
Abigail mengantar Nadira ke kamarnya, Nadira cukup kaget melihat isi kamar yang begitu mewah dan sudah tersedia seluruh barang miliknya disana termasuk foto-foto dirinya bersama Albert.
Tak hanya itu, ia juga melihat adanya bingkai foto Albert sekeluarga yang jarang sekali ia lihat terpampang di rumah sebelumnya.
"Mah, ini siapa??" tanya Nadira menunjuk ke arah seorang pria di sebelah Albert.
"Itu papanya Albert, mas Walaspati. Kamu belum pernah bertemu dengan dia ya selama kamu menikah sama Albert?" jawab Abigail.
Nadira menggeleng pelan.
"Sabar aja sayang! Hubungan Albert dengan papanya memang tidak harmonis, jadi mungkin itu salah satu alasan kenapa Albert tidak mau mempertemukan kamu dengan papanya." ucap Abigail.
"Apa yang bikin hubungan mereka gak harmonis, mah?" tanya Nadira penasaran.
"Karena mama," jawab Abigail singkat.
"Maksudnya? Emangnya mama kenapa?" tanya Nadira tak mengerti.
"Iya Dira, kamu kan tau mama ini bukan mama kandungnya Albert. Mama hadir di keluarga mereka sebagai yang kedua, itu alasan Albert membenci papanya dan juga sempat membenci mama." jelas Abigail.
"Ya ampun! Berarti wanita ini ibu kandungnya mas Albert?" tanya Nadira sembari menunjuk sosok perempuan yang dipeluk mesra oleh Albert di dalam foto itu.
"Iya Dira, itu mama kandungnya suami kamu. Orang yang paling disayangi oleh Albert, mereka cukup akrab dan dekat, bahkan Albert sampai menangis selama tiga hari saat mamanya ini pergi untuk selamanya." jawab Abigail.
Nadira pun mengalihkan pandangannya ke arah foto itu, ia tatap wajah Albert yang begitu ia sayangi disana.
"Mas, sekarang aku tahu kenapa kamu selalu kesal tiap kali aku menanyakan soal papa kamu. Aku juga gak nyangka mama Abi ternyata istri kedua papa kamu dan bikin kekacauan di keluarga kamu, cerita ini persis seperti yang aku alami sama kamu mas. Dimana Vanesa hadir di tengah-tengah keharmonisan kita, lalu membuat hubungan kita terus renggang sampai kamu kehilangan nyawa sekarang." batin Nadira.
Abigail berusaha menenangkan Nadira dengan cara menaruh tangannya di pundak wanita itu.
"Mama keluar dulu ya? Kamu istirahat aja disini! Kalau kamu butuh apa-apa, tekan saja bel itu! Otomatis pelayan disini akan datang ke kamar kamu," ucap Abigail.
"Iya mah, makasih!" ucap Nadira tersenyum tipis.
Abigail pun melangkah keluar meninggalkan Nadira sendirian di kamar itu.
Nadira kembali menatap bingkai foto tersebut, ia mendekat dan menggerakkan tangannya untuk mengusap wajah Albert disana.
"Mas, mungkin aku bisa terlihat tegar di depan mama dan Galen tadi. Tapi, sejujurnya aku masih gak kuat mas dengan kepergian kamu ini. Aku sedih banget karena kamu secepat ini tinggalin aku, aku juga gak tahu apa aku bisa jalani semuanya tanpa kamu?" ucap Nadira.
Nadira juga melihat ke arah perutnya yang saat ini diisi oleh calon bayinya.
"Maafin mama ya sayang! Seharusnya kehadiran kamu disambut dengan keceriaan dan kebahagiaan, tapi semua ini malah terjadi dan bikin kamu seolah terlupakan." ucapnya seraya mengusap perutnya itu.
"Mas, aku janji sama kamu kalau aku akan rawat anak kita sebaik mungkin sampai dia besar nanti! Kamu yang tenang ya disana! Aku cinta sama kamu mas.." ucap Nadira.
Air mata kembali menetes dan jatuh begitu saja di atas lantai.
Namun, diluar dugaan sebuah telapak tangan muncul menahan air mata miliknya.
