siapapun tak terkecuali pelayan-pelayan di rumahnya, tentu saja semua itu berkat Nadira yang selalu menasehatinya agar tidak mudah emosi.
"Sayang, kamu sehat-sehat ya di dalam perut mama kamu! Papa pengen lihat kamu lahir ke dunia, maafin papa ya kalau tadi papa gak bisa turutin kemauan kamu!" ucap Albert pelan.
Pria itu beralih menatap wajah Nadira yang tetap terlihat cantik biarpun tengah tertidur itu, ia pandangi cukup lama sampai gairahnya memuncak dan tanpa berpikir panjang Albert pun langsung menerkam bibir Nadira dengan cepat.
__ADS_1
Mendapat serangan secara tiba-tiba dari suaminya, membuat Nadira tersadar dari tidurnya. Ya karena Albert memang melumatt bibirnya secara brutal, sehingga Nadira pun terbangun dan berusaha melepaskan diri, namun bukannya terlepas Nadira justru semakin terbawa ke dalam lumatann Albert yang dengan sengaja memperdalam ciumannya.
Nadira terus berusaha menahan bibirnya agar tidak terbuka, akan tetapi Albert tak menyerah begitu saja dan berhasil membuat Nadira membuka mulut dengan cara menggigit bibir bawahnya.
"Eemmhh.." suara Nadira tertahan oleh mulut Albert yang melumatt bibirnya.
Albert langsung memasukkan lidahnya ke dalam mulut sang istri, membiarkannya menari-nari di dalam sana dan berharap Nadira mau membalasnya, pria itu juga terus menahan tengkuk Nadira dengan kedua tangan serta mengunci tubuh Nadira sehingga tak bisa bergerak sedikitpun.
Setelah dirasa nafas Nadira mulai habis, Albert segera melepas pagutannya dan beralih ke jenjang leher Nadira, membiarkan Nadira mengambil nafas sejenak sembari ia juga mengendus leher wanita itu dan meninggalkan jejak disana.
"Eenngghh... tuan, cukuphh!" Nadira berusaha menghentikan aksi suaminya, ia mendorong Albert cukup keras agar menjauh dari tubuhnya.
Namun, Albert yang sudah kehilangan kendali itu malah semakin menggila dan menindih tubuh istrinya sembari mencengkeram kedua telapak tangan Nadira, lalu menaruhnya di atas kepala.
"Tuan, aku mohon cukup! Aku lelah tuan, jangan paksa aku!" pinta Nadira memohon pada Albert.
"Hah? Emang kamu abis ngapain? Kok lelah?" tanya Albert penasaran.
Pria itu melonggarkan cengkeramannya, menatap Nadira dengan penasaran. "Harusnya kamu jangan terlalu banyak beraktivitas selama saya kerja, jadi kamu gak kecapekan kayak gini! Saat saya ingin minta jatah, kamu malah gak bisa memuaskan saya. Istri macam apa kamu?" ucapnya.
Nadira dengan nafas tersengal berusaha untuk membujuk suaminya agar tidak marah, tentu ia tak mau Albert kembali menghukumnya.
"Maaf tuan! Aku lelah juga karena nunggu kamu, suruh siapa kamu pulang larut malam begini? Aku kan pengen banget ketemu sama kamu, tapi kamu malah gak pulang-pulang!" ucap Nadira.
Albert mendekatkan wajahnya ke arah Nadira, hingga kedua hidung mereka saling menempel.
"Iya, saya tahu kamu sudah mulai ketergantungan sama saya. Itu yang memang saya inginkan sejak dulu, Nadira. Dengan begitu, kamu akan selalu ada disini selamanya! Dan kamu juga harus melayani saya kapanpun, dimanapun!" ucap Albert pelan.
Cupp!
Albert mengecup bibir Nadira yang basah itu sekilas, menariknya kecil mengenakan bibirnya lalu perlahan melepas cengkramannya dari tangan Nadira dan menjauh.
"Nadira Nadira... kamu itu ternyata mudah sekali ya dikuasai oleh saya? Baru beberapa bulan saja kamu udah mulai kayak gini, gimana setahun?" ucap Albert yang kini berbaring di samping Nadira.
"Hahaha, itu hanya sekedar perhatian untuk calon anak saya di perut kamu, jadi kamu jangan ge'er ya Nadira! Selamanya saya gak akan mencintai kamu, saya ini cuma suka tubuh kamu dan anak yang kamu kandung itu!" ucap Albert.
Nadira tersentak mendengarnya, hatinya cukup terluka ketika Albert mengatakan itu. Air mata pun terlihat menetes membasahi pipinya.
Albert yang melihatnya pun heran, ia bergerak menyeka air mata itu sembari bertanya pada Nadira, "Kenapa kamu nangis Nadira? Kamu sedih dengar kata-kata saya barusan?"
"Tidak, bukan karena itu."
"So? What happen with you, honey?" tanya Albert dengan nada yang sengaja menggoda Nadira, ia juga menggigit telinga Nadira dengan lembut.
"Nothing."
Nadira segera memalingkan wajahnya dari Albert, kembali memejamkan mata dan berusaha tertidur walau sangat sulit, apalagi perasaannya saat ini sedang hancur mendengar penuturan Albert tadi.
"Kenapa perasaan aku begitu sakit mendengar tuan Albert bicara seperti itu? Padahal aku juga tahu dari awal, tuan menikahi aku cuma karena tubuhku, bukan cinta. Tapi, apa aku tidak berhak untuk dicintai?" gumam Nadira dalam hati.
