Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Apa benar?


__ADS_3

Nadira dan Albert kini tiba di rumah Suhendra, mereka hendak menikmati sarapan pagi bersama kedua orang tua dari wanita itu.


Sepasang suami-istri itu turun dari mobil, lalu berjalan bersamaan menuju depan rumah Suhendra dengan bergandengan tangan dan saling tersenyum satu sama lain.


Nadira juga membawa rantang berisi makanan yang sudah ia buat sendiri di tangannya, ia sengaja memasak pagi-pagi buta bersama para pelayan di rumah Albert karena ingin memberikan kejutan bagi kedua orangtuanya.


"Mas, kira-kira ayah sama ibu bakal suka gak ya sama masakan aku?" tanya Nadira cemas.


"Kamu kenapa nanya gitu? Sudah pasti mereka bakal suka kok, apalagi masakan kamu itu enak. Saya aja akui kok kalau masakan kamu paling enak dibanding masakan para pelayan di rumah, soalnya rasanya tuh beda banget dan gak ada yang bisa samain!" jawab Albert menenangkan Nadira.


"Ah bisa aja kamu mas!" ucap Nadira malu-malu.


Albert tersenyum, kemudian menarik kepala Nadira ke dekatnya dan mengecup dahi wanita itu cukup lama.


Cupp!


"Udah ya, kamu gausah cemas lagi! Saya yakin mereka pasti suka sama masakan kamu!" ucap Albert.


"Iya mas, aku udah agak lega kok. Ya semoga aja yang kamu bicarakan itu benar!" ucap Nadira.


Albert mengangguk pelan, Nadira mengangkat kepalanya menjauh dari bahu sang suami.


Lalu, mereka pun menghentikan langkahnya begitu tiba di depan teras rumah Suhendra.


Nadira melirik sejenak ke arah suaminya, meminta izin untuk mengetuk pintu dan memanggil ayah atau ibunya di dalam sana.


"Mas, aku ketuk pintunya ya?" ucap Nadira.


"Saya aja," ucap Albert singkat dan dingin.


"Iya deh, yaudah ketuk!" ucap Nadira.


Albert tersenyum tipis, lalu menggerakkan tangannya dan mulai mengetuk pintu itu.


TOK TOK TOK...


"Permisi! Pak, bu...!!" ucap Albert dengan suara lantang memanggil mertuanya.


"Assalamualaikum... ibu, ayah!" ucap Nadira turut memanggil kedua orangtuanya.


"Jangan-jangan ayah sama ibu kamu gak ada di rumah lagi sayang!" ujar Albert.


"Gak mungkin lah! Mereka biasanya ada kok di rumah kalau jam segini, coba deh kamu ketuk lagi pintunya!" ucap Nadira.


"Iya iya..." Albert menurut dan kembali mengetuk pintunya.


Namun, sebelum Albert mengetuknya pintu itu sudah lebih dulu terbuka dari dalam.


Ceklek...


"Waalaikumsallam, eh ada kalian berdua. Yuk masuk masuk!" ucap Suhendra yang baru muncul dan senang melihat kehadiran putrinya.


"Iya ayah, aku sama mas Albert sengaja kesini mau sarapan bareng ayah dan ibu." kata Nadira.


"Oh ya? Wah Alhamdulillah sekali, akhirnya ayah bisa sarapan bareng sama kamu lagi sayang!" ucap Suhendra.


Nadira tersenyum, kemudian mencium tangan ayahnya.


Albert juga melakukan hal yang sama, pria itu mencium tangan Suhendra walau masih sedikit canggung dan gugup.


"Yah, ibu ada kan di dalam?" tanya Nadira pada ayahnya.


"Ada kok sayang, yaudah kita masuk aja yuk ke dalam!" ucap Suhendra.


"Iya yah, ayo mas!" Nadira melangkah masuk, mengajak suaminya juga untuk ikut ke dalam bersamanya dan sang ayah.


"Ayo ayo tuan Albert, masuk saja!" ujar Suhendra melebarkan pintu, memberi jalan bagi mereka untuk masuk ke dalam.


"Ah iya.." ucap Albert malu-malu.


Akhirnya mereka bertiga masuk bersama-sama ke dalam rumah itu, Suhendra sangat senang karena dia bisa menikmati sarapan bersama putrinya lagi setelah sekian lama.




