
"Chelsea!" ucap Albert memanggil adiknya sembari duduk di kursi yang kosong tersebut.
Sontak Chelsea bergegas menoleh karena tak ingin membuat Albert kesal, biarpun dirinya masih merasa khawatir jika Albert akan memarahinya.
"Iya kak, ada apa?" tanya Chelsea pelan.
Albert tersenyum dan menggeser posisi duduknya lebih dekat dengan Chelsea.
Sementara Keenan tetap berdiri di dekat sana memperhatikan bosnya yang tengah bicara dengan Chelsea.
Sedangkan Nadira sendiri, ikut duduk di samping Albert dan terdiam mengamati pembicaraan antara sepasang adik-kakak itu.
"Kakak mau bicara sesuatu sama kamu, tolong kamu jujur sama kakak ya!" ucap Albert.
"Eee iya kak, aku usahain buat jujur. Emang kak Albert mau bicara soal apa?" ucap Chelsea.
"Semalam Nadira hampir kena begal di jalan oleh supir taksi yang dia tumpangi, tapi kebetulan dia ketemu sama mantannya sewaktu sekolah dan diantar pulang olehnya." kata Albert.
Chelsea manggut-manggut saja tanpa menatap wajah Albert.
"Yang mau kakak tanyakan sama kamu sekarang, apa ini semua sudah kamu atur dan kamu rencanakan dengan Vanesa? Karena menurut Nadira, dia pergi dari salon itu setelah dia bertemu dengan Vanesa disana." sambung Albert.
"Eee aku..." Chelsea terlihat bingung dan tubuhnya terus gemetar saat ini.
"Chelsea, ceritakan saja semuanya sama kakak kamu sekarang! Supaya masalah ini bisa cepat clear!" pinta Keenan.
"Ayo Chelsea, cepat katakan sama kakak sekarang juga! Kakak janji gak akan marahin kamu, asal kamu mau jujur sama kakak!" ucap Albert pada adiknya itu.
"I-i-iya kak, aku bakal jujur kok. Emang benar aku udah terlibat kerjasama dengan Vanesa dan papanya, aku akui itu." jawab Chelsea.
Wajah Albert seketika berubah terkejut, begitupun dengan Nadira yang sama sekali tak menyangka bahwa Chelsea berkomplot dengan Vanesa.
"Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Albert.
Chelsea mengambil nafas sejenak sebelum mulai bercerita pada kakaknya.
"Jadi begini kak, awalnya aku itu diajak sama om Darius buat kerjasama dengan Vanesa. Kebetulan aku emang gak suka banget sama mbak Dira sebelumnya, jadi ya aku iyain aja ajakan om Darius itu." jawab Chelsea.
"Lalu, om Darius minta aku buat jadi pancingan supaya mbak Dira mau keluar dari rumah dan nantinya Vanesa sama papanya bakal lebih muda buat culik mbak Dira terus jauhin mbak Dira dari kak Albert." sambungnya.
"Oh jadi ini semua ada sangkut pautnya sama om Darius juga? Emang sialan tuh orang! Dia benar-benar mau bikin kakak hancur, paman macam apa itu?!" geram Albert.
"Iya kak, emang om Darius yang udah pengaruhi aku. Tapi, ini salah aku sendiri juga yang mau-mau aja ikutin perintah mereka. Bahkan, semalam itu harusnya mbak Dira diculik sama pak Harrison begitu mbak Dira turun dari taksi. Ya beruntung aja ada orang yang bisa tolong mbak Dira," ucap Chelsea.
"Tapi kakak heran deh, darimana Cakra bisa tau kalau Nadira akan diculik? Apa jangan-jangan sebenarnya Cakra juga terlibat dalam rencana penculikan ini?" ujar Albert.
"Gak mungkin lah, mas! Kamu jangan asal tuduh gitu dong! Cakra itu baik loh, dia udah nolongin aku semalam." ucap Nadira membela Cakra.
"Bisa aja kan dia terlibat, buktinya dia bisa tau kalau kamu mau diculik. Kalau enggak, gimana caranya Cakra tau kamu ada di tempat itu? Pasti ini ada sangkut pautnya sama rencana penculikan itu!" ucap Albert.
