
Albert memakai kembali kemeja serta celana panjang miliknya sembari menyeka keringat yang bercucuran membasahi dahinya.
Nadira pun juga melakukan hal yang sama, ya sepasang suami-istri itu baru saja selesai menuntaskan hasrat mereka di dalam sebuah ruangan kedap suara itu.
"Mas, kamu kok bisa sih ajak aku main di ruangan ini?" ujar Nadira terheran-heran.
"Emangnya kenapa? Saya kalau sudah bergairah, mau dimanapun juga jadi. Apalagi kamu itu pancing-pancing saya terus, jadinya saya gak bisa tahan deh. Tapi, kamu gausah khawatir! Ruangan ini kedap suara kok," ucap Albert tersenyum.
"Iya mas, aku cuma bingung aja kenapa kamu gampang banget turn on. Padahal niat aku kesini kan mau temenin kamu kerja, eh malah jadi ganggu waktu kamu." kata Nadira.
"Loh enggak dong, justru saya senang abis dapat jatah dari kamu. Jadinya sekarang saya lebih semangat lagi deh kerjanya, kalau bisa sih setiap hari aja kamu datang kesini ya cantik!" ucap Albert tersenyum renyah.
"Yeh itu mah maunya kamu!" cibir Nadira.
Albert tersenyum, kemudian kembali mendekati Nadira dan memeluknya erat. Albert juga mencegah Nadira yang hendak memakai bajunya, dan ia mulai melancarkan aksinya dengan menjilat pundak Nadira serta memberi gigitan sedikit disana yang meninggalkan bekas.
"Iya dong sayang, saya kan selalu pengen dekat terus sama kamu!" ucap Albert seraya mengendus leher Nadira.
"Mas, ini udah banyak banget loh tanda dari kamu. Masa kamu belum puas juga? Aku malu nanti kalau ketahuan karyawan kamu disini, kamu tahan dong mas!" ucap Nadira.
"Hahaha... saya gak bisa tahan kalau lihat kamu Nadira, saya selaku ingin menyentuh kamu!" ucap Albert tertawa lepas.
"Haish, tadi kan aku udah nurutin kamu. Lama juga loh kita main tadi, masa belum cukup? Sekarang udahan dong mas, aku capek juga!" ujar Nadira.
"Iya iya... aku kan cuma mau peluk plus cium kamu, apa salahnya sih? Aku juga gak minta jatah lagi dari kamu, karena dia di bawah sana juga butuh istirahat sayang." kata Albert.
"Yaudah, kalo gitu bolehin aku pake baju dong!" rengek Nadira.
"Enggak sayang. Kamu begini aja dulu! Kayaknya tangan-tangan saya ini masih mau main sama dada kamu, biarin aja ya!" ucap Albert.
"Mas, gimana kalo ada yang datang?" tanya Nadira.
"Tenang aja!" ucap Albert singkat.
Cupp!
Albert mengecup bibir Nadira sekilas, wanita itu menoleh ke arah Albert dengan wajah cemberut yang membuat Albert semakin gemas.
Ya akhirnya kejadian yang diinginkan Albert kembali terjadi, pria itu melepas semula pakaian yang baru saja ia kenakan itu sembari juga menanggalkan pakaian istrinya.
•
•
Singkat cerita, Albert dan Nadira sudah berada di mobil dalam perjalanan menuju rumah.
Keduanya terlihat masih saling mendekap satu sama lain di dalam mobil itu.
Albert juga tak henti-hentinya mengecup serta menggigit daun telinga sang istri, yang membuat Nadira hanya bisa pasrah diperlakukan seperti itu oleh suaminya.
Bahkan sang supir yang ada di kursi kemudi juga tak bisa berbuat apa-apa, ia harus menahan diri saat menyaksikan momen itu melalui matanya.
"Mas, udah dong stop! Kamu gak malu apa sama pak supir?" bisik Nadira.
"Buat apa malu sayang? Kita kan udah sah jadi suami-istri di mata hukum, jadi gak masalah dong kita mau ngapain aja." kata Albert.
"Iya sih mas, tapi ya gak disini juga." ujar Nadira.
