
Setelah meeting selesai, kini Albert sendiri yang mengantar Devano menuju ke depan kantor.
"Terimakasih ya Albert! Kamu sudah mau antar saya sampai kesini. Nanti kapan-kapan saya boleh kan mampir ke rumah kamu lagi?" ujar Devano.
"Oh, tentu saja boleh Vano. Buat sohib saya yang luar biasa ini apa sih yang enggak?" ucap Albert.
"Hahaha, bisa saja kamu. Sebenarnya saya pengen ke rumah kamu itu, karena saya mau lihat bayi kamu. Sekalian nantinya saya bawa Nadya kesana, dia itu paling suka sama anak kecil." ucap Devano.
"Iya iya, saya tunggu ya Vano!" ucap Albert tersenyum.
Tak lama kemudian, muncul sebuah taksi yang berhenti tepat di hadapan mereka.
Lalu, keluarlah seorang gadis dari dalam taksi tersebut yang membuat Albert terbengong melihatnya.
"Kak Albert!" gadis itu menyapanya, menambah rasa kebingungan di pikiran Albert.
"Loh kamu..??" Albert terkejut saat melihat Celine yang baru turun dari taksi itu.
Celine pun tersenyum, melangkah menghampiri Albert serta Devano disana.
"Bert, kamu kenal sama wanita ini?" tanya Devano.
"Iya Van, dia adiknya asisten saya." jawab Albert.
"Oalah, kirain simpanan kamu." sarkas Devano.
"Bicara apa sih kamu?" ujar Albert.
"Hahaha, jangan marah Bert!" ucap Devano.
Albert menggeleng pelan, lalu beralih menatap Celine yang sudah berdiri di depannya saat ini.
"Hai kak Albert! Hai pak!" ucap Celine menyapa Albert dan Devano.
"Ah iya, hai juga!" balas Albert.
Sementara Devano hanya tersenyum tipis seraya menganggukkan kepalanya.
"Eee yasudah, kalau begitu saya permisi dulu ya? Kamu jangan lupa buat cari aktor untuk bintang iklan produk kerjasama kita! Saya tidak mau yang biasa-biasa saja, saya ingin proyek kita kali ini sukses dan berhasil!" ucap Devano.
"Iya Van, saya mengerti kok! Nanti saya akan cari melalui pihak management artis terkenal di negara kita, kamu tinggal terima beres aja semuanya!" ucap Albert tersenyum tipis.
"Baguslah! Sampai ketemu lagi nanti!" ucap Devano.
"Siap!" ucap Albert singkat.
Devano pun melambai ke arah Celine dan dibalas dengan senyuman, lalu berjalan menuju mobilnya dan pergi dari tempat itu.
"Eee Celine, kamu mau apa kesini? Cari kakak kamu? Dia kebetulan udah beberapa hari ini gak kerja, katanya sih minta izin buat liburan. Emang kamu gak tahu soal itu?" tanya Albert.
"Iya kak, aku tahu kok. Aku kesini juga bukan buat cari kak Keenan, tapi aku mau ketemu kak Albert." jawab Celine.
"Mau apa kamu ketemu saya?" tanya Albert.
"Ada sesuatu yang pengen aku bicarakan sama kakak, bisa kan?" ucap Celine.
"Bisa kok, yasudah ayo kita pergi dari sini! Kita bicaranya di cafe terdekat aja, biar lebih enak dan santai." ucap Albert.
"Iya kak," ucap Celine mengangguk singkat.
Albert pun mengajak Celine memasuki mobilnya, namun disaat ia hendak masuk tiba-tiba Carolina berteriak memanggilnya dari belakang.
"Pak, pak Albert tunggu pak!" teriak Carolina.
Sontak Albert menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah sekretarisnya itu.
"Ada apa Lina?" tanya Albert dingin.
"Maaf pak! Tapi, barusan saya sudah kontak salah satu manajemen artis yang sering kita pakai, dan katanya schedule mereka itu udah padat banget. Kira-kira gimana ya pak?" ucap Carolina.
"Eee kalau gitu kamu hubungi saja manajemen yang lain, kan masih banyak kelompok artis di negeri kita ini." ucap Albert.