"Aku juga heran sih, tapi tetap aja kamu gak boleh mikir negatif gitu sama dia!" ucap Nadira.
"Iya iya..." ucap Albert menurut.
•
•
Sementara itu, Harrison tampak geram dan emosi karena Darius tidak bisa dihubungi sampai sekarang.
Braakkk...
Ia menggebrak meja, menyingkirkan barang-barang yang ada di mejanya itu hingga berantakan.
"Sial! Kemana si Darius itu? Sudah berkali-kali saya coba menghubunginya, tetapi tidak kunjung diangkat olehnya!" geram Harrison.
"Maaf pak! Ada kemungkinan kalau pak Darius kabur karena beliau tidak mau terlibat lagi ke dalam urusan yang menyangkut Albert, dia itu kan pengecut bos." ucap Zayn yang ada disana.
"Entahlah, tapi kalau memang itu benar berarti dia sudah mempermainkan saya! Seenaknya saja kabur diwaktu yang tidak tepat, lihat aja pasti saya bakal balas tindakan dia ini!" geram Harrison.
"Tenang aja bos! Lagipula, kita gak terlalu butuh bantuan dia untuk melakukan rencana kita. Saya yakin, pasti kita bisa bawa pergi Nadira walau tanpa bantuan dia!" ucap Zayn.
"Ya, kau benar. Baiklah, saya akan rencanakan ulang penculikan Nadira. Dan kali ini saya mau semuanya berjalan lancar!" ujar Harrison.
"Baik bos!" ucap Zayn.
__ADS_1
Ceklek...
"Misi pah!" Vanesa membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan papanya itu.
"Iya, ada apa Vanesa?" tanya Harrison.
"Apa papa masih mau merencanakan penculikan Nadira kali ini? Papa gak kapok kalau rencana kita bakal gagal lagi?" ucap Vanesa bertanya pada papanya sembari duduk disana.
"Dengar sayang, tidak ada keberhasilan kalau kita tidak merasakan yang namanya kegagalan terlebih dahulu. Karena dari kegagalan itu kita bisa belajar, dan kita tidak boleh mengulangi kegagalan tersebut." ucap Harrison.
"Iya deh, papa emang paling jago berkata-kata. Jadi, gimana rencana papa selanjutnya supaya bisa culik Nadira?" ucap Vanesa.
"Eee papa masih pikir-pikir dulu, nanti papa kasih tahu ke kamu kalau udah ketemu." kata Harrison.
"Oke pah! Jangan lama-lama ya! Jujur aku udah gak sabar pengen lihat Nadira menderita, supaya dia bisa rasain gimana rasanya hamil tanpa seorang suami di sampingnya!" ucap Vanesa.
"Tenang aja sayang! Papa pastikan kamu bakal dapat keadilan sayang, karena papa juga gak terima Albert mencampakkan kamu begitu saja setelah dia menghamili kamu!" ujar Harrison.
"Makasih pah!" ucap Vanesa tersenyum.
Vanesa terlihat ceria dan mengusap-usap perutnya sembari berbincang pada anaknya di dalam rahim.
"Nak, kamu yang sabar ya! Sebentar lagi pasti kamu bakal dapat keadilan dari papa kamu itu, tenang ya anakku!" ucap Vanesa.
Melihat itu membuat Harrison merasa terharu dan kasihan karena putrinya benar-benar terluka akibat kesalahannya.
"Maafkan papa ya Vanesa, gara-gara niat papa yang ingin menghancurkan Albert, sekarang kamu jadi kena getahnya! Papa benar-benar menyesal telah menjadikan kamu sebagai senjata papa," gumam Harrison dalam hati.
Ditengah keheningan itu, tiba-tiba saja Zayn beranjak dari kursi dan membuat mereka terkejut.
"Maaf bos, bukan maksud saya merusak suasana! Tapi, saya mohon izin keluar dulu sebentar karena saya kebelet bos!" ucap Zayn sambil nyengir.
"Hadeh kamu ini, yasudah sana!" ujar Harrison.
