Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Singkirkan Keenan!


__ADS_3

Albert kembali dibuat tidak tahan oleh pesona Nadira, istrinya yang sangat cantik disertai tubuh seksinya itu.


Ya Albert pun mendekati Nadira, mengungkung wanita itu hingga mepet ke tembok dan tubuh mereka saling bersentuhan, Albert juga menahan dua telapak tangan Nadira sehingga sang istri tidak dapat berbuat banyak saat ini selain terpejam pasrah menerima apa yang akan dilakukan Albert padanya di pagi hari yang cukup bergairah ini.


Memang setelah permainan mulut usai, Albert sempat merasa puas sedikit. Namun, selepasnya milik Albert kembali menegang dan membuat dirinya tak mampu mengontrol tubuhnya sendiri.


"Nadira, saya mau tubuh kamu sebentar! Boleh kan?" ucap Albert seraya menciumi leher Nadira.


"Eeuungghh.." Nadira mengerang pelan sembari menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan suara agar tak keluar dari mulutnya.


"Itu tandanya boleh!" ucap Albert menebak-nebak.


"No, I don't want this!" Nadira terus berusaha mencegah Albert melakukan itu, akan tetapi sentuhan dari pria itu seakan membawanya terbang ke angkasa dan seperti meminta untuk dipuaskan saat ini juga.


"Mulut kamu bilang tidak, tapi tubuh kamu tidak bisa bohong Nadira! Dia sepertinya butuh sentuhan dari saya, sebentar saja ya? Tidak akan sakit kok, kali ini saya akan puaskan kamu!" ucap Albert.


"Eemmhh terserah kamuuhh..." ucap Nadira dengan sedikit mendesahh.


Albert tersenyum seringai mendengar jawaban Nadira kali ini, tangan-tangannya mulai beraksi membuka baju Nadira hingga hanya menyisakan kain tipis yang menutupi bagian bawah wanita itu dan nampaknya sudah mulai basah.


"Wow it's perfect!" Albert menelan saliva begitu menyaksikan tubuh indah Nadira di depan matanya, mulus dan seksi!


Pria itu mulai melancarkan aksinya, lidahnya menjilat seluruh bagian leher Nadira hingga wanita itu mengerang lembut. Kedua tangannya juga meremass gundukan kenyal, dan memainkan μ –κΌ­μ§€ merah muda milik Nadira dengan memutar, memelintir serta menariknya.


"Aaahhh tuaann..." desahh Nadira cukup keras.


"Yeah baby, keluarkan suaramu!" ucap Albert di dekat telinga istrinya.


Drrttt..


Drrttt..


Drrttt...


Tiba-tiba saja ponselnya berdering, membuat aktivitas panas itu harus terhenti karena Albert amat terganggu dengan bunyi telpon itu.


"Aaarrgghh sialan! Siapa sih yang nelpon? Gak tahu apa saya lagi mau bikin anak?!" geram Albert.


"Sabar tuan! Coba aja dicek dulu, siapa tahu penting dan menyangkut perusahaan kan!" ucap Nadira menyarankan suaminya mengangkat telpon.


"Yaudah, kamu diam disini!" tegas Albert.


"Iya tuan," Nadira mengangguk pelan.


Pria itu berlalu menjauh, mengambil ponsel di atas nakas dan mengecek siapa yang menelponnya. Ia membulatkan kedua bola matanya begitu melihat nama sang mama di layar ponsel, seketika ia panik dan khawatir mamanya akan marah.


"Aduh mama lagi! Mama mau apa sih telpon segala? Gak tahu anaknya lagi horny apa?" gumam Albert dalam hati merasa kesal.


Akhirnya mau tidak mau, Albert pun terpaksa mengangkat telpon dari mamanya itu.


πŸ“ž"Halo mah! Ada apa lagi mama telpon Albert sih? Bukannya baru kemarin mama telpon, ya? Masalah kantor? Udah mama gak perlu khawatir, semuanya bisa Albert urus kok!" ujar Albert.


πŸ“ž"Kamu ini kenapa sih Albert? Kok kayaknya gak suka gitu mama telpon kamu? Orang mama cuma mau kasih kabar kok ke kamu!"


πŸ“ž"Bukan gitu, abisnya mama telpon gak tahu waktu! Aku kan lagi mauβ€”" Albert menyetop ucapannya saat menyadari bahwa ia hampir saja keceplosan bicara pada mamanya.


