
Chelsea yang emosi setelah mengetahui bahwa pamannya alias Darius diusir dari rumah oleh kakaknya, langsung berjalan ke dalam menemui Nadira dengan dua tangan terkepal.
Chelsea sudah termakan omongan Darius yang mengatakan kalau Nadira lah penyebab semua itu terjadi, sehingga kini Chelsea pun sangat emosi pada Nadira dan ingin segera mencacinya.
"Heh Nadira!" Chelsea mendorong bahu Nadira dari belakang hingga membuat Nadira terkejut.
"Awhh!! Chelsea, kamu kenapa sih?" ujar Nadira memegangi bahunya dan menatap heran ke arah Chelsea.
"Gausah sok pura-pura gak tahu gitu deh! Dari awal gue lihat muka lu disini, perasaan gue aja udah gak enak! Dan ternyata benar kan, sekarang lu berhasil pengaruhi kak Albert buat benci sama om Darius, pamannya sendiri! Lu benar-benar ya, gue gak nyangka lu sebusuk itu!" geram Chelsea.
"Kamu bicara apa, Chelsea? Aku gak ngerti sama sekali sama yang kamu omongin itu, sejak kapan aku pengaruhi kakak kamu buat benci sama pamannya?" elak Nadira.
"Halah gausah akting lu! Gue udah tahu semua kebusukan lu! Sekarang mending lu ngaku aja, karena lu udah gak bisa ngelak lagi!" ujar Chelsea.
"Ngaku apa sih Chelsea? Gimana caranya aku mengakui perbuatan yang aku gak lakuin? Kamu kalau gak punya bukti, jangan asal tuduh aku sembarangan ya! Aku tahu kamu adik tuan Albert, tapi kamu gak bisa semena-mena gini sama aku!" ucap Nadira tidak kalah tegas.
"Oh gitu, jadi lu gak takut sama gue ya? Makin berani aja lu sekarang, sok berkuasa banget sih di rumah ini! Emangnya lu pikir, dengan lu jadi istri kak Albert terus lu bisa menguasai rumah ini gitu? Dasar licik lu!" ujar Chelsea.
"Terserah kamu aja deh Chelsea! Kayaknya percuma juga aku jelasin ke kamu, kamu gak akan pernah mau dengerin aku!" ucap Nadira.
"Ya karena semua penjelasan lu itu gak jelas! Udah sih lu ngaku aja sama gue!" ucap Chelsea.
Nadira menggelengkan kepalanya, ia sungguh bingung mengapa Chelsea terus-terusan menuduhnya seperti itu. Padahal selama ini ia tak pernah sedikitpun memengaruhi Albert untuk membenci pamannya, ia juga heran darimana Chelsea bisa memiliki pikiran seperti itu.
"Dih malah diem! Lu mau ngaku sekarang, atau gue siram muka lu pake air kopi ini ha?" Chelsea mulai mengancam Nadira, ia mengambil cangkir berisi kopi sisa Albert tadi.
"Kamu apaan sih Chelsea? Harus berapa kali aku bilang kalau bukan aku yang lakuin itu!" ujar Nadira.
"Banyak omong lu ya! Rasain nih!" Chelsea hendak menyiram Nadira dengan air kopi di cangkir itu, akan tetapi Nadira cepat menghindar dan kopi tersebut justru mengenai Abigail yang baru hadir disana.
"Aaaaa.." Abigail spontan berteriak saat mendapati bajunya kini penuh dengan cairan kopi, ia melihat ke depan dan bertambah emosi ketika tahu putrinya yang sudah melakukan itu.
Chelsea sendiri merasa gugup plus ketakutan, ia menganga lebar tak menyangka hal itu akan terjadi.
"Mama?" ucap Chelsea.
"Chelsea! Kamu apa-apaan sih! Ngapain kamu pake siram-siram kopi segala? Tuh lihat kan, sekarang baju mama jadi kotor begini gara-gara kamu!" geram Abigail.
"Maaf mah, aku gak sengaja! Tadi aku niatnya mau siram ke Nadira, eh malah kena mama." kata Chelsea.
