
Nadira tengah berada di kampusnya, mengerjakan tugas sendirian dengan laptopnya.
Namun, lagi-lagi Nadira kembali kepikiran dengan sosok wanita yang dia lihat sebelumnya.
Nadira masih sangat yakin bahwa wanita itu memang adalah Vanesa.
"Duh, kok aku susah banget ya buat lupain kejadian kemarin? Rasanya aku gak salah lihat, itu emang bener Vanesa. Tapi, kenapa mas Albert gak percaya banget ya sama aku?" gumam Nadira.
Disaat Nadira sedang melamun, seorang pria tiba-tiba muncul di dekatnya sambil tersenyum.
"Hai Nadira!"
Sontak saja Nadira terkejut mendengar suara pria memanggil namanya, ia langsung menoleh menatap pria tersebut.
"Eh Ghazi? Kenapa?" ucap Nadira.
"Kamu lagi nugas ya? Kok sendirian aja? Teman-teman kamu mana?" tanya pria bernama Ghazi itu.
"Umm, iya nih. Teman-teman aku lagi pada ada kelas, mungkin nanti setelah selesai baru kita bisa kumpul lagi. Kamu sendiri ngapain kesini?" jawab Nadira.
"Oh gitu, eee aku sih tadi gak sengaja aja lihat kamu. Kira-kira kalau aku ikutan ngerjain tugas disini bareng kamu, boleh gak?" ucap Ghazi.
"Boleh kok, duduk aja sini!" ucap Nadira.
"Serius??" tanya Ghazi seakan tak percaya.
"Ya iyalah, ngapain juga aku bohong? Udah duduk sini, biar aku ada temannya juga!" ujar Nadira.
"Oke deh, makasih ya Dira!" ucap Ghazi.
Nadira mengangguk saja sambil tersenyum tipis, lalu mengambil tasnya agar Ghazi dapat duduk di sampingnya saat ini.
Tentu saja Ghazi merasa senang, dengan cepat ia duduk dan tersenyum renyah sembari memandang wajah Nadira yang cantik.
"Kamu lagi ngerjain tugas apa?" tanya Ghazi.
"Eee ini aku lagi siapin materi buat presentasi besok, kamu sendiri?" jawab Nadira.
"Sama dong, aku juga ada presentasi besok. Kalo gitu aku boleh minta saran gak sama kamu?" ucap Ghazi.
"Loh, kita kan beda jurusan. Gimana caranya aku bisa kasih saran ke kamu?" ucap Nadira.
"Ya maksud aku, saran supaya aku gak gugup gitu besok pas presentasi. Kamu kan udah pengalaman nih soal begituan, jadi pasti tau." ucap Ghazi.
"Oalah, iya itu mah gampang kok. Kamu intinya pede aja kalau hasilnya bakal bagus, nanti juga gak akan gugup lagi kok." saran Nadira.
"Gitu ya?" tanya Ghazi.
"Iya gitu, maaf ya aku gak bisa lama-lama ngobrol sama kamu! Ini aku harus lanjutin ngetiknya, kamu juga kerjain aja tugas kamu gih!" ucap Nadira.
"Iya iya.." ucap Ghazi mengangguk kecil.
Ghazi membuka tasnya untuk mengambil laptop, namun tetap saja pandangannya terus mengarah pada wajah Nadira yang memang selalu membuat ia terpesona.
"Gila cantik banget emang si Nadira! Gue jadi makin jatuh cinta sama dia! Kira-kira dia mau gak ya gue ajak ngedate nanti malam?" batin Ghazi.
"Eee Nadira..." ucap Ghazi pelan.
"Ya?" ucap Nadira tanpa menoleh.
"Kamu nanti malam ada acara gak?" tanya Ghazi.
"Oh, enggak tuh. Emangnya kenapa?" jawab Nadira.
"Wah kebetulan dong! Kira-kira kamu mau gak ikut sama aku nanti malam?" ucap Ghazi.
"Kemana?" tanya Nadira penasaran.
"Eee kebetulan teman aku ada yang ngadain pesta, terus dia undang aku. Tapi, dia bilang katanya aku harus bawa pasangan supaya bisa ikut pesta. Nah yang jadi masalah, aku bingung mau ajak siapa. Kamu mau gak jadi pasangan aku buat pesta nanti malam?" jelas Ghazi.