"Hehe... oh ya non, non gak perlu sedih-sedih terlalu lama lagi! Kalau si Albert itu gak mau tanggung jawab, kan masih ada saya non. Saya bersedia kok!" ucap Zayn.
"Maksud kamu apa? Bersedia apa kamu, ha?" ujar Harrison beranjak dari kursinya.
"Eh hehe bercanda doang pak bos, jangan marah-marah begitu!" ucap Zayn nyengir.
•
•
Albert dan Keenan kembali mendatangi lokasi tempat Darius disekap, mereka berencana untuk membawa Darius menuju tempat Harrison berada karena Albert sudah tidak sabar lagi.
Sesampainya disana, terlihat kalau Darius masih tersungkur lemas dengan kondisi yang cukup mengenaskan, karena Darius masih dipasung oleh keponakannya sejak kemarin.
Tentu saja Albert langsung melangkah mendekati Darius sambil tersenyum smirk, diikuti oleh Keenan di belakangnya yang juga merasa puas setelah melihat penderitaan Darius.
"Halo paman! Apa kabar?" ucap Albert disertai seringaian tipis di bibirnya.
"Albert, cepat lepaskan paman dari sini! Paman sudah tidak kuat lagi terus-terusan berada di tempat ini, tolong lepaskan paman!" pinta Darius.
"Apa? Lepaskan paman? Yang benar saja paman, aku sudah susah payah tangkap paman loh. Masa iya aku lepasin gitu aja? Gak mungkin dong paman, rugi aku nantinya." kata Albert.
"Iya pak Darius, anda tidak akan semudah itu lepas dari sini. Jadi sebaiknya anda jangan terlalu banyak berharap, karena itu tak akan terjadi!" sahut Keenan.
"Kurang ajar! Kalian berdua itu memang sama-sama kejam! Ingat Albert, kamu itu ponakan saya dan saya ini paman kamu! Gak seharusnya kamu bertindak seperti ini kepada paman kamu sendiri!" ujar Darius.
"Loh, kenapa baru sekarang paman anggap saya keponakan paman? Dari kemarin-kemarin kemana aja paman?" ucap Albert terkekeh.
Albert kembali berdiri tegak, namun tatapannya masih tetap mengarah kepada Darius disana.
"Dengar paman, saya punya satu syarat untuk paman kalau paman mau dibebaskan dari sini. Dan syarat itu harus paman penuhi!" ucap Albert memberi tawaran pada Darius.
"Ya Albert, apapun syaratnya pasti paman lakukan. Yang terpenting bagi paman itu bisa lepas dari sini, ayo katakan saja Albert apa syaratnya!" ujar Darius.
"Simpel aja om, saya cuma mau paman antarkan saya ke tempat Vanesa dan papanya berada. Sesudah paman mengantarkan saya, baru deh paman bisa saya lepaskan." kata Albert.
Darius terdiam, ia bingung haruskah menerima syarat dari Albert atau tidak.
"Apa tidak ada syarat lain?" tanya Darius.
"Kenapa paman? Bukannya tadi paman bilang apapun syaratnya pasti paman lakukan?" ucap Albert balik bertanya pada pamannya.
__ADS_1
"Ya saya ingat, tapi syarat kamu barusan itu sama sekali tidak masuk akal. Saya gak bisa pertemukan kamu dengan mereka, memangnya kamu mau saya celaka?!" geram Darius.
"Paman ini kenapa sih? Justru kalau paman gak mau antar saya, paman bakal makin celaka disini. Emang paman lupa kalau saya gak pernah main-main dengan kata-kata saya?" ucap Albert.
"Mau apa sih kamu ketemu sama Vanesa dan papanya? Mau ngapain?" tanya Darius.
"Saya mau apa itu suka-suka saya, tugas anda itu hanya mengantar saya ke tempat Vanesa dan papanya berada." jawab Albert tegas.
"Sudahlah pak, anda menurut saja dengan permintaan tuan Albert! Anda mau bebas kan dari sini?" ujar Keenan.
Darius terdiam kebingungan, ia memalingkan wajahnya dan tampak berpikir sejenak sebelum memutuskan jawaban yang tepat.