"Gapapa. Kamu gausah perduliin orang lain! Kecuali kalau kamu emang gak suka diginiin sama saya. Jadi gimana, Nadira yang cantik jelita ini suka atau enggak dipeluk dan dicium sama suaminya?" ucap Albert.
"Suka dong mas, iya iya suka suka kamu aja deh mah ngapain mas!" ucap Nadira mengalah.
"Hahaha... itu baru namanya istri yang baik!" ujar Albert tertawa pelan.
Cupp!
Albert menempelkan bibirnya cukup lama di kening Nadira, meninggalkan bekas air liur disana lalu beralih menarik bibir bawah wanita itu.
"You're so perfect, Nadira!" ucap Albert.
"Makasih mas!" Nadira tersipu malu dan semakin membenamkan wajahnya di dada sang suami.
Drrttt...
Drrttt...
Sebuah dering ponsel membuyarkan momen romantis diantara keduanya, Albert berdecak kesal sembari mengambil ponselnya dari saku celana.
"Siapa mas yang nelpon?" tanya Nadira.
"Keenan." jawab Albert dingin.
"Yaudah, kamu angkat aja dulu mas! Jangan dilepas pelukannya, aku masih mau ada di dekapan kamu!" pinta Nadira.
"Tentu sayang!" ucap Albert tersenyum singkat.
__ADS_1
Albert pun mengangkat telpon dari Keenan tanpa melepas pelukannya.
📞"Halo Ken! Ada apa?" ucap Albert.
📞"Ya halo tuan! Saya baru saja sampai di tempat tinggal Vanesa, tapi nyatanya semua alamat yang dia berikan tidak benar tuan." jelas Keenan.
📞"Sial! Yasudah, kau pulang saja Ken! Saya akan lanjutkan pencarian rumah Vanesa esok hari," pinta Albert.
📞"Baik tuan! Kalau ada yang perlu saya bantu lagi, tuan hubungi saya saja!" ucap Keenan.
📞"Iya, terimakasih Keenan!" ucap Albert.
Tuuutttt...
Albert mematikan telponnya, merasa geram karena lagi-lagi ia telah dibohongi oleh Vanesa.
"Kenapa mas?" tanya Nadira penasaran.
"Enggak, ini loh Keenan barusan kasih kabar kalau rumah yang dicantumkan Vanesa ke dalam berkas lamarannya itu alamat palsu, bisa dibilang Vanesa sengaja membohongi perusahaan." jelas Albert.
"Hah? Kok gitu sih mas? Emang sebenarnya Vanesa ada masalah apa sih sama perusahaan kamu?" tanya Nadira terkejut.
"Entahlah, saya juga tidak tahu. Dia sudah banyak menimbulkan masalah di kantor, makanya saya pecat dia. Tapi, ternyata dia tidak berhenti sampai disitu, karena sekarang dia masih juga ingin menghancurkan saya." jawab Albert.
"Apa karena kamu sudah menghamili dia?" tanya Nadira sekali lagi.
Albert terdiam saat Nadira membahas itu, bahkan pria itu lebih memilih membuang muka dan tidak menjawab pertanyaan dari Nadira.
•
•
Suhendra yang tengah mengasah gergaji miliknya di depan rumah, sedikit terkejut saat Rojali tiba-tiba datang sambil tersenyum renyah.
"Selamat sore pak!" ucap Rojali menyapanya.
"Ya ampun Jali Jali...!! Bikin kaget saya aja! Untung tangan saya gak kena gergaji!" ujar Suhendra.
"Aduh pak, saya minta maaf ya pak! Saya gak ada maksud buat kagetin bapak, saya cuma mau nyapa bapak kok. Ya sekaligus mampir ke rumah mantan mertua," ucap Rojali nyengir.
"Maksud kamu apa? Memangnya saya pernah jadi mertua kamu, ha?" ujar Suhendra.
"Ya gak pernah sih, maksud saya tadi tuh mantan calon mertua gitu pak." kata Rojali.
"Sudah sudah! Kamu mau apa datang ke rumah saya sore-sore begini? Minta makan apa gimana?" tanya Suhendra.
"Hah? Wanita hamil? Siapa yang kamu maksud, Jali?" tanya Suhendra kaget.
