Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Firasat Albert


__ADS_3

Nadira semakin ketakutan saat pria yang mengaku sebagai kakak dari Cakra itu mendekatinya, apalagi saat ini mereka hanya berdua di dalam apartemen yang sedang itu dengan kondisi pintu terkunci.


Tentu saja Nadira sangat tertekan, walaupun pria bernama Juan itu sudah membuka mulutnya, tetap saja Nadira belum bisa bernafas lega mengingat Juan bisa melakukan apa saja yang dia inginkan sekarang ini.


"Kamu mau apa? Jangan macam-macam ya sama saya!" ucap Nadira.


Nadira terus memundurkan langkahnya, diikuti oleh Juan yang melangkah secara perlahan sambil tersenyum smirk dan memandangi tubuh Nadira dari atas sampai bawah, hingga membuat Nadira cemas dan reflek menutupi tubuhnya dengan kedua tangan.


"Jangan lihat saya seperti itu! Saya ini sudah punya suami, kamu gak pantas bersikap begitu sama wanita yang sudah bersuami!" geram Nadira.


"Oh ya? Waw, Cakra keren sekali bisa bawa istri orang ke apartemennya! Tapi, pantas aja sih dia simpan kamu disini, orang tubuh dan wajah kamu itu sama-sama luar biasa!" ucap Juan.


"Jangan kurang ajar ya sama saya! Cepat kamu keluar dari sini!" ujar Nadira.


"Kalau aku gak mau keluar gimana?" ujar Juan.


"Saya bakal teriak!" ancam Nadira.


"Oh ya? Teriak saja, aku gak larang kamu buat teriak kok. Karena aku tahu, apartemen ini kedap suara dan siapapun yang ada di luar tidak bisa mendengar suara kita disini Nadira." ucap Juan seraya mempercepat langkahnya.


Nadira semakin dibuat ketakutan, jantungnya berdebar kencang dan tak henti-hentinya dia menyebut nama Albert di dalam hatinya.


"Tuan, aku butuh kamu tuan! Aku gak mau ada laki-laki lain yang sentuh aku selain kamu! Tuan Albert, maafin aku karena aku udah kabur dari rumah kamu!" batin Nadira.


Lama-kelamaan Nadira terbentur tembok, ia pun tidak bisa lagi bergerak kemanapun karena sudah dikurung oleh Juan disana.


"Hahaha, mau kemana lagi kamu Nadira? Sekarang kamu sudah tidak bisa pergi dari aku, sebaiknya kamu menyerah saja supaya aku tidak kasat sama kamu! Aku janji Nadira, aku akan bikin kamu enak dalam waktu yang lama! Kamu sudah pernah melakukannya dengan Cakra bukan?" ucap Juan yang kini mengungkung Nadira.


"Belum, dan gak akan pernah terjadi. Saya setia sama suami saya, tidak mungkin saya tega menyakiti perasaan dia! Kamu sebaiknya jangan bermimpi untuk bisa sentuh saya!" ucap Nadira.


"Ah masa sih kamu belum pernah main sama Cakra? Tapi, kamu kepengen kan?" ucap Juan.


"Buat apa saya bohong? Lagipun, saya sama sekali tidak tertarik dengan Cakra. Kamu tidak usah mengada-ada, sekarang pergi dan jangan ganggu saya!" ucap Nadira.


"Aku tidak akan pergi dari sini Nadira, aku akan tetap disini sama kamu! Masa iya aku pergi dan tinggalin bidadari begitu aja?" ujar Juan.


Juan semakin mendekatkan wajahnya pada Nadira, satu tangannya digunakan untuk menarik dagu Nadira perlahan lalu mengusapnya. Nadira hanya bisa menelan saliva nya saat ditatap seperti itu oleh Juan, ada rasa cemas sekaligus takut yang dia rasakan saat ini.


"Jangan kurang ajar!" Nadira mendorong tubuh Juan hingga terhuyung ke belakang.


Kelengahan itu pun dimanfaatkan Nadira untuk melarikan diri dari sana, ia berlari menuju kamar dan mengunci pintu rapat-rapat agar Juan tidak bisa mengejarnya.


