
Keenan datang ke sekolah Celine untuk menjemput adiknya itu.
Tampak Celine sudah menunggu disana seorang diri dengan raut wajah cemberutnya.
Keenan pun turun dari mobilnya, menghampiri Celine sambil tersenyum renyah.
Akan tetapi, Celine justru membuang muka dan terus menunjukkan ekspresi kesalnya.
"Ehem ehem..." Keenan berdehem pelan, kemudian mencolek pipi gadis itu sembari duduk di sampingnya.
"Lu kok cemberut gitu sih dek? Emang gue ada bikin salah sama lu? Jangan diemin gue kayak gitu dong, gue gak suka tau!" ucap Keenan.
Bukannya menjawab, Celine malah beranjak dari duduknya dan hendak pergi menjauh.
Namun, Keenan pun bergegas menahan Celine dan mencekal lengan gadis itu agar tidak bisa pergi dari sana.
"Dek, lu mau kemana sih?" tanya Keenan.
"Lepasin gue! Gue mau balik naik taksi aja, gue gak mau pulang sama lu! Jangan paksa gue dong, bang!" pinta Celine terus meronta-ronta.
"Kalo gue gak mau lepasin gimana? Lu itu adek gue, jadi lu harus nurut sama gue! Lagian emang ada masalah apa sih, kenapa lu sampe gak mau pulang sama gue?" ucap Keenan keheranan.
"Gue kesel aja sama lu! Daritadi gue telpon dan gue chat gak ada responnya!" ujar Celine.
"Ohh soal itu, iya deh gue minta maaf ya sama lu! Tadi gue bener-bener lagi sibuk banget, lu tolong maklumin dong sayang! Lu kan tahu sendiri kalo abang lu ini asisten seorang CEO yang terkenal, jadi gue harus bantu dia dulu!" ucap Keenan.
"Terus, berarti lu gak perduli dong sama gue? Lu gak anggap gue adik lu lagi? Bisa-bisanya lu lebih mentingin bos lu daripada gue," ujar Celine.
Keenan tersenyum, menarik Celine dan mendekap tubuh gadis itu dengan erat.
Celine berupaya berontak dan memukul-mukul dada Keenan, tetapi itu tak memengaruhi Keenan yang tetap memeluknya.
"Gak mungkin lah gue gak perduli sama lu! Gue ini sayang banget sama lu, Celine. Gue rela lakuin apa aja buat lu, jadi jangan mikir begitu ya sayang!" ucap Keenan terus membelai rambut Celine.
"Ih lepasin gue!" ujar Celine meronta-ronta.
"Gak akan gue lepasin sebelum lu mau maafin gue dan senyum lagi kayak biasa! Kalau lu gak mau, ya kita bakal terus begini." kata Keenan.
"Ish, nyebelin banget sih lu bang! Lepasin gue ah!" bentak Celine.
"Lu gak boleh ngomong kasar begitu sama gue, dosa tau! Pokoknya gue gak mau lepasin lu, kecuali lu maafin gue!" tegas Keenan.
"Okay okay, gue maafin kok!" ucap Celine.
"Nah gitu dong! Sekarang lu senyum dulu buat gue, baru nanti gue bener-bener lepasin lu!" pinta Keenan sembari menatap wajah adiknya yang berada di dadanya.
Celine pun tersenyum, mendongakkan kepalanya agar Keenan dapat melihat senyumannya.
"Aw manis banget sih!" ucap Keenan seraya mencubit kedua pipi gadis itu karena gemas.
"Yaudah, lepasin cepetan!" pinta Celine.
"Iya iya..." Keenan menurut dan melepaskan gadis itu dari pelukannya.
"Yuk kita pulang sekarang!" ucap Keenan.
"Gue gak mau pulang, bang." tolak Celine.
"Loh kenapa? Lu masih marah sama gue? Tadi katanya udah dimaafin, gimana sih?!" tanya Keenan.
"Bukan gitu, tapi gue lapar. Gue mau makan dulu, boleh kan?" jawab Celine memegangi perutnya.
"Oalah jadi adik gue yang cantik ini lapar? Oke deh, kita cari restoran dekat sini yuk!" ucap Keenan kembali merangkul pundak adiknya.
