Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Dipantau


__ADS_3

Hari telah berganti, Vanesa dengan nekat datang ke kantor untuk dapat memohon pada Albert agar mau menerimanya kembali bekerja disana.


Wanita itu tiba lebih awal dari biasanya, menanti Albert di depan kantor dan akan langsung menghampiri bosnya itu bila sudah sampai nantinya.


Vanesa juga sudah menyiapkan sebuah kotak berisi makanan yang dibuatnya sendiri dalam rangka membujuk Albert, walaupun ia tak tahu apakah itu akan berhasil atau tidak.


"Semoga aja tuan Albert suka sama ini!" ucap Vanesa sambil tersenyum.


Tak lama kemudian, Keenan muncul disana. Pria itu terkejut melihat kehadiran Vanesa, pasalnya ia telah diberitahu untuk mencari sekretaris baru sebagai pengganti Vanesa, namun kali ini Vanesa justru sudah datang di kantor.


"Vanesa, kamu sedang apa disini?" tanya Keenan.


"Eh pak Ken, kebetulan saya ketemu bapak disini. Begini loh pak, saya mau bicara sama pak Albert. Oh ya, pak Albert nya dimana ya? Kok beliau gak bareng sama bapak?" ucap Vanesa.


"Itu bukan urusan kamu. Sekarang ngapain kamu datang lagi ke kantor ini? Barusan pak Albert hubungi saya, dia minta saya buat cari sekretaris baru untuknya. Lalu, untuk apa kamu malah muncul lagi disini? Kamu kan sudah dipecat oleh pak Albert, uang pesangon untuk kamu akan segera diurus kok. Jadi, sebaiknya sekarang kamu pergi dari sini dan jangan pernah kembali!" ucap Keenan tegas.


"Tunggu pak! Saya kesini bukan mau minta uang pesangon, tapi saya mau memohon sama pak Albert untuk menerima saya kembali disini. Andai aja bapak tahu, sejak dipecat itu kehidupan saya jadi semakin susah pak. Ayah saya yang sakit kondisinya makin kritis, dan saya juga harus beli obat untuk ayah saya. Bisa dapat uang darimana saya kalau tidak bekerja disini, pak?" ujar Vanesa.


"Kamu tidak usah drama di depan saya! Itu gak akan mempan untuk saya!" tegas Keenan.


"Sudah lah, saya banyak urusan di dalam. Kamu cepat pergi sebelum saya perintahkan security untuk mengusir kamu!" sambungnya.


"Pak, tolong perbolehkan saya bertemu dengan pak Albert!" rengek Vanesa.


"Harus berapa kali saya bilang sama kamu? Pak Albert tidak mau bertemu dengan kamu, dia saja sudah memerintahkan saya mencari sekretaris baru. Seharusnya kamu sadar dan cari saja pekerjaan lain di luar sana!" ujar Keenan.


"Tapi pak, cuma disini perusahaan yang bikin saya ngerasa nyaman. Gak ada seorang bos yang seperti pak Albert, sulit bagi saya berpaling dari perusahaan ini pak!" ucap Vanesa.


"Itu bukan urusan saya!" ucap Keenan.


Keenan memilih langsung pergi dari sana dan tak lagi memperdulikan Vanesa yang terus merengek minta dipertemukan dengan Albert.


"Pak, bawa wanita ini pergi dari sini dan pastikan kalau dia tidak akan kembali lagi!" Keenan juga meminta pada security yang berjaga disana untuk membawa Vanesa pergi.


"Baik pak!" seorang security itu melangkah mendekati Vanesa dan memaksa Vanesa pergi.


"Mari mbak, ikut dengan saya!" ucap security itu.


"Ish apaan sih saya gak mau! Jangan pegang-pegang saya! Saya bakal tetap disini sampai pak Albert datang dan mau terima saya, gak ada siapapun yang bisa paksa saya buat pergi dari sini!" teriak Vanesa.


"Tolong mbak jangan buat keributan disini! Ayo mbak, pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi kesini!" tegas satpam itu.


