Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Amplop


__ADS_3

"Eenngghh..." Celine terbangun dari tidurnya, membuka mata lalu melihat ke sekeliling dengan memicingkan matanya.


Gadis itu bangkit dan terduduk di atas ranjang, ia merasa heran karena tempat ia berada sekarang sangat asing di matanya, Celine juga tak mengingat apa yang terjadi pada dirinya semalam setelah bertemu dengan Harrison.


"Duh, gue dimana nih? Kenapa gue bisa ada disini?" gumam Celine sembari memegangi keningnya.


Celine memilih beranjak dari tempat tidur, lalu berjalan ke dekat pintu dan berusaha membukanya sambil mengetuk-ngetuk pintu tersebut, ia sangat panik tak tahu mengapa bisa ia ada disana.


Berkali-kali Celine mencoba membuka pintu, namun tidak berhasil lantaran pintu tersebut terkunci dari luar dan ia tak bisa membukanya.


Celine pun berteriak, berharap ada seseorang di luar yang bisa mendengarnya. "Woi! Bukain pintunya, gue mau keluar! Jangan kurung gue disini, cepat buka!" teriaknya sembari menggedor-gedor pintu.


Tak lama kemudian, pintu terbuka membuat Celine memundurkan langkahnya.


Ceklek...


"Heh! Siapa lu sebenarnya? Kenapa lu kurung gue di kamar ini? Apa jangan-jangan lu termasuk rombongan penculik yang kemarin?" ujar Celine.


Pria itu tersenyum mendekati Celine, "Dengar ya, lu diem aja gausah banyak omong! Lu disini cuma dijadiin pancingan sama bos gue, supaya abang lu bisa datang kesini."


"Ma-maksud lu? Jadi, lu mau jadiin gue umpan?" ujar Celine terkejut dan terperangah lebar.


"Iya, itu lu paham. Mending sekarang lu diam, jangan banyak kecot! Lu bakal baik-baik aja disini, selagi lu gak ngelawan!" ucap pria itu.


"Gue gak mau ada disini, gue pengen pulang!" ucap Celine memohon pada pria itu.


"Lu cuma bisa pulang, kalau abang lu udah datang kesini. Itu juga tergantung keputusan bos gue, jadi lu banyak-banyak berdoa aja supaya bisa lepas dari sini!" ucap pria itu.


Pria penjaga itu pun berbalik, lalu melangkah keluar dari sana meninggalkan Celine. Tak lupa pria itu kembali mengunci pintu, agar Celine tidak bisa pergi kemana-mana.


Celine berdiri pasrah, menangis pun ia rasa tak akan menyelesaikan masalah kali ini. Dirinya berpikir sejenak, menaruh jari-jarinya di dagu dan coba memutar otak mencari cara untuk bisa keluar dari sana.


"Gue harus gimana ya biar bisa keluar dari sini? Kayak gak ada celah sama sekali disini, mereka emang udah rencanain ini sebaik mungkin. Gue sampe gak bisa berbuat apa-apa," batin Celine.




Sementara itu, Vanesa tiba di rumah Albert mengenakan taksi yang ia tumpangi.


Setelah membayar, wanita yang memakai pakaian serba ketat itu turun dari taksi dan menghampiri gerbang rumah bosnya.


"Permisi!" Vanesa coba bersuara agar orang di dalam sana dapat mendengarnya.


"Misi!" teriaknya lebih lantang sembari terus menekan bel di sampingnya.


Salah satu penjaga yang bekerja disana pun berjalan menghampirinya, ia menemui Vanesa dan agak terkejut melihat bentuk tubuh wanita yang sedang berdiri di depannya.


"Ah iya, cari siapa ya?" tanya penjaga itu.


"Akhirnya ada yang muncul juga. Saya Vanesa, sekretaris pak Albert. Saya datang kesini mau ketemu dengan beliau, karena ada yang harus dibahas mengenai pekerjaan. Apa saya boleh masuk ke dalam, pak?" jawab Vanesa menjelaskan maksud dan tujuannya datang kesana.