"Hah? Mas Albert??" Nadira cukup terkejut melihat sosok putih yang ada di hadapannya kini.
Sosok itu tersenyum ke arahnya dan terlihat mengusapkan air mata yang tadi menetes ke wajahnya.
"I-ini benar-benar kamu mas??" ujar Nadira.
"Jangan menangis lagi sayang! Saya tahu kamu wanita yang kuat, kamu pasti bisa lewati ini semua tanpa saya! Maafin saya ya, selama saya hidup saya selalu bikin kamu menangis! Bahkan, saat saya sudah meninggal saja saya masih tetap bikin kamu bersedih seperti ini." ucapnya.
Nadira menggeleng disertai air mata yang mulai merembes keluar.
"Enggak mas, aku yang salah dan aku yang seharusnya minta maaf sama kamu! Andai aja kemarin aku gak egois, mungkin sekarang kamu masih bisa aku peluk mas." ucap Nadira.
"Hey! Hapus air mata kamu sayang, saya gak suka lihat kamu menangis seperti itu! Sekarang saya udah gak bisa lagi sentuh kamu, jadi saya mohon kamu hentikan tangisan itu Nadira Aneisha!" ucapan sosok itu benar-benar membuat Nadira makin terisak.
Nadira mengangguk pelan sembari menyeka air matanya dengan telapak tangan.
"Terimakasih!" ucap sosok itu lagi.
Perlahan-lahan sosok yang mirip sekali dengan Albert itu memundurkan langkahnya dan tubuhnya juga mulai memudar.
"Mas, kamu mau kemana mas?" tanya Nadira.
Nadira berusaha menahan sosok itu, ia coba meraih tangannya tetapi lolos begitu saja dan membuatnya bingung.
"Hah? Apa-apaan ini? Mas, aku mohon jangan pergi tinggalin aku mas!" ucap Nadira.
Sosok itu hanya tersenyum sembari melambai ke arah Nadira dan perlahan menghilang.
"Mas? Mas Albert? Maaasss...!!" Nadira berteriak histeris saat sosok itu hilang dari pandangannya, ia kembali menangis deras dan terduduk di pinggir ranjang.
"Aku gak bisa mas, aku gak bisa kuat hidup tanpa kamu!" ucap Nadira.
•
•
__ADS_1
Keenan mendudukkan tubuhnya di sofa sembari mengusap wajahnya berkali-kali untuk menghilangkan kesedihannya.
Celine sang adik datang menghampirinya membawakan secangkir teh hangat yang ia harap dapat membuat Keenan lebih tenang.
"Kak, diminum dulu!" ucap Celine pelan.
"Eh iya, makasih Cel!" ucap Keenan tersenyum tipis.
Keenan mengambil cangkir itu lalu meminum teh di dalamnya.
"Sama-sama, kak. Udah ya kak, kakak harus kuat dan ikhlas menerima kepergian kak Albert! Aku tahu ini berat buat kakak, aku juga masih belum nyangka ini semua bisa terjadi. Tapi, semua ini sudah takdir kak." ucap Celine.
"Ah ya, kamu memang benar sayang! Kakak juga lagi berusaha buat kuat kok, mungkin kakak cuma butuh waktu aja. Biar gimanapun, tuan Albert itu sangat berjasa di kehidupan kita." ucap Keenan.
"Iya kak, aku tahu kak Albert itu orang baik. Dia pasti dapat tempat yang terbaik juga di atas sana, sekarang kita cuma perlu mendoakan supaya kak Albert tenang disana!" ucap Celine.
"Iya Cel, kamu bantu doa ya!" pinta Keenan.
"Pasti kak!" jawab Celine sambil tersenyum.
Pria itu mengelus rambut adiknya dan mendaratkan kecupan di kening sang adik yang memang selalu membawa ketenangan untuknya.
Cup!
"Makasih ya sayang, kamu selalu bisa bikin hati kakak terasa lebih tenang! Kakak ngerasa salah karena udah bikin kamu sedih selama ini dengan sikap kakak, mulai sekarang kakak akan rubah sikap kakak ke kamu. Kakak gak akan lagi halangi kamu untuk dekat dengan laki-laki lain, karena kakak sadar hubungan kita cuma bisa sebatas adik dan kakak." ucap Keenan.
