
Keesokan paginya, Nadira masuk ke kamar membawa jas hitam milik suaminya yang baru selesai dicuci.
Nadira pun langsung menghampiri Albert, tampak kalau pria itu sedang memakai celana dan kaosnya disana sehingga tak sadar dengan kehadiran Nadira.
"Mas!" Nadira memanggil suaminya dan berhenti tepat di samping sang suami.
Albert terkejut, ia menatap wajah Nadira dengan bingung karena saat ini ia belum selesai berpakaian.
"Sayang, kamu kenapa main masuk aja sih? Saya kan lagi pake baju, lihat nih!" ujar Albert.
"Iya, aku tahu. Aku kesini cuma mau kasih jas kamu yang kemarin aku cuci kok. Nih, jas ini udah aku cuci sampe bersih supaya gak ada bau cewek itu lagi yang nempel disini! Awas loh ya kalau nanti aku cium baunya lagi!" ucap Nadira.
"Iya sayang, makasih ya! Kamu emang terbaik deh istriku!" ucap Albert sembari mencubit pipi Nadira.
"Yaudah, kalo gitu aku keluar dulu ya? Kamu kalau udah selesai, langsung ke depan aja! Tadi kebetulan aku sama mbok Widya udah siapin sarapan buat kita," ucap Nadira.
"Okay! Eh ya saya mau bicara sesuatu sama kamu," ucap Albert memegang bahu istrinya.
"Bicara apa?" tanya Nadira penasaran.
"Nanti siang katanya Nadya, istri Devano teman saya mau main kesini. Ya saya kasih izin lah dia buat datang, sekalian temenin kamu. Hari ini kamu gak ada kuliah kan?" jelas Albert.
"Yah, aku baru aja mau bilang sama kamu mas. Jadi, tadi tuh dosen aku kasih tau kalau kelasnya dimajuin. Emang sih awalnya hari ini aku gak ada kelas, tapi karena dosennya minta dimajuin yaudah deh jadinya aku harus kuliah." ucap Nadira.
"Hah? Terus gimana dong? Mana saya udah terlanjur bilang iya lagi ke Devano, gak enak kalau saya tiba-tiba larang Nadya kesini!" ujar Albert.
"Umm, kamu bilang aja sama Nadya buat datang kesininya agak sorean aja pas aku udah pulang dari kampus. Jadi, dia tetap bisa kesini dan ketemu sama aku deh." usul Nadira.
"Iya deh, nanti saya bilang ke Devano soal itu. Yaudah, kamu boleh keluar sana!" ucap Albert.
"Ih kamu kok usir aku sih, mas?!" protes Nadira.
"Hah? Usir? Kok ngusir sih? Saya tuh bukannya ngusir kamu sayang, saya cuma persilahkan kamu buat keluar. Kan tadi kamu sendiri yang bilang pengen keluar, tapi kalau kamu masih mau disini yaudah terserah." ucap Albert.
"Halah alasan aja kamu mas! Bilang aja kamu emang gak mau lama-lama di dekat aku, makanya kamu usir aku deh dari sini!" cibir Nadira.
"Ya ampun! Kamu bicara apa sih sayang? Saya mah gak gitu orangnya," elak Albert.
"Ah masa?" ujar Nadira tak percaya.
"Yaudah, kamu disini aja jangan kemana-mana! Biar nanti kamu juga bisa lihat burung saya yang besar ini," ucap Albert tersenyum smirk.
"Hah??" Nadira melongok lebar mendengar itu.
Akhirnya Nadira berbalik dan pergi dengan langkah tergesa-gesa dari kamar itu.
Albert senyum-senyum saja seraya menggeleng pelan melihat tingkah istrinya.
"Gemesin banget emang Nadira!" ucapnya.
•
•
Cupp!
"Morning sayang!" Keenan masih berusaha membangunkan adiknya yang tertidur di sebelahnya cukup pulas.
Celine pun membuka matanya saat mendapati kecupan di bibir mungilnya.
Celine tampak mengusap-usap bibirnya sembari menatap wajah Keenan dengan keheranan.
"Kamu ngapain cium-cium aku? Terus, ini kenapa pake tindih tubuh aku kayak gini? Kamu mau berbuat mesum ya?" ujar Celine.