"Apa? Kenapa kamu mau nyiram Nadira, ha? Apa salah dia Chelsea?" tanya Abigail emosi.
"Aku kesel aja sama dia, mah! Gara-gara dia, kak Albert sekarang berubah! Masa om Darius gak boleh masuk kesini sih mah, itu kan heran banget! Ini semua karena pengaruh dari Nadira, makanya aku benci banget sama dia!" ucap Chelsea.
"Enggak mah, aku sama sekali gak pernah lakuin itu. Buat apa aku pengaruhi tuan Albert? Gak ada untungnya buat aku!" ucap Nadira mengelak.
"Heh! Lu masih aja ya gak mau ngaku, emang dasar cewek gak bener! Padahal kemarin waktu lu gak ada di rumah, gue udah ngerasa nyaman banget. Eh lu malah balik lagi! Kenapa sih lu gak sekalian aja pergi selamanya, gausah balik-balik lagi gitu?" ujar Chelsea.
"Chelsea cukup! Mama gak suka kamu bersikap seperti itu ke Nadira! Sekarang kamu minta maaf sama Nadira, atau mama akan blokir kartu kredit kamu!" ucap Abigail.
"Hah? Kok mama gitu sih? Kenapa mama malah belain dia dibanding aku? Aku ini kan anak mama tau!" ujar Chelsea.
"Kamu emang anak mama, tapi ulah kamu barusan udah kelewatan. Lihat nih, baju mama sampai kotor begini semua gara-gara kamu! Ayo cepat minta maaf sama Nadira! Daripada mama laporin kamu ke Albert nanti," ujar Abigail.
"Ish mama nyebelin!" Chelsea memajukan bibir bawahnya, lalu pergi begitu saja dari sana.
"Hey Chelsea, tunggu! Kamu belum minta maaf sama Nadira, kenapa main pergi gitu aja!" teriak Abigail yang tak didengar oleh Chelsea.
"Benar-benar itu anak!" Abigail menggeleng heran.
"Mah, mama gapapa kan? Aku bantu bersihin baju mama ya?" ucap Nadira pelan.
"Eh, gausah sayang! Ini biar mama ganti baju aja, kamu gak perlu repot-repot! Oh ya, maafin kelakuan Chelsea barusan ya! Dia emang suka gitu anaknya," ucap Abigail.
__ADS_1
"Gapapa mah, aku juga maklumin kok. Mungkin aja Chelsea kesal karena pamannya gak bisa masuk kesini," ucap Nadira tersenyum.
"Iya juga ya, kira-kira kenapa ya Albert melarang Darius buat masuk kesini? Emangnya apa kesalahan pamannya itu, sampai Albert gak bolehin Darius datang lagi ke rumah ini? Mama jadi bingung sayang," ucap Abigail heran.
"Aku juga gak tahu, mah. Nanti coba deh aku tanya sama tuan Albert tentang itu, tapi ini beneran mama gapapa kan? Kulit mama ada yang kena kopinya apa enggak?" ucap Nadira.
"Enggak kok sayang, cuma baju mama aja yang kena." kata Abigail sambil tersenyum.
"Syukurlah mah!" ucap Nadira.
"Yaudah, mama mau ke kamar dulu ya ganti baju?" ucap Abigail.
"Iya mah," ucap Nadira mengangguk singkat.
Setelahnya, Abigail pun berjalan menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Sementara Nadira juga melangkah ke kamar, mengambil ponsel lalu mulai menghubungi Albert.
•
•
Drrttt..
Drrttt...
Albert yang sedang termenung di ruangannya, mendadak tersenyum ketika dapat telpon dari Nadira sang istri.
Tentu saja Albert langsung mengangkatnya, ia sangat senang karena Nadira mau menghubunginya. Namun, ia pun bingung mengapa Nadira menelponnya.
📞"Halo Nadira cantik! Kenapa kamu telpon saya? Kangen ya?" ujar Albert menggoda istrinya.
📞"Halo tuan! Bukan kangen, aku cuma mau tanya sama tuan. Lagian tuan kege'eran banget sih!" ucap Nadira tersipu malu.