"Hah??" Nadira terbelalak lebar mendengar ucapan Ghazi.
"Kenapa Nadira?" tanya Ghazi bingung.
Nadira memalingkan wajahnya, ia nampak bingung dan berpikir sejenak harus menjawab apa.
"Duh, gimana ini?" batin Nadira.
•
•
Albert yang berada di kantornya, tampak masih memikirkan masalah Vanesa yang sedang ia sembunyikan dari Nadira.
"Gimana ya kalau misalnya Nadira tahu semuanya? Apa dia bakal marah besar?" batin Albert.
Albert mengusap wajahnya kasar, memijat keningnya yang terasa pusing akibat terlalu banyak memikirkan masalahnya.
TOK TOK TOK...
"Ya masuk!" ucap Albert sedikit berteriak.
Ceklek...
"Hai Albert!"
Albert terkejut hebat mendengar suara wanita yang datang ke ruangannya itu, ia spontan menoleh ke asal suara dan langsung melongok lebar begitu melihat wanita di depannya.
"Kamu?" ucap Albert dengan mata melotot dan mulut yang terbuka.
"Iya Albert, ini aku. Kamu apa kabar? Aku lihat-lihat kamu makin sukses aja sekarang!" ucap wanita itu.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Carolina datang dan masuk ke ruangan Albert dengan wajah panik, ia seperti ketakutan karena gagal mencegah wanita itu masuk kesana.
"Maaf pak! Tadi saya sudah coba cegah mbaknya buat masuk, tapi dia memaksa." ucap Carolina.
"Gapapa, kamu pergi aja dan lanjutin kerja kamu!" ucap Albert.
"Baik pak!" ucap Carolina.
Carolina pun pergi dari ruangan itu, sedangkan si wanita yang tadi datang kini telah duduk di hadapan Albert sambil tersenyum renyah.
"Kamu mau apa kesini, Nasya?" tanya Albert pada wanita itu.
"Enggak ada apa-apa kok, aku cuma pengen lihat-lihat aja kantor kamu ini. Ternyata bagus banget ya?" jawab wanita bernama Nasya itu.
"Nasya, kamu gak perlu basa-basi lagi sama saya! Katakan saja apa mau kamu!" pinta Albert.
"Ahaha, kamu emang paling paham deh tentang aku Bert!" ucap Nasya.
"Iya, cepatlah katakan itu! Saya gak punya banyak waktu buat ladenin kamu, saya masih banyak kerjaan!" ucap Albert.
"Iya iya Albert, kamu sabar dong!" ucap Nasya.
"Sebelum aku bilang yang aku mau, aku pengen tanya dulu deh sama kamu." sambungnya.
"Apa?" ucap Albert penasaran.
"Kamu apa kabar, Bert? Sombong banget sih, tiap kali aku chat atau dm pasti selalu gak dibalas. Mentang-mentang udah sukses, teman lama dilupain gitu aja." ujar Nasya.
"Gak ada yang lupain kamu, saya cuma lagi sibuk aja dan gak sempat buat balas chat kamu." ucap Albert mengelak.
"Oh gitu, it's okay." ucap Nasya tersenyum.
"Ya, lalu apa mau kamu?" tanya Albert.
"Eee kita kan udah temenan lama banget nih, dari jaman masih sekolah dulu. Jadi, kamu kira-kira ada kerjaan gak buat aku, Bert?" jelas Nasya.
"Apa? Kerjaan? Kamu jadi datang ke kantor saya, cuma buat minta kerjaan?" ujar Albert terkejut.
"Iya Bert, aku butuh banget kerjaan tau. Aku udah keliling-keliling kesana-kemari buat dapat pekerjaan, tapi selalu gagal. Cuma tempat ini satu-satunya harapan terakhir aku, kamu bisa kan kasih aku kerjaan?" ucap Nasya.
"Emang kamu lulusan apa?" tanya Albert.
"Ya kamu kayak gak tahu aja, aku lulusan SMA dong." jawab Nasya sambil tersenyum.
"Hah? Kamu gak lanjut kuliah?" tanya Albert.