πŸ“ž"Mau apa? Hayo kamu lagi ngapain Albert? Jangan macam-macam loh sayang!"


πŸ“ž"Eee enggak kok mah, maksudnya itu aku mau mandi eh mama malah telpon gitu!" jawab Albert ngeles.


πŸ“ž"Oh ya baguslah kalo gitu!"


πŸ“ž"Iya mah, terus mama telpon aku mau kabarin soal apa nih?" tanya Albert.


πŸ“ž"Iya sayang, mama mau kasih kabar kalau hari ini mama akan terbang ke Indonesia buat temuin kamu! Tunggu ya, mungkin nanti malam mama sudah sampai disana sayang!"


πŸ“ž"Hah? Hari ini??" Albert sangat terkejut.


Nadira yang masih berdiri di dekat tembok, ikut merasa kaget dengan teriakan suaminya itu. Ia penasaran sekali mengapa Albert sampai kaget seperti itu, terlebih saat ia mendengar bahwa Albert menyebut mama pada wanita di telpon itu.


"Apa yang lagi telponan sama tuan Albert itu mamanya? Kalau iya berarti...."


β€’


β€’


Sementara itu, Darius masih terlibat pembicaraan dengan Harrison mengenai rencana kerjasama mereka yang akan segera terlaksana. Apalagi saat ini Darius cukup senang mengetahui bahwa Harrison adalah orang yang sangat licik dan tepat sekali untuk diajak kerjasama meruntuhkan Albert.


Vanesa juga ada bersama mereka dan terlibat ke dalam pembicaraan itu, biar bagaimanapun ia memang sudah ambil bagian dalam rencana ayahnya selama ini dengan berpura-pura sebagai sekretaris Albert dan menghancurkan pria itu dari dalam perusahaannya sendiri.

__ADS_1


"Jadi, menurut anda apa yang harus kita lakukan lagi untuk langkah selanjutnya? Karena yang saya lihat, Albert sepertinya sudah bisa mengatasi masalah di kantornya saat ini!" ujar Harrison.


"Benar! Albert memang berhasil menemukan cara untuk mengatasi masalah di kantornya sekarang, dia bahkan sudah membuat seluruh karyawannya percaya kembali dan mau bekerja dengannya lagi seperti sediakala!" ucap Vanesa.


"Nah, itu dia yang saya bingung kan! Bagaimana bisa Albert menyelesaikan masalah yang cukup besar ini hanya dalam hitungan detik?" ujar Harrison kebingungan.


"Anda tidak perlu bingung, mister Harrison!" ucap Darius tersenyum tipis.


"Apa maksud anda?" tanya Harrison.


"Ya, Albert itu memang orang yang pandai dalam mencari solusi. Apalagi di bawahnya terdapat sosok Keenan, asisten pribadinya yang memiliki kepintaran di atas rata-rata para asisten lainnya! Dengan begitu, saya yakin Albert bisa mengatasi semua masalah hanya dengan menjentikkan jarinya!" jawab Darius.


"Itu benar ayah! Buktinya saja, Keenan udah mulai curiga kalau aku dalang dibalik semua masalah ini, untungnya aku bisa cepat-cepat cari alibi dan menyeret nama orang lain supaya aku tidak dicurigai lagi!" ucap Vanesa.


"Waw, kalau begitu musuh kita bukan hanya Albert, tetapi juga Keenan si asisten sok pintar itu!" ucap Harrison mengepalkan tangannya.


"Anda benar misteri Harrison! Untuk itu, jika kita ingin menghancurkan Albert maka carilah cara untuk bisa menyingkirkan Keenan lebih dulu dari hidupnya, dengan begitu niscaya Albert akan mudah untuk kita hancurkan! Karena tidak ada lagi orang yang dapat membantunya!" ucap Darius.


"Ya, saya akan perintahkan anak buah saya untuk mencari tahu mengenai identitas Keenan itu! Supaya kita bisa singkirkan dia dari Albert!" ucap Harrison sudah sangat emosi.


"Tapi, selain Keenan kita juga perlu menyingkirkan satu orang lagi misteri Harrison!" ucap Darius.


"Apa? Siapa lagi memangnya?" tanya Harrison.


"Nadira. Dialah yang harus kita singkirkan juga dari Albert, karena wanita ini bisa juga membahayakan kita mister Harrison!" jawab Darius.


