Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Pergi saja tuan!


__ADS_3

Merasa sudah terkepung, Albert pun mulai panik dan tak tahu harus bagaimana lagi. Ditambah saat ini bahunya juga terus mengeluarkan darah yang terasa sakit.


"Tuan, sebaiknya tuan pergi dari sini sekarang juga! Bawa nyonya Abigail dan yang lainnya di dalam sana melalui pintu belakang!" pinta Keenan.


"Jangan konyol kamu Keenan! Lalu bagaimana dengan kamu, ha?" ucap Albert.


"Tidak apa tuan, saya bisa hadapi mereka dan tahan mereka supaya tidak mengejar tuan. Lagipun, masih ada pak Liam dan beberapa pengawal lain disini yang bisa membantu saya. Ayolah tuan, cepatlah pergi mumpung kesempatan itu masih ada!" ucap Keenan.


"Gak gak gak! Saya gak mungkin tinggalin kamu!" ucap Albert menolak permintaan Keenan.


"Tidak ada waktu lagi tuan, kalau tuan tidak pergi sekarang, maka nasib kita semua akan berakhir saat ini juga!" ucap Keenan.


"Ta-tapi Keenan..."


"Percayakan saja semuanya sama saya, tuan!" ucap Keenan meyakinkan Albert.


Albert terdiam dan memikirkan ucapan Keenan itu, ia pun mengangguk setuju walau sangat berat baginya untuk pergi meninggalkan Keenan.


"Baiklah, saya akan pergi. Kamu pegang ini supaya tambah jago!" ucap Albert menyerahkan pistol miliknya kepada Keenan.


"Terimakasih tuan!" ucap Keenan tersenyum.


Perlahan Albert melepaskan diri dari dekapan Keenan, lalu berlari cepat masuk ke dalam rumahnya.


"Hey jangan lari kamu!" teriak Harrison.


Dor!


Namun, Keenan berhasil menahan Harrison yang hendak masuk dengan menembakkan pistol ke arah lengan Harrison.


"Akh! Sialan!" umpat Harrison memegangi lengannya yang berdarah.


"Pah, papa gapapa?" ucap Vanesa panik.


"Anda mau kemana pak Harrison? Sebaiknya anda dan yang lainnya tetap disini bersama saya, tidak usah ikut masuk ke dalam!" ucap Keenan.


"Kurang ajar kamu Keenan! Kamu itu sudah bukan asisten Albert lagi, kenapa kamu masih mau bantu dia? Seharusnya kamu biarkan saja dia mati di tanganku!" ucap Harrison emosi.


"Sampai kapanpun, tuan Albert tetap menjadi tuan saya. Saya tidak akan biarkan siapapun menyentuh dia, apalagi melukainya!" ucap Keenan lantang.


"Baiklah, kalau begitu saya terpaksa habisi kamu lebih dulu Keenan." ucap Harrison sembari berdiri tegak dan bersiap memantik senjata miliknya.


Keenan tak kalah sigap, ia juga menodongkan dua pistol di tangannya ke arah Harrison serta Vanesa di depan sana.


"Tahan bos!"


Semuanya terkejut saat tiba-tiba sebuah suara terdengar dari belakang rombongan Harrison, mereka pun kompak menoleh mencari tahu siapa yang bersuara tadi.


"Javier?" ucap Harrison pelan.


"Biar aku saja yang urus dia bos, sebaiknya bos dan non Vanesa masuk ke dalam menyusul Albert! Kita tidak punya banyak waktu, kejar Albert sebelum dia berhasil melarikan diri!" ucap Javier sembari menodongkan pistol ke arah Keenan.


"Saya benar-benar tidak menyangka, jadi ternyata pengganti saya di kantor adalah seorang pengkhianat. Pasti tuan Albert akan sangat kecewa padamu, Javier!" ucap Keenan.


"Aku tidak butuh pendapat darimu Keenan! Jadi diamlah dan jangan banyak bicara!" ujar Javier.


Keenan menggeleng tak percaya, namun ia harus tetap fokus berjaga-jaga agar Harrison serta Vanesa tidak bisa masuk ke dalam rumah Albert.


"Bos, ayo cepat pergi! Aku akan lindungi kalian!" perintah Javier.


"Baiklah, jaga kami!" pinta Harrison.


"Iya bos," ucap Javier menurut.