"Kalau paman sudah temukan jawabannya, kabari saya ya!" pinta Albert.
"Ayo Keenan, kita keluar dulu dan tunggu jawaban dari paman Darius ini!" sambungnya mengajak Keenan keluar dari sana.
"Iya tuan," ucap Keenan menurut.
Setelahnya, mereka berdua pun bangkit lalu melangkah keluar dari gudang itu.
"Tuan, kira-kira pak Darius mau atau enggak ya antar kita ketemu Vanesa?" tanya Keenan.
"Entahlah, kita tunggu aja jawabannya!" jawab Albert.
"Baik tuan!" ucap Keenan singkat.
•
•
Sementara itu, Nadira masih bersama Chelsea di taman walau kedua pasangan mereka telah pergi dari sana sebelumnya.
"Mbak, gue mau minta maaf ya sama lu! Kali ini gue beneran tulus minta maaf sama lu, gak kayak kemarin. Gue nyesel banget karena udah kerjasama sama Vanesa buat culik lu, maafin gue ya mbak!" ucap Chelsea tampak bersedih.
"Kamu beneran kali ini udah nyesel sama perbuatan kamu?" tanya Nadira memastikan.
"Iya dong mbak, mana mungkin gue ulangi kesalahan gue untuk kedua kalinya? Gue gak mau lah mbak dijebak lagi sama orang-orang jahat itu buat lukain keluarga gue sendiri," jawab Chelsea.
"Itu bagus Chelsea, semoga kamu emang beneran nyesel dan gak akan mengulangi perbuatan kamu itu lagi! Aku senang deh dengernya kalau kamu mau baikan sama aku!" ucap Nadira.
"Jadi gimana mbak? Apa mbak mau maafin gue kali ini?" tanya Chelsea pada kakak iparnya itu.
"Umm, kamu gak perlu cemas Chelsea! Aku ini udah maafin kamu dari sebelum kamu minta maaf sama aku, tenang aja ya!" jawab Nadira.
"Makasih ya mbak!" ucap Chelsea tersenyum.
"Sama-sama," balas Nadira.
Mereka berdua berpelukan sejenak disana sambil saling mengusap punggung satu sama lain.
"Ehem ehem..." tiba-tiba saja terdengar suara berat yang muncul di dekat mereka, membuat dua wanita itu melepas pelukan lalu menoleh ke asal suara.
Nadira langsung menganga lebar begitu melihat sosok pria tinggi berdiri di dekatnya.
"Cakra? Kamu ngapain disini?" tanya Nadira terheran-heran.
"Halo Nadira! Aku tadi gak sengaja lewat sini, terus aku lihat kamu ada disini. Jadi, yaudah deh aku samperin aja kamu." jawab Cakra menjelaskan.
"Mau apa kamu masih samperin aku? Kan udah sering aku bilang, jangan pernah deketin aku lagi! Aku ini udah punya suami," ucap Nadira.
"Aku cuma mau bicara aja sama kamu Nadira, apa salah?" ucap Cakra tersenyum tipis.
Chelsea pun ikut beranjak dari kursinya dan menghadap ke arah Cakra dengan sedikit geram.
"Heh! Lu jangan berani-berani deh deketin mbak Nadira! Dia ini istrinya kakak gue, jadi lu mending pergi aja dari sini sebelum gue teriak dan panggil bodyguard buat hajar lu!" ujar Chelsea.
"Aduh! Kamu gausah pura-pura begitu deh di depan Nadira, aku tahu niat busuk kamu buat hancurin Nadira!" ucap Cakra.
"Sayang, kamu masih ingat kan yang aku bilang semalam tentang Chelsea? Dia loh yang udah suruh supir taksi itu buat begal kamu, masa kamu masih mau aja sih deket sama dia?" sambungnya berbicara pada Nadira.
"Maaf ya Cakra! Tolong jangan pernah panggil aku dengan sebutan sayang lagi, aku ini udah jadi istri orang! Dan satu lagi, kamu juga gak berhak larang aku buat dekat sama Chelsea karena aku lebih tahu dan kenal dia dibanding kamu!" ucap Nadira.
Cakra pun terdiam sembari menggelengkan kepalanya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...