Celine mengangguk setuju, lalu mereka pun bersamaan melangkah menuju mobil Keenan yang ada di depan sana dan masuk ke dalam.
Albert, Nadira, serta Vanesa masih berada di ruang tamu dan tengah berbincang mengenai Albert yang membawa pulang Vanesa ke rumahnya.
Tampak Nadira belum juga dapat tersenyum seperti biasanya, ia terus cemberut walau Albert berusaha menenangkannya dan memeluknya.
"Sayang, saya itu bawa Vanesa kesini sebagai bentuk tanggung jawab saya ke dia. Kamu kan tahu sendiri, saya sudah menghamili Vanesa dan tidak mungkin saya biarkan Vanesa tinggal sendirian di rumahnya." ucap Albert menjelaskan.
"Maksud kamu? Vanesa kan masih punya ayah, dia gak sendirian dong." ujar Nadira.
"Iya benar, tapi saat ini pak Harrison sedang mempertanggungjawabkan perbuatannya. Saya sudah menangkap dia dan bawa dia ke tempat yang pantas untuk dia," jawab Albert.
__ADS_1
"Kenapa dia gak sekalian dibawa sama pak Harrison? Kan dia udah jahat juga sama kamu, mereka itu kerjasama tau!" ucap Nadira menunjuk ke arah Vanesa dengan dagunya.
"Saya tahu sayang, Vanesa memang bekerjasama dengan papanya. Tapi, saya mau tanggung jawab juga sama dia dan anak di kandungannya. Baru setelah itu, terserah dia mau kemana!" ucap Albert.
"Ah alasan aja kamu, mas! Bilang aja kamu emang mau berduaan sama dia disini, terus kamu pengen nyingkirin aku!" cibir Nadira.
"Kok kamu bicara gitu sih?" ujar Albert.
"Ya emang begitu kan?!" ucap Nadira kesal.
"No baby, i only love you and i just want to be with you!" ucap Albert menegaskan.
"Bohong!" Nadira masih tak percaya pada Albert.
"Gak ada yang bohong sayang, beneran kok saya cuma mencintai kamu. Ayolah Nadira, jangan marah begitu sama saya!" bujuk Albert.
"Kalau emang beneran kamu cinta aku, harusnya kamu gak bawa dia kesini dong mas! Kamu harus bisa dong jaga perasaan aku, wanita mana sih yang mau lihat suaminya bawa pulang wanita lain?! Apalagi wanita itu sedang hamil anak kamu, aku sakit banget mas!" ucap Nadira.
"Iya iya saya ngerti, ini cuma sementara kok. Setelah anak di dalam rahim Vanesa lahir nanti, dia gak akan tinggal disini lagi! Lagipun, kamu gak perlu cemas! Saya hanya akan tidur dengan kamu, jadi jangan cemas lagi ya!" ucap Albert.
"Ih itu mah emang harus, mas! Kalau sampai kamu tidur sama dia, ya aku bakalan kabur lagi dari rumah!" ucap Nadira.
"Ahaha, yaudah dong jangan ngambek terus! Boleh ya Vanesa tinggal disini sama kita?!" ucap Albert.
Nadira terdiam sejenak sembari memandang Vanesa, sejujurnya ia juga tidak tega melihat Vanesa yang seperti sekarang ini, menderita akibat ulah Albert.
"Okay, aku terima dia disini." jawab Nadira.
"Terimakasih ya sayang! Saya janji gak akan bikin kamu cemburu, meskipun ada Vanesa disini!" ucap Albert tersenyum bahagia.
"Kamu kayaknya seneng banget mas, segitunya ya kamu pengen dia tinggal disini?" ujar Nadira.
"Hah? Eee gak gitu sayang, saya kan cuma bahagia karena kamu mau berlapang dada menerima Vanesa disini." jelas Albert.
"Ngeles aja kamu mah!" cibir Nadira.
Albert pun kembali menangkup wajah Nadira dan menghibur istrinya itu, sedangkan Vanesa membuang muka merasa malas melihat drama antara sepasang suami-istri itu.
Tak lama kemudian, Abigail muncul disana dan terkejut ketika melihat adanya Vanesa yang tengah duduk di dekat putranya serta menantunya.
"Loh loh, ada apa ini Albert? Kenapa wanita ini bisa ada disini?" tanya Abigail penasaran.
