
Albert dan Rio sampai di lokasi yang sudah diberikan oleh Keenan.
Keduanya pun tampak mengamati tempat tersebut dari jauh melalui mobil.
"Bert, benar ini tempatnya?" tanya Rio.
"Iya benar, sesuai titik sih disini. Tapi, kita coba dulu dekati kesana! Saya penasaran, apa benar paman Darius ada di dalam sana?" jawab Albert.
"Oke!" ucap Rio mengangguk setuju.
Mereka pun turun dari mobil, dengan niat untuk mendekat ke arah tempat tersebut.
Namun, mereka justru bertemu dengan Andri alias orang suruhan Keenan yang masih berada disana.
"Selamat sore pak!" ucap Andri menyapa keduanya.
"Ya, kamu siapa?" tanya Albert bingung.
"Eee perkenalkan pak, saya Andri orang suruhan bos keenan. Tadi saya yang sudah memantau dan mengikuti mobil pak Darius sampai kesini, lalu melapor ke bos Keenan." jelas Andri.
"Oalah, baguslah masih ada kamu disini! Benar tadi kamu lihat paman Darius datang ke tempat ini?" tanya Albert memastikan.
"Tentu pak, saya jelas sekali lihat beliau datang kesini. Bahkan mobilnya juga terparkir di depan sana, bapak bisa lihat sendiri!" jawab Andri sembari menunjuk ke arah mobil Albert.
Albert dan Rio pun kompak melihat ke arah yang ditunjuk oleh Andri.
"Benar! Itu memang mobil paman Darius. Lalu, dimana dia sekarang?" tanya Albert.
"Eee pak Darius masuk ke dalam tempat itu, pak. Tapi saya juga kurang tahu itu tempat apa, karena saya gak bisa dengar ucapan pak Darius." jawab Andri.
"Oh ya pak, tapi tadi saya sempat lihat pak Darius berinteraksi dengan lima orang pria berbadan besar yang menggunakan mobil pickup itu. Dan setelahnya, saya lihat juga pak Darius memberikan mereka uang. Sepertinya pak Darius baru saja menyuruh mereka melakukan sesuatu, hanya saja saya tak sempat memfoto itu." sambungnya.
"Ini fix sih! Paman Darius pasti dalangnya!" geram Albert mengepalkan tangannya.
"Dalang? Dalang apa ya pak?" tanya Andri heran.
"Nanti kamu juga tahu. Sekarang kamu ikut kami masuk ke dalam, kita grebek paman Darius dan tangkap dia!" ujar Albert.
"Baik pak!" ucap Andri menurut.
Lalu, mereka bertiga pun berjalan menuju tempat Darius berada. Albert mengepalkan dua tangannya dan terlihat kalau rahangnya mulai bergetar seperti sudah tidak sabar ingin menghajar pamannya.
"Bert, apa kamu yakin mau langsung tangkap pak Darius sekarang?" tanya Rio.
"Tentu saja, kenapa tidak?" jawab Albert yakin.
"Tapi Bert, belum tentu pak Darius pelakunya. Bisa jadi ini cuma kebetulan, ya kan?" ujar Rio.
"Kalau memang bukan dia, yasudah kita tinggalkan saja mereka." jawab Albert santai.
Rio geleng-geleng kepala, ia tak menyangka Albert bisa sesantai itu menjawab pertanyaan darinya.
Mereka terus melangkah hingga akhirnya sampai di depan pintu masuk menuju tempat yang bisa dibilang gudang tersebut.
"Kita terobos masuk ke dalam!" perintah Albert.
"Kamu yakin Bert?" tanya Rio sekali lagi.
"Iya, sangat yakin!" jawab Albert percaya diri.
Ketiganya langsung menarik pintu dengan keras hingga copot dan terjatuh ke tanah, itu juga menimbulkan suara keras yang membuat orang-orang di dalam sana terkejut.
Bahkan Darius ikut menoleh ke asal suara, ia terbelalak lebar disertai mulut yang terbuka saat menyaksikan adanya Albert di markasnya saat ini.