"Ya perempuan deh pak pokoknya, saya kurang tahu dia siapa. Tadi dia juga gak sebutin namanya ke saya, orang dia langsung pergi gitu aja pas saya kasih tahu bapak lagi pergi." jawab Rojali.
"Eh ya pak, bapak pernah selingkuh apa enggak sebelumnya?" sambung Rojali.
"Heh! Kamu jangan sembarangan kalo ngomong! Mana mungkin saya lakukan itu!" bentak Suhendra.
"I-i-iya pak, maaf pak jangan emosi dong pak! Saya cuma nanya baik-baik, gak ada maksud nuduh. Soalnya tuh wanita tadi kan lagi hamil, saya kirain itu perbuatan bapak." kata Rojali.
"Ngaco aja kamu! Itu bukan ulah saya! Kenal aja enggak sama dia. Udah deh, mending kamu pergi sekarang! Jangan sampai istri saya dengar ucapan kamu dan terjadi masalah di keluarga saya!" ujar Suhendra emosi.
"Iya pak iya, saya pergi kok. Saya cuma mau kasih tahu info itu, jadi kalau nanti ada wanita hamil yang kesini temuin bapak, bapak udah gak kaget deh." kata Rojali.
"Ya ya ya, udah sana!" ujar Suhendra.
"Oke pak! Saya pamit dulu, permisi pak!" ucap Rojali pamitan.
Disaat Rojali hendak pergi, Vanesa yang pagi tadi sempat datang kesana kini kembali dan bertemu dengan Rojali di depan rumah itu.
"Selamat sore, permisi!" ucap Vanesa menyapa kedua pria itu.
Sontak Suhendra menoleh ke asal suara, ia melongok lebar melihat Vanesa disana.
"Nah pak, ini dia nih cewek yang saya maksud tadi. Tuh kan benar dia balik lagi pak! Coba deh bapak tanya sendiri ke dia!" ucap Rojali.
"Siapa kamu?" tanya Suhendra pada Vanesa.
"Halo pak! Kenalkan saya Vanesa, mantan sekretaris pak Albert alias suami anak bapak yang bernama Nadira itu." ucap Vanesa mengenalkan diri pada Suhendra.
"Sekretaris tuan Albert? Lalu, ada apa kamu datang ke rumah saya?" ujar Suhendra keheranan.
"Ada yang ingin saya bicarakan dengan anda, bisa kan saya masuk dan berbicara sama bapak?" ucap Vanesa menjelaskan maksudnya.
"Ya ya silahkan silahkan! Di dalam ada istri saya, kita bisa bicara disana!" ucap Suhendra.
"Terimakasih pak!" ucap Vanesa tersenyum.
Setelahnya, Vanesa pun melangkah masuk ke dalam rumah itu bersama Suhendra. Sedangkan Rojali memilih pergi karena tidak ingin ikut campur.
__ADS_1
•
•
Malam harinya, Albert kembali mengajak Nadira makan malam bersama di restoran.
Wanita itu setuju saja karena ia juga senang setiap kali Albert mengajaknya pergi berdua, apalagi saat ini keduanya sudah sama-sama mengakui kalau mereka saling mencintai.
Nadira mengenakan dress biru muda miliknya, turun dari mobil lalu memasuki restoran bergandengan tangan dengan suaminya.
"Mas, kamu kenapa selalu ajak aku makan malam tapi di tempat yang beda?" tanya Nadira heran.
"Udah jelas dong sayang, saya gak mau kamu merasa bosan kalau kita terus-terusan makan di tempat yang sama. Makanya saya ajak kamu ke restoran yang beda tiap kali saya mau makan berdua sama kamu," jawab Albert.
"Ah kamu bisa aja!" ujar Nadira malu-malu.
"Kebiasaan deh kamu, kalau senyum itu jangan disembunyiin! Saya kan mau lihat senyuman kamu yang manis sayang," ucap Albert.
"Iya mas, aku cuma malu kalau dilihat sama kamu. Makanya kamu jangan godain aku terus dong!" ucap Nadira.
"Gimana saya gak godain kamu? Orang malam ini kamu perfect banget, udah bisa dibilang kalau kamu itu wujud nyata bahwa di dunia ini juga ada bidadari." kata Albert.
