
Keesokan paginya, Nadira terbangun di atas ranjang dengan posisi tubuh terikat seperti biasanya. Ia menoleh ke kanan dan kiri, tak nampak sosok Albert alias suaminya itu sama sekali disana karena memang ia hanya seorang diri.
Nadira pun bangkit dan duduk di atas ranjang dengan menekuk kedua lututnya, ia bersedih memikirkan tentang ayah dan ibunya yang saat ini jauh darinya, ia masih belum tahu apa alasan dari ayahnya membiarkan ia dinikahi oleh Albert tanpa memberi penjelasan sama sekali.
Kini Nadira hanya bisa menerima nasibnya, dari seorang gadis cantik yang ceria dan penuh mimpi menjadi wanita bernasib buruk yang harus terjebak dalam pernikahan tanpa cinta.
Bahkan Nadira juga tak tahu apakah Albert menikahi ia karena cinta atau hanya karena terobsesi pada tubuhnya, apalagi setiap malam Albert selalu meminta jatah darinya dan jika ia menolak maka pria itu langsung mengikatnya dengan kasar.
"Hiks hiks... Kenapa nasibku sekarang jadi seperti ini ya Tuhan?" ujarnya sambil menangis.
Lalu, Nadira menoleh ke arah kalender di dinding. Ia baru sadar kalau seharusnya saat ini ia berada di sekolah dan melaksanakan ujian tengah semester.
"Duh, aku kan harus sekolah! Mana udah jam tujuh lagi, pasti ujiannya udah dimulai! Tuan Albert kemana ya?" ucap Nadira merasa panik.
Disaat wanita itu tengah asyik celingak-celinguk, seseorang dari luar membuka pintu dan menatap ke arahnya dengan senyum tipis terpampang di wajah, ya orang itu tak lain adalah Albert suaminya.
Tanpa basa-basi, Albert melangkah masuk ke dalam kamar itu dan mendekati Nadira. Ia mengunci pintu dengan rapat, lalu duduk di samping wanita itu.
"Nadira, kamu udah bangun? Selamat pagi ya sayang, semoga hari ini adalah hari yang indah buat kamu! Dan juga buat saya tentunya, karena saya tidak ingin melihat adanya air mata yang menetes di wajah kamu itu lagi!" ucap Albert sembari mengelus wajah Nadira perlahan.
"Maaf tuan! Tapi, apa saya boleh pergi sekolah? Hari ini itu jadwalnya ujian tuan, saya harus ikut ujian itu kalau tidak saya bisa terancam tinggal kelas tuan!" ucap Nadira memohon.
"Sekolah? Ujian? Untuk apa sayang? Kamu bisa dapetin ijazah SMA itu tanpa perlu ujian, biar saya yang urus nanti! Kamu sekarang diem aja disini, jangan kemana-mana! Kalau kamu butuh apa-apa, panggil aja mbok Widya pakai tombol bel yang ada di samping kamu itu! Otomatis dia pasti akan datang bantu kamu, saya harus pergi kerja dulu sekarang! Tapi jangan risau, karena selepas waktu ashar nanti saya akan pulang kok!" ucap Albert.
"Tapi tuan, saya tetap harus sekolah! Saya gak mau mimpi yang udah saya bangun dari kecil sirna begitu aja karena pernikahan ini! Saya mohon tuan, kali ini aja saya minta sama tuan izinin saya buat sekolah lagi!" ucap Nadira memelas.
Albert terdiam merunduk, namun tiba-tiba ia menatap tajam mata Nadira dan mencengkeram rahang wanita itu dengan kuat.
"Hey, kamu dengar kata-kata saya ya! Kamu tidak boleh membantah semua perkataan saya, apalagi sampai memelas seperti itu pada saya! Karena saya tidak akan merasa kasihan sama kamu, justru saya akan menghukum kamu dengan sebuah siksaan yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya!" ucap Albert tegas.
"Ja-jangan tuan, ampuni saya! Saya minta maaf, saya tidak akan begitu lagi!" ucap Nadira panik.
Albert mencampakkan wajah Nadira begitu saja dengan kasar sampai Nadira terhempas ke samping dan rahangnya pun terasa sakit, ia memegangi rahangnya dengan sedikit rintihan dari mulutnya.
"Sudahlah, saya harus berangkat kerja!" ujar Albert.
"I-i-iya tuan...."
__ADS_1
Pria itu berdiri dan membenarkan jas miliknya, lalu meninggalkan Nadira disana. Tak lupa Albert juga mengunci rapat-rapat pintu kamar itu agar Nadira tak bisa kemana-mana, ia memang tidak ingin kehilangan wanita yang berhasil membuat hasratnya terpenuhi itu.
Sementara Nadira kembali meneteskan air mata, kini sudah benar-benar pupus harapannya untuk bisa menjadi seorang wanita yang sukses dan salah membahagiakan kedua orangtuanya, karena tak mungkin ia bisa membujuk Albert suaminya.
•
•
📞"Hah? Serius sayang?" ujar Keenan tampak sumringah saat berbicara lewat telpon.