"Loh loh situ gak ada hak buat usir saya ya! Saya bakal tetap disini, jadi lepasin tangan saya dan jangan sentuh-sentuh saya!" ujar Vanesa berusaha berontak dari cengkraman security itu.


"Sudahlah mbak, mari ikut saya!" security itu menyeret paksa tubuh Vanesa keluar dari area perusahaan.


Dia menghempas tubuh Vanesa ke dekat jalan raya dan meminta wanita itu untuk tidak kembali.


"Dengar ya mbak, jangan kembali lagi lagi kesini! Nanti malah saya yang kena omelan!" geram si security.


Security itu pun pergi meninggalkan Vanesa yang tengah merajuk kesal dan menghentak-hentakkan kakinya ke aspal sembari berteriak cukup keras.


"Aaarrgghh sialan!!"




Sementara itu, Nadira bingung melihat Albert yang malah duduk santai-santai di sofa sambil menikmati secangkir kopi dan menonton acara musik di televisi.

__ADS_1


Setahu Nadira seharusnya Albert saat ini sudah berangkat ke kantor seperti biasanya, namun entah mengapa pria itu justru bersantai di ruang tamu setelah selesai sarapan bersamanya tadi.


Karena penasaran, Nadira pun memilih menghampiri suaminya itu. Ia duduk di samping Albert untuk menanyakan langsung padanya mengapa belum berangkat ke kantor, padahal jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.


"Tuan, kamu kok gak ke kantor? Emang hari ini kamu gak ada kerjaan?" tanya Nadira bingung.


"Eh kamu, saya sebenarnya ada kerjaan, tapi saya malas sekali pergi ke kantor sekarang." Albert menjawab dengan santai disertai senyum tipis.


"Loh kenapa gitu?" tanya Nadira heran.


"Iya, saya takut aja kalau kamu kabur lagi dari rumah begitu saya berangkat ngantor. Saya gak mau kejadian itu terulang lagi, makanya saya pilih tetap disini dan perintahkan Keenan buat handle semua kerjaan saya di kantor. Jadi, saya bisa full jagain kamu di rumah!" jawab Albert.


"Apa? Ya ampun tuan, harusnya tuan gak boleh gitu dong! Kasihan pak Keenan jadi punya banyak kerjaan, lagian kamu gak perlu cemas soal aku! Aku gak akan pergi lagi kok dari rumah ini, paling nanti aku mau izin buat ikut sama mbok Widya ke supermarket. Soalnya ada barang yang mau aku beli, sekalian nemenin mbok Widya belanja," ucap Nadira.


"Oh gitu, yaudah biar saya aja yang antar kamu. Kamu bilang sama mbok Widya, kita berdua yang bakal belanja bulanan kali ini." pinta Albert pada Nadira.


"Gausah tuan, aku pergi sama mbok Widya aja. Tuan mending ke kantor, bantu pak Keenan buat urus kerjaan! Emang kamu gak kasihan apa sama pak Keenan yang harus handle semua kerjaan kamu hari ini?" ucap Nadira.


"Ngapain kasihan? Dia begitu kan juga saya gaji, saya sebagai bos berhak dong minta dia buat handle kerjaan saya!" ujar Albert santai.


"Ya iya sih, terserah kamu aja deh! Yang penting kamu bahagia dan enggak main di belakang aku lagi! Sekarang aku mau ke kamar dulu, kamu terusin aja ngopi sambil nonton tv nya!" ucap Nadira.


Nadira bangkit dan hendak pergi ke kamar, akan tetapi Albert mencekal lengannya cukup erat.


"Tunggu! Mau ngapain kamu ke kamar?" ujar Albert bertanya pada istrinya.


"Aku mau mandi, tuan. Ini kan udah siang, dan aku juga udah lama gak berendam disini. Makanya sekarang aku mau mandi dulu, baru nanti kita pergi belanja bulanan." Nadira menjelaskan pada Albert.


"Kamu mandi kok sendirian aja sih? Gak ngajak-ngajak saya nih?" ujar Albert.