Albert, Rio dan Andri mulai bergerak masuk ke dalam tempat tersebut. Darius juga melangkah mendekati ketiga pria itu bersama para anak buahnya.
"Waw Albert! Mau apa kamu datang kesini, ha?" ujar Darius tersenyum tipis.
"Tidak usah basa-basi, saya datang kesini sudah tentu ingin membuktikan bahwa anda adalah pelaku pencurian barang milik saya." ujar Albert.
"Mencuri? Apa maksud kamu Albert?" tanya Darius pura-pura tak mengerti.
"Saya tidak suka dengan orang yang sering berkelit seperti anda, jadi sebaiknya anda jujur saja dan akui perbuatan anda atau saya akan berikan hukuman yang sangat kejam untuk anda!" ucap Albert mengancam pamannya.
"Untuk apa saya mengakui perbuatan yang saya tidak lakui? Kamu jangan asal tuduh ya, memangnya kamu punya bukti apa?" ujar Darius.
"Saya punya bukti. Mobil pickup yang dikendarai anak buah saya untuk mengambil barang milik saya, ada di depan tempat ini. Dan begitu saya masuk kesini, ternyata ada paman. Itu artinya paman yang sudah menyuruh orang-orang tadi untuk mencuri barang milik saya," tegas Albert.
Darius terdiam melirik ke arah anak buahnya dengan tatapan geram.
"Sudahlah pak Darius, akui saja perbuatan anda itu! Kami disini tidak ingin adanya keributan, jadi mari selesaikan dengan cara kekeluargaan!" ucap Rio cukup lantang.
"Anda jangan ikut-ikutan menuduh saya seperti Albert ya! Saya ini tidak tahu menahu soal pencurian itu, jadi jangan salahkan saya!" ujar Darius masih terus berkilah.
__ADS_1
"Mau sampai kapan anda terus mengelak seperti itu, paman? Saya sudah muak mendengarnya!" ucap Albert makin kesal.
"Iya pak Darius, seharusnya anda mengaku saja kepada kami! Karena kami sudah memiliki bukti yang cukup kuat kalau anda pelaku pencurian barang itu," ucap Rio.
"Hah? Bukti apa? Mobil itu? Dengar ya, di negara ini mobil pickup jenis itu banyak banget. Jadi, belum tentu itu mobil anak buah kamu Albert. Tolong jangan asal tuduh ya!" ujar Darius mulai panik.
"Saya tidak akan menuduh anda tanpa bukti, sudah jelas mobil di depan itu adalah mobil yang digunakan oleh orang suruhan saya." kata Albert.
"Oh ya pak, tadi saya juga sempat lihat bapak berikan sejumlah uang kepada lima orang asing berbadan besar, pasti itu orang suruhan bapak kan?" ucap Andri.
"Nah, anak buah saya bilang pencurinya itu berjumlah lima orang. Dari sini saja sudah mencurigakan paman, apa paman masih mau mengelak lagi?" ucap Albert tersenyum smirk.
Darius terdiam dan semakin merasa cemas dengan keadaan sekarang ini.
"Ayo paman, mengaku saja kepada kami! Kalau paman masih tidak mau mengaku, maka kami tidak akan segan-segan untuk mengacak-acak tempat ini dan mencari dimana barang itu paman sembunyikan!" tegas Albert.
"Saya tidak izinkan kamu menggeledah tempat saya, sebaiknya kamu ajak teman-teman kamu ini pergi dan jangan macam-macam disini!" ujar Darius.
"Kenapa paman? Apa paman takut kalau kejahatan paman akan terbongkar? Atau saya harus bawa polisi kesini untuk bisa melakukan penyelidikan?" tanya Albert memancing Darius.
"Untuk apa saya takut? Saya tidak takut!" elak Darius tetap berusaha tenang.
"Kalau begitu, izinkan kami memeriksa seluruh isi ruangan anda! Hanya memeriksa kok dan tidak akan ada kekerasan!" ucap Rio.
"Iya paman, kalau memang paman tidak bersalah harusnya paman izinkan kami memeriksa tempat ini tanpa perlu keraguan!" ucap Albert.
"Oke oke, silahkan saja periksa sesuai kemauan kalian!" ucap Darius mengalah.
