Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Nafas terakhir


__ADS_3

Nadira baru kembali dari rumah sakit, ia dan kedua orangtuanya itu pulang menaiki taksi online.


Begitu turun dari mobil, mereka langsung disambut oleh Rojali dengan wajah cemasnya.


"Nadira, kamu sudah pulang? Gimana periksanya? Kamu baik-baik aja kan?" tanya Rojali pada Nadira.


"Nanyanya nanti aja ya Jali! Saat ini Nadira masih lemas, dia butuh istirahat. Kamu tolong maklumi dia ya, kan dia baru keluar dari rumah sakit!" pinta Sulastri.


"Oh iya sih, saya mah selalu memaklumi orang-orang kok teh." ucap Rojali sambil nyengir.


"Ya baguslah!" ucap Sulastri singkat.


"Pak, Bu, aku mau langsung ke kamar! Kepala aku kayaknya mulai terasa pusing lagi deh," keluh Nadira pada kedua orangtuanya.


"Waduh! Neng Nadira pusing ya? Sini deh neng, biar abang bantu!" ujar Rojali.


"Eh eh eh, kamu diam disitu Rojali! Jangan dekati putri saya!" cegah Suhendra pada Rojali yang hendak mendekati putrinya.


"Yah elah mang, masa gitu aja gak boleh sih? Saya kan cuma mau bantu Nadira," ujar Rojali.


"Iya gak boleh, kalian itu kan bukan mahram. Lagian kamu ngapain masih disini sih? Sudah sana kamu pulang ke rumah kamu!" ucap Suhendra.


"Iya mang iya.." ucap Rojali merengut.


"Neng, abang pulang dulu ya? Kalau neng Dira kangen sama abang, tinggal telpon aja ke nomor abang ya!" sambungnya pamit pada Nadira.


Namun, Nadira cuek saja seakan tak perduli dengan kata-kata Rojali.


"Udah udah, sana pergi!" ucap Suhendra mengusir Rojali.


Karena tak mau berdebat lagi, akhirnya Rojali pun pergi menjauh walau sebenarnya ia masih ingin melihat Nadira dari dekat.


"Yaudah, yuk Dira kita masuk!" ucap Suhendra.


"Iya pak," ucap Nadira tersenyum tipis.


Disaat mereka hendak melangkah masuk ke dalam rumah, tiba-tiba saja sebuah mobil muncul dan membunyikan klakson.


Tin tin...


Sontak mereka bertiga kompak berhenti, menatap ke arah mobil itu dengan bingung.


"Pak, itu mobil siapa ya?" tanya Sulastri.


"Gak tahu Bu, bapak baru lihat." jawab Suhendra.


Tak lama kemudian, si pengemudi pun turun dari mobil. Melihat itu, Nadira langsung melongok lebar dan mulai kembali merasa geram.


"Mas Albert?" ucapnya lirih.


Albert tersenyum dan mempercepat langkahnya, walau ia kesulitan karena luka tembak di tubuhnya itu cukup banyak.


Kini mereka telah saling bertatapan, Albert tampak senang dapat melihat wajah istrinya kembali saat ini.


"Nadira, tolong maafkan saya! Saya benar-benar merasa bersalah karena telah membohongi kamu! Saya mohon sama kamu, beri saya kesempatan satu kali lagi untuk menebus semuanya!" ucap Albert.


Sikap Nadira masih sama seperti sebelumnya saat mereka bertemu, ya wanita itu tampak dingin dan cuek ketika Albert berusaha mendapat perhatian darinya.


"Saya mohon sama kamu Nadira! Kali ini saya janji saya tidak akan mengulangi kesalahan saya itu! Saya cinta sama kamu Nadira, saya tidak mau kehilangan kamu! Saya yakin kamu pasti juga merasa begitu kan!" ucap Albert.


"Maaf mas! Jangan pikir kamu datang kesini dengan keadaan terluka seperti itu bisa bikin aku kasihan sama kamu ya! Kamu udah nyakitin hati aku berkali-kali, gak akan ada kesempatan lagi untuk kamu mas!" ucap Nadira tegas.


"Nadira, tolong jangan begini sayang! Saya tidak bisa hidup tanpa kamu Nadira!" bujuk Albert.


"Itu terserah kamu, aku udah gak mau perduli lagi sama kamu!" ujar Nadira.


Albert berusaha mendekati Nadira dan meraih tangan wanita itu, namun Nadira lebih dulu menghindar lalu mengajak orangtuanya masuk ke dalam.


"Bu, pak, ayo kita masuk aja!" pinta Nadira.


"Tapi Dira, suami kamu bagaimana?" ujar Suhendra.


"Biarin aja pak, aku gak perduli!" ucap Nadira.