Javier semakin melangkah maju diikuti oleh beberapa anak buahnya, mereka berniat melindungi Harrison dan Vanesa agar bisa leluasa masuk ke dalam sana.


Keenan berusaha mencari celah untuk mencegah Harrison dan Vanesa, namun tekanan dari Javier membuat langkahnya terus mundur ke belakang menghindari gerombolan Javier itu.


"Kamu gak akan bisa lindungi Albert lagi, Keenan! Karena kali ini, aku sendiri yang akan menghabisi kamu!" ucap Javier disertai senyum sinisnya.


"Tidak semudah itu," balas Keenan.


"Terus waspada! Kalian tidak boleh mati saat ini!" ucap Keenan pada Liam dan yang lainnya.


"Siap pak Keenan!" ucap Liam tegas.


Dor!




Sementara itu, Albert baru saja mengumpulkan orang-orang rumahnya untuk bisa cepat dibawa pergi dari sana.


Tampak Abigail dan Galen tengah panik mendengar suara-suara tembakan dari arah luar sambil saling berpelukan.

__ADS_1


"Mah, Galen, dan kalian semua, cepat kalian pergi ke tempat yang aman! Saya sudah siapkan mobil di depan sana untuk kalian bisa pergi, mari saya antar kalian sampai mobil!" ucap Albert panik.


"Sebenarnya ini ada apa Albert? Apa yang terjadi di depan sana? Kenapa kamu mengumpulkan kita semua disini dan minta kita untuk pergi?" tanya Abigail penasaran.


"Iya pah, kenapa papa suruh kita pergi? Aku takut pah, aku mau ada di dekat papa!" sahut Galen.


"Mama, Galen, ini semua demi kebaikan kalian. Aku gak mau kalian terluka jika terus disini, jadi sebaiknya mama segera bawa pergi Galen dan yang lainnya dari sini ya! Urusan di depan, biar Albert yang urus." ucap Albert.


"Yasudah, tapi dimana Nadira? Dia kok gak ikut sama kamu?" tanya Abigail.


"Nadira sudah aku amankan, mah. Ayolah mah, waktunya tidak banyak! Mama sama Galen harus segera pergi, sebelum mereka masuk ke dalam sini!" ucap Albert.


"Iya iya, ayo Galen kita pergi!" ucap Abigail.


Galen mengangguk setuju, Abigail langsung menggandeng cucunya itu dan pergi melalui pintu belakang bersama suster Alra serta yang lain.


Albert mengikuti mereka dari belakang sambil sesekali menoleh ke belakang memastikan apakah ada yang mengikutinya atau tidak.


"Saya gak nyangka semuanya bisa jadi seperti ini, harusnya saya bisa cegah semua ini!" batin Albert.


Sesampainya di dekat mobil, Albert langsung meminta Abigail dan Galen masuk ke dalam sana untuk segera pergi mengamankan diri.


"Mah, mama pergi yang jauh ya!" pinta Albert.


"Iya Albert, tapi kamu gimana?" tanya Abigail.


"Aku harus balik lagi kesana untuk bantu Keenan, mama tenang aja ya! Aku gak akan kenapa-napa kok kali ini!" jawab Albert.


"Tapi, kamu yakin? Mama gak mau loh terjadi sesuatu sama kamu, sebaiknya kamu ikut aja sama kita sekarang!" ucap Abigail cemas.


"Gak bisa mah, aku harus bantu Keenan! Sudah banyak anak buah aku yang berguguran di depan sana, aku gak mau Keenan juga mengalami hal yang sama!" ucap Albert.


"Yasudah, mama beri kamu izin untuk kembali dan menolong Keenan. Tapi ingat, kamu harus selamat!" ucap Abigail.


"Iya mah, aku janji!" ucap Albert.


Abigail mengangguk pelan, kemudian masuk ke dalam mobil itu bersama Galen dan suster Alra.


Albert menemui supirnya sejenak untuk menitipkan keluarganya.


"Pak, bawa mereka semua ke tempat yang sudah saya katakan ya! Jangan sampai terjadi sesuatu sama mereka!" pinta Albert.


"Baik tuan!" ucap supir itu.


Lalu, Albert tersenyum sembari melambaikan tangan ke arah Galen dan mamanya di dalam sana.


Di dalam, Galen terus menoleh ke belakang memandangi papanya dengan wajah sedih.