•
•
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Albert telah pergi dari rumah menemui Keenan untuk membantu asistennya itu mencari keberadaan Celine yang diculik. Bahkan sangking paginya, Albert sampai tidak tega membangunkan Nadira yang masih terlelap itu dan lebih memilih langsung pergi keluar kamar tanpa berpamitan.
Ya namun tentunya Albert menyempatkan diri untuk mengecup kening serta bibir Nadira.
Cupp!
__ADS_1
"Saya pergi ya Nadira? Sayang anak papa, papa Albert pamit ya mau keluar? Kamu baik-baik di dalam sana, jangan nyusahin mama kamu!" ucap Albert seraya mengusap perut istrinya.
Setelahnya, Albert pun melangkah keluar dengan langkah tergesa mengingat ia harus segera pergi dan membantu Keenan mencari adiknya.
Saat di luar, pria itu justru berpapasan dengan Abigail yang baru turun dari kamarnya. Abigail pun menghampiri Albert dan menatapnya bingung, tak biasanya memang Albert telah bersiap seperti itu padahal waktu masih sangat pagi.
"Loh Albert, kamu tumben udah rapih begini. Mau kemana sih?" tanya Abigail bingung.
"Iya mah, ini aku kan harus bantu Keenan dulu. Kasihan adiknya yang diculik, makanya aku udah siap walau masih pagi!" jawab Albert tersenyum.
"Oh begitu, iya juga sih kamu benar. Yasudah, kamu pergi aja sana! Mama disini bantu doa supaya Celine adiknya Keenan itu bisa segera ditemukan dalam keadaan sehat!" ucap Abigail.
"Aamiin! Makasih mah!" ucap Albert.
Kemudian, Albert mencium tangan Abigail dan berpamitan pada mamanya tersebut.
"Aku pergi dulu, mah?" ucap Albert.
"Iya, hati-hati!" ucap Abigail tersenyum singkat.
Lalu, Albert pun melangkah pergi keluar dari rumahnya. Sedangkan Abigail berjalan menuju meja makan menyiapkan sarapan untuk anak juga menantunya yang masih tertidur, ya biarpun disana ada pelayan namun Abigail tetap ingin membantu mengerjakan itu semua.
❤️
Tak lama kemudian, Nadira terbangun dari tidurnya dan menyadari sudah tidak ada Albert di sampingnya saat ini. Wanita itu terkejut, lalu duduk menoleh kesana-kemari mencari dimana keberadaan suaminya itu.
"Loh, tuan Albert kemana ya? Perasaan semalam abis main kita langsung tidur berdua, lah kok pas bangun cuma aku sendiri?" ujar Nadira bingung.
Nadira bangkit dari tempat tidurnya, menyibakkan selimut dan mencari Albert di sekeliling kamar. Ia mengecek ke dalam kamar mandi, namun kosong dan tak terdapat tanda-tanda Albert ada disana.
"Duh sayang! Papa kamu sukanya ngilang terus deh, nyebelin emang!" ujar Nadira dengan wajah cemberut sembari mengusap perutnya.
Akhirnya Nadira memutuskan untuk keluar kamar dengan masih mengenakan baju tidurnya, rambut berantakan serta bekas air liur di pipinya karena wanita itu belum mencuci muka, ya Nadira terlalu panik setelah mengetahui suaminya menghilang begitu saja seperti ditelan bumi.
Nadira pun menghampiri Abigail yang ada di meja makan, ia melangkah sambil terus memegangi perutnya dan ngomel-ngomel sendiri kesal karena kelakuan Albert yang pergi tanpa pamit atau paling tidak membangunkan dirinya.
"Mah, mama..." Nadira memanggil mama mertuanya itu dan berhenti di sampingnya.
"Eh sayang, good morning selamat pagi mantu mama yang paling cantik! Ada apa sih sayang? Kamu kok panik gitu mukanya?" ucap Abigail berdiri dan memegang wajah menantunya itu.
"Eee ini loh mah, aku lagi bingung tuan Albert kemana. Soalnya tuan udah gak ada di kamar pas aku bangun, makanya aku panik!" ucap Nadira.
"Oalah jadi kamu cemas sama Albert?" ujar Abigail.
"Bukan cemas sih mah, kaget aja. Semalam kan tuan ada di sebelah aku pas tidur, eh sekarang tiba-tiba udah gak ada. Kalau tuan Albert pamit dulu sama aku, pasti aku gak bakal kaget begini!" ucap Nadira.
"Ahaha, gausah gengsi gitu sayang! Kalau emang cemas ya bilang aja cemas, jangan ditutup-tutupi kayak gitu! Albert itu tadi pergi bareng Keenan, mereka mau cari adiknya Keenan yang hilang. Mungkin aja Albert gak tega bangunin kamu, jadi dia pergi tanpa pamit sama kamu!" ujar Abigail.
"Hah? Adiknya pak Ken diculik? Ya ampun, kok bisa sih mah?!" ucap Nadira terkejut.
"Begitulah sayang, mama juga kurang ngerti sih kronologinya gimana. Tapi, yang pasti adik Keenan itu diculik sewaktu pulang dari sekolah. Kamu bantu doa ya sayang!" ucap Abigail.
"Iya mah, pasti kok!" ucap Nadira.
Tiba-tiba saja Chelsea muncul, gadis itu juga baru terbangun dari tidurnya dan hendak menikmati sarapan bersama mamanya.
"Aku heran deh, kok ada ya istri yang gak tahu kemana suaminya pergi...??" sindir Chelsea.
Sontak Nadira langsung menundukkan kepala begitu melihat Chelsea ada disana, ia juga tahu kalau gadis itu masih tidak menyukai dirinya dan barusan Chelsea sedang menyindirnya.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...