Nadira langsung berjalan begitu saja meninggalkan Albert serta yang lainnya disana, ia masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu.


"Nak Albert, maaf ya! Ibu sama bapak belum bisa berbuat apa-apa saat ini, karena sepertinya Nadira sangat marah setelah tahu semua kebenarannya." ucap Sulastri.


"Gapapa Bu, emang ini semua salah saya kok. Saya seharusnya tidak membohongi Nadira kala itu, saya benar-benar payah!" ucap Albert.


"Uhuk uhuk.." Albert terbatuk-batuk dan tubuhnya semakin terasa lemas akibat luka di sekujur tubuhnya yang sangat parah itu.


"Tuan, sebaiknya tuan segera diperiksa oleh dokter! Saya khawatir luka tuan akan semakin melebar ke bagian tubuh tuan yang lainnya!" ucap Keenan yang kini memegangi tubuh Albert.


"Enggak Keenan, saya masih mau disini. Saya gak akan pergi sebelum Nadira mau memaafkan saya!" tegas Albert.


"Tapi tuan—"


"Diam kamu Keenan! Dengarkan saja apa yang saya mau!" potong Albert.


"Baik tuan! Kalau begitu saya juga akan tetap disini menemani tuan," ucap Keenan.


"Terserah!" ucap Albert singkat.


"Eee nak Albert, pak Keenan, kalian semua ada baiknya menunggu di depan teras saja! Ini sudah mendung loh, nanti kalian bisa kehujanan kalau terus-terusan disini." ucap Sulastri.


"Betul itu nak Albert! Ayo kita antar sampai ke teras depan rumah!" sahut Suhendra.


"Tidak usah pak, Bu! Saya gak mau bikin Nadira tambah marah, jadi saya tetap menunggu disini saja. Saya gak perduli dengan hujan atau apalah itu, yang saya pikirkan cuma Nadira seorang!" ucap Albert teguh pada pendiriannya.


"Baiklah, kalau begitu kami harus permisi dulu! Kebetulan Nadira juga baru keluar dari rumah sakit, jadi kami harus temani dia!" ucap Sulastri.


"Apa? Nadira sempat dibawa ke rumah sakit Bu? Memangnya Nadira sakit apa?" tanya Albert.

__ADS_1


"Nadira gak sakit, dia sekarang lagi mengandung anak kamu." jawab Sulastri sambil tersenyum.


"Hah??" Albert terkejut bukan main mendengarnya, raut keceriaan mulai nampak di wajahnya yang tadi sempat murung itu.


"Ibu serius Bu?" tanya Albert memastikan.


"Iya Albert, begitulah adanya. Awalnya kami juga tidak percaya, tapi ini semua adalah mukjizat dari yang maha kuasa." jawab Sulastri.


Albert tersenyum lebar, suasana hatinya kini berubah menjadi penuh kebahagiaan.


"Syukurlah! Saya benar-benar senang mendengar ini semua, akhirnya Nadira bisa hamil kembali!" ucap Albert sangat bahagia.


"Iya Albert, makanya kamu jangan nyerah ya buat bujuk Nadira supaya dia bisa maafin kamu!" ucap Suhendra.


"Iya pak, itu pasti!" ucap Albert.


Pria itu terus tersenyum lebar penuh keceriaan, istri cantiknya yang sangat ia cintai itu kini tengah mengandung buah hatinya dan itu sangat amat membuatnya bahagia.


"Selamat ya Albert! Saya turut senang dengarnya," ucap Devano.


"Terimakasih!" ucap Albert.


Namun, perlahan-lahan penglihatannya mulai kabur. Rasa sakit di tubuhnya pun semakin mencuat hingga Albert tak mampu berdiri lagi.


"Eh eh tuan!!" Keenan panik saat tiba-tiba Albert melemah dan hendak terjatuh.


"Tuan gapapa?" tanya Keenan cemas.


"Saya baik-baik saja! Aakhhh!!" jawab Albert berusaha menahan rasa sakit.


"Ya ampun nak Albert! Lebih baik sekarang nak Albert cepat dibawa ke rumah sakit untuk diobati!" ucap Sulastri ikut panik.


"Enggak bu, saya gapapa kok. Saya akan tetap disini sampai Nadira mau memaafkan saya!" ucap Albert kekeuh.


Tampaknya kegigihan Albert tak cukup untuk membuatnya bertahan disana.


Ya akhirnya Albert pingsan di pelukan Keenan dan membuat semua orang panik.


"Hah? Tuan? Sadar tuan! Tuan Albert!" ujar Keenan panik.


"Cepat bawa Albert ke mobil, Keenan!" perintah Devano.