"Hus sembarangan aja kalo ngomong! Emang kamu lupa? Kan semalam aku tidur disini sama kamu, kamu juga yang kasih izin ke aku. Jadi, gak salah dong kalau aku tidur disini." ucap Keenan.
"Iya aku inget, tapi kan kamu gak harus tindih tubuh aku kayak gini juga. Kamu kan tau aku gak pake dalaman, sakit tau rasanya ditindih sama kamu!" ucap Celine.
"Gapapa, enak kok." ujar Keenan sambil nyengir.
"Ih kakak mah ngada-ngada! Udah bangun ah, berat tau!" ucap Celine.
"Hehe iya iya.."
Keenan tertawa kecil dan akhirnya bangkit dari atas tubuh adiknya.
Keenan kini berdiri di samping Celine, sedangkan gadis itu masih terduduk di pinggir ranjang.
"Hooaaammhh.." Celine menguap lebar.
"Kalo nguap itu tutup! Inget dong pesan mama dulu, gak sopan tau kayak gitu apalagi di depan kakaknya!" ucap Keenan.
"Iya iya, aku minta maaf kak!" ucap Celine.
"Yaudah, kamu mandi gih sana! Hari ini kan katanya kamu ada pemotretan, nanti telat loh kalo gak siap-siap dari sekarang!" ujar Keenan.
"Santai aja kali kak! Aku mah mandinya gak lama kali, siap-siap juga cuma sebentar." kata Celine.
"Hilih sebentar apanya?! Waktu itu aja aku tungguin kamu sampai hampir dua jam," ucap Keenan.
"Itu mah jam kakak yang eror, aku mana pernah siap-siap sampe berjam-jam." elak Celine.
"Terserah kamu aja deh! Aku mah selalu ngalah kalau sama kamu, karena kamu terlalu gemesin dan bikin aku cinta!" ucap Keenan.
"Ah bisa aja kakak!" ucap Celine tersipu.
"Oh ya, kamu kira-kira siapnya kapan nih buat aku nikahin?" tanya Keenan sembari mencolek pipi adiknya.
__ADS_1
"Hah? Eee..." Celine terkejut dan tampak bingung harus menjawab apa.
"Udah, kamu gausah mikir kelamaan! Aku tahu kok jawabannya, pasti kamu siap kan?!" ujar Keenan.
"Apa sih kak?! Kita bahas itu nanti aja, sekarang aku mau mandi dulu. Kakak mending keluar deh, aku soalnya mau buka baju!" ucap Celine.
"Kamu mau buka baju?" tanya Keenan.
"Iya kak, kenapa sih?" jawab Celine.
"Sini aku bantu bukain aja biar cepet!" ucap Keenan.
"Ish apa sih?! Aku gak mau!" ujar Celine.
"Lah kenapa? Cuma bantu bukain kok, lagian kita udah pernah saling lihat tubuh polos kita satu sama lain kali. Mandi bareng aja pernah dulu, ya kan?" ucap Keenan.
"Ya tapi gak gitu juga kali kak, udah deh jangan ngada-ngada!" ucap Celine.
"Hahaha, iya iya.." Keenan justru tertawa sembari mengusap puncak kepala adiknya.
"Udah, kakak keluar sana!" pinta Celine.
"Oke! Tapi, nanti abis mandi aku kesini lagi ya? Aku pengen ciumin tubuh kamu yang wangi itu, soalnya enak banget sih." ujar Keenan.
"Iya kak, terserah kakak aja!" ucap Celine.
Keenan tersenyum lebar, lalu menarik dagu Celine dan mengecup bibirnya lembut.
Cupp!
"I love you so much!" ucap Keenan.
"Love you too, kak.." balas Celine.
•
•
Nadira sudah berada di kampusnya, bersiap mengikuti kelas yang dimajukan oleh dosennya.
Nadira memang tidak diantar oleh Albert, lantaran suaminya itu harus segera pergi ke kantor.
Namun, Nadira tetap harus ditemani oleh pak Liam selaku penjaga pribadinya.
"Huh semoga dosennya belum sampe deh!" ucap Nadira sambil melangkah tergesa-gesa.
"Nadira!"
Tiba-tiba saja ada yang memanggilnya, Nadira pun terkejut lalu menoleh ke asal suara dan melihat ketiga temannya disana.