"Enggak, aku males. Selain itu, aku juga gak punya uang banyak buat bayar biaya kuliah. Makanya aku langsung mau cari kerja," jawab Nasya.
"Jaman sekarang mana ada sih perusahaan yang mau terima lulusan SMA kayak kamu? Pantas aja kamu selalu ditolak dimana-mana," ujar Albert.
"Iya aku tahu, tapi kalau disini gak mungkin kan aku ditolak?" ucap Nasya sambil nyengir.
"Yah, berarti kamu gak bisa bantu aku nih?" tanya Nasya cemberut.
"Bisa kok, masih ada tempat yang cocok buat kamu." jawab Albert.
"Apa tuh?"
"Office girl."
•
•
Saat hendak pulang, Nadira lagi-lagi justru bertemu dengan Ghazi yang kebetulan juga sedang lewat di depannya.
Ghazi pun sengaja menghentikan motornya di depan Nadira, ia berniat mengajak wanita itu pulang bersamanya.
"Hai Nadira! Kamu mau pulang ya?" ucap Ghazi.
"Eh Ghazi, iya nih aku mau pulang." jawab Nadira.
"Pas banget kalo gitu, kita bareng aja yuk! Kebetulan jok belakang aku kosong nih," ujar Ghazi.
"Eee gausah Ghazi, aku udah minta jemput kok. Sebentar lagi paling jemputan aku datang," ucap Nadira.
"Ohh, jadi kamu nolak tawaran aku buat antar kamu pulang nih?" ujar Ghazi.
"Iya Ghazi, sorry banget ya! Bukan maksud aku bikin kamu sedih, tapi aku udah terlanjur minta dijemput." ucap Nadira.
"Yaudah, gapapa kok. Tapi, aku boleh kan temenin kamu disini sampai jemputan kamu datang?" ucap Ghazi.
"Emangnya kenapa? Kalau kamu mau pulang, pulang aja duluan!" ucap Nadira.
"Enggak Nadira, aku mau tungguin kamu aja disini sampai jemputan kamu datang." kata Ghazi.
"Terserah kamu aja deh!" ucap Nadira.
Ghazi pun tersenyum lebar, ia turun dari motornya dan berdiri di sebelah Nadira cukup dekat.
Nadira hanya bisa diam membiarkan Ghazi berada di sampingnya, walau ia merasa agak risih.
"Duh, ngapain sih Ghazi pake dekat-dekat segala?!" batin Nadira.
Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di dekat keduanya.
Nadira tercengang karena yang datang bukanlah supirnya, melainkan Albert suaminya.
Albert pun turun dari mobilnya, ia langsung menatap tajam ke arah Nadira serta seorang pria yang berdiri di sebelahnya.
"Eh Dira, supir kamu udah dateng tuh. Dia yang mau jemput kamu kan?" ujar Ghazi.
__ADS_1
"Hah? Ka-kamu bicara apa sih? Dia bukan supir aku, dia itu—"
"Saya suaminya," potong Albert dengan tegas.
Sontak Ghazi terkejut mendengarnya, ia tak percaya jika Nadira telah memiliki suami.
"Hah? Suami? Masa sih?" tanya Ghazi.
"Ya, saya suaminya. Anda ini siapa? Ngapain anda ada di dekat istri saya? Apa anda tidak tahu jika mendekati istri orang itu adalah sebuah kejahatan?" ujar Albert.
"Mas, jangan marah dulu! Ghazi ini teman aku kok, dia gak ada maksud apa-apa juga." ucap Nadira.
"Nadira, dia benar suami kamu? Kamu udah nikah?" tanya Ghazi berbisik di telinga Nadira.
Nadira mengangguk pelan.
Ghazi pun langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan, ia syok berat karena ternyata wanita yang ia sukai sudah menjadi istri orang.
"Ayo Nadira, kita pulang sekarang!" ucap Albert.
"I-i-iya mas.." ucap Nadira menurut.
Albert langsung menggandeng lengan Nadira, menatap sekilas ke arah Ghazi sebelum pergi bersama Nadira menuju mobilnya.
Setelah Nadira dan Albert pergi, Ghazi masih tetap berdiam diri disana mencoba menerima fakta bahwa Nadira sudah menikah.