"Baik pak!" tanpa berlama-lama, Keenan langsung saja membawa Albert ke dalam mobil sesuai perintah Devano tadi.


Mereka pun pergi dari sana, sedangkan Sulastri serta Suhendra masih tampak kebingungan disana.


"Duh pak, ini gimana ya?" ujar Sulastri panik.


"Tenang aja Bu! Kita doakan aja semoga nak Albert gak kenapa-napa!" ucap Suhendra.


"Aamiin aamiin!" ucap Sulastri.




Keenan masih terus berusaha menyadarkan Albert yang tengah pingsan di pangkuannya itu.


"Tuan, saya mohon sadar tuan!" ucap Keenan seraya menepuk-nepuk wajah Albert.


"Uhuk uhuk.." Albert membuka matanya sedikit, ia melirik ke arah Keenan dengan satu tangan masih memegangi dadanya.


"Tuan! Syukurlah tuan sadar!" ujar Keenan.


"Keenan, saya boleh minta sesuatu sama kamu?" ucap Albert lirih.


"Tentu saja tuan, apapun itu pasti akan saya lakukan demi tuan!" ucap Keenan.


"Baguslah! Kalau begitu, saya mohon sama kamu untuk jaga Nadira dan calon anak saya yang ada di dalam kandungannya! Saya juga titipkan mama saya dan Galen sama kamu, tolong kamu jaga mereka dengan baik ya Keenan!" pinta Albert.


"Pasti tuan, pasti saya akan jaga mereka sepenuh hati saya! Tapi, memangnya kenapa tuan mengatakan itu pada saya?" ucap Keenan keheranan.


"Tidak ada," jawab Albert.


"Terimakasih ya Keenan! Terimakasih karena kamu selalu setia dengan saya! Bahkan disaat saya susah seperti ini, kamu selalu ada untuk saya. Saya beruntung memiliki orang seperti kamu!" lanjutnya.


"Sama-sama tuan, ini adalah bentuk pengabdian saya kepada tuan." ucap Keenan.


"Semoga kamu bisa meneruskan pengabdian kamu pada Nadira nantinya ya!" ucap Albert.


Keenan menatap heran ke wajah Albert.


"Apa maksud tuan?" tanya Keenan bingung.


"Saya gak tahan lagi Keenan, mungkin ini waktunya saya pergi dari dunia ini. Kamu harus jaga Nadira sebaik mungkin, jangan biarkan dia terluka barang sedikitpun!" jawab Albert.


"Hah?? Gak tuan, tuan gak boleh bicara begitu! Tuan pasti bisa diselamatkan!" tegas Keenan.


Albert tersenyum seraya menggelengkan kepalanya dengan lesu.


"Uhuk uhuk.." Albert kembali terbatuk-batuk cukup parah, kali ini bahkan disertai dengan muntahan darah yang lumayan banyak.


"TUAAN!!" teriak Keenan.


"Saya pamit Keenan, Vano!" ucap Albert lirih menyempatkan diri melirik ke arah Devano.


Tak lama kemudian, Albert langsung terpejam kembali dan tangannya pun terjatuh ke bawah hingga membuat Devano menginjak remnya.


"Tuan?! Tuan sadar tuan! Ini gak boleh terjadi, tuan bangun!!" teriak Keenan histeris.


"Albert??" ucap Devano menoleh ke belakang dengan wajah paniknya.


__ADS_1



Praaangg...


Nadira yang baru membuat teh hangat justru tanpa sengaja memecahkan cangkirnya hingga berserakan di lantai.


"Duh pecah lagi! Gimana ya??" ujarnya cemas.


"Ada apa ini Nadira?" Sulastri yang panik langsung menghampiri putrinya disana.


"Hah? Ya ampun, kok bisa pecah sih sayang?" tanya Sulastri kebingungan.


"Gak tahu Bu, perasaan aku tiba-tiba gak enak. Aku jadi keinget sama mas Albert," jawab Nadira.


"Nak Albert? Maksud kamu?" tanya Sulastri.


"Bu, mas Albert masih ada di depan gak?" ucap Nadira bertanya mengenai suaminya.


"Eee udah gak ada sayang, tadi nak Albert dibawa sama pak Keenan dan temannya ke rumah sakit. Soalnya nak Albert pingsan tadi," jelas Sulastri.


"Apa Bu? Pingsan? Tapi, mas Albert gak kenapa-napa kan Bu?" ujar Nadira panik.


"Ibu juga gak tahu sayang, kan yang bawa nak Albert ke rumah sakit itu pak Keenan sama temannya. Lagian kamu kenapa jadi cemas begitu sama nak Albert? Bukannya kamu masih marah sama dia?" ucap Sulastri bingung.