📞"Hahaha... kalau kamu emang kangen sama saya, ngaku aja Nadira! Saya tahu kok, kamu gak bisa jauh-jauh kan dari saya? Tenang aja, ini sebentar lagi saya pulang ke rumah kok!" ucap Albert tersenyum.
📞"Tanya apa cantik?" Albert terlihat penasaran dengan apa yang hendak ditanyakan Nadira.
📞"Umm... apa benar tuan udah melarang om Darius buat masuk ke rumah ini?" tanya Nadira pada suaminya.
📞"Oh soal itu, iya benar cantik. Saya emang melarang dia buat datang kesana. Emangnya kenapa sih kamu tanya begitu?" jawab Albert.
📞"Gapapa. Tapi, tadi itu Chelsea tuduh aku yang udah hasut kamu buat larang om Darius masuk kesini. Padahal aku kan gak tahu apa-apa, udah gitu Chelsea juga maksa aku buat ngaku. Emangnya kenapa sih tuan, kok tuan larang om Darius masuk kesini?" ucap Nadira.
📞"Saya itu cuma gak mau om Darius pengaruhi kamu lagi buat benci sama saya dan pergi dari rumah itu, saya tahu kalau selama ini om Darius berencana buat pisahkan saya dengan kamu. Saya berusaha cegah semua itu, dengan cara melarang om Darius masuk ke rumah. Kamu gak perlu khawatir Nadira, nanti saya akan bicara sama Chelsea dan jelaskan semuanya!" ucap Albert.
📞"Yaudah deh tuan, kalo gitu aku matiin ya telponnya? Tuan semangat kerjanya, jangan lesu begitu! Aku tahu tuan pasti lagi ada masalah di kantor, makanya suara tuan kelihatan lesu dan gak bersemangat." kata Nadira.
📞"Kamu emang hebat Nadira! Makasih ya, kamu juga hati-hati di rumah! Saya gak mau sesuatu yang buruk menimpa kamu dan calon anak saya di perut kamu, jadi kamu harus jaga diri! Oh ya, nanti kalau saya pulang kamu mau dibawain apa Nadira?" ucap Albert.
📞"Eee gausah tuan, aku lagi gak kepengen apa-apa kok. Tapi, nanti kalau misal tiba-tiba anak kamu ini pengen sesuatu, pasti aku kabarin kamu kok tuan!" ucap Nadira.
📞"Iya deh, yaudah sampai ketemu nanti ya cantik!" ucap Albert.
📞"Iya tuan.." Nadira tersenyum lalu mematikan telponnya.
Tuuutttt...
Albert pun tampak senyum-senyum sendiri menatap layar ponselnya sambil sesekali mencium ponselnya itu membayangkan wajah Nadira.
Keenan yang melihatnya spontan terkekeh, walau ia berusaha keras menutupinya karena tak mau membuat Albert emosi.
"Heh! Kenapa kamu cekikikan begitu? Kamu meledek saya?" Albert menegur Keenan.
"Eee enggak kok tuan, saya cuma ngerasa lucu aja. Gak biasanya tuan sampai cium hp begitu, baru kali ini saya lihatnya loh. Berarti emang tuan udah jatuh cinta tuh sama non Nadira," ucap Keenan.
__ADS_1
"Apa sih kamu? Jangan ngada-ngada deh! Saya ini gak pernah cinta sama Nadira!" elak Albert.
"Mulut emang bisa berkata begitu tuan, tapi hati tuan enggak. Saya tahu kok tuan udah mulai jatuh cinta sama non Nadira, harusnya tuan mengaku saja! Saya yakin non Nadira pasti ikut bahagia mendengarnya!" ucap Keenan.
"Kenapa Nadira bisa bahagia?" tanya Albert.
"Ya yang namanya wanita pasti ingin dicintai tuan, termasuk juga non Nadira. Jadi, kalau tuan bilang begitu pasti bisa bikin non Dira bertambah bahagia! Dan non Dira gak akan punya niatan buat pergi lagi dari rumah tuan, lalu tuan sama non Dira bakal jadi keluarga yang bahagia!" jawab Keenan.
"Hahaha... itu semua juga sudah terjadi, Keenan. Buktinya sekarang Nadira gak ada pikiran lagi buat kabur dari rumah, jadi saya gak perlu bilang kebohongan sama dia!" ucap Albert.