"Haish, kok bisa-bisanya gue gak tahu kalau Nadira udah nikah? Mana suaminya kelihatan galak banget lagi, udah gitu kaya dan penampilannya juga keren banget." ujar Ghazi.
"Woi!" tiba-tiba Sabrina, Alea dan Caca muncul di dekatnya.
"Ya ampun, ngagetin aja lu pada!" geram Ghazi.
"Yeh suruh siapa lu bengong! Lagian ngapain lu berdiri disini?" ujar Sabrina.
"Kalian semua udah pada tahu, kalau Nadira udah nikah?" tanya Ghazi.
"Iya udah, terus kenapa?" ujar Sabrina.
"Hadeh, berarti gue yang ketinggalan berita!" batin Ghazi.
•
•
Saat ini Albert dan Nadira sudah berada di dalam mobil menuju ke rumah.
Tampak Albert masih belum bisa melupakan apa yang ia saksikan di kampus tadi.
Nadira pun tahu betul kalau suaminya saat ini tengah marah padanya.
"Mas, kamu masih marah ya?" tanya Nadira.
"Ya jelaslah! Ngapain tadi kamu dekat-dekat sama cowok itu di kampus? Saya kan udah bilang dan peringati kamu, supaya kamu gak dekat sama cowok disana. Tapi, kenapa kamu malah punya teman cowok ha?" ucap Albert emosi.
"Iya mas, aku minta maaf! Aku tahu aku salah, jangan marah-marah gitu dong mas! Aku janji deh gak akan dekat sama cowok lagi!" ucap Nadira.
"Halah bohong! Mentang-mentang saya gak bisa pantau kamu di kampus, jadinya kamu bertindak seenaknya aja kayak gitu. Saya kecewa sama kamu Nadira!" ucap Albert.
"Mas, aku kan udah minta maaf! Tolong dong jangan dibahas lagi!" pinta Nadira.
"Saya akan terus bahas ini, sampai kamu menyesali perbuatan kamu. Saya gak mau kamu dekat dengan lelaki lain," ucap Albert.
"Aku udah nyesel kok mas, aku nyesel banget malah. Kamu nyeremin tau kalo lagi marah, aku gak akan ulangi kesalahan aku tadi!" ucap Nadira.
"Janji?" tanya Albert.
"Iya mas, aku janji!" jawab Nadira.
"Yaudah, awas aja ya kalau kamu ketangkap lagi dekat sama cowok lain! Saya pastikan kamu bakal nyesel dan saya gak akan bolehin kamu keluar rumah lagi nanti!" ujar Albert.
"Hah? Masa gitu sih mas? Iya deh iya, aku gak begitu lagi. Kamu jangan hukum aku ya mas!" ucap Nadira merengek ketakutan.
"Sure, kali ini saya maafkan kamu. Tapi, cowok tadi itu sebenarnya siapa kamu? Dia kelihatan kaget gitu pas tahu kamu punya suami," tanya Albert.
"Dia namanya Ghazi, mas. Aku kenal sama dia juga dari Sabrina, dia emang belum tahu kalau aku udah nikah. Makanya dia kaget tadi pas tahu itu semua," jelas Nadira.
"Ohh, bilang sama si Sabrina itu! Jangan suka kenalin kamu sama cowok-cowok di kampus!" ucap Albert.
"Iya mas," ucap Nadira pelan dan pasrah.
Albert pun menghela nafasnya, membuang muka dan kembali fokus ke jalan.
Nadira masih merasa tidak enak, ia pun menaruh tangannya di lengan Albert sambil mengelusnya.
"Mas, kamu jangan marah lagi dong!" pinta Nadira.
"Iya honey, saya udah gak marah kok. Mana bisa saya marah lama-lama sama istri saya yang cantik dan imut ini?" jawab Albert sambil mencubit pipi Nadira.
"Hahaha, bisa aja kamu mas!" ucap Nadira.
Nadira tersenyum senang dan memberanikan diri menyender di bahu suaminya, Albert langsung mengelus pipi istrinya dan mengecupnya lembut.
Namun, tiba-tiba Nadira tak sengaja mencium bau parfum wanita di jas milik suaminya. Ia pun menatap wajah Albert dengan curiga.
"Mas, ini wangi parfum siapa?" tanya Nadira.
"Hah??" Albert terkejut bukan main.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1