"Entahlah Bu, perasaan aku kacau banget saat ini. Aku takut mas Albert kenapa-napa, aku mau susul mas Albert ke rumah sakit ya Bu!" pinta Nadira.


"Buat apa Nadira? Nanti disana kamu malah cuma bikin Albert makin tambah drop, toh hubungan kalian kan belum membaik. Kalau aja tadi kamu mau maafin dia, mungkin gak akan terjadi." ucap Suhendra.


"Pak, bapak bicara apa sih? Kok bapak malah bilang gitu sama Nadira?" tegur Sulastri.


"Apa Bu? Bapak ini kan cuma bicara fakta, emang Albert pingsan pasti gara-gara Nadira belum mau maafin dia." ucap Suhendra.


"Bapak ini ngada-ngada aja! Jelas-jelas nak Albert pingsan karena lukanya, bapak gausah adu domba deh pak!" ujar Sulastri.


"Udah Bu, udah pak! Sekarang aku mau ketemu sama mas Albert di rumah sakit, aku pengen tahu kondisinya!" ucap Nadira.


"Kamu yakin sayang? Kamu udah siap?" tanya Sulastri.


"Iya Bu, aku yakin! Seratus persen yakin!" jawab Nadira.


Akhirnya Sulastri dan Suhendra mengizinkan Nadira untuk menyusul Albert ke rumah sakit, mereka mengantar Nadira kesana agar Nadira bisa mengetahui bagaimana kondisi Albert.




Sama seperti Nadira, perasaan Abigail kini juga tengah kalut dan cemas memikirkan kondisi putranya yang tak kunjung ada kabar.


Galen pun ikut mencemaskan papanya, ia tidak bisa diam sedari tadi dan terus bertanya pada Abigail tentang papanya.


"Nek, gimana? Papa udah kasih kabar?" tanya Galen.


"Belum sayang, ini daritadi nenek coba telponin dia tapi gak diangkat-angkat. Padahal ponselnya nyambung, nenek juga gak tahu apa yang terjadi sama papa kamu sekarang." jawab Abigail.


"Yah padahal aku udah kangen banget sama papa, aku pengen ketemu papa!" ucap Galen.


"Sabar ya den Galen! Mungkin papanya den Galen sekarang masih ada urusan penting, jadi den Galen tunggu dulu aja ya disini!" ucap suster Alra.


"Iya sus," ucap Galen menurut.


Abigail hanya bisa tersenyum memandangi wajah cucunya yang terlihat mencemaskan ayah kandungnya itu.


"Kamu kemana sih Albert? Mama benar-benar khawatir sama kamu! Semoga kamu gak kenapa-napa! Walau perasaan mama mengatakan kamu sedang tidak baik-baik saja," batin Abigail.




Keenan dan Devano sudah tiba di rumah sakit, mereka langsung membawa Albert menuju ruang IGD bersama para tenaga medis.


Mereka berdua ditahan oleh suster saat hendak ikut masuk ke dalam ruangan itu, karena dokter harus fokus memeriksa Albert.


"Maaf pak, tunggu disini saja ya!" ucap suster itu.


"Baik sus!" ucap Devano.


Suster itu langsung menutup pintu dan masuk ke dalam untuk membantu dokter memeriksa kondisi Albert.


Berbagai upaya coba dilakukan oleh dokter dan suster untuk menyelamatkan nyawa Albert, tetapi usaha mereka gagal.


Dokter pun menyerah dan menggelengkan kepalanya sembari menatap dua orang suster yang ada bersamanya saat ini.


Kedua suster itu mengangguk mengerti, mereka menutupi wajah Albert dengan kain selimut yang tersedia dan menunjukkan raut sedih.


Sementara itu, Keenan masih berharap-harap cemas terhadap kondisi Albert. Ia sangat ingin Albert dapat diselamatkan saat ini.


"Keenan, kamu harus sabar! Kita doakan yang terbaik untuk Albert ya!" ucap Devano.


"Iya pak, tapi gimana kalau tuan Albert gak bisa diselamatkan pak?" ujar Keenan terisak.


Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruangan itu. Sontak Keenan langsung menghampirinya dan bertanya mengenai kondisi Albert.


"Dok, gimana keadaan tuan saya dok?" tanya Keenan.


"Maaf pak! Sepertinya kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi, pasien sudah menghembuskan nafas terakhirnya sebelum sampai disini. Kami tidak bisa menolongnya kembali pak," jelas dokter itu.


"Apa?!" Keenan bertambah sedih mendengar jawaban dokter itu, ia menangis tersedu-sedu sembari memukuli dinding rumah sakit seakan tak terima dengan kematian mantan bosnya.


"Aaaaa!!" Keenan berteriak cukup keras.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2