"Hai Nadira! Lu mau kemana sih buru-buru begitu? Kita kantin kuy!" ujar Sabrina.
"Duh, maaf aku gak bisa! Aku ada kelas nih sebentar lagi, sorry ya!" ucap Nadira.
"Yah padahal kita mau senang-senang bareng lu, tapi gapapa deh kan kuliah lebih penting." ucap Sabrina.
"Betul tuh! Yaudah, lu buruan gih ke kelas sana sebelum terlambat! Tapi, nanti kalo udah selesai langsung temuin kita ya di kantin!" sahut Caca.
"Siap Caca!" ucap Nadira sambil tersenyum.
Mereka pun berpisah, Nadira pergi menuju kelasnya, sedangkan ketiga gadis itu pergi ke kantin seperti yang mereka katakan tadi.
Singkatnya, Nadira telah menyelesaikan kelasnya dan ia sangat senang karena kini ia bisa berkumpul dengan teman-temannya di kantin.
Akan tetapi, saat Nadira hendak ke kantin, ia justru bertemu dengan Ghazi. Mereka saling menatap satu sama lain, dan Ghazi pun tampak canggung saat bertemu Nadira disana.
"Nad, halo!" ucap Ghazi menyapa Nadira.
"Iya, halo juga!" balas Nadira.
"Eee kamu udah mau pulang?" tanya Ghazi.
"Belum sih, aku pengen ke kantin dulu." jawab Nadira.
"Ohh, aku boleh ikut gak? Ada yang pengen aku obrolin sama kamu sebentar," ucap Ghazi.
"Boleh aja, lagian disana juga ada Sabrina sama yang lain kok." ucap Nadira.
"Hah? Ada Sabrina??" ujar Ghazi terkejut.
"Iya, dia kan teman kamu juga. Emang kamu gak mau ngobrol sama dia?" ucap Nadira.
"Bukan begitu, tapi aku cuma pengen ngobrol berdua sama kamu." kata Ghazi.
"Oh gitu, ngobrolin soal apa emang?" tanya Nadira.
"Umm, biar aku langsung jelasin aja ke kamu. Gimana kalau kita duduk disini dulu?" ucap Ghazi.
"Ya, boleh." ucap Nadira mengangguk kecil.
Ghazi tersenyum, lalu mereka pun duduk berdampingan di kursi yang tersedia.
Nadira menatap wajah Ghazi, sedangkan pria itu justru membuang muka.
"Kamu mau bicara apa?" tanya Nadira penasaran.
"Eee begini Nadira, aku pengen pastiin aja ke kamu. Emangnya benar ya kamu udah nikah? Terus, yang kemarin jemput kamu itu suami kamu?" ucap Ghazi dengan gugup.
__ADS_1
"Benar kok, dia emang suami aku. Namanya mas Albert, dan dia selalu antar jemput aku setiap aku ke kampus." ucap Nadira.
"Ohh, berarti pupus dong harapan aku." ujar Ghazi.
"Hah? Harapan apa?" ucap Nadira terkejut.
"Ah enggak, abaikan aja! Aku cuma bingung, kenapa kamu gak pernah bilang ke aku kalau kamu udah punya suami?" ucap Ghazi.
"Kamu gak pernah tanya, buat apa aku bilang duluan? Nanti aku disangka pamer atau sombong lagi," ucap Nadira dengan santai.
"Ya gak akan lah Nadira, justru kalo kamu bilang sama aku pasti aku gak bakal berharap." ucap Ghazi.
"Sebenarnya kamu kenapa sih? Kamu berharap apa dari aku?" tanya Nadira kebingungan.
Ghazi langsung menutup mulutnya, ini sudah kali kedua ia keceplosan dan hampir saja Nadira tahu bahwa ia berharap menjadi kekasih Nadira.
•
•
Disisi lain, Albert tengah memantau jalannya proses pemotretan untuk produk terbaru miliknya.
Celine pun sudah tampil anggun dan cantik di depan sana, bersiap untuk difoto.
Albert tersenyum lebar, ia tak menyangka Celine ternyata bisa secantik itu.
Saat tengah asyik memandangi tubuh Celine, tiba-tiba saja Keenan mendekat ke arahnya.