Sementara Juan justru tersenyum ketika Nadira berlari ke kamarnya, ia bangkit kembali dan menyusul wanita itu. Juan tidak akan semudah itu melepaskan Nadira, karena tekadnya sangat kuat untuk dapat merasakan tubuh Nadira.


"Hey Nadira! Kamu buka dong pintunya cantik, biarkan aku masuk ke dalam! Aku tahu, kamu pengen berhubungan kan disana?" ucap Juan.


Nadira yang ketakutan berusaha mencari ponselnya, ia pun berhasil menemukan benda pipih itu di atas nakas. Dengan cepat Nadira menggunakan ponselnya untuk menghubungi Cakra dan meminta pertolongan, ya kebetulan sebelumnya Cakra memberinya sebuah ponsel untuk digunakan sebagai alat komunikasi.


β€’


β€’


Drrttt..


Drrttt...


Cakra terbangun dari tidurnya saat mendengar suara ponsel berdering, ia coba membuka mata walau rasanya sangat sulit. Kepalanya pun terasa amat pusing, ia tak mengerti apa yang sudah terjadi padanya sebelum ini.


Akhirnya Cakra berhasil bangkit dan terduduk di ranjangnya walau sulit, ia mengambil ponsel miliknya dari atas meja lalu terkejut saat melihat nama Nadira terpampang disana, tentu saja ia segera mengangkat telpon tersebut.


πŸ“ž"Halo Nadira! Maaf banget ya aku kesiangan! Aku jadi lupa buat antar sarapan ke apartemen, kamu pasti udah lapar ya sayang?" ucap Cakra sembari mengucek-ngucek matanya.


πŸ“ž"Enggak Cakra! Aku mau minta tolong sama kamu, kamu cepetan ya datang kesini! Aku lagi dalam bahaya, ada orang ngaku sebagai kakak kamu dan dia mau perkosa aku! Aku butuh banget bantuan kamu Cakra!" ujar Nadira panik.


πŸ“ž"Apa? Kakak aku datangin kamu kesana? Kurang ajar tuh orang! Kamu tenang ya sayang, ini aku langsung jalan kesana kok! Kamu cari tempat sembunyi yang aman!" ucap Cakra.


πŸ“ž"I-i-iya iya, cepat ya Cakra aku takut!" ucap Nadira.


πŸ“ž"Aku usahain supaya cepat!" ucap Cakra.


πŸ“ž"Oke, hati-hati!" ucap Nadira.

__ADS_1


πŸ“ž"Iya sayang, kamu juga."


Tuuutttt...


Sambungan terputus, Cakra langsung bergegas bangkit mengambil jaket dan memakainya, ia tak mencuci muka lebih dulu karena waktunya sudah mepet dan ia harus segera menyelamatkan Nadira dari ancaman kakaknya yang haus tubuh seksi itu, Cakra tak mungkin membiarkan siapapun menyentuh wanita tercintanya.


"Sialan lu Juan! Pasti ini semua udah lu rencanain, emang kurang ajar!" geram Cakra saat melihat sebuah bungkus obat tidur di lantai.


Pria itu segera keluar kamar, ia sangat emosi dan bersumpah akan menghajar kakaknya jika sampai terjadi sesuatu pada Nadira nantinya, ia juga tak habis pikir mengapa Juan hendak melakukan itu.


"Harusnya semalam gue gak cerita ke Juan soal Nadira, emang kurang ajar tuh anak!" gumamnya.


Cakra sampai di halaman rumahnya, akan tetapi dirinya tercengang saat mendapati ban mobil miliknya kempes dan ia yakin itu adalah perbuatan Juan agar ia tidak bisa datang menyusul ke apartemen.


"Sial, kurang ajar! Awas lu Juan!" umpatnya kesal.


"Gue bener-bener kecolongan! Bisa-bisanya gue cerita tentang Nadira ke binatang kayak Juan, emang dasar otak mesum!" geramnya.


Tanpa berpikir panjang, Cakra segera berlari menuju ke depan komplek. Ia hendak menumpangi ojek pangkalan yang ada disana, karena jika harus memesan ojek online akan memakan waktu.


Ia terus berlari dan berlari, sampai akhirnya tiba di depan komplek. Cakra yang ngos-ngosan segera menghampiri salah seorang tukang ojek disana, ia pun meminta pada ojek tersebut untuk mengantarnya.


