Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Kebohongan Albert


__ADS_3

Ceklek...


Suhendra yang baru keluar dari kamar, terkejut saat melihat Abigail menangis histeris dan terus meneriakkan cucunya di depan dokter serta para perawat.


Suhendra pun kebingungan, ia berusaha mencerna apa maksud Abigail mengatakan itu.


"Dok, ini semua gak benar kan? Dokter cuma lagi bercanda sama saya kan? Cucu saya masih hidup kan dok? Iya kan?" ucap Abigail histeris.


"Bu, tenang ya! Ibu harus ikhlas!" ucap suster disana.


Deg!


Mendengar itu, Suhendra langsung syok berat dan memegangi dadanya yang terasa sesak.


"Apa ini? Kenapa Bu Abigail bilang seperti itu? Ada apa sebenarnya dengan cucuku?" batin Suhendra.


Karena rasa penasarannya, Suhendra pun bergerak menghampiri mereka disana dengan raut wajah kebingungan.


"Eee maaf dok, Bu Abigail, kalau saya lancang! Tapi, saya cuma mau tanya aja maksud perkataan ibu tadi apa ya? Memangnya kenapa dengan cucu kita, Bu?" tanya Suhendra penasaran.


Abigail terbengong saja menatap wajah Suhendra dengan air mata yang sudah menggenang.


"Bu, tolong jawab pertanyaan saya! Jujur saya penasaran kenapa ibu menangis dan bilang seperti tadi, ini ada apa ya Bu?" ucap Suhendra.


"Eee itu anu saya..." ucap Abigail gugup.


"Apa Bu? Kenapa sama cucu kita?" tanya Suhendra.


Abigail berusaha menahan air matanya yang hendak mengalir deras saat ia ingin menceritakan semua yang terjadi pada Suhendra.


"Cu-cucu kita..." ucap Abigail gugup.


Tak lama kemudian, Albert muncul disana dan terheran-heran melihat mamanya serta ayah mertuanya disana tengah berbicara bersama dokter Fadila.


"Eee mah, pak, ini kenapa ya? Kok mama nangis kayak gini? Ada apa sih?" tanya Albert bingung.


"Albert? Kamu darimana? Istri kamu nyariin kamu tuh di dalam, dia pengen ketemu sama kamu." ucap Suhendra.


"Oh ya? Kalo gitu saya temuin Nadira deh di dalam, makasih ya pak infonya!" ucap Albert.


"Iya Albert," ucap Suhendra singkat.


Disaat Albert hendak pergi, tiba-tiba mamanya menahan tangannya agar tidak pergi dari sana.


"Tunggu dulu Albert!" ucap Abigail.


"Iya mah, kenapa?" tanya Albert penasaran.


"Kamu harus tahu tentang kondisi anak kamu, ini penting!" ucap Abigail sembari menghapus air mata di pipinya.


"Anak aku kenapa, mah?" tanya Albert lagi.


"Anak kamu gak bisa diselamatkan, Albert. Dia sudah meninggal dunia, dokter Fadila yang tadi bilang sama mama soal itu." jelas Abigail.


Deg!


Sontak Albert langsung terkejut mendengar penjelasan mamanya, mulutnya terbuka lebar dengan kedua mata yang terbelalak.


"Apa mah? Mama gak lagi bercanda atau bohongin aku kan?" tanya Albert terkejut.


Sama halnya dengan Albert, Suhendra pun turut terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut Abigail.


"Mah, mama jangan diem aja mah! Dok, ini semua gak benar kan? Masa anak saya meninggal sih dok? Dokter jangan bohongin kita dong!" ujar Albert histeris.


"Maaf pak Albert! Tapi, kami tidak sedang berbohong. Kami sudah melakukan semua usaha untuk menyelamatkan nyawa putri bapak, tapi semuanya gagal." jawab dokter Fadila.


Albert menggelengkan kepalanya dengan perlahan, lalu bersandar pada tembok seraya menutupi wajahnya yang penuh kesedihan.


Abigail langsung mendekati putranya dan memeluknya untuk menenangkan Albert, sedangkan Suhendra juga hanya bisa menangis disana.


"Sabar ya Albert! Ini bukan akhir dari segalanya, kamu masih punya kesempatan lain untuk memiliki anak bersama Nadira." ujar Abigail.