"Nek, papa kenapa gak ikut sama kita?" tanya Galen pada Abigail.


"Papa kamu masih ada urusan, nanti dia bakal nyusul kita juga kok. Udah ya, kamu tenang aja dan gausah cemas gitu!" jawab Abigail sembari mengusap wajah cucunya.


"Iya nek," ucap Galen menurut.


"Maafin nenek ya sayang! Gara-gara nenek, sekarang kamu jadi susah seperti ini." batin Abigail.




Vanesa dan Harrison sampai di dalam rumah Albert, mereka menyusuri rumah itu untuk mencari Albert dan juga Galen.


Namun, disana sudah sangat sepi. Tak ada siapapun yang dapat ditemukan oleh mereka, sehingga Vanesa sangat kesal.


"Aaarrgghh!!" geram Vanesa.


"Pah, kayaknya kita terlambat deh. Sepertinya mereka semua sudah melarikan diri, ini semua gara-gara kita terlalu lama di luar tadi! Harusnya kita langsung aja masuk kesini!" ucap Vanesa.


"Sabar Vanesa! Mereka pasti belum jauh, ayo kita kejar mereka!" ucap Harrison.


"Tapi pah, mau kejar kemana? Emangnya papa tau mereka kabur kemana?" tanya Vanesa.


"Mungkin aja ada jalan lain di rumah ini yang bisa dipakai buat kabur, ayo kita cari tahu aja!" jawab Harrison.


"Iya deh, tapi papa beneran gapapa? Itu darahnya mending dibersihin dulu deh," ucap Vanesa panik.


"Gapapa, udah biarin aja. Kita temuin Albert dan yang lainnya dulu, baru nanti papa bakal obatin luka ini!" ucap Harrison.


"Oke pah! Ayo aku bantu papa buat jalan!" ucap Vanesa.


Harrison mengangguk pelan, sedangkan Vanesa mulai menuntun papanya itu untuk berjalan melalui jalan belakang rumah Albert.


Begitu keluar, Vanesa baru sadar bahwa memang ada jalan lain di rumah itu. Ia pun yakin kalau Albert dan yang lainnya melarikan diri lewat sana.


"Pah, kayaknya mereka bener udah kabur deh. Tuh ada pintu juga disitu, pasti mereka kabur lewat sana. Kita udah terlambat pah, kita gak mungkin bisa kejar mereka." ucap Vanesa.

__ADS_1


"Tenang sayang! Gak ada kata terlambat bagi kita, papa yakin pasti kita bisa temui Albert dan ambil anak kamu dari tangan dia!" ucap Harrison.


"Tapi pah, kita mau cari kemana lagi? Emangnya papa tahu tempat-tempat yang mungkin didatangi Albert buat bersembunyi sama keluarganya?" tanya Vanesa.


"Ya papa sih gak tahu, tapi kan nanti kita bisa cari tahu." jawab Harrison.


"Huh yaudah deh, aku ngikut apa kata papa aja. Semoga Albert emang bisa ditangkap!" ucap Vanesa.


Harrison mengangguk pelan, tangannya kembali memegangi luka yang terus mengeluarkan darah akibat terkena tembakan itu.


"Akkhh!!" Harrison memekik kesakitan.


"Pah, masih sakit ya? Tuh kan, aku bilang juga apa. Papa sih ngeyel maksa buat lanjutin cari Albert nya! Harusnya tadi itu papa diobatin dulu, paling enggak sampai lukanya kering lah." ucap Vanesa.


"Gapapa Vanesa, papa baik-baik aja kok. Luka papa ini gak terlalu parah sayang, jadi papa masih bisa kuat untuk mengalahkan Albert. Dendam papa ini harus segera terbalaskan!" ucap Harrison.


"Ya ampun pah! Bisa gak papa lupain sebentar dendam papa itu? Sekarang kondisi papa lagi luka loh, mending pikirin ini dulu!" ucap Vanesa.


"Iya iya, maafin papa ya sayang!" ucap Harrison.


"Yaudah, ayo kita balik lagi! Sekalian cek di dalam rumah Albert, barangkali ada yang bisa buat obatin luka papa ini." ucap Vanesa.


"Ya ya ya.." Harrison menurut saja dengan perkataan putrinya.


Disaat mereka hendak berbalik, tiba-tiba suara lantang terdengar dari arah belakang.