"Hosh hosh... pak, tolong anterin saya ke apartemen Cempaka! Cepat pak!" pinta Cakra.


"I-i-iya mas, ayo naik!" si tukang ojek memberikan helm kepada Cakra, lalu menyalakan motornya.


Cakra pun naik ke atas jok motor itu sambil memakai helmnya, nafasnya masih memburu namun ia tak perduli dan tetap meminta si tukang ojek untuk ngebut.


"Pak, ayo cepat pak saya lagi buru-buru nih!" ucap Cakra sembari menepuk punggung tukang ojek tersebut.


"Iya mas," ucap kang ojek itu menurut.


Motor pun melaju kencang meninggalkan tempat itu menuju apartemen untuk menyelamatkan Nadira dari ancaman Juan.


"Semoga aja gue gak terlambat!" batin Cakra.


β€’


β€’


Albert menginjak rem secara mendadak, membuat sang supir yang kini duduk di sebelahnya pun gemetar ketakutan masih sambil berpegangan pada kursi mobil.


Ya Albert memang meminta pada supirnya untuk bertukar tempat, karena ia sudah tidak sabar ingin menyetir sendiri dan menambah laju mobilnya agar lebih cepat juga ia dapat menemukan Nadira.


"Tuan, kenapa berhenti? Ada yang salah kah?" tanya sang supir bingung.


"Tidak. Saya cuma ngerasa gak enak aja, seperti ada sesuatu yang sedang terjadi dengan Nadira. Saya bisa merasakan itu!" jawab Albert.


"Sesuatu apa itu tuan?" tanya sang supir.


"Entahlah, saya tidak tahu pasti. Tapi, sepertinya ada orang jahat yang hendak menyakiti Nadira. Pak, saya harus temukan Nadira pak! Saya harus selamatkan dia, saya gak bisa biarin Nadira disakiti oleh siapapun kecuali saya!" geram Albert.


"Tenang dulu tuan! Ini kan kita juga sedang mencari non Nadira, tapi kita tidak tahu pasti dimana lokasi non Nadira berada sekarang. Itu cukup sulit tuan bagi kita untuk bisa menemukan non Nadira, kecuali ada petunjuk dimana terakhir kali non Nadira berada!" ucap sang supir.


"Gak ada yang sulit bagi saya, saya yakin saya pasti bisa menemukan Nadira!" ucap Albert.


"Baguslah tuan! Tapi, ada baiknya kalau tuan lajukan dulu mobilnya! Karena mobil-mobil di belakang sudah membunyikan klakson terus-menerus," ucap sang supir.


Tiiinnnn...


Tiiinnnn...


Benar saja Albert memang berhenti di tengah jalan, sehingga banyak kendaraan yang membunyikan klakson mereka menuntut Albert segera melajukan mobilnya.


"Orang aneh! Gak sabaran banget!" umpatnya.


"Maklumlah tuan, memang begitu manusia di negeri tercinta kita ini. Mereka tidak perduli apa yang menimpa mobil di depannya, yang penting bagi mereka itu menekan klakson dan segera melaju pergi!" ujar sang supir.


"Ya, untung aja saya lagi malas ladeni mereka sekarang. Karena ada yang lebih penting daripada itu," ucap Albert.


"Benar tuan!" ucap sang supir yang sekarang sudah merasa lebih lega.

__ADS_1


Albert pun kembali menancap gas, melaju dengan kecepatan tinggi dan melanjutkan pencariannya terhadap Nadira, ia sangat yakin bahwa dirinya bisa menemukan Nadira cepat atau lambat.


"Kamu dimana Nadira? Saya khawatir sekali sama kamu, semoga kamu baik-baik saja dimanapun kamu berada!" ucap Albert cemas.


Albert terus mencari kesana-kemari dengan mobilnya, ia memang tak tahu harus mencari kemana saat ini, namun tidak semudah itu bagi Albert untuk menyerah dan akan terus mencari keberadaan istrinya sampai ketemu.


"Saya harus segera temui kamu!" ucapnya yakin.


Disaat ia tengah asyik mengemudi, tiba-tiba saja ponselnya berdering menandakan ada yang menghubunginya. Albert memberikan kode pada supirnya untuk mengecek ponsel tersebut.