Penjaga bernama James itu terbengong, ia justru fokus menatap gundukan Vanesa yang menonjol dari balik pakaiannya.


"Pak, halo pak saya lagi bicara loh!" tegur Vanesa mengipas-ngipas tangannya di depan James.


"Ah iya, ma-maaf saya gak fokus! Tadi mbaknya mau ketemu tuan Albert, ya?" ucap James agak gugup dan grogi sendiri.


"Iya, saya sekretarisnya dan saya ingin bertemu dengan pak Albert sekarang. Apa bisa?" ujar Vanesa mengulangi kalimatnya dengan jengkel.


"Bukannya gak bisa, mbak. Tapi, sekarang pak Albert nya lagi gak ada di rumah. Tadi pagi-pagi sekali pak Albert udah pergi dari rumah, mungkin ke kantor," ucap James.


"Oh ya? Saya lihat di kantor gak ada tuh pak Albert, makanya saya datang kesini," ucap Vanesa heran.


"Waduh, kalau itu saya juga kurang tahu deh mbak. Kenapa gak coba ditelpon atau sms gitu pak Albert nya biar jelas?" saran James.


"Udah pak, ponselnya sibuk. Eee di dalam ada siapa aja ya, pak?" tanya Vanesa.


"Di dalam sih ada istrinya pak Albert, mbak. Sama ada ibunya dan adiknya, apa mbaknya mau ketemu sama mereka?" ucap James.

__ADS_1


"Eh enggak deh, saya titip ini aja buat istrinya pak Albert." Vanesa mengambil sesuatu dari dalam tasnya, lalu menyerahkan itu pada James. "Ini pak, bisa tolong diberikan ke Bu Nadira kan?" sambungnya.


Penjaga itu pun menampani sebuah amplop coklat dari tangan Vanesa, "Bisa mbak. Baik, nanti saya sampaikan ini ke non Nadira. Apa ada lagi yang bisa saya bantu, mbak?"


"Gak ada, itu aja pak. Yaudah, makasih ya udah mau bantu saya! Kalo gitu saya permisi dulu, titip salam buat Bu Nadira!" ucap Vanesa pamit pada penjaga itu sambil tersenyum manis.


"I-i-iya mbak, sama-sama."


Setelahnya, Vanesa berbalik dan pergi dari sana. Sementara James tetap berdiam diri disana dan terus memandangi punggung Vanesa yang perlahan menjauh, James terpesona dengan lekuk tubuh Vanesa yang seksi itu.


"Gila, tuh cewek seksi banget. Beruntung banget ya jadi pak Albert, bisa punya sekretaris model begitu!" batin James seraya membasahi bibirnya.




Nadira yang bosan memutuskan untuk berkeliling keluar rumah, namun ia tetap berada di sekitar halaman rumahnya karena tak mungkin ia bisa pergi jauh dari sana mengingat Albert sudah mengawasinya dan mengancamnya untuk tetap berada di rumah itu.


Nadira pun mendatangi taman samping yang terdapat cukup banyak bunga-bunga indah itu, ia memang sangat menyukai berbagai jenis bunga apapun itu, terlebih bunga matahari yang warnanya cerah membawa kesenangan di dalam hatinya.


"Mmhhh rasanya segar banget keliling di taman gini, bosen juga di dalam terus."


Tiba-tiba saja salah seorang pelayan yang bekerja disana menghampirinya, lalu berdiri di samping Nadira menaruh kedua tangan di depan dan sedikit membungkuk, membuat Nadira bingung.


"Ada apa ya? Ngapain kamu samperin saya?" tanya Nadira dengan nada sedikit ketus.


"Maaf non! Saya cuma ingin temani non Nadira, supaya non gak terluka. Saya dapat perintah dari tuan Albert, untuk jaga non Dira," jawabnya.


"Siapa nama kamu?" tanya Nadira.


Pelayan itu mengenalkan namanya di hadapan Nadira, "Umm... saya Windi, non."


"Ohh Windi, yaudah kamu sekarang balik ke dalam aja ya! Saya bisa sendiri kok, saya cuma mau keliling-keliling sekitar sini aja gak kemana-mana. Soalnya saya bosan di dalam terus, kata tuan Albert juga gapapa kok," pinta Nadira.