"Ma-maksud kakak??" tanya Celine bingung.
"Kakak gak akan paksa kamu lagi buat nikah sama kakak, karena itu sesuatu yang mustahil untuk kita lakukan sayang." jawab Keenan.
Celine manggut-manggut saja, walau ada sedikit raut kekecewaan di wajahnya saat mendengar ucapan Keenan barusan.
"Mau peluk?" tanya Keenan melebarkan tangannya.
"Tentu," jawab Celine yang langsung saja membenamkan wajahnya di dada sang kakak.
"Kakak sayang kamu!" ucap Keenan seraya mengusap punggung adiknya.
"Aku juga," balas Celine singkat.
•
•
Lima hari sudah berlalu sejak kepergian Albert, kini Nadira coba menguatkan diri untuk menemani Galen bermain di halaman depan rumahnya.
"Ayo terus Galen, gowes terus sepedanya!" teriak Nadira dari pinggir.
"Iya mah, ini seru banget tau!" ucap Galen.
"Bagus deh sayang! Kamu main terus ya sama suster, jangan nakal loh!" ucap Nadira.
"Iya mama.." ucap Galen.
Nadira pun melipir sejenak dan duduk di bangku yang tersedia untuk menikmati minuman yang sudah disediakan pelayan sebelumnya.
Tak lama kemudian, Abigail muncul di dekatnya dan duduk di sebelahnya sambil tersenyum.
Sontak Nadira berhenti meminum, ia membalas senyuman mamanya itu dan sedikit gelagapan karena ia tak mengira Abigail akan datang.
"Mama? Ada apa?" tanya Nadira bingung.
"Gak ada sayang, mama cuma mau bicara sama kamu, boleh kan?" jawab Abigail.
"Ya boleh dong mah, emang mama mau bicara apa?" tanya Nadira penasaran.
"Ini tentang Galatama group, perusahaan milik Albert yang sekarang sedang kehilangan sosok pemimpin. Mereka semua butuh pemimpin yang bisa meneruskan kinerja Albert sayang," jelas Abigail.
"Lalu, maksud mama?" tanya Nadira bingung.
"Albert itu suami kamu, kamu istrinya. Jadi menurut mama, yang paling pas pegang kendali di perusahaan itu ya cuma kamu sayang. Kamu mau kan ambil kesempatan ini?" ucap Abigail.
"Hah? Ta-tapi mah, aku aja gak ngerti apapun soal bisnis mas Albert.." ujar Nadira.
"Kamu kan bisa minta bantuan Keenan, dia pasti bakal ajarin kamu semuanya!" ucap Abigail.
"Aku akan pikirin soal itu dulu mah, karena aku masih belum tahu apa aku bisa beraktivitas lagi tanpa mas Albert." ucap Nadira.
Abigail menggerakkan tangannya dan mengusap bahu Nadira, "Mama tunggu jawaban kamu ya!" ucapnya.
"Iya mah," jawab Nadira disertai anggukan kecil.
"Sudah lima hari kamu pergi mas, tapi rasanya aku masih merasakan kehadiran kamu di dekat aku. Aku kangen sama kamu mas!" batin Nadira.
Tiba-tiba saja, seekor kupu-kupu muncul mendekati Nadira dan terbang di sekitarnya.
__ADS_1
Nadira cukup terkejut sekaligus senang melihat kupu-kupu yang indah itu.
Tanpa diduga, kupu-kupu itu hinggap di sisi kepala Nadira cukup lama.
"Ahaha, ada kupu-kupu di kepala mama.." ujar Galen yang menyadari itu.
Nadira tersenyum saja, entah mengapa saat melihat kupu-kupu itu ia makin yakin bahwa Albert memang tengah memperhatikannya saat ini.
"Kamu cantik sih sayang, jadinya kupu-kupu itu suka sama kamu." ucap Abigail.
"Ah mama bisa aja!" ucap Nadira malu-malu.
Kupu-kupu itu pun pergi begitu saja setelah cukup lama hinggap di kepala Nadira.