"Pak, tolong lihat siapa yang telpon! Terus, dijawab telponnya!" perintah Albert.


"Baik tuan!" supir itu menurut, dia mengambil ponsel milik Albert dari dashboard lalu melihat nama mama terpampang di layar.


"Maaf tuan, ini mamanya tuan yang nelpon!" ucap sang supir memberitahu Albert.


"Mama? Yaudah, tolong angkat ya pak!" ucap Albert.


"Iya tuan," supir itu pun mengangkat telponnya.


πŸ“ž"Halo Albert! Kamu lagi dimana sekarang? Ini teman kamu yang namanya Rio datang ke rumah, dia bilang ada informasi penting tentang Nadira yang harus kamu tahu. Sebaiknya kamu cepat pulang sekarang ya sayang!" ucap Abigail di telpon.


Sontak Albert terkejut mendengarnya, ia sangat senang sekaligus penasaran apa kiranya kabar yang didapat oleh Rio mengenai Nadira istrinya.


β€’


β€’


Disisi lain, Keenan bersama Celine telah berhasil melarikan diri dari rumah Harrison. Mereka kini bersembunyi dibalik sebuah bangunan kosong yang baru setengah jadi, Keenan terus berusaha melindungi Celine dan menenangkan adiknya itu untuk tidak panik.


Mereka memang sudah cukup jauh dari rumah Harrison, namun belum berarti Keenan serta Celine bisa bernafas lega, karena bisa saja nantinya anak buah Harrison menyusul mereka dan menangkap mereka kembali.


"Kak, gimana nih? Kita udah aman apa belum? Gue takut banget kak, kira-kira mereka tahu gak ya kita ada disini?" ujar Celine panik.


"Sssttt! Kamu tenang ya sayang, ada gue disini yang jagain lu! Selama lu ada di dekat gue, gue jamin lu bakal aman! Sekarang kayaknya kita udah jauh deh, mereka gak mungkin kejar kita sampai kesini!" ucap Keenan menenangkan.


"Tapi bang, kalo mereka bisa temuin kita disini gimana?" tanya Celine cemas.


"Kita harus cepat pergi dari sini! Ayo kita cari kendaraan buat kita bisa pulang!" ucap Keenan.


"Iya bang," ucap Celine mengangguk cepat.


Mereka yang sebelumnya berjongkok, kini kembali berdiri dan langsung melangkah pergi dari tempat tersebut untuk segera pulang ke rumah mereka. Namun, Celine tampak letih dan tak bisa melanjutkan langkahnya.


"Bang, gue gak bisa lanjut jalan lagi deh kayaknya. Kaki gue sakit banget, mungkin gara-gara tadi kesandung. Kita pelan-pelan aja ya bang, ini sakit banget!" pinta Celine sembari meringis.


"Hah? Ya ampun, yaudah sini gue gendong ya biar cepat!" ucap Keenan.


"Jangan ah bang! Gue gak enak sama lu, kan lu juga capek abis berantem tadi. Gue masih bisa jalan sendiri kok," ucap Celine menolak.


"Udah gapapa, kalo lu jalan sendiri malah lama nantinya!" ucap Keenan.


Tanpa menunggu jawaban dari adiknya, Keenan pun langsung saja menggendong Celine ala bridal style dan membawanya pergi dengan sedikit berlari agar tidak ada yang dapat mengejarnya.


"Bang, pelan-pelan ih jangan kecepatan!" ujar Celine.


"Kalau pelan-pelan, nanti yang ada kita kesusul sama mereka sayang. Udah kamu tenang aja, gak bakal jatuh kok!" ucap Keenan.


"Tapi bangβ€”"


"Sssttt udah udah nurut aja! Lu jangan bawel deh!" potong Keenan kesal.


"Ish, iya iya..." Celine cemberut.


Keenan tersenyum saja melihat wajah cemberut adiknya, walau ingin sekali rasanya ia mencubit pipi Celine yang menggemaskan itu, akan tetapi posisinya saat ini cukup sulit untuk bisa melakukannya.


Keenan terus berjalan dan berjalan, sampai pada akhirnya mereka menemukan jalan besar lalu sebuah taksi melintas di depan mereka, tentu saja Keenan langsung menyetop taksi tersebut dan memasukkan tubuh Celine ke dalamnya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2