
Vanesa dan Albert sudah berada di dalam ruang pemeriksaan kandungan, terlihat Vanesa juga tengah berbaring disana memandang ke arah layar monitor di sampingnya.
Albert cukup serius memperhatikan layar tersebut dimana memperlihatkan sosok janin calon anaknya disana.
Tentu saja Albert merasa bahagia dengan itu, biarpun ia tahu itu adalah anak hasil dari hubungan tidak benarnya dengan sang sekretaris.
Sementara Vanesa juga turut bahagia menyaksikan Albert tampak tersenyum, ia tak menyangka hari ini akan tiba setelah berhari-hari lalu ia terus mencoba merayu Albert tetapi gagal.
Setelah semua proses pemeriksaan itu selesai, dokter pun pergi meninggalkan mereka berdua disana.
Albert beralih menatap ke arah Vanesa dengan membawa hasil scan USG di tangannya, ia menunjukkan itu kepada Vanesa disertai senyum yang melingkar di bibirnya.
"Lihat ini Vanesa, anak kita sehat! Ini semua berkat kamu yang selalu bisa menjaga kesehatan, terimakasih ya Vanesa!" ucap Albert.
"Enggak Albert, aku gak ngapa-ngapain kok. Aku cuma beraktivitas seperti biasa, dan aku juga gak nyangka kalau anak aku baik-baik aja. Padahal tadinya aku kira dia mungkin terkena masalah, tapi syukurlah ternyata itu gak terjadi!" ucap Vanesa.
"Lain kali kamu gak boleh ngira kayak gitu! Kita ini harus berprasangka yang baik-baik!" ucap Albert.
"Iya Albert, aku minta maaf! Oh ya, terimakasih ya karena kamu udah mau temenin aku cek up ke dokter hari ini! Aku gak nyangka banget kamu mau temenin aku disini!" ucap Vanesa tersenyum.
"Tidak perlu berterimakasih, ini sudah tugasku sebagai seorang ayah. Aku akan temani kamu sampai buah hati kita lahir ke dunia nantinya, aku gak mau dia lahir tanpa seorang ayah!" ujar Albert.
"Itu yang aku khawatirkan dari kemarin," ucap Vanesa.
"Sekarang kamu gak perlu khawatir lagi, udah ada aku disisi kamu!" ucap Albert.
Vanesa mengangguk pelan, Albert tersenyum mengusap kening Vanesa sembari duduk di samping wanita itu dan menghela nafasnya.
"Aku mau minta sesuatu sama kamu," ucap Albert.
"Apa itu, Albert?" tanya Vanesa penasaran.
"Tolong kamu ikut denganku, dan kita sama-sama besarkan anak ini! Kamu jangan lagi mau diatur oleh papa kamu yang gak benar itu! Aku yakin sebenarnya kamu orang baik, untuk itu aku minta kamu buat menjauh dari papa kamu!" jelas Albert.
Sontak Vanesa terkejut mendengar permintaan yang dilontarkan Albert, tak mungkin tentunya seorang anak menjauhi papanya, apalagi Harrison adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki.
"Kamu bicara apa sih? Aku gak mungkin jauh dari papa aku!" tolak Vanesa.
"Kenapa? Kamu takut gak punya keluarga atau gak ada yang urus kamu? Tenang aja Vanesa, ada aku kok!" ujar Albert memaksa.
"Bukan itu, tapi..." Vanesa menggantung ucapannya dan membuang muka.
"Tapi apa? Itu semua sih terserah kamu, keputusan ada di tangan kamu mau pilih sama aku atau papa kamu. Tapi, aku peringati kamu kalau aku akan bawa papa kamu itu dan tahan dia di suatu tempat untuk membayar dosa-dosanya kepada aku. Jadi, kalau kamu mau ikut sama papa kamu itu ya terserah." kata Albert.
"Hah? Enggak Albert, tolong jangan bawa papa aku! Cuma papa yang aku punya sekarang, aku gak ada siapa-siapa lagi disini. Aku mohon sama kamu Albert, maafkan kesalahan papa selama ini ke kamu!" ucap Vanesa merengek.
"Tidak bisa Vanesa, aku gak mau sesuatu yang buruk terjadi lagi di kehidupan aku. Untuk meminimalisir semua itu, aku harus tangkap papa kamu termasuk kamu! Ya kecuali kamu mau janji sama aku untuk berubah, maka aku bisa beri kamu kesempatan." ucap Albert.