"Wanita? Memangnya siapa dia dan apa hubungannya dengan rencana kita yang ingin menghancurkan Albert?" tanya Harrison masih tak mengerti dengan maksud Darius.


"Jelas sangat penting! Nadira adalah wanita yang dicintai Albert, jika wanita itu berhasil kita singkirkan maka dapat dipastikan tembok Albert akan runtuh dan dia bisa kita hancurkan dengan sangat mudah tanpa perlu mengeluarkan banyak tenaga!" jelas Darius.


"Oh ya ya ya... anda memang pintar, Darius! Tidak salah saya menerima tawaran kerjasama dari anda, lalu apa yang harus kita lakukan pada Nadira itu?" ucap Harrison.


"Anda tidak perlu pusing memikirkan Nadira, karena dia urusan saya! Biar saya saja yang coba menyingkirkan Nadira dari kehidupan Albert, sedangkan anda dan Vanesa cobalah untuk menyingkirkan Keenan!" ucap Darius.


"Oh begitu, baiklah saya setuju! Menyingkirkan Keenan bukanlah hal yang sulit bagi seorang Harrison!" ucap Harrison.


"Bagus! Kalau begitu kita berpisah disini, saya akan mengabari kalian lagi nantinya!" ucap Darius.


"Oke! Terimakasih pak Darius, saya senang bekerjasama dengan anda karena pemikiran saya bisa terbuka luas setelah mendengar kata-kata dari anda barusan!" ucap Harrison tersenyum.


"Ya, saya juga senang mister Harrison!" ucap Darius.


"Saya permisi, misteri Harrison!" ucap Darius.


"Silahkan pak Darius!" ucap Harrison.


"Vanesa, saya pergi dulu ya?" ucap Darius menatap ke arah wanita seksi itu.


"Iya pak, mari saya antar! Ayah, aku antar pak Darius keluar dulu ya?" ucap Vanesa.


"Ya,"


Vanesa pun mengantarkan Darius keluar dari rumah itu, sedangkan Harrison kembali duduk di kursinya dan mengusap dagu seraya tersenyum seringai penuh kepuasan.


Lalu, Harrison mengambil HT miliknya dan menghubungi seseorang lewat alat itu.


"Halo! Datang ke ruangan saya sekarang juga, gak pake lama!" ujar Harrison.


"Baik pak!"


Tak lama kemudian, seorang pria masuk ke dalam ruangan itu menemui Harrison dengan wajah menunduk dan kedua tangan ditaruh di depan.


"Permisi pak! Ada apa ya bapak panggil saya?" tanya seorang pria yang tak lain ialah Johan, anak buahnya sendiri.


"Saya ada tugas untuk kamu!" ucap Harrison.


"Apa itu pak?" tanya Johan penasaran.


"Kamu cari tahu tentang Keenan, asisten pribadi Albert yang tampan itu! Semuanya mengenai dia, kamu cari tahu oke! Kalau sudah berhasil, langsung laporan ke saya!" jawab Harrison.


"Baik pak, siap!" ucap Johan penuh semangat.


β€’


β€’


Darius dan Vanesa kini telah sampai di luar, mereka menghentikan langkah tepat di samping mobil milik Darius berada, pria itu tampak menatap ke arah Vanesa dan ingin bicara sejenak dengan wanita itu disana.


Vanesa pun mengerti walau ia juga tak ingin terlalu lama bersama Darius disana.

__ADS_1


"Ada apa pak?" tanya Vanesa heran.


"Sudah berapa kali Albert menyetubuhi kamu?" Darius langsung to the point menanyakan apa yang ada di dalam pikirannya.


"Hah? Maksud anda apa? Saya tidak pernahβ€”"


"Sudah berapa kali Albert menyetubuhi kamu?" potong Darius kembali menanyakan hal yang sama pada wanita itu.


Vanesa terdiam sejenak, ia menunduk bingung harus menjawab apa kali ini. Sebenarnya ia ingin menyembunyikan perbuatan terlarangnya itu dari Darius, tapi sepertinya Darius bukan tipe orang yang mudah diperdaya.


"Katakan saja! Saya hanya ingin tahu, berapa kali Albert menyetubuhi kamu?" ucap Darius tegas.


"Su-sudah seringkali, pak!" jawab Vanesa gugup.