Saat di dalam, Sulastri terkejut ketika melihat kehadiran Nadira serta Albert di rumahnya.


Wanita yang baru selesai menggoreng tempe itu pun bergegas melangkah mendekati Nadira dan memeluknya.


"Nadira!" teriaknya.


"Ibu!" Nadira juga sama senangnya begitu melihat ibunya, ia mendekati Sulastri lalu berpelukan di hadapan Suhendra dan juga Albert.


"Assalamualaikum ibu, aku kangen sama ibu!" ucap Nadira sedikit terisak.


"Waalaikumsallam, sama sayang ibu juga kangen sekali sama kamu! Ibu senang karena kamu bisa datang kesini pagi-pagi begini!" ucap Sulastri.

__ADS_1


Nadira melepas pelukannya, mencium tangan sang ibu dan menyeka air mata yang membasahi pipinya.


"Iya dong Bu, kan udah lama aku gak sarapan disini bareng ibu sama ayah. Makanya sekarang aku kesini deh, sekalian bawain makanan buat kita sarapan bareng-bareng." ucap Nadira.


"Wah pasti enak nih masakan kamu! Kebetulan ibu juga belum masak sayang," ujar Sulastri.


"Iya, ayah juga udah kangen sama masakan buatan anak kita yang cantik ini." sahut Suhendra.


"Ah ayah sama ibu bisa aja! Yaudah, kalo gitu kita langsung ke meja makan aja yah, bu! Kelihatannya ayah sama ibu udah pada lapar nih, mas Albert juga." kata Nadira.


"Kenapa jadi saya dibawa-bawa?" tanya Albert.


"Emangnya kamu gak lapar, mas? Gak mau ikut sarapan bareng sama kita disini? Yaudah kalau gak mau, jatah kamu buat ayah aja!" ujar Nadira.


"Eh eh ya jangan lah! Saya ini lapar, yakali saya disini cuman ngeliatin kamu sama yang lain makan." ucap Albert.


"Hahaha... makanya kamu gausah malu-malu gitu, ayah sama ibu kan udah jadi orang tua kamu juga mas!" ucap Nadira tertawa lebar.


"Iya sayang, saya ngerti kok. Saya juga anggap mereka seperti orang tua saya sendiri," ujar Albert.


Sulastri terheran-heran melihat keakraban putrinya dengan Albert, tak terlihat sama sekali bahwa Nadira tertekan menikah dengan pria tersebut, justru Nadira malah sangat berbahagia seakan dia mencintai suaminya itu.


"Aku heran sama Nadira, dia kenapa bisa akrab gitu sama tuan Albert? Apa iya mereka sudah saling cinta?" gumam Sulastri dalam hati.


"Bu, ibu mikirin apa sih? Kok bengong aja?" ujar Suhendra menegur istrinya.


Sontak Nadira dan Albert menoleh secara bersamaan ke arah Sulastri, sedangkan Sulastri mulai salah tingkah berusaha mencari alasan agar tidak dicurigai.


"Eee enggak kok, ibu gak mikirin apa-apa. Ibu cuma senang aja karena Nadira sama tuan Albert bisa datang kesini sekarang," ucap Sulastri.


"Oh gitu, iya sih bapak juga senang sekali dan gak nyangka kalau akhirnya kita bisa sarapan bersama di rumah ini. Apalagi selama ini tuan Albert kan jarang sekali mampir ke rumah kita," ucap Suhendra tersenyum.


"Iya pak, Bu, saya minta maaf ya! Saya terlalu sibuk dengan urusan kantor, jadi saya lupa buat mampir ke rumah mertua saya. Untungnya kali ini Nadira punya ide buat kasih kejutan ke bapak sama ibu, jadi saya bisa deh main kesini." kata Albert.


"Gapapa tuan Albert, kita maklumi kok. Tuan Albert ini kan pengusaha besar," ucap Suhendra.


"Eee sebaiknya bapak sama ibu jangan panggil saya pakai tuan lagi ya! Panggil aja saya Albert, karena saya ini kan menantunya bapak dan ibu." pinta Albert.


"Oh begitu, memangnya tidak apa?" ujar Suhendra.