"Tapi mah, apa Nadira udah tahu tentang ini? Gimana reaksi dia, mah?" tanya Albert.


"Belum sayang, Nadira belum tahu. Mama gak tega kasih tahunya, biar kamu aja nanti yang kasih tahu ke istri kamu ya." jawab Abigail sembari terus mengusap rambut putranya.


Albert kembali menangis deras di dalam bahu mamanya, meluapkan kesedihan dan rasa kehilangan atas putri pertamanya bersama Nadira.


"Bagaimana ini? Dalam satu hari, saya sudah kehilangan dua orang sekaligus. Vanesa dan juga putri saya, yang bahkan belum sempat saya gendong." batin Albert.




Disisi lain, Keenan masih berada di kantor polisi bersama Yohanes selaku ayah dari Cakra.


Yohanes tampak mencurigai Keenan dan menduga bahwa Keenan adalah pelaku yang menyebabkan Cakra putranya kecelakaan hingga meninggal.


"Kamu sudah tidak bisa mengelak lagi, berdasarkan rekaman cctv di daerah kecelakaan itu terdapat sebuah mobil yang mengejar-ngejar mobil anak saya dan itu adalah mobil kamu. Sebaiknya kamu mengaku saja, mengapa kamu melakukan itu dan siapa yang menyuruh kamu?!" ucap Yohanes emosi.


Keenan hanya bisa diam sambil menundukkan kepala, ia bingung saat ini harus menjelaskan bagaimana kepada Yohanes.

__ADS_1


"Kenapa kamu diam? Cepat jawab pertanyaan saya!" bentak Yohanes.


"Maaf pak! Memang saya malam itu mengejar mobil Cakra, tapi bukan berarti saya yang sudah menyebabkan Cakra kecelakaan sampai meninggal. Itu semua terjadi karena kesalahan dia sendiri, bukan saya." ucap Keenan.


"Beraninya kamu bicara begitu! Pantas saja kamu selalu berada di lokasi kecelakaan anak saya, pasti karena kamu menyesali perbuatan kamu bukan?" ucap Yohanes.


"Tidak, bukan itu." elak Keenan.


"Lalu apa? Saya tahu jawaban kamu waktu itu adalah sebuah kebohongan, tuan kamu bukan teman anak saya kan!" ucap Yohanes.


"Iya pak, itu benar. Tuan saya memang bukan teman Cakra, dan tujuan saya selalu ada di lokasi kejadian karena saya diminta untuk memastikan bagaimana keadaan Cakra." ucap Keenan.


"Siapa tuan kamu itu? Jika kamu ada dibalik kecelakaan anak saya, itu artinya tuan kamu juga harus bertanggung jawab! Dia wajib saya periksa, maka dari itu katakanlah pada saya siapa dia!" pinta Yohanes.


"Saya gak bisa kasih tahu tentang itu, jangan bawa-bawa tuan saya dalam masalah ini! Biar saya saja yang selesaikan semuanya," ucap Keenan.


"Baiklah, kalau begitu kamu harus terima nasib untuk ditahan di sel ini!" ucap Yohanes.


"Saya tidak mau, karena saya tidak bersalah. Ini semua murni kecelakaan, jadi bukan saya penyebab Cakra meninggal!" ucap Keenan.


"Kamu masih saja mengelak ya, padahal sudah jelas buktinya kalau mobil kamu yang mengejar mobil anak saya!" tegas Yohanes.


"Ya memang benar, tapi saya melakukan itu karena Cakra kabur dari saya dan tidak mau menuruti kemauan saya." kata Keenan.


"Apapun alasannya, tetap saja kamu bersalah dan harus dihukum!" ucap Yohanes.


"Saya akan tempuh semua prosesnya, saya jamin bahwa saya tidak bersalah! Jika saja waktu itu Cakra mau menurut dan tidak kabur, mungkin ini semua tidak akan terjadi." ucap Keenan.


"Terserah kamu! Intinya saya pastikan kamu akan mendekam di penjara dalam waktu yang lama!" ucap Yohanes menunjuk ke arah Keenan.


"Baiklah pak!" ucap Keenan tersenyum singkat.


Yohanes pun beranjak dari duduknya, ia pergi meninggalkan tempat itu dan meminta para petugas disana untuk membawa Keenan.