"Permisi tuan!" ucap Keenan.
"Eh?" Albert terkejut dan spontan bergeser menjauh dari Keenan. "Loh Keenan? Kamu ada disini juga?" ucapnya bertanya pada Keenan.
"Iya tuan, saya kan antar adik saya kesini. Sekalian saya juga mau lihat gimana sih dia kalau lagi pemotretan," jawab Keenan.
"Oalah, pantas aja daritadi saya perhatikan Celine itu kayak senang banget. Eh ternyata ada orang kesayangannya disini," ujar Albert.
"Hahaha, tuan bisa aja.." ucap Keenan.
"Kamu gak perlu panggil saya tuan lagi! Kamu kan sudah bukan asisten saya, jadi kamu bisa panggil saya Albert atau apalah itu terserah kamu!" ucap Albert.
"Maaf tuan! Tapi, saya gak bisa melepas panggilan tuan saat saya memanggil tuan." ucap Keenan.
"Yasudah, terserah kamu aja!" ucap Albert.
"Baik tuan! Terimakasih!" ucap Keenan.
"Oh ya, apa kamu sudah dapat pekerjaan baru?" tanya Albert pada Keenan.
"Umm, belum tuan." jawab Keenan menggeleng.
"Ahhh ya memang mencari pekerjaan di jaman sekarang itu sulit, jika kita gak punya keahlian yang mumpuni atau kenalan orang dalam, pasti akan sangat sulit mendapatkan pekerjaan." ucap Albert.
"Ya, itu betul tuan!" ucap Keenan.
"Tapi, kamu kan berbeda Keenan. Kamu itu terampil dan track record kamu juga bagus, pasti banyak perusahaan yang mau mendapatkan kamu!" ucap Albert.
"Ah gak juga tuan, saya sampai sekarang belum bisa bekerja lagi seperti dulu." ucap Keenan.
"Sabar aja! Mungkin belum waktunya kamu bekerja lagi, jadi untuk sekarang ini kamu fokus sama Celine aja dulu." saran Albert.
"Siap tuan!" ucap Keenan.
Lalu, Devano selaku sahabat Albert pun tiba di dekat-dekat mereka.
"Wah ternyata udah pada disini!" ucap Devano.
"Eh pak Vano, iya dong saya kan harus pastikan semuanya berjalan lancar sesuai rencana kita." ucap Albert sambil tersenyum.
Mereka saling berjabat tangan, tak lupa Devano juga bersalaman dengan Keenan disana.
"Hey Keenan! Apa kabar kamu? Lama sekali saya gak dengar kabar kamu, baik-baik aja kan?" ucap Devano.
"Alhamdulillah pak, saya baik!" jawab Keenan.
"Ya syukurlah kalau gitu! Terus, sekarang kamu balik lagi dong jadi asistennya Albert disini?" tanya Devano.
"Enggak pak, saya sekarang ini masih menganggur." jawab Keenan.
"Oh ya? Masa sih? Memangnya kamu gak kasih kerjaan buat Keenan, Bert? Dia itu kan asisten terbaik kamu, banyak sekali loh jasanya buat kamu." ujar Devano keheranan.
"Saya sudah tawarkan kerjaan buat dia, supaya dia bisa kembali jadi asisten saya disini. Tapi, Keenan menolak dengan alasan dia gak mau bikin orang lain kehilangan pekerjaannya." jelas Albert.
"Hah? Yang benar Keenan?" ucap Devano kaget.
"Iya pak, saya emang gak mau merebut rezeki orang. Mungkin saya juga butuh kerjaan, tapi saya akan berusaha cari kerja di tempat lain yang memang masih benar-benar membutuhkan tenaga saya." ucap Keenan.
"Waduh sayang banget dong kalo Albert lepas orang sebaik kamu! Yasudah, gimana kalau kamu kerja saja di perusahaan saya?" ujar Devano.
Keenan langsung terkejut bukan main, "Beneran pak?" tanyanya pada Devano.
"Iya, saya gak pernah bercanda kalau urusan kerjaan. Jadi, gimana Keenan? Apa kamu mau terima tawaran saya ini?" ucap Devano.
"Eee sa-saya..." Keenan tampak gugup dan bingung.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1