"Kenapa kamu gak mau kasih kesempatan buat papa aku juga?" tanya Vanesa bingung.
"Aku gak ada kesalahan sama dia, Vanesa. Aku begini ke kamu untuk menebus semua kesalahan yang udah aku perbuat sama kamu, karena aku kan yang udah menghamili kamu." jawab Albert.
Vanesa terdiam bingung, ia berpikir sejenak harus melakukan apa saat ini.
•
•
Disisi lain, Harrison tengah melarikan diri bersama Zayn untuk mencegah kemungkinan buruk yang akan terjadi pada mereka.
Ya Harrison khawatir jika Albert sedang menyusun sesuatu untuk bisa menangkap mereka saat ini, mengingat pria itu telah mengetahui lokasi tempat dia tinggal.
Tampak kepanikan terpampang di wajah Harrison, pria itu bahkan terus menoleh ke belakang untuk memastikan apakah ada yang mengejarnya atau tidak.
"Zayn, ayo lebih cepat lagi! Kita harus segera tinggalkan kota ini, sebelum Albert menangkap kita!" titah Harrison.
"Siap bos!" ucap Zayn menurut.
Zayn menambah kecepatan mobilnya, namun sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi pada mereka ketika tiba-tiba sebuah mobil berhenti di hadapan mereka.
Ciiitttt...
Zayn reflek menginjak rem secara mendadak, hingga hampir saja keduanya terpental ke depan.
"Duh, kamu ini gimana sih Zayn?!" protes Harrison.
"Maaf bos! Tapi, itu di depan ada mobil yang berhenti dan halangin jalan kita. Kayaknya dia salah satu orang suruhan Albert deh bos," jelas Zayn.
"Hah? Serius kamu Zayn?" ujar Harrison kaget.
"Sepertinya bos, tapi saya juga tidak tahu pasti. Sebaiknya bos cek sendiri saja keluar!" ucap Zayn.
"Apa? Kenapa harus saya? Kamu dong yang cek sana! Saya ini kan bos kamu, masa iya saya yang harus turun?!" protes Harrison.
"Maaf bos! Untuk yang kali ini saya tidak bisa bantu, saya gak mau ikut-ikutan bos!" ujar Zayn.
"Ah pengecut kamu! Ayo cepat turun sana, atau saya tidak akan bayar gaji kamu!" ancam Harrison.
"Waduh makin bingung deh nih! Iya deh bos, saya turun nih sekarang. Tapi, kalau itu emang orang suruhan Albert gimana bos? Saya bisa ditangkap dong bos," ujar Zayn ketakutan.
__ADS_1
"Sudah, kamu cek saja dulu sana! Siapa tahu itu hanya orang biasa, jangan takut!" ucap Harrison.
"Ba-baik bos!" ucap Zayn.
Zayn pun turun dari mobil dengan perasaan cemas, ia menghela nafas sejenak untuk menenangkan diri sebelum lanjut melangkah mendekati mobil yang berhenti di depan sana.
Sementara Harrison hanya memantau dari dalam mobilnya, ia sendiri pun khawatir jika benar mobil di depan adalah orang suruhan Albert.
"Heh! Siapa anda? Kenapa anda mencegah jalan kami?" tanya Zayn pada seseorang yang berdiri membelakanginya.
Tiba-tiba saja, dua orang pria membekap mulut Zayn dengan kain dari belakangnya.
"Mmppphhh mmppphhh.." Zayn berusaha berontak dan melawan, namun ia kalah kuat dibandingkan kedua pria itu.
Harrison yang melihatnya tampak syok dan melotot lebat, ia semakin takut untuk turun keluar melihat Zayn sudah tak berdaya akibat ulah dua orang pria itu.
Setelah Zayn pingsan dan dibawa masuk ke dalam mobil hitam misterius itu, tampak seseorang yang tadi berdiri membelakangi Harrison kini berbalik dan menunjukkan wajahnya.
Harrison cukup terbelalak melihat siapa sosok yang ada di depannya itu.
"Darius? Sial! Jadi, dia sekarang sudah bekerjasama dengan Albert?" ujar Harrison.
Tampak Darius mulai melangkah maju mendekat ke arah mobil Harrison, bahkan di samping kanan dan kiri mobil itu juga sudah dijaga oleh para orang misterius yang memakai masker.
"Tamat riwayatku!" ucap Harrison semakin ketakutan.
•
•
Cakra tiba di depan rumah Albert, membuka kaca mobilnya itu dan melihat ke arah rumah tersebut sambil membuka kacamatanya.