"Iya non, tapi masalahnya tuan Albert juga beri saya perintah buat jagain non Nadira kapanpun dan dimanapun. Jadi, mohon maaf sekali lagi ya non bukannya saya bermaksud lancang, saya cuma gak mau dimarahi sama tuan Albert. Boleh kan non kalau saya temani non Dira?" ucap Windi.


"Baik non!" ucap Windi menurut.


Mereka pun kembali berjalan dengan Windi berada di belakang Nadira, Nadira dibuat tersenyum begitu mengetahui bahwa Albert sangat perduli padanya.


"Tuan Albert ternyata perhatian banget ya sama aku, dia sampai minta pelayan buat jagain aku setiap saat. Eh apaan sih Dira? Kamu kok jadi kege'eran begini sih? Udah jelas tuan Albert cuma perduli sama calon anaknya, ini juga pasti dia lakuin ya buat dedek bayi bukan aku!" gumam Nadira dalam hati.


Disaat Nadira sedang asyik menikmati keindahan taman tersebut, lagi dan lagi ada saja orang yang mengganggunya. Kali ini giliran James, pria penjaga itu berteriak memanggil Nadira.


"Non Dira! Non tunggu non, sebentar!" teriak James sambil berlari menghampiri Nadira.


Tentu saja Nadira terpaksa berhenti kembali, ia menoleh ke belakang dengan wajah cemberut kesal pada sosok James.


"Ada apa sih?" tanya Nadira ketus.


"Maaf non! Saya cuma mau sampaikan pesan ini buat non," ucap James ngos-ngosan sembari menyerahkan amplop pemberian Vanesa tadi kepada Nadira.


"Apa ini? Dari siapa?" tanya Nadira penasaran dan tampak keheranan.


"Eee itu non, tadi ada cewek datang kesini ngaku sekretarisnya pak Albert. Dia mau ketemu sama pak Albert bahas soal kerjaan, tapi saya bilang pak Albert lagi gak ada di rumah, dia pergi deh. Tapi, sebelum pergi dia titip ini ke saya katanya buat dikasih ke non Nadira, yaudah saya langsung kasih aja deh sekarang sama non," jelas James.


"Oalah, makasih ya pak James! Nanti saya buka ini di dalam, yaudah kamu boleh balik kerja sana!" ucap Nadira tersenyum.


"Baik non! Permisi,"


James langsung berbalik, kemudian pergi dari sana untuk kembali ke gerbang depan.


"Gak tuan Albert, gak non Nadira, sama-sama galak dan nyebelin!" gumam James.


Sementara Nadira tampak memegangi amplop tersebut, ia amat penasaran dengan isi dari amplop itu dan apa niat sekretaris Albert memberikan itu padanya.


"Kira-kira isinya apa ya? Aku jadi penasaran, apa aku buka sekarang aja?" batin Nadira.


Ya karena penasaran, akhirnya Nadira memilih untuk membuka amplop tersebut saat ini juga, namun tidak jadi karena tiba-tiba Nadira berubah pikiran dan memutuskan kembali ke dalam rumah agar bisa lebih leluasa membukanya.

__ADS_1




Vanesa yang kini sudah berada di dalam taksi, merasa senang setelah memberikan amplop tadi kepada penjaga di rumah Albert, ia yakin lambat laun Nadira pasti akan membukanya dan mengetahui fakta bahwa suaminya telah selingkuh serta berhubungan badan dengannya sampai hamil.


"Hahaha, aku gak sabar pengen tahu gimana reaksi Nadira begitu tahu suaminya selingkuh! Pasti dia syok banget deh, dan dia gak akan percaya lagi sama suaminya itu!" gumam Vanesa.


Drrttt..


Drrttt...


Ponselnya berdering ketika ia sedang asyik melamun sambil tersenyum ria, Vanesa pun mengambil ponselnya dari dalam tas untuk melihat siapa yang menelponnya.


"Pak Darius? Wah kebetulan nih, pasti dia senang dengar kabar bagus dari gue!" ucap Vanesa.