Nadira terus menatapnya sebelum hilang dari pandangannya.
•
•
Beberapa bulan kemudian...
Nadira turun dari mobil yang ia tumpangi dan melepas kacamata hitamnya.
Ia tampak menghampiri sosok pria dewasa yang sudah berdiri di hadapannya saat ini.
Keenan selaku asisten pribadinya selalu mengikuti kemanapun Nadira pergi.
"Hey! Kamu tuan Yama yang dibicarakan banyak orang waktu itu?" tanya Nadira menegur pria tersebut.
"Ya benar, itu saya. Senang sekali saya bisa bertemu dengan pimpinan Galatama, apa kabar bu Nadira? Lama kita tidak berjumpa," ucap pria bernama Yama itu.
"Gausah basa-basi, langsung aja ke intinya! Saya mau peringati anda kalau ini wilayah Galatama dan kamu tidak bisa membuka bisnis kamu itu disini, mengerti?!" ucap Nadira tegas.
"Hahaha, maaf Bu maaf sekali! Saya mendirikan bisnis itu jauh sebelum Bu Nadira mengambil alih Galatama group, jadi saya tidak tahu menahu jika Galatama masih berjalan." elak Yama.
"Apapun alasan kamu, tetap tidak bisa diterima. Sekali lagi saya tegaskan, ini wilayah Galatama! Kamu sebaiknya segera hentikan bisnis kamu itu atau saya yang menghentikannya sendiri!" ancam Nadira.
"Eee sepertinya itu tidak bisa saya lakukan, saya meraup banyak keuntungan dari bisnis ini. Bagaimana jika kita bagi dua hasilnya itu? Anda empat puluh, saya enam puluh." ujar Yama.
"Saya gak mau," jawab Nadira menolak mentah-mentah.
"Ohh, lalu apa yang anda inginkan?" tanya Yama.
"Ambil alih bisnis itu dari anda," jawab Nadira yang kembali mengenakan kacamatanya.
"Selesaikan!" perintah Nadira pada Keenan.
Nadira berbalik dan kembali menuju mobilnya, sedangkan Keenan mengambil pistol dari saku jasnya yang langsung ia arahkan ke tubuh Yama.
"Tolong ampuni saya Bu! Saya janji akan—" ucapan Yama terputus lantaran Keenan langsung menembakkan pistolnya ke arah kepala pria itu.
Dor!
Nadira berhenti sejenak dan memejamkan matanya mendengar suara itu, ada sedikit rasa kasihan di dalam hatinya mengetahui Yama sudah mati di tangan Keenan.
Namun, akhirnya Nadira menggeleng dan kembali berjalan menuju mobil yang disusul Keenan.
"Silahkan Bu!" ucap Keenan membukakan pintu.
Nadira pun masuk ke dalam mobil diikuti oleh Keenan yang duduk di depan bersama Liam.
"Eee Bu, masih ada beberapa orang yang harus kita beresi. Mereka harus tahu bahwa Galatama group telah aktif kembali!" ucap Keenan.
"Okay! Kita berangkat sekarang!" perintah Nadira.
"Baik Bu! Ayo jalan!" ucap Keenan pada Liam.
Liam mengangguk dan mulai melajukan mobilnya pergi dari tempat itu.
"Mas, aku akan meneruskan bisnis kamu dan melanjutkan mimpi kamu yang sempat tertunda untuk melebarkan bisnis kamu ini ke seluruh dunia. Ini semua demi kamu mas, doakan ya semoga aku berhasil!" batin Nadira.
...~Selesai~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...•...
Akhirnya tamat juga, petrik mau ucapin terimakasih buat kalian semua yang selalu setia mendukung karya petrik ini dari awal sampai sekarang!
Apabila ada yang kurang sreg sama endingnya, maafin petrik ya karena petrik memang dari awal sudah menginginkan ending seperti ini.
Oh ya, siapa yang mau cerita ini dilanjut? Kalau ada dan banyak yang minat, petrik bakal buat lanjutannya dalam waktu dekat.
Yuk komen atuh di bawah siapa yang mau biar petrik bisa tau...!!
__ADS_1
Oke, bye bye see you next time...👋👋👋