📞"Iya, serius dong sayang!"
📞"Wah oke deh! Nanti aku kabarin abang kamu juga ya sayang, sekarang kamu kuliah dulu gih sana! Aku juga mau anterin abang kamu ke kantor, bye sayang!" ucap Keenan.
📞"Iya sayang, bye juga! Sampai ketemu disana oke!"
📞"Siap sayang!"
Tuuutttt...
"Telpon sama siapa?"
"Huh ya ampun tuan, ngagetin saya aja! Ini loh barusan saya abis telponan sama Chelsea, adiknya tuan sendiri!" ujar Keenan tersenyum sembari menghela nafasnya.
"Ohh, mau ngapain dia? Ganggu kamu?" tanya Albert dingin.
"Eee enggak kok tuan, barusan Chelsea kasih kabar ke saya kalau dia bakal balik kesini dalam dua Minggu ke depan. Katanya sih dia udah kangen sama tuan dan penasaran pengen lihat istrinya tuan, alias nona Nadira!" jelas Keenan.
"Loh, kamu kasih tau ke Chelsea kalau saya sudah menikah?" ujar Albert tampak emosi.
Keenan reflek menutup mulut dan merunduk panik.
"Emangnya saya salah ya tuan? Bukannya Chelsea juga berhak tau tentang ini? Kan Chelsea itu adiknya tuan sendiri," tanya Keenan gugup.
Bughh...
"Bodoh kamu Keenan! Beraninya kamu bertindak seperti itu tanpa memberitahu saya terlebih dahulu! Saya ini tidak ingin siapapun dari anggota keluarga saya tau tentang pernikahan ini, kenapa kamu malah kasih tau ke Chelsea ha? Bukannya saya sudah perintahkan kamu untuk tutup mulut dan merahasiakan pernikahan saya dari siapapun?!" geram Albert.
__ADS_1
"Ma-maafkan saya tuan! Saya sudah lancang, tolong ampuni saya!" ucap Keenan merunduk sembari memegangi bagian wajahnya yang terkena pukulan dari Albert.
Albert hanya menggelengkan kepala sambil mengelus dagu, ia tak habis pikir dengan ulah asistennya itu.
"Yasudah, kali ini kamu saya maafkan! Tapi, kamu harus pastikan kalau Chelsea tidak akan cerita-cerita ke siapapun termasuk mama saya! Atau saya akan habisi kamu Keenan!" ancam Albert.
"Ba-baik tuan!" ucap Keenan gugup.
"Ayo kita pergi sekarang! Klien saya sudah menunggu di kantor," ucap Albert.
"Siap tuan!"
Keenan langsung bergerak menuju mobil, ia membukakan pintu mobil agar Albert bisa masuk dengan mudah ke dalam sana.
Setelah Albert masuk, Keenan pun berlari menuju pintu kemudi dan ikut masuk ke dalam sana bersiap mengantar Albert menuju kantornya.
"Oh ya tuan, apa saya boleh tanya sesuatu?" ucap Keenan meminta izin pada tuannya.
"Soal apa?"
"Ini tentang nona Nadira, tuan. Kenapa tuan memilih menikahi gadis desa seperti nona Nadira yang polos dan lugu itu? Sedangkan di kota cukup banyak sekali wanita cantik nan seksi yang dapat memuaskan tuan sepanjang malam, apa alasan tuan lebih memilih Nadira dibanding mereka?" tanya Keenan.
Albert tersenyum tipis lalu beralih menatap ke luar jendela, ia pun menjawab pertanyaan Keenan dengan santai tanpa sedikitpun rasa cemas di hatinya.
"Simpel aja, karena dia polos dan mudah saya bodohi! Selain itu, Nadira juga masih perawan. Saya ini sudah terlalu banyak bermain dengan wanita yang bukan perawan, itu sebabnya begitu mencoba milik Nadira saya langsung merasakan sensasi yang luar biasa! Hanya itu alasan saya Keenan, karena saya memang menyukai tubuh Nadira!" jawab Albert.
"Baik tuan! Lalu, mengapa tuan juga menutupi pernikahan ini dari pihak keluarga tuan sendiri? Bahkan termasuk ibu tuan, apa yang sebenarnya tuan sedang rencanakan?" tanya Keenan.
"Cukup Keenan! Kalau soal itu, sudah menyangkut ke privasi saya! Kamu tidak berhak tau, karena kamu bukan siapa-siapa dan hanya asisten saya! Berhenti bertanya, fokus saja menyetir daripada kita nabrak nantinya!" tegur Albert.
"Ba-baik tuan, maaf!" ucap Keenan gugup.
Keenan pun fokus menyetir mobil, ia tak lagi bertanya-tanya pada Albert walaupun ia masih sangat penasaran.
"Tidak mungkin saya ceritakan ke kamu Keenan, kalau saya ini menikahi Nadira hanya untuk kesenangan saya semata! Setelah saya merasa puas dengan Nadira, saya akan campakkan dia dan mencari santapan selanjutnya!" gumam Albert di dalam hatinya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...