"Maaf pak, mari ikuti kami!" ucap polisi disana.


"Saya mau dibawa kemana? Ke sel tahanan? Saya tidak mau!" ujar Keenan.


"Saat ini status kamu masih terduga pelaku, selama pemeriksaan dilakukan maka kamu harus tetap berada disini dan tidak boleh kemana-mana!" jawab polisi itu.


"Saya ingin pulang, untuk apa saya disini? Saya itu gak bersalah," ucap Keenan.


"Itu sudah aturannya, mari ikuti kami!" ucap polisi dengan tegas.


Keenan menggelengkan pelan, namun pada akhirnya ia tak memiliki pilihan lain selain mengikuti polisi-polisi itu.




Ia bersama Abigail dan juga Suhendra yang turut masuk kesana, tentunya mereka sudah menghapus air mata agar tak membuat Nadira curiga.


Melihat suaminya muncul, Nadira langsung tersenyum dan mengarahkan pandangan ke arah Albert yang ada disana.


"Bu, itu mas Albert." ucap Nadira tampak ceria.


"Iya sayang, suami kamu udah datang. Dia kayaknya bawa anak kalian deh," ucap Sulastri.


"Iya Bu, aku gak sabar banget pengen lihat langsung dan gendong anak aku!" ucap Nadira.


"Halo istriku yang cantik!" ucap Albert sambil tersenyum dan berdiri di samping istrinya.


"Ah mas, kamu ini bisa aja!" ucap Nadira tersipu.


"Hahaha, kamu kan emang cantik sayang. Saya aja gak pernah bisa berpaling dari wajah kamu yang cantik itu," ucap Albert.


"Udah ah mas, jangan gombal terus! Malu tau dilihatin ibu sama bapak!" ucap Nadira.


"Iya iya, saya gak gombal lagi deh. Eh ya, kondisi kamu gimana sayang? Udah membaik kan?" ucap Albert sembari mengusap wajah Nadira.


"Alhamdulillah udah kok!" jawab Nadira.


"Oh, syukurlah!" ucap Albert singkat.


"Umm, ini putri kita ya mas?" tanya Nadira.


"Eee ini..." ucap Albert gugup plus ragu, ia bingung harus mengatakan apa pada Nadira.


Saat menoleh ke arah belakang, Albert melihat mamanya menganggukkan kepala dengan wajah sedih dan kemudian kembali menatap Nadira sambil tersenyum.


"Kenapa mas?" tanya Nadira heran.


"Ah enggak, saya bingung aja mau jawabnya gimana. Soalnya ini bukan putri kita, tapi putra kita." jawab Albert.


"Hah? Maksud kamu gimana sih, mas?" tanya Nadira tak mengerti.


"Iya sayang, jadi ternyata bayi kita itu laki-laki. Dokter Fadila tadi juga kaget pas tahu, makanya saya bingung deh." jawab Albert berbohong.


"Beneran mas? Anak kita laki-laki?" tanya Nadira.


"Iya istriku yang cantik, nih kamu lihat aja sendiri! Dia itu tampan sama kayak saya," ucap Albert.

__ADS_1


Nadira pun tersenyum saat menatap wajah bayi yang ia sangka sebagai anaknya itu.


"Ah iya mas, ternyata dia emang laki-laki. Tapi, kok bisa kayak gitu sih? Bukannya sewaktu kita USG dulu, dokter Fadila bilang jenis kelaminnya perempuan ya mas?" ucap Nadira keheranan.


"Eee iya, waktu itu kelaminnya emang ketutupan jadi kurang jelas terlihat. Tapi, begitu dia lahir langsung kelihatan deh." jawab Albert asal.


"Ohh begitu. Duh, kamu ganteng banget sih! Anak mama lucu deh!" ucap Nadira tampak gemas dengan bayi itu.


Albert ikut tersenyum melihatnya, tapi siapa sangka di dalam hatinya ia sangat bersedih dan tidak tega jika harus mengatakan yang sejujurnya pada Nadira.


"Andai kamu tahu Nadira, ini memang bukan anak kita. Dia itu anak saya dengan Vanesa, maafkan saya Nadira! Maaf karena saya sudah bohongi kamu! Ini semua saya lakukan karena saya tidak ingin melihat kamu bersedih," batin Albert.