"Hah? Tuan emangnya mau ikut mandi juga sama aku sekarang?" tanya Nadira kaget.


"Iya," Albert mengangguk cepat.


"Gapapa lama, justru saya suka lama-lama sama kamu." Albert tersenyum kemudian menarik tubuh Nadira ke dalam dekapannya. "Kamu gak boleh pergi kemana-mana, kalau enggak sama saya. Jadi kalau kamu mau mandi, ya harus sama saya Nadira!" sambungnya dengan tegas.


Nadira cukup senang dengan tingkah posesif Albert padanya, entah mengapa ia justru menyukai hal itu karena menurutnya ia jadi lebih merasa disayangi.


"Iya tuan, terserah tuan aja deh mau ngapain!" ucap Nadira tersenyum renyah.


Albert mengecup hidung Nadira dan mencubit pipinya berkali-kali sembari mengeratkan pelukannya, keduanya saling bercanda tawa dan sesekali Albert juga menjahili Nadira dengan menggelitiki pinggang wanita itu.


Tanpa mereka sadari, Abigail rupanya memperhatikan sepasang suami-istri itu dari jauh. Dirinya merasa bahagia melihat Albert dan Nadira saat ini sudah kembali mesra.


"Syukurlah! Mama harap kalian bisa terus romantis seperti ini! Dan semoga saja tidak ada masalah yang mendatangi rumah tangga kalian lagi!" batin Abigail.




Siang harinya, Celine baru saja pulang dari sekolah dan tengah menunggu kedatangan abangnya untuk menjemputnya disana. Celine bersama kedua temannya yakni Lilis dan Rani, duduk di halte sembari berbincang-bincang sejenak.


Dua gadis itu masih tampak heran bagaimana caranya Celine bisa ditangkap oleh penculik, dan bagaimana juga Celine dapat lepas dari jeratan si penculik tersebut, apalagi yang mereka tahu Celine hendak dinikahi oleh penculik itu.


"Eh Cel, lu cerita lagi dong sama kita soal penculikan lu kemarin!" pinta Lilis.


"Iya Cel, kita penasaran tau. Gimana caranya lu bisa diculik gitu sama tuh orang? Bukannya waktu itu lu bareng sama bodyguard lu ya? Kok lu malah jadi korban penculikan?" sahut Rani.


"Ya itu dia, ternyata orang yang ngaku jadi bodyguard gue tuh cuma penipu. Mereka malah bawa gue ke tempat si penculik, jadi aja gue ditahan disana selama semalam!" jawab Celine.

__ADS_1


"Oalah, terus abis itu si penculik tuh langsung mau nikahin lu gitu? Emang yang nyulik lu itu siapa sih? Ganteng apa enggak?" tanya Lilis kepo.


"Boro-boro ganteng, dia aja udah tua. Makanya gue takut banget pas dia bilang mau nikahin gue, yakali nasib gue seburuk itu nikah sama om-om? Untung aja abang gue cepat datang dan bisa bantu gue melarikan diri, coba kalo enggak? Beuh pasti bentar lagi gue bakal jadi cewek paling sial di dunia!" ucap Celine.


"Hahaha, ya syukurlah kita juga ikut senang karena lu sama abang lu bisa bebas dan keluar dari sana! Tapi, kok bisa sih? Maksud gue, gimana ceritanya kalian bisa lepas dari jeratan si penculik? Emang dia lengah apa gimana?" ujar Lilis heran.


"Intinya semua tuh berkat ide abang gue, dia berhasil kelabui anak buah tuh penculik dan bawa gue kabur dari sana. Sebenarnya sampai sekarang gue juga masih belum nyangka sih, kalo gue bisa lepas dari si penculik itu! Tapi, gue tetap senang dan anggap ini pertolongan dari Tuhan buat gue!" ucap Celine.


"Iya Cel, Tuhan emang maha baik deh! Sesuatu yang gak mungkin aja bisa jadi mungkin kalau sudah kehendak Tuhan!" ucap Rani.