Sontak Albert terkejut, ia reflek menoleh ke arah mamanya dan tampak kebingungan.
Darius membawa Harrison ke tempat yang sudah diberitahu oleh Albert, ia akan menahan Harrison disana bersama Zayn yang merupakan orang kepercayaan Harrison.
"Hahaha, selamat ya Harrison! Akhirnya sekarang kamu bisa merasakan juga apa yang saya rasakan kemarin!" ujar Darius tertawa lepas.
"Kurang ajar, dasar pengkhianat kau Darius! Saya menyesal kerjasama dengan kamu!" bentak Harrison emosi.
Ya saat ini memang Harrison telah sadar dari pengaruh obat bius yang diberikan Albert tadi.
Namun, posisi tangan serta kakinya sudah diikat kuat sehingga Harrison tidak dapat berbuat apa-apa.
"Saya tidak perduli, Harrison! Yang terpenting saya bisa aman dari hukuman Albert, karena saya masih sayang dengan nyawa saya. Lagipun, saya juga suka melihat orang lain menderita seperti kamu!" ujar Darius terkekeh.
"Kau memang licik Darius! Lihat saja, aku yakin Albert pasti juga akan menghabisi mu Darius! Kau tidak mungkin bisa tertawa lepas seperti itu lagi nanti!" ucap Harrison.
"Oh ya? Itu tidak akan terjadi Harrison, jadi jangan berkhayal tentang itu ya!" ucap Darius.
"Hahaha, kau bisa puas tertawa sekarang Darius! Tapi, begitu aku mati nanti pasti giliran kaulah yang dihabisi oleh Albert, keponakan mu sendiri! Bayangkan saja Darius, bagaimana rasanya dibuat menderita oleh keponakan mu itu?!" ujar Harrison berusaha memengaruhi Darius.
"Saya tidak takut dengan ucapan mu, Harrison. Saya juga yakin Albert tidak akan begitu kepada saya! Justru dia akan berlanjut menghabisi Vanesa, begitu selesai denganmu!" balas Darius.
"Vanesa? Dimana Vanesa sekarang? Katakan padaku Darius, dimana putriku Vanesa sekarang!" ucap Harrison dengan nada tinggi.
"Wah wah, tahan dong Harrison jangan emosi begitu! Disaat bahaya mengancam seperti ini, kau masih saja bisa emosi ya? Sudahlah Harrison, tidak perlu kau cemaskan putrimu itu! Dia pasti juga akan menyusul mu ke neraka nantinya! Hahaha..." ucap Darius tertawa jahat.
"Hahaha hahaha..." Darius terus tertawa sembari merentangkan kedua tangannya.
"Kurang ajar! Matilah kau Darius!" umpat Harrison.
"Hah? Kau salah Harrison, bukan aku yang akan mati, tetapi kau! Ajal mu sudah dekat Harrison, bersiaplah menerima kematian mu!" ujar Darius.
"Ya, aku memang terima semua itu. Tapi, setelah itu pasti aku akan mendatangi Darius dan membunuh mu hingga tewas! Jangan kira kau bisa aman dariku, Darius!" ucap Harrison.
__ADS_1
"Waw mengerikan sekali! Aku sangat takut dengan ucapan mu Harrison!" ucap Darius.
"Hahaha, tetapi aku tidak perduli! Ayo anak buah, pasung mereka berdua sekarang!" sambungnya.
"Baik bos!" ucap salah satu anak buahnya.
"Jangan! Jangan lakukan itu! Saya tidak mau dipasung, lepaskan saya!" ujar Harrison berusaha berontak.
"Hahaha, terima saja nasibmu Harrison! Kau tidak mungkin bisa lari dari sini!" ucap Darius.
Tak lama kemudian, Rio selaku sahabat Albert muncul disana. Ia menghampiri Darius yang tengah tertawa puas di atas penderitaan Harrison saat ini.
"Permisi pak Darius!" ucap Rio pelan.
"Eh Rio, kau datang pasti atas permintaan Albert bukan? Dan kau ingin memastikan apakah aku membawa Harrison kesini, iya kan?" ujar Darius.
"Benar pak! Saya senang karena ternyata anda sudah melakukan semuanya dengan baik!" ucap Rio tersenyum tipis.
"Tentu saja nak Rio, saya akan melakukan apapun yang diperintahkan Albert!" ucap Darius.