"Gapapa dong pak, malah saya lebih suka dipanggil nama aja." kata Albert sambil tersenyum.


"Baiklah baiklah, bapak akan usahakan buat gak panggil kamu dengan sebutan tuan lagi." ucap Suhendra.


"Terimakasih pak!" ucap Albert.


"Iya Bu," Nadira mengangguk menyerahkan rantang itu pada ibunya.


Lalu, mereka pun berjalan menuju meja makan untuk mulai melaksanakan sarapan bersama yang diusulkan oleh Nadira.




Keenan baru selesai menyiapkan sarapan untuknya dan juga Celine, ia pun celingak-celinguk mencari dimana adiknya saat ini karena hingga sekarang Celine belum juga nampak disana.


Pria itu pun bergerak menuju kamar Celine, ia hendak membangunkan adiknya itu mengingat dia harus sekolah pagi ini.


TOK TOK TOK...


"Dek, bangun dek udah pagi nih! Kamu kan harus sekolah Cel, yuk bangun kita sarapan bareng!" ucap Keenan seraya mengetuk pintu kamar Celine.


Ceklek...


Pintu terbuka, memperlihatkan Celine yang sudah rapih dengan baju seragamnya.


"Iya bang, gue udah bangun kok." kata Celine.


"Ya baguslah kalo lu udah rapih, gue kira lu masih tidur tadi." ucap Keenan.


"Yakali gue masih tidur, gue kan juga tahu kali kalau sekarang gue harus sekolah. Makanya gue bangun begitu alarm gue bunyi dan gue langsung mandi walaupun udaranya dingin banget," ucap Celine.


"Hooh, emang dingin karena kan tadi sempat hujan. Yaudah, sekarang sarapan yuk biar tubuh lu jadi hangat!" ucap Keenan mencolek pipi Celine.


"Lah emang bisa gitu ya?" tanya Celine heran.


"Oh jelas bisa, lu jangan salah! Makanya ayo kita sarapan dulu sebelum berangkat! Yang namanya sarapan itu bisa bikin tubuh kita jadi kuat dan berenergi, nah itu dia yang gue maksud jadi hangat." jelas Keenan.


"Iya deh, sebentar ya bang gue ambil jaket dulu! Soalnya kalo gak pake jaket tambah dingin," ucap Celine.


Keenan mengangguk saja, Celine pun kembali ke kamar mengambil jaket miliknya.


Setelah selesai, gadis itu kembali menemui Keenan di depan kamarnya dan mengunci pintu.


"Yuk bang! Btw, lu masak apaan buat kita sarapan? Sorry banget ya bang! Harusnya kan gue yang masak, eh sekarang malah lu yang siapin sarapan buat kita." kata Celine merasa tidak.


"Gapapa sayang, mau siapapun yang masak itu gak penting. Intinya kan sama-sama kita bisa sarapan, jadi lu gak perlu minta maaf!" ucap Keenan.

__ADS_1


"Iya bang," ucap Celine tersenyum.


Keenan pun ikut tersenyum sembari mencolek lesung pipi adiknya yang menggemaskan.


Mereka berjalan bergandengan tangan menuju meja makan, wangi Celine tercium cukup jelas di hidung Keenan dan membuat pria itu nyaman.


"Lu wangi banget sih dek!" ucap Keenan mengendus leher adiknya.


"Bang, jangan ngada-ngada deh! Kalo lu cium gue terus, nanti yang ada wangi gue hilang sebelum gue sampe di sekolah!" tegur Celine.


"Hehe sorry.." ujar Keenan nyengir.


Sesampainya di meja makan, mereka langsung duduk berdampingan dan Keenan tampak menyiapkan piring serta sendok untuk Celine agar lebih mudah memakan makanannya.


"Bang, gue bisa sendiri kok. Lu gausah lah kayak gitu ke gue!" ucap Celine.


"Gapapa, biar cepet aja. Kan gue tahu sendiri, lu itu apa-apa lama. Ini juga kan udah mau siang tuh, nanti lu telat aja kalo kelamaan!" ucap Keenan.


"Iya iya..." Celine menurut saja dengan abangnya.


"Nah, sekarang lu makan nih sampai habis! Supaya lu gak lemes lagi pas di sekolah nanti," ucap Keenan menyodorkan piring ke arah Celine.