"Iya pak, baik! Saya nanti akan coba cari-cari manajemen lainnya," ucap Carolina.
"Yasudah, kalau begitu saya mau pergi. Kamu atur semuanya sebaik mungkin ya, tadi pak Devano pesan ke saya kalau dia pengen projek kita kali ini sukses dan berhasil. Jadi, kita tidak boleh kecewakan dia!" ucap Albert.
"Baik pak, saya mengerti!" ucap Carolina.
"Terimakasih ya Lina!" ucap Albert sambil tersenyum.
"Sama-sama, pak." balas Carolina.
Albert pun masuk ke dalam mobilnya dan pergi bersama Celine.
•
•
Chelsea sedang merapihkan baju-bajunya, memasukkan semua pakaian serta barang miliknya ke dalam koper yang cukup besar.
__ADS_1
Ia sesekali teringat pada sosok Keenan, sang mantan yang kini hanya tinggal kenangan dan tak bisa ia miliki lagi.
"Ken, aku benar-benar masih gak nyangka hubungan kita bisa berakhir. Padahal sebelumnya aku udah bayangin kalau aku dan kamu bisa menikah, tapi nyatanya takdir berkata lain." ucap Chelsea.
Tanpa sadar, Chelsea mulai meneteskan air mata akibat mengingat segala kenangan yang pernah ia lalui dulu bersama Keenan.
"Duh, aku ini kenapa sih masih mikirin dia aja? Ayo dong Chelsea, moveon! Kamu pasti bisa lupain dia!" ucap Chelsea menyemangati dirinya sendiri sembari memukul-mukul kepalanya.
Chelsea terus berusaha melupakan Keenan dan menghilangkan setiap kenangan tentang pria itu dari kepalanya, namun sulit.
"Besok aku udah harus balik ke London, semoga aja dengan itu aku bisa melupakan Keenan deh! Ya walau sebenarnya aku masih pengen disini sama mama, kak Albert dan mbak Dira. Tapi—"
TOK TOK TOK...
Suara ketukan pintu membuat ucapan Chelsea terhenti, ia terkejut dan reflek menatap ke arah pintu dengan bingung.
"Siapa ya?" tanya Chelsea dengan suara keras.
"Ini mama, sayang. Kamu buka pintunya dong, mama mau masuk!" jawab Abigail dari luar.
"Ohh, iya mah sebentar!" teriak Chelsea.
Chelsea langsung beranjak dari kasur, berjalan mendekati pintu dan menemui mamanya di luar sana.
Ceklek...
Ia membuka pintu, tampaklah sang mama yang sedang tersenyum ke arahnya.
"Mah, ada apa?" tanya Chelsea.
"Kamu lagi prepare ya buat keberangkatan kamu besok?" ucap Abigail.
"Ah iya mah, kebetulan aku baru siap-siap. Besok kan aku harus terbang ke London dan lanjutin kuliah aku, sekalian ketemu sama papa." ucap Chelsea.
"Yaudah, mama bantu kamu ya sayang?" ujar Abigail.
"Hah? Emang mama gak sibuk? Bukannya mama lagi jagain dedek Galen ya?" tanya Chelsea.
"Enggak sayang, Nadira udah pulang jadi dia yang urus Galen sekarang. Lagian mama juga sebenarnya gak sudi harus urus bayi itu, kamu kan tahu sendiri Galen itu anak Vanesa si pelakor!" ucap Abigail.
"Iya sih mah, aku juga agak gimana gitu sama dia. Tapi, kita kan tetap harus lakuin semua yang dibilang kak Albert. Kasihan mbak Dira kalau tahu itu semua," ucap Chelsea.
"Huft, ya itu dia sayang. Mama terpaksa mau urus Galen demi Nadira, kalau bukan karena itu mah mana mungkin mama mau lakuin ini semua?!" ucap Abigail.
"Yaudah, mama tadi bilang mau bantu aku kan? Yuk kita masuk aja ke dalam!" ucap Chelsea.
"Oh iya, gara-gara bahas si Galen jadinya mama lupa deh tujuan awal mama kesini buat apa." ujar Abigail.