Saat mereka bertiga tengah asyik berbincang, tampak seorang pria berjas hitam memperhatikan mereka dari jauh. Pria itu menghentikan mobilnya cukup lama di sebrang halte dan memandangi Celine tanpa disadari oleh ketiganya.


Sampai akhirnya Celine menyadari bahwa ada seseorang yang tengah memperhatikannya, ia menatap ke arah sebrang dan berusaha menelisik siapakah sosok yang ada di dalam mobil itu.


"Cel, lu kenapa sih? Ngeliatin apa?" tanya Lilis.


"Itu loh, kalian lihat kan mobil di depan kita itu? Pemiliknya daritadi ngeliatin ke arah kita terus, gue jadi curiga deh sama tuh orang! Jangan-jangan dia punya maksud gak buruk lagi sama kita, terutama gue! Gue takutnya dia itu si penculik yang kemarin mau nikahin gue!" ucap Celine.


"Hah? Masa sih? Mana??" Lilis ikut melihat ke sebrang untukmu memastikan, namun ia terlambat karena pria tersebut sudah menutup kaca mobilnya.


"Mana sih Cel? Orang dia aja gak buka kaca mobil kok, lu mabok kali ya!" ujar Lilis heran.


"Ih enggak, tadi tuh beneran dia ngeliatin kesini. Kalian mungkin gak lihat karena lagi asyik ngobrol, tapi gue jelas banget lihat orang itu mantau ke arah kita!" ucap Celine.


"Yaudah, sekarang lu tenang dulu ya Cel! Gak mungkin juga tuh orang berani nekat samperin lu kesini dan culik lu, karena ini kan masih di daerah sekolahan! Mending cepetan deh lu chat abang lu, terus kasih tahu suruh dia cepat datang kesini!" ucap Rania memberi usul.


"Iya tuh, biar lu gak panik terus!" sahut Lilis.


"Duh, enggak deh. Gak enak lah kalo gue chat abang gue suruh buru-buru datang kesini, kalo dia lagi sibuk gimana?" ucap Celine.


"Yaelah Cel, gapapa kali. Seorang abang pasti lebih prioritasin adiknya ketimbang hal lain, apalagi cuma kerjaan! Percaya deh sama gue, abang lu itu kan sayang banget sama lu!" ucap Lilis.


"Biarin deh, gue tunggu aja sampai di datang." kata Celine tak mau menuruti perintah temannya.


"Yah terserah lu aja Cel!" ucap Lilis.


Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di depan ketiga gadis itu. Sontak Celine langsung tersenyum begitu menyadari itu adalah mobil abangnya alias Keenan, ia dan kedua temannya pun bangkit menghampiri Keenan.


"Bang, akhirnya lu datang juga!" ucap Celine sambil tersenyum.


"Loh kenapa? Lu kangen ya sama gue?" Keenan menggoda Celine dan membuat gadis itu tersipu.


"Ih apa sih!" wajah Celine pun memerah.


"Hahaha, bercanda kali. Emang lu kenapa sih? Kok kelihatan cemas gitu?" tanya Keenan heran.


"Iya bang, barusan ada orang yang pantau gue dari sebrang sana. Tapi, sekarang dia udah pergi sih. Gue curiga deh bang, orang itu tuh penculik gue yang kemarin!" ucap Celine.


"Penculik lu? Mau ngapain dia datang lagi ke sekolah lu coba? Mungkin lu cuma salah lihat doang kali, siapa tau tuh orang bukan mau pantau lu! Udah lah gausah dipikirin, mending balik yuk!" ucap Keenan.


"Huft, iya deh bang. Lis, Ran, kalo gitu gue cabut dulu ya sama abang gue? Thanks banget kalian udah mau nemenin gue disini!" ucap Celine.


"Sama-sama Cel, hati-hati ya!" ucap Lilis dan Rani.


"Makasih ya Lilis, Rani!" ucap Keenan.


"Iya bang,"


Setelahnya, Celine pun masuk ke mobil Keenan dan mereka pergi dari sana.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2