"HEY KALIAN!" sontak Harrison dan Vanesa langsung menoleh ke asal suara, mereka tercengang melihat Albert berdiri disana.


"Albert?" ucap mereka bersamaan.


"Pah, itu Albert kan? Dia kok balik lagi kesini? Apa mungkin dia belum kabur?" tanya Vanesa.


"Gak tahu, tapi itu gak penting. Kita harus bisa manfaatin ini untuk habisi Albert! Persiapkan senjata kamu Vanesa, kita lawan dia sekarang!" ucap Harrison.


"Iya pah, kebetulan Albert juga sudah tidak memegang senjata. Pistol miliknya telah diberikan pada Keenan tadi," ucap Vanesa.


"Kamu benar Vanesa!" ucap Harrison.


Mereka bersiap-siap menarik pistol di tangan mereka itu yang sudah terarah ke tubuh Albert.


Namun, Albert masih tampak santai dan terus berjalan hingga tiba di dekat keduanya.


"Hahaha, Albert Albert... dikasih kesempatan buat kabur malah gak dipake, mau cari mati ya kamu balik lagi kesini ha?" ujar Harrison.


"Saya bukan pengecut seperti kalian! Saya hanya tidak ingin keluarga saya terkena dampak dari serangan tak bermoral kalian ini! Maka dari itu, saya selamatkan mereka lebih dulu. Sekarang saya kembali lagi untuk menghabisi kalian berdua!" ucap Albert.


"Dimana Galen anak aku, Albert?? Tolong kamu kembalikan dia padaku! Aku sudah gak tahan lagi dengan semua ini, aku mau tinggal bersama dengan putraku!" ucap Vanesa.


"Beraninya kamu bilang begitu Vanesa! Galen sudah sah menjadi anakku, dia bukan anak kamu lagi. Perjanjian kita akan terus berlaku sampai saya mati nanti, Vanesa!" ucap Albert tegas.


"Baiklah, kalau begitu aku akan membunuh kamu saat ini juga Albert!" ucap Vanesa.


Wanita itu semakin emosi, ia menodongkan pistolnya ke dahi Albert dari jarak dekat dan membuat Albert tak berkutik sedikitpun.


"Matilah kamu Albert!!" ucap Vanesa dengan lantang.




Disisi lain, Nadira terbangun dari tidurnya karena tiba-tiba di dalam pikirannya terlintas wajah Albert suaminya yang membuat Nadira sangat kebingungan.


"Haish, kenapa aku malah mikirin mas Albert lagi sih? Kok bisa ya wajah mas Albert ada di pikiran aku barusan? Apa jangan-jangan terjadi sesuatu yang buruk lagi sama dia sekarang!" gumamnya sedikit cemas.


Akhirnya Nadira beranjak dari tempat tidurnya, melangkah keluar kamar untuk mengambil air minum agar pikirannya bisa lebih tenang.


Namun, Nadira justru berpapasan dengan ayahnya yang juga baru kembali dari dapur. Ia pun tersenyum dan menyapa ayahnya sekilas.


"Eh bapak, kapan pulangnya? Kok aku gak tahu kalau bapak udah pulang?" tanya Nadira.


"Udah daritadi sayang, pas bapak pulang kamu itu lagi tidur. Bapak gak enak lah bangunin kamu, walau sebenarnya bapak juga kangen banget sama kamu!" jawab Suhendra.


"Oalah," ucap Nadira singkat.


"Kamu kenapa bangun? Lapar ya? Makan aja gih sana, ibu kamu udah masakin makanan kesukaan kamu loh di meja!" ucap Suhendra.


"Eee nanti aja deh pak, aku cuma mau ambil minum aja. Lagian aku juga belum lapar kok," ucap Nadira.


"Oh yasudah, kalo gitu kamu ikut bapak sebentar yuk ke depan! Ada yang mau bapak bicarakan sama kamu," ucap Suhendra.


"Bicara apa pak?" tanya Nadira penasaran.


"Soal hubungan kamu dengan nak Albert, ibu kamu sudah ceritakan semuanya tadi sama bapak." jawab Suhendra.


Nadira terdiam sembari menundukkan wajahnya, ia sungguh bingung haruskah ia berbicara dengan ayahnya saat ini atau tidak, pasalnya Nadira masih belum mau membahas itu semua saat ini.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2