Tanpa berlama-lama lagi, Vanesa segera mengangkat telpon dari Darius alias paman Albert tersebut.


📞"Halo paman! Selamat pagi!" ucap Vanesa penuh keceriaan.


📞"Halo cantik! Kedengarannya kamu lagi senang banget nih, ada kejadian apa emangnya Vanesa? Kasih tahu saya dong, supaya saya juga bisa merasakan kesenangan itu!" ucap Darius penasaran.


📞"Iya paman, pasti aku kasih tahu kok. Ini tuh menyangkut rencana kita buat jauhi Nadira dari Albert, dan aku rasa semuanya akan berhasil dalam waktu dekat!" ucap Vanesa.


📞"Oh ya? Memangnya apa yang baru kamu lakukan, sampai kamu begitu yakin sekali kalau Nadira akan pergi menjauh dari Albert?" tanya Darius penuh penasaran.


📞"Barusan aja aku abis dari rumah Albert, terus aku kasih surat kehamilan aku plus foto-foto sewaktu aku dan Albert bermesraan, aku yakin setelah Nadira lihat semua itu pasti dia bakal benci banget sama Albert dan bukan tidak mungkin dia bisa pergi dari rumah itu, paman!" jawab Vanesa.


📞"Waw kamu luar biasa cantik! Saya suka dengan cara kerja kamu, kalau begitu kita tinggal tunggu saja bagaimana reaksi Nadira ke depannya. Sembari menunggu, saya juga akan temui Nadira untuk semakin membuat dia emosi!" ucap Darius.


📞"Benar paman!" ucap Vanesa tersenyum.


Sementara supir taksi yang ditumpangi Vanesa itu terus melirik ke belakang, menatap sosok Vanesa dengan sorotan tajam.


"Oh jadi begitu rencananya,"


Terlihat supir itu mengambil ponselnya, lalu mengirim sebuah pesan ke kontak bertuliskan bos.


^^^Me^^^


^^^Bos, saya sudah tahu rencana yang sedang dimainkan oleh mbak Vanesa.^^^


Setelah mengirim, supir itu kembali bersikap seperti biasa dan menaruh ponselnya di dashboard agar Vanesa tidak curiga padanya.




Nadira yang sangat penasaran dengan apa isi di dalam amplop tersebut, memilih duduk pada sofa ruang tamu dan membuka amplop yang diberikan James tadi disana.


"Aku harus buka amplop ini!" ucapnya.


Perlahan Nadira mulai membuka amplop di tangannya, terdapat sebuah surat juga foto-foto mesra suaminya bersama seorang wanita yang ia tidak tahu siapa, Nadira pun terkejut dan coba melihat apa isi surat tersebut.


Setelah membacanya, Nadira justru bertambah syok dan reflek menutup mulutnya dengan telapak tangan karena tidak tahan dengan apa yang dibacanya saat ini, ya itu adalah surat pertanda hamil atas nama Vanesa Manuella.


"Hamil? Jadi, selama tuan Albert ada main dengan perempuan lain bernama Vanesa ini? Pantas aja dia bilang gak cinta sama aku, ternyata dia emang punya wanita simpanan. Harusnya aku tahu dari awal, aku emang gak berhak ada di rumah ini dan jadi istri tuan Albert!" batin Nadira.


"Hiks hiks..." Nadira menangis terisak, ia memasukkan kembali surat dan foto-foto itu ke dalam amplop, lalu menaruhnya di meja.


"Aku harus apa sekarang? Wanita itu mengirim ini pasti ingin meminta pertanggungjawaban dari tuan Albert, tapi apa aku bisa terima kalau suami aku menikah lagi dengan wanita lain?" gumamnya.


"Nadira!" tiba-tiba saja Abigail muncul, ia tampak cemas melihat Nadira tengah menangis.


Dengan cepat Nadira menghapus air matanya, namun percuma karena Abigail sudah terlanjur melihatnya dan kini wanita itu duduk di sampingnya, berusaha menghibur sekaligus bertanya pada Nadira.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2