
Nadira dan Albert tiba di rumah, mereka langsung disambut oleh Abigail serta para pelayan yang bekerja disana, tentunya semua itu telah dipersiapkan oleh abigail untuk menyambut sang menantu tercinta yang akan pulang.
Nadira merasa terkejut dengan sambutan tersebut, namun ia senang karena rupanya banyak sekali yang merindukan kehadiran dirinya disini. Walau begitu, tetap saja Nadira belum puas lantaran Albert tak mau jujur dengan perasaannya.
"Welcome home Nadira sayang! Selamat datang kembali ya di rumah ini, mama benar-benar senang sekali kamu akhirnya mau kembali kesini!" Abigail menyapa dan mendekati Nadira.
"Makasih ya mah! Aku kembali juga karena aku kangen dengan suasana disini," ucap Nadira.
"Tapi, kamu dan Albert sudah baikan kan sayang? Iya mama tahu Albert itu melakukan kesalahan yang sangat besar dan sulit untuk dimaafkan, tapi biar gimanapun kalian ini kan pasangan suami-istri yang seharusnya bisa menyelesaikan masalah secara kekeluargaan." kata Abigail seraya memeluk dan mengusap rambut Nadira.
"Eee jujur aku masih belum bisa maafin tuan Albert sepenuhnya, karena aku kan juga wanita biasa yang punya perasaan. Tapi, aku gak ada pilihan lain selain kembali kesini, karena sekarang kan aku lagi mengandung anaknya tuan Albert. Kalau aku pergi, kasihan nasib anak ini!" ucap Nadira.
"Kamu benar sayang! Jangan sampai anak kalian jadi korban nantinya! Mama senang banget bisa peluk kamu lagi sayang! Jangan pernah pergi lagi dari rumah ini ya Nadira!" ucap Abigail.
Nadira amat senang mendapat perlakuan yang cukup manis dari Abigail, ia merasa seperti sedang berpelukan dengan ibu kandungnya sendiri.
Abigail pun menoleh ke arah Albert disertai sorotan tajam, "Dan kamu Albert. Mulai sekarang kamu harus janji sama mama dan Nadira, kamu gak akan main api lagi di belakang Nadira! Kamu harus bisa berubah Albert, jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari!" ucapnya.
"Mama tenang aja! Aku udah buat perjanjian dengan Nadira kalau aku gak akan mengulangi perbuatan itu lagi, mulai sekarang dan seterusnya aku bakal mencoba untuk berubah, karena jujur aku juga gak mau kehilangan Nadira!" ucap Albert.
Mendengar itu saja sudah membuat Nadira tersipu dan wajahnya merona.
"Kira-kira tuan Albert ngomong begitu beneran apa cuma pura-pura doang ya? Ya semoga aja benar deh, jadi aku juga bisa merasakan yang namanya dicintai. Walaupun kemungkinannya kecil, karena tuan Albert kan dari awal juga gak cinta sama aku. Andai aja tuan Albert bisa mencintai aku, mungkin aku bakal jadi wanita yang paling beruntung!" gumam Nadira di dalam hati.
Abigail melepas pelukannya dan beralih menangkup wajah Nadira, ia tak henti-hentinya