"Iya bang, lu juga makan dong!" ucap Celine menampani piring tersebut.


"Santai!" ucap Keenan singkat dan langsung mengambil makanan untuk dirinya.


Mereka pun menikmati sarapan pagi bersama dengan saling berbincang dan bercanda tawa seperti biasanya.




Nadira masih bersama kedua orang tua dan juga suaminya saat ini, mereka tengah sarapan bersama seperti yang sudah direncanakan Nadira sejak kemarin.


Suhendra baru teringat pada perkataan Vanesa kemarin saat mengunjungi rumahnya, pria itu pun langsung menatap Nadira dan coba membahas mengenai Vanesa kepadanya.


"Umm... Nadira, ayah boleh bicara sebentar sama kamu?" tanya Suhendra tampak serius.


"Bicara aja yah! Biasanya juga tinggal ngomong kan, kenapa mesti izin segala?" ucap Nadira heran.


"Ah iya, ayah cuma takut ganggu kamu aja." ujar Suhendra.


Sulastri yang berada di samping Suhendra, melirik ke arah suaminya memberi kode untuk tidak membahas soal itu saat ini.


"Yah, emang ada apa sih? Apa yang ayah mau bicarain sama Dira?" tanya Nadira penasaran.


"Eee gak ada kok sayang, udah kamu lanjut aja makannya! Nanti pas selesai, baru deh ayah coba bicara sama kamu." kata Suhendra.


"Kok gitu sih yah? Udah bicara sekarang aja, aku penasaran tau!" ujar Nadira.


"Jangan sayang, gak baik kalau kita makan sambil ngobrol! Mending kamu abisin dulu makanannya!" ucap Suhendra menunda ucapannya.


"Iya Nadira, dihabiskan aja dulu ya makanan kamu!" sahut Sulastri.


"Huft, iya deh.." Nadira mendengus pasrah.


Suhendra kembali menatap istrinya, Sulastri coba menenangkan Suhendra dengan cara memegang tangan pria tersebut.


Albert yang duduk di hadapan kedua orang tua itu, merasa heran melihat tingkah mereka yang seperti tengah menyembunyikan sesuatu.


"Ada apa ya?" batin Albert.


Setelah mereka selesai makan, Albert dan Suhendra tampak melangkah lebih dulu menuju sofa ruang tamu, sedangkan Nadira serta Sulastri tetap di dapur untuk mencuci piring.


"Pak, tadi saya lihat bapak seperti ingin mengatakan sesuatu sama Nadira, tapi tidak jadi. Sebenarnya apa yang mau bapak katakan sama Nadira? Ya kalau saya boleh tahu, bapak bisa kok bicara ke saya." ucap Albert penasaran.


"Ah iya Albert, bapak memang sedang ingin bicara sama Nadira. Tapi, perihal kamu." kata Suhendra.


"Maksudnya?" tanya Albert heran.


"Begini Albert, semalam itu ada seorang wanita yang datang kemari. Dia mengaku bernama Vanesa dan katanya sih dia tuh mantan sekretaris kamu, dia menceritakan banyak hal ke saya dan Bu Lastri. Termasuk mengenai kehamilannya," jawab Suhendra.


Albert terdiam, ia tak menyangka Vanesa bisa bertindak sejauh ini dengan melibatkan kedua orang tua Nadira.


"Apa semua yang dikatakan Vanesa itu benar, Albert? Kamu yang sudah menghamili dia, dan kamu tidak mau bertanggung jawab karena memilih bersama Nadira?" tanya Suhendra.


Albert tak bisa berkutik, ia bingung harus menjawab dan menjelaskan bagaimana pada Suhendra.


"Aduh! Gimana ini jawabnya ya?" batin Albert.


Sementara Suhendra terus menatap Albert, ia menunggu jawaban dari pria itu karena ia sangat penasaran dan bahkan hampir semalaman tidak bisa tidur karena memikirkan itu.


"Kenapa Albert kelihatan bingung dan cemas gitu ya? Apa benar dia sudah menghamili sekretarisnya sendiri dan tidak mau bertanggung jawab? Kalau iya, saya sungguh geram dengan tingkah Albert ini!" gumam Suhendra dalam hati.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2