"Nadira, kenapa sih kamu lebih pilih Albert daripada aku? Apa kurangnya aku coba?" ujarnya.
"Padahal aku ingat betul, dulu itu kamu dan aku saling mencintai satu sama lain. Tapi, kenapa semuanya dengan cepat berubah sejak kedatangan Albert?" sambungnya.
Cakra terus memukul-mukul setirnya meluapkan emosi yang ia rasakan saat ini akibat perbuatan Albert merebut Nadira darinya.
"Aaarrgghh Albert sialan...!!" geram Cakra.
Tak lama kemudian, terlihat seseorang keluar dari dalam rumah itu.
Cakra pun menatapnya menelisik, ia tahu bahwa yang ada di depan sana adalah Chelsea.
"Itu kan adiknya Albert, gue harus coba temuin dia! Mungkin gue bisa pengaruhi dia supaya mau bantu gue balikan sama Nadira, ya walau kemungkinan itu kecil banget sih." ujar Cakra.
Cakra turun dari mobilnya dengan masker yang masih terpasang di wajahnya.
Sontak saja Chelsea terkejut, lalu menoleh ke asal suara dan sedikit syok melihat kehadiran laki-laki misterius di dekatnya.
"Kamu siapa?" tanya Chelsea heran.
"Ikut dulu yuk sama aku! Nanti aku jelasin ke kamu disana," pinta Cakra.
"Gak, aku gak mau!" Chelsea menolaknya.
"Please lah, ikut aja sebentar doang kok! Aku janji gak bakal apa-apain kamu, lagian kan deket dari rumah kamu!" paksa Cakra.
"Aku bilang enggak ya enggak! Emangnya kamu itu siapa sih? Mau apa kamu datang ke rumah aku?!" geram Chelsea dengan suara keras.
"Kalau kamu penasaran dan pengen tahu, ayo kita bicara di dekat mobil aku! Kamu lihat kan di depan sana? Nah, itu mobil aku. Gak jauh kan dari sini? Kamu gausah takut, Chelsea!" ucap Cakra.
"Darimana kamu tahu nama aku? Sebenarnya kamu siapa sih?" tanya Chelsea bingung.
"Aku kan udah bilang Chelsea, aku bakal jelasin semuanya ke kamu disana." ucap Cakra santai.
"Haish, ribet banget sih kamu! Tinggal bilang aja siapa kamu apa susahnya coba?!" ujar Chelsea.
"Aku gak mau aja bicara disini, takutnya ada orang lain yang dengar pembicaraan kita. Soalnya ini sangat-sangat penting!" ucap Cakra.
"Apa sih yang penting banget?" tanya Chelsea.
"Makanya kamu ikut sama aku, nanti juga kamu bakal tahu sendiri." jawab Cakra.
Chelsea semakin dibuat penasaran dengan kata-kata Cakra, ia berpikir sejenak untuk ikut dengan Cakra atau tidak.
Pasalnya, Chelsea khawatir jika ini adalah salah satu rencana kejahatan yang dibuat oleh Vanesa atau Harrison.
"Gimana? Mau gak?" tanya Cakra.
"Oke, aku mau." jawab Chelsea yakin.
Cakra tersenyum tipis yang tidak dapat dilihat oleh Chelsea karena wajahnya tertutup masker.
"Yaudah, ayo kita kesana sekarang!" ucap Cakra.
Chelsea mengangguk pelan, lalu pergi mengikuti Cakra melangkah menuju mobil pria itu yang terparkir di dekat sana.
Akan tetapi, tiba-tiba muncul suara teriakan yang memanggil nama Chelsea dan membuat wanita itu menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Non Chelsea, tunggu!" teriak orang itu.
Sontak Chelsea dan Cakra kompak berhenti disana, mereka menoleh secara bersamaan ke arah belakang.
"Pak Liam?" Chelsea menganga tipis saat melihat bodyguard di rumahnya itu.
"Ngapain sih dia pake muncul segala? Ganggu aja!" geram Cakra.
•
•
Darius berhasil membuka pintu mobil Harrison, ia tersenyum memandang wajah Harrison yang tengah ketakutan itu.
"Mau apa kau Darius? Jangan bilang kalau saat ini kau sudah bekerjasama dengan keponakan mu itu! Dasar pengkhianat!" ujar Harrison.
"Kenapa Harrison? Kau takut?" ucap Darius.