"Ah bisa aja kamu, kan kamu yang mulai tadi!" ujar Abigail menepuk bahu putrinya.
"Hehe, udah ayo masuk mah!" ujar Chelsea.
"Iya sayang..." ucap Abigail.
Mereka pun masuk bersama-sama ke dalam kamar untuk lanjut merapihkan barang-barang milik Chelsea.
Tanpa diketahui oleh mereka, rupanya Lani selaku pelayan di rumah itu tak sengaja mendengar apa yang diobrolkan oleh Chelsea dan Abigail tadi.
"Loh, nyonya Abigail kenapa bilang gitu ya tentang den Galen?" gumamnya.
•
•
Lani yang baru selesai beberes di lantai atas, kini turun ke bawah dengan tergesa-gesa dan menemui mbok Widya di dapur.
Lani memang masih penasaran terkait apa yang ia dengar tadi saat di atas, ia pun ingin membahas itu pada mbok Widya disana.
"Mbok, sebentar mbok!" ucap Lani.
"Kamu kenapa sih Lani, kok lari-lari begitu? Dikejar-kejar kecoa?" tanya mbok Widya heran.
"Bukan mbok, ini saya ada sesuatu yang mau dibicarakan sama mbok Widya." jawab Lani.
"Sesuatu apa? Jangan bertele-tele!" ujar Widya.
"Iya mbok, saya itu cuma mau tanya. Sebenarnya den Galen itu beneran anaknya Bu Nadira dan tuan Albert bukan sih?" ucap Lani.
"Hah? Astaghfirullah Al adzim, kamu kenapa bicara begitu Lani?! Ya udah jelas den Galen itu anak Bu Nadira sama tuan Albert, kamu itu gimana sih?!" ujar mbok Widya.
"Abisnya nih ya, tadi itu saya dengar sendiri sewaktu nyonya Abigail lagi bicara sama non Chelsea. Katanya tuh ya, den Galen itu bukan anaknya Bu Nadira, tapi anak si mbak-mbak Vanesa yang keganjenan itu." jelas Lani.
"Hah??" mbok Widya terkejut mendengar apa yang dikatakan Lani, bahkan mulutnya sampai menganga lebar.
"Kamu serius dengar begitu? Kamu salah dengar kali Lani," tanya mbok Widya.
"Yeh si mbok, gini-gini teh telinga Lani masih berfungsi dengan baik atuh mbok. Lani gak mungkin salah dengar, emang begitu kok yang dibilang sama nyonya Abigail." jawab Lani.
Mbok Widya pun tertunduk bingung, ia masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Lani tadi.
__ADS_1
"Ah sudahlah, kamu—"
"Mbok!" ucapan mbok Widya terpotong saat Nadira tiba-tiba datang disana dan memanggilnya.
Sontak saja itu membuat mbok Widya dan juga Lani terkejut bukan main, mereka kompak menoleh ke arah Nadira dengan mulut terbuka.
"Ini lagi pada ngobrolin apa sih? Kok serius banget kayak gitu?" tanya Nadira sambil tersenyum.
"Duh, Bu Dira dengar gak ya yang aku bilang tadi?" gumam Lani dalam hati.
Tampak mbok Widya menatap ke arah Lani seraya menyenggol lengan wanita itu dengan sikunya, itu dikarenakan mbok Widya sendiri bingung harus menjawab apa pada Nadira.
"Mbok, kenapa diam aja? Obrolannya penting banget ya dan aku gak boleh tau?" tanya Nadira.
"Eee anu Bu itu..." ucap mbok Widya gugup.
"Yaudah, gapapa mbok. Aku paham kok ada yang namanya privasi, kalo gitu aku minta tolong dibikinin steak aja ya mbok! Soalnya aku tiba-tiba ngerasa lapar lagi nih, bisa kan mbok?" ucap Nadira sambil mengusap perutnya.
"Ah iya Bu Dira, siap! Nanti mbok bikinin steak yang paling enak buat Bu Dira! Yang namanya lagi ditahap menyusui, pasti emang gampang lapar Bu." ucap mbok Widya sedikit lega.