Albert tersenyum puas, lalu memerintahkan Andri untuk mulai menggeledah seisi tempat itu dibantu oleh Rio dan juga dirinya sendiri.
Sementara Darius tetap disana bersama para anak buahnya, terlihat raut kecemasan di wajah mereka khawatir kalau Albert akan menemukan barang itu.
"Bos, gimana kalau mereka bisa temuin barang itu bos?" tanya anak buahnya berbisik.
"Tenang saja! Kalian sudah amankan barang itu bukan?" ucap Darius.
"Iya sih bos," ucap anak buahnya.
"Yasudah, jangan cemas!" ujar Darius.
•
•
"Mbak, lagi ngapain?" tanya Chelsea mencoba akrab pada kakak iparnya itu.
"Eh kamu Chelsea. Ini loh aku lagi gabut aja mau coba bikin sesuatu yang keren, menurut kamu gimana? Bagus gak?" ucap Nadira.
"Umm bagus kok mbak, keren banget malah! Ternyata mbak jago jahit juga ya?" ujar Chelsea.
"Ah biasa aja kok, cuma dulu aku selalu diajarin cara menjahit sama ibu di kampung." kata Nadira.
"Oh gitu, pantas aja hasilnya bisa sebagus ini. Eh ya mbak, mbak mau gak pergi ke salon bareng sama aku?" ucap Chelsea.
"Ke salon?" tanya Nadira keheranan.
"Iya mbak, emangnya mbak gak mau tampil lebih fresh gitu di hadapan kak Albert? Kalau mbak kelihatan lebih cantik, pasti kan kak Albert tambah suka tuh sama mbak." jawab Chelsea.
"Iya juga sih, cuma kan aku belum pernah pergi ke salon kayak gitu." kata Nadira.
"Oh tenang aja mbak! Kan ada aku yang bisa temenin mbak kesana, lagian aku juga mau kesana sekarang. Jadi, kita bisa sama-sama ke salon barengan. Ini salonnya bagus banget loh mbak, langganan aku sama mama juga!" ucap Chelsea.
"Eee tapi gimana ya? Aku harus izin dulu sama mas Albert kalau mau pergi kemana-mana, takutnya nanti mas Albert marah lagi." kata Nadira.
"Oh gitu, tapi kan mbak kalau mbak kasih tahu ke kak Albert nanti yang ada bukan surprise dong! Mending mbak diam-diam aja, lagian aman kok kalau sama aku." bujuk Chelsea.
"Yaudah deh, aku mau ikut sama kamu. Sekali-kali aku juga pengen kasih kejutan buat mas Albert, barangkali dia nanti suka!" ucap Nadira tersenyum.
"Pasti suka dong mbak! Yang sekarang aja mbak udah cantik, apalagi nanti setelah dari salon pasti tambah cantik!" ucap Chelsea.
"Bisa aja deh kamu!" ujar Nadira malu-malu.
"Jadi gimana mbak, mbak mau ikut kan sama aku ke salon?" tanya Chelsea memastikan.
"Eee iya deh boleh, aku mau." jawab Nadira.
"Nah gitu dong, aku yakin deh kak Albert pasti bakal suka banget ngeliat mbak setelah dari salon nantinya!" ucap Chelsea tersenyum.
"Semoga aja ya!" ucap Nadira.
Lalu, Abigail muncul menghampiri keduanya dan ikut terduduk disana karena penasaran.
"Ada apa ini nak? Pada bicarain apa sih?" tanya Abigail penasaran.
__ADS_1
"Ini loh mah, aku ajakin mbak Dira buat pergi ke salon. Aku bilang supaya mbak Dira tuh bisa kasih kejutan gitu ke kak Albert, kan pasti kak Albert bakalan suka banget tuh kalau lihat mbak Dira tampil lebih fresh!" jelas Chelsea.
"Oh begitu, bagus itu Nadira! Benar yang dibilang sama Chelsea, kan kamu belum pernah ke salon selama menikah sama Albert. Dia itu senang loh sama wanita yang fresh," ucap Abigail.