"Justru sekarang tuan lagi bohong, karena tuan tidak mau mengakui perasaan cinta tuan ke non Nadira." kata Keenan.
"Sudahlah Keenan, kita bahas yang lain saja! Misalnya, bagaimana kelanjutan pencarian sekretaris baru untuk saya itu?" ucap Albert.
"Maaf tuan! Saya akan segera melanjutkan pencarian itu, tapi saya sudah punya satu kandidat yang menurut saya cocok tuan. Dia itu cukup berpengalaman dan pendidikannya juga tinggi, yang pasti dia tidak akan berkhianat dari tuan!" ucap Keenan.
"Oh ya, siapa dia?" tanya Albert penasaran.
"Chelsea, tuan." jawab Keenan sambil tersenyum.
"Hah?" Albert menganga terkejut mendengar jawaban Keenan, bisa-bisanya Keenan menyarankan Albert untuk merekrut Chelsea sebagai sekretaris di perusahaannya.
•
•
Sementara itu, Vanesa kembali bertemu dengan Darius di sebuah tempat. Mereka tampak sama-sama jengkel akibat perlakuan Albert yang tak mau mendengarkan perkataan mereka, kini keduanya pun semakin emosi pada Albert.
"Vanesa, kenapa wajahmu masam begitu? Sedang ada masalah?" tanya Darius.
"Iya nih paman, barusan aku habis dari kantor pak Albert. Tapi, dia tetap aja gak kasih izin aku buat kembali kerja disana." kata Vanesa.
"Jelas aja Albert gak mau terima kamu! Dia kan sudah tahu semua rencana kita, sampai tahun depan juga Albert tetap gak akan mau pekerjakan kamu lagi disana!" ucap Darius.
"Itu dia paman, sekarang aku harus gimana lagi dong supaya bisa ada di dekat pak Albert? Kalau enggak, rencana kita bisa gagal!" ucap Vanesa.
"Tenang aja! Saya ada rencana baru kok," ucap Darius tersenyum membelai rambut Vanesa.
"Rencana apa?" tanya Vanesa penasaran.
"Begini, tadi saya ketemu sama Chelsea, adik Albert. Dia sudah berhasil saya pengaruhi untuk membenci Nadira, jadi sekarang kita hanya perlu buat Nadira pergi dari rumah Albert dan menjauh dari pria itu. Kamu bilang kamu sedang mengandung anak Albert bukan?" jawab Darius.
"Iya, terus apa hubungannya sama anak yang aku kandung paman?" tanya Vanesa kebingungan.
"Kamu bisa gunakan itu untuk menekan Nadira dan Albert, saya yakin Nadira pasti akan sangat kecewa dengan suaminya dan dia bisa pergi dari rumah itu! Caranya sangat mudah, kamu hanya perlu temui Nadira dan bicara sama dia!" ucap Darius.
"Aduh paman! Gimana caranya aku bisa ketemu sama Nadira sekarang? Dia pasti dijaga ketat sama Albert dan anak buahnya, gak mudah buat aku ketemu sama dia!" ujar Vanesa.
"Kamu ini gimana sih? Saya kan sudah bilang tadi, saya punya senjata rahasia di rumah Albert, yaitu adiknya sendiri. Kita bisa gunakan dia untuk memancing Nadira keluar dari rumahnya, dengan begitu kamu bisa bicara sama Nadira dan katakan semuanya!" ucap Darius.
"Tapi, kalau Nadira tidak terpengaruh gimana paman?" tanya Vanesa.
"Ya kamu lakukan saja apa yang biasa kamu lakukan untuk meyakini orang-orang, saya yakin kamu pasti bisa Vanesa!" jawab Darius.
"Yaudah deh paman, kalo gitu aku pergi dulu ya? Aku mau pulang dan ketemu sama ayah," ucap Vanesa.
"Silahkan!" ucap Darius singkat.
Vanesa pun pergi dari sana dengan mobilnya, sedangkan Darius tetap berdiri mengamati mobil Vanesa sampai tak terlihat lagi di matanya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1