"Iya mbok, itu dia. Eee kalo gitu aku tunggu di depan aja ya? Makasih mbok!" ucap Nadira.
"Iya Bu, tunggu sebentar ya!" ucap mbok Widya.
Nadira tersenyum singkat, melirik sekilas ke arah Lani sebelum pergi dari sana.
Mbok Widya mengelus dadanya setelah Nadira pergi, merasa lega karena Nadira ternyata tak mendengar apa yang mereka bicarakan tadi.
"Heh Lani! Lain kali kalau mau bicarain tentang bu Nadira, jangan disini! Bahaya tau, untung aja tadi Bu Dira gak dengar!" tegur mbok Widya.
"Iya mbok, maaf!" ucap Lani pelan.
•
•
Albert dan Celine telah tiba di cafe terdekat untuk saling berbincang, mereka juga sudah memesan minuman masing-masing untuk menghilangkan rasa haus.
Celine sebenarnya masih belum siap untuk menceritakan kondisi Keenan saat ini kepada Albert, pasalnya Keenan sendiri yang meminta padanya untuk merahasiakan ini dari Albert.
"Eee jadi Celine, apa yang mau kamu bicarakan sama saya disini?" tanya Albert penasaran.
"Duh, aku cerita gak ya ke kak Albert? Ah cerita aja deh, biar gimanapun aku gak mau bang Ken ditahan di penjara terlalu lama!" batin Celine.
"Cel? Celine?" tegur Albert.
"Eh iya, kenapa kak?" ucap Celine terkejut.
"Loh, kamu ini gimana? Saya yang harusnya tanya sama kamu, kamu kenapa bengong aja kayak gitu? Ada masalah apa sih Celine?" ucap Albert.
"Hah? Eee gak ada kok kak, aku gak punya masalah apa-apa." jawab Celine.
"Ohh, terus tujuan kamu temui saya itu mau apa? Tadi katanya pengen ada yang diobrolin, soal apa ya?" tanya Albert terheran-heran.
"Ah itu, aku sebenarnya mau bicara tentang kak Keenan. Tapi, gak tahu kenapa aku ragu buat bicara itu ke kak Albert." jawab Celine.
"Emangnya kenapa?" tanya Albert bingung.
Celine menggeleng cepat, membuat Albert mengusap wajahnya dan dilanda kebingungan.
"Ada apa sama Keenan? Kamu cerita aja ke saya, gak perlu ragu apalagi takut!" ujar Albert.
"Masalahnya, kak Keenan sendiri yang minta aku untuk gak cerita sama kak Albert." kata Celine.
"Terus, kenapa kamu malah temui saya sekarang?" tanya Albert heran.
"Ya karena aku gak mau kak Keenan terus-terusan ada di penjara, aku pengennya kak Keenan itu bebas dan bisa tinggal bareng lagi sama aku di rumah." jawab Celine spontan.
"Hah? Apa?? Keenan di penjara?" ujar Albert terkejut bukan main.
Celine langsung menutup mulutnya setelah sadar bahwa ia baru saja mengatakan hal yang seharusnya tidak ia katakan.
"Apa benar yang kamu katakan itu? Keenan masuk penjara?" tanya Albert untuk memastikan.
"Eee i-i-iya kak, itu semua benar. Kak Keenan waktu itu dibawa ke kantor polisi sama beberapa orang, dan sampai sekarang dia masih belum dibolehin buat pulang." jawab Celine.
"Memangnya dia ada masalah apa? Kenapa dia bisa sampai masuk penjara?" tanya Albert heran.
"Aku juga gak ngerti kak, aku cuma tau kak Keenan ada di penjara sekarang." jawab Celine.
"Yasudah, terimakasih infonya ya! Kamu tidak usah khawatir, nanti saya akan bantu bebaskan abang kamu dari penjara! Dia itu juga asisten saya dan dia bekerja untuk saya, jadi saya harus membantu dia disaat seperti ini!" ucap Albert.
"Yang benar kak?" tanya Celine.
"Iya Celine, kamu tenang aja ya!" jawab Albert.
"Makasih banyak ya kak, aku senang banget deh dengarnya!" ucap Celine.
"Iya, sama-sama." ucap Albert singkat.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...