"Iya mah, aku juga setuju kok sama Chelsea dan aku mau ikut dia ke salon." kata Nadira.
"Nah bagus itu! Kalo gitu kapan kalian mau berangkat?" tanya Abigail.
"Rencananya sih sekarang mah, gimana mbak?" ucap Chelsea bertanya pada Nadira.
"Boleh, tapi aku siap-siap dulu ya?" jawab Nadira.
"Iya mbak, aku tunggu disini ya." kata Chelsea.
Nadira mengangguk pelan, kemudian meletakkan jahitannya di atas meja lalu pergi ke kamar untuk bersiap-siap sebelum pergi menuju salon bersama Chelsea.
Sementara Chelsea dan Abigail tetap berada disana menunggu Nadira selesai bersiap-siap.
•
•
Albert, Rio dan Andri kembali berkumpul bersama di dekat Darius serta para anak buahnya.
Mereka tampak gagal menemukan barang yang dicuri oleh Darius tersebut.
"Gimana? Ketemu?" tanya Albert.
"Enggak Bert, saya gak nemu apa-apa disana." jawab Rio.
"Iya pak, saya juga sama." sahut Andri.
"Haish, dimana mereka sembunyikan barang itu?" ujar Albert kebingungan.
"Hahaha... bagaimana Albert? Apa kamu berhasil menemukan barang kamu itu?" tanya Darius disertai tawa mengejek.
"Memang saya tak berhasil menemukannya, tapi saya yakin kalau barang itu ada disini. Lebih baik anda jujur saja, dimana anda sembunyikan barang itu!" geram Albert.
"Kamu ini masih saja ngotot ya Albert, padahal kamu kan sudah cek sendiri dan tahu kalau disini tidak ada barang milik kamu." kata Darius.
"Dengar ya paman, saya tidak akan menyerah sampai disini! Masalah ini akan terus saya selidiki sampai saya bisa menemukan barang milik saya yang anda curi itu!" ujar Albert.
"Silahkan saja Albert! Selidiki sesuka hati kamu!" ucap Darius tersenyum menantang.
"Oke! Kalo gitu saya akan pergi dari sini, permisi paman!" ucap Albert pamit pada Darius.
"Ya, silahkan Albert!" ucap Darius memberi jalan bagi Albert untuk lewat.
"Ayo Rio, Andri!" ucap Albert mengajak dua temannya itu pergi dari sana.
Ketiga pria tersebut pun melangkah keluar meninggalkan tempat yang merupakan markas Darius itu.
Tampak raut kemenangan di wajah Darius saat Albert dan yang lainnya keluar dari sana, ia mengira Albert tidak akan mungkin bisa menemukan barang yang ia curi disana.
•
•
Ciiitttt...
Keenan dan orang-orang suruhannya berhasil menyalip sebuah mobil yang diduga milik dari para pencuri tadi.
Mereka turun dari mobil, menghadap mobil tersebut dan meminta orang-orang di dalam sana untuk segera keluar.
"Hey! Cepat keluar kalian!" teriak Keenan.
Kelima pria di dalam mobil itu keluar menemui Keenan dengan wajah cemas mereka, setelah mengetahui jika yang mereka temui itu adalah orang yang sebelumnya mereka rampok.
"Bro, benar mereka yang merampok kalian?" tanya Keenan kepada anak buahnya.
"Iya bos, emang mereka yang tadi cegat kita dan ambil paksa barang itu." jawab salah satu dari anak buahnya.
"Oke! Kalo gitu kita tepat sasaran. Sekarang kita harus bisa tangkap mereka!" ucap Keenan.
"Baik bos!" ucap anak buahnya.
Mereka yang berjumlah sedikit lebih banyak dari para perampok itu, bergerak maju mendekat ke arah lima orang di depan sana.
Kelimanya tampak ketakutan saat melihat Keenan dan anak buahnya maju, mereka mencoba untuk mundur tapi terlambat karena Keenan sudah berhasil lebih dulu mencegatnya.
Perkelahian pun terjadi diantara mereka, Keenan terus berupaya menangkap perampok tersebut untuk diserahkan kepada Albert.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...