"Baguslah pak, semoga bisa terus seperti ini ya!" ucap Rio.
"Iya Rio, saya pastikan itu terjadi." kata Darius.
Mereka berdua saling tersenyum dan memandang ke arah Harrison yang tengah dipasung.
"Memang dasar penjilat!" batin Harrison.
"Loh loh, ada apa ini Albert? Kenapa wanita ini bisa ada disini?" tanya Abigail penasaran.
Sontak Albert terkejut, ia reflek menoleh ke arah mamanya dan tampak kebingungan.
"Mama?" ucap Albert.
"Albert, ayo jelaskan ke mama sekarang! Kenapa kamu bawa Vanesa ke rumah ini? Maksud kamu apa Albert?" ujar Abigail masih syok.
"Eee mama tenang dulu ya! Aku akan jelasin semuanya ke mama, dan juga Nadira. Ayo mah, duduk dulu disini!" ucap Albert.
Abigail menggelengkan kepalanya, lalu duduk di sebelah Nadira serta Albert.
"Jadi, apa yang mau kamu jelaskan Albert? Mengapa wanita ini malah kamu bawa kesini? Dimana hati nurani kamu? Kamu lupa kalau kamu sudah punya istri dan istri kamu ini sedang mengandung anak kamu?" tanya Abigail.
"Iya mah, aku tahu itu semua kok. Nadira lagi hamil sekarang, begitu juga dengan Vanesa. Aku cuma mau tanggung jawab aja sama Vanesa, karena aku yang sudah menghamili dia." jawab Albert.
"Tanggung jawab? Jadi, kamu ingin menikahi Vanesa gitu?" tanya Abigail syok.
"Enggak mah, bukan dinikahin. Aku hanya ingin ajak Vanesa tinggal disini bareng-bareng sama kita, itu aja gak ada yang lain." jawab Albert.
"Kamu kira semudah itu Albert? Kamu harusnya rundingin ini dulu dong sama istri kamu, jangan main langsung dibawa kesini aja si Vanesa nya! Gimana kalau Nadira sampai kaget dan kabur lagi dari rumah? Apa kamu mau itu semua terjadi?" ucap Abigail.
"Ya jelas enggak lah, mah. Aku maunya kita hidup tentram dan damai. Mama kan tau sendiri, selama ini Vanesa terus-terusan mengancam Nadira dan mereka berdua gak bisa damai. Makanya aku mau bikin mereka akur gitu," jelas Albert.
"Mama benar-benar gak ngerti sama jalan pikiran kamu, Albert. Kamu itu sudah sesat, dan sekarang malah makin tersesat!" ujar Abigail.
Albert menunduk sembari mengusap dagunya, sedangkan Nadira tetap diam dengan masih sedikit terisak akibat kelakuan suaminya itu.
Abigail menggeser posisi duduknya, meraih satu tangan Nadira lalu menggenggamnya dan menarik kepala wanita itu untuk bersandar di pundaknya sembari mengusapnya perlahan.
"Sabar ya sayang! Tolong maafkan putra mama yang sesat ini ya!" ucap Abigail.
"Mah, mama kok bicara begitu sih? Jangan jadi kompor dong mah!" ujar Albert.
"Siapa yang jadi kompor Albert? Kamu sendiri yang bawa biang masalah itu kesini!" ucap Abigail.
"Udah mah, jangan ribut!" pinta Nadira.
"Maaf ya sayang! Mama gak bermaksud ribut begini, tapi mama benar-benar heran aja dengan jalan pikiran suami kamu ini!" ucap Abigail.
"Aku juga sama kok, mah. Tapi, sekarang aku udah ngerti maksud mas Albert itu apa. Aku bakal kasih izin Vanesa buat tinggal disini sama kita, itu semua kan juga demi kebaikan anak di dalam kandungan Vanesa." kata Nadira.
"Hah? Kamu serius Nadira??" Abigail amat terkejut mendengar perkataan Nadira barusan.
Nadira mengangguk pelan, Albert tampak tersenyum lega karena istrinya itu mau berlapang dada menerima Vanesa disana.
Sementara Vanesa sendiri justru senyum-senyum dan sepertinya sangat bahagia karena ia sebentar lagi akan tinggal di rumah itu.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...