"Mas, malu ah ada orang banyak tau! Kamu kalau gombal jangan disini!" ujar Nadira.
"Emang kenapa sih? Udah saya bilang, kamu gausah perduliin orang lain! Fokus aja sama hubungan kita berdua!" ucap Albert.
"Iya iya..." Nadira membuang muka lalu kembali menunduk.
Bruuukkk...
Tiba-tiba saja ada seseorang yang tanpa sengaja menabrak Nadira dari samping hingga membuat wanita itu hampir terjatuh, beruntung Albert masih bisa menangkapnya.
"Heh, anda gimana sih! Kalau jalan itu lihat-lihat!" bentak Albert penuh emosi.
Pria yang menabrak Nadira itu mendongakkan kepalanya, menatap ke arah sepasang suami-istri tersebut lalu tersenyum smirk.
"Apa kabar Nadira? Om?" ucapnya.
"Cakra?" Albert dan Nadira kompak mengucapkan itu, mereka tak menyangka bisa bertemu lagi dengan Cakra disana.
"Mau apa anda disini? Jangan bilang kalau anda selalu mengikuti kami!" ujar Albert.
"Hahaha... anda pikir restoran ini milik anda? Bukan kan? Ini tempat umum, jadi terserah saya dong mau ngapain kek disini. Buat apa juga saya ngikutin kalian? Gak ada gunanya!" ucap Cakra.
"Cakra, mau kamu itu apa sih? Kenapa kamu gak ada berhentinya kejar aku? Kan aku udah bilang, sekarang aku udah punya suami. Harusnya kamu paham dong, dan jangan deketin aku lagi!" ucap Nadira ikut emosi.
"Kamu kenapa sih Nadira? Udah mulai cinta sama om ini, ya? Sampai kamu belain om-om ini terus," ucap Cakra terheran-heran.
"Kalau emang aku cinta sama mas Albert, apa masalahnya? Toh dia suami aku, jadi udah sewajarnya aku cinta sama mas Albert!" jawab Nadira dengan tegas.
"Nah, anda dengar kan itu? Mulai saat ini lebih baik anda berhenti dekati istri saya!" ujar Albert.
"Saya mengerti om, lagipun saya kesini juga bukan karena saya ingin mendekati Nadira. Jadi, om jangan salah paham dulu!" ucap Cakra tersenyum.
"Yasudah, awas saja kalau anda modus lagi seperti tadi dengan berpura-pura menabrak istri saya!" ucap Albert.
Albert terus memeluk erat Nadira, tak membiarkan Cakra berdekatan dengan istrinya itu.
"Yuk sayang, kita masuk ke dalam!" pinta Albert.
"Iya mas," ucap Nadira mengangguk singkat.
Lalu, Albert dan Nadira pun melangkah pergi memasuki restoran tersebut.
Sementara Cakra terus memandangi punggung Nadira sambil tersenyum.
"Nadira, bisa-bisanya kamu jatuh cinta dengan pria itu. Aku gak habis pikir sama kamu!" batin Cakra.
❤️
Albert dan Nadira sudah tiba di dalam restoran, mereka duduk berhadapan dengan kedua tangan saling menggenggam satu sama lain.
"Mas, kamu kenapa masih cemberut gitu sih? Apa gara-gara Cakra tadi?" tanya Nadira cemas.
"Ya kamu tahu lah sayang, saya ini kan gak suka sama dia. Apalagi tadi dia jelas banget modus ke kamu, pake pura-pura nabrak kamu segala! Saya gak suka itu!" jawab Albert.
"Sabar mas! Kamu gausah cemburu gitu dong! Jadi ketara banget kalau kamu cinta sama aku," ucap Nadira tersenyum menggoda.
"Haish, bisa-bisanya disaat seperti ini kamu masih sempat goda saya." kata Albert.
"Hahaha... iya dong mas, biar kamu gak cemburu terus! Lagian aku sama Cakra kan gak punya hubungan apa-apa," ucap Nadira.
"Iya iya..." ucap Albert tersenyum renyah.
Pria itu mencubit dua pipi Nadira berulang kali, dan mulai melupakan sejenak masalah Cakra tadi.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...