"Tidak, saya sama sekali tidak takut dengan anda! Saya hanya menyesal pernah bekerjasama dengan orang busuk seperti anda! Pantas saja selama ini rencana yang anda buat selalu gagal, ternyata anda memang hanya berpura-pura ingin menghancurkan Albert!" ucap Harrison.
"Tidak usah banyak bicara kau Harrison! Cepatlah ikut denganku, atau mereka yang akan menyeret kau secara paksa!" ancam Darius.
"Saya tidak akan mau ikut dengan orang sepertimu! Lebih baik saya mati disini, daripada harus ikut denganmu!" ucap Harrison menolak.
"Cih dasar bodoh! Walau kau mati sekalipun, Albert tidak akan mungkin membiarkan kau mati dengan tenang, Harrison! Jadi, sudahlah menyerah saja dan ikut dengan kami!" paksa Darius.
"Hahaha, kau bisa apa Darius? Saya tidak mau ikut dengan kalian!" ujar Harrison ketar-ketir.
"Baiklah, kami akan memaksa kau untuk ikut. Jangan salahkan kami bila kau terluka, Harrison!" tegas Darius.
"Kalian tidak akan bisa memaksaku!" ujar Harrison.
Tangan Darius mulai mendekat dan hendak meraih tubuh Harrison, begitupun dengan dua orang lainnya yang ingin menangkap Harrison.
Mereka berhasil melakukan itu dan membawa Harrison keluar dari mobilnya, tentu saja Harrison masih terus berusaha untuk melepaskan diri.
"Lepaskan saya, kau benar-benar pengkhianat Darius!" geram Harrison.
"Itu hanya akan terjadi di mimpimu, Harrison! Kau sekarang harus ikut dengan kami, tenang saja karena ini tidak akan sakit!" ucap Darius.
"Kurang ajar kau! Cepat lepaskan saya!" bentak Harrison yang tidak didengar oleh Darius.
Mereka berusaha menyeret Harrison menuju mobil yang sudah disediakan, namun Harrison tak semudah itu ditaklukkan.
Harrison berhasil melepaskan diri dengan cara menginjak kaki salah satu anak buah Darius, ia pun melayangkan sikutan di perut mereka lalu berlari kuat menjauhi mereka.
"Woi jangan lari...!!" teriak Darius.
"Kalian, cepat kejar dia!" perintah Darius pada para anak buahnya.
"Siap pak!" ucap salah seorang pria yang masih kesakitan.
Akhirnya terjadi kejar-kejaran disana, yang mana Harrison terus berusaha menjauh dari orang-orang yang mengejarnya itu.
"Saya harus bisa kabur dari sini!" ujarnya panik.
"Hey tunggu!" teriak orang yang mengejarnya dari belakang.
"Sialan memang si Darius itu!" umpat Harrison.
Tiba-tiba saja, mobil lainnya berhenti tepat di depan Harrison yang tengah berusaha melarikan diri.
Sontak pria tua itu terkejut dan reflek menghentikan larinya.
"Sial!" umpatnya.
"Hahaha, anda tidak bisa kemana-mana lagi Harrison. Sudahlah, menyerah saja!" ucap Darius di belakang sana.
Harrison tampak bingung, ia melihat seorang pria turun dari mobil di depannya dan itu adalah Albert.
"Albert?" Harrison semakin gemetar, kakinya seakan sulit untuk digerakkan saat ini.
"Don't panic, Mr Harrison! Saya berikan kesempatan bagi anda untuk menyerah, maka saya akan bawa anda secara baik-baik!" ucap Albert disertai senyum seringai nya.
"Omong kosong! Saya tidak akan pernah menyerah dengan anda, Albert!" teriak Harrison.
Harrison memilih kembali berlari dari sana, Darius dan anak buahnya pun reflek berusaha mengejarnya tetapi ditahan oleh Albert.
Tampak Albert mengambil senapan miliknya dari balik jas yang ia kenakan, lalu mengeker ke arah tubuh Harrison yang sedang berlari.
Dor!
Satu tembakan dilesakkan tepat mengenai punggung Harrison, dan pria tua itu spontan terjatuh ke aspal dengan posisi tengkurap.
"Papa!" Vanesa berteriak keras dari balik mobil, ia hendak turun menghampiri papanya namun ditahan oleh Keenan.
"Jangan keluar Vanesa! Sekarang anda sudah tahu kan siapa tuan Albert? Beliau bisa saja melakukan hal yang sama dengan anda, jika anda tidak mau menuruti perkataannya!" ucap Keenan.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...