"Oh waw, menarik sekali! Lalu, apa kamu tidak ada tanda-tanda akan hamil?" tanya Darius.


"Hamil?" Vanesa terkejut mendengarnya.


"Ya, kamu hamil atau tidak?" jelas Darius.


"Se-sebenarnya saya memang sedang mengandung anak Albert, pak. Tapi, saya sembunyikan ini dari semua orang termasuk ayah saya dan Albert sendiri!" jawab Vanesa.


"Apa alasannya kamu menyembunyikan kehamilan kamu itu?" tanya Darius.


"Eee jelas karena Albert memaksa saya untuk menggugurkan kandungan ini setelah saya mengatakannya, oleh karena itu saya tidak mau lagi berbicara pada Albert kalau sebenarnya saya masih mengandung anaknya!" ucap Vanesa.


"Kamu cerdas Vanesa! Dengan begitu, kamu bisa manfaatkan kehamilan kamu untuk merusak hubungan Albert dan Nadira!" ucap Darius.


"Bagaimana caranya, pak?" tanya Vanesa tak mengerti.


"Mudah saja, kamu hanya perlu masuk ke keluarga Albert dan mengaku bahwa kamu sedang mengandung anaknya! Dengan begitu, otomatis Nadira akan emosi dan lebih mudah bagi saya membujuk dia untuk pergi dari Albert!" ucap Darius menjelaskan rencananya pada Vanesa.


"Boleh juga, saya setuju pak!" ucap Vanesa.


"Bagus! Kamu memang bisa diandalkan!" ucap Darius tersenyum puas.


"Oh ya, boleh saya tanya sesuatu pak?" ujar Vanesa.


"Apa itu?"


"Darimana bapak bisa tahu kalau saya dan Albert sering berhubungan? Padahal seluruh karyawan kantor saja tidak ada yang tahu!" tanya Vanesa.


Darius tersenyum tipis mendengar pertanyaan yang diajukan Vanesa padanya, dengan mudahnya ia menjawab dan menjelaskan pada gadis itu.


"Feeling aja!"


β€’


β€’


"Tuan, gak mau dilanjut nih?" Nadira yang hanya mengenakan kain segitiga penutup bagian bawah itu duduk menghampiri Albert di pinggir ranjang, ia memegang lengan pria itu sambil tersenyum bermaksud menggodanya.


Namun, gairah Albert seakan hilang setelah mendapat telpon dari mamanya yang mengatakan bahwa dia akan pulang hari ini ke Indonesia, tentu saja Albert khawatir mengingat kini ia sudah memiliki istri dan belum memberitahu pada mamanya mengenai pernikahannya itu.


"Tuan, kenapa sih tuan bengong aja dari sehabis angkat telpon itu?" tanya Nadira bingung.


"Nadira, tolong jangan ganggu saya dulu! Saya minta maaf karena saya tidak jadi memuaskan kamu kali ini, tapi saya mohon jangan ganggu saya!" ucap Albert dingin.


"Ba-baik tuan!" ucap Nadira pelan.


Wanita itu pun melepas genggamannya, lalu bergeser menjauh dari Albert.


"Pakai lagi baju kamu!" perintah Albert.


Nadira hanya mengangguk, kemudian beranjak dari ranjang dan memakai kembali pakaian miliknya yang berserakan di lantai akibat ulah Albert tadi.


Sementara pria itu masih tetap terduduk disana, melamun memikirkan apa yang akan terjadi nanti jika mamanya bertemu dengan Nadira, ia khawatir sang mama tidak bisa menerima istrinya itu.


"Sebenarnya apa sih yang lagi dipikirin tuan Albert?" gumam Nadira dalam hati.


Nadira memang sangat penasaran mengenai apa yang terjadi pada suaminya itu, namun ia tak berani menanyakan langsung kepada Albert mengingat pria itu sudah bilang bahwa dia sedang tidak ingin diganggu olehnya.


"Kalau sampai mama datang dan ketemu sama Nadira, kira-kira reaksinya bakal gimana ya? Saya khawatir mama marah dan usir Nadira dari sini, aaarrgghh pusing!" batin Albert.


"Aaaakkkhh!!" Albert berteriak secara tiba-tiba dengan kedua tangan mengusap wajahnya.


Sontak Nadira yang sedang memakai bajunya terkejut, ia menatap ke arah Albert dan ingin bertanya tapi tidak berani.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2