Disaat tengah asyik mengamati bayinya, Nadira tiba-tiba terkejut melihat Albert terbengong.


"Mas, kamu kenapa sih?" tanya Nadira bingung.


"Hah? Enggak kok, saya gapapa. Udah, kamu lanjut aja main sama anak kita! Kalau kamu mau gendong dia juga gapapa," ucap Albert.


"Iya mas, eh tapi aku mau tanya deh sama kamu. Kamu beneran gak masalah kan karena anak kita ini laki-laki bukan perempuan?" ucap Nadira.


"Ya enggak lah sayang, kenapa juga saya harus permasalahin itu? Bagi saya, yang penting anak kita selamat dan dia sehat-sehat aja!" ucap Albert menahan air matanya.


"Syukur deh mas! Tapi, berarti kita harus mikirin nama yang lain dong ya?" ucap Nadira.


"Itu sih iya, masa anak laki-laki mau kita kasih nama perempuan?" sarkas Albert.


"Ahaha, ya jangan lah mas!" ujar Nadira tertawa.


"Oh ya mas, tadi itu kamu abis darimana sih? Kok lama banget kesini nya?" tanya Nadira penasaran.


"Eee itu aku sebenarnya tadi abis ngecek kondisi Vanesa, kebetulan dia juga lahiran hari ini bareng sama kamu." jawab Albert.


"Oh ya? Terus, gimana kondisi Vanesa? Lahirannya lancar kan?" tanya Nadira.


"Enggak sayang, Vanesa gagal melahirkan bayinya. Bahkan, dia juga harus kehilangan nyawa bersamaan dengan bayi yang dia kandung itu." jawab Albert.


"Apa??" Nadira terkejut bukan main.




#Flashback


"Gimana ini pak, mah? Saya benar-benar gak tega untuk kasih tahu semuanya ke Nadira, saya takut dia syok berat!" ucap Albert.


Abigail dan Suhendra pun merasakan hal yang sama, mereka juga tidak tega kalau melihat Nadira bersedih nantinya.


Tiba-tiba saja, terlintas sebuah pikiran aneh di kepala Albert mengenai bayi Vanesa.


"Ah aku punya ide mah, pak!" ucap Albert.


"Apa ide kamu Albert?" tanya Abigail penasaran.


"Ayo pak, mah! Kita ke bawah sekarang!" ucap Albert.


"Mau ngapain?" tanya Abigail bingung.


"Udah, mama sama bapak ikut aja! Nanti biar aku jelasin sambil jalan," ucap Albert.


"Yasudah, terserah kamu saja!" ucap Abigail.


"Iya, kita ngikut aja." sahut Suhendra.


Albert pun membawa mereka menuju ruang persalinan tempat bayi Vanesa berada.


"Nah, begitu pak, mah, ceritanya.." ucap Albert.


"Jadi, Vanesa baru saja melahirkan bayinya dan dia meninggal gak lama setelah bayinya lahir gitu? Terus, maksudnya kamu mau gunakan bayi Vanesa sebagai pengganti bayi Nadira yang meninggal?" ucap Abigail.


"Iya mah, aku gak punya pilihan lain selain itu. Aku rasa Nadira gak akan bisa tahu kalau anak ini adalah anak Vanesa, karena Nadira sendiri belum pernah lihat wajah anaknya." ucap Albert.


"Tapi Albert, kalau sewaktu-waktu Nadira tahu kebenarannya gimana?" tanya Abigail cemas.


"Kita sama-sama jaga rahasia ini mah, pak. Aku yakin dengan begitu pasti Nadira gak akan pernah tahu!" jawab Albert.


"Yasudah lah, kamu lakukan saja apa yang menurut kamu benar!" ujar Abigail.


"Iya mah, kalo gitu kita masuk yuk ke dalam! Bayi Vanesa ada disana," ucap Albert.


Abigail dan Suhendra mengangguk pelan, lalu bersama-sama masuk ke dalam ruangan itu.


Namun, saat Albert membuka pintunya tiba-tiba saja ia berpapasan dengan Chelsea yang hendak keluar dari sana.


Sontak saja Albert serta yang lain terkejut melihat Chelsea ada disana sembari menggendong bayi di tangannya.


"Chelsea? Kamu ngapain disini?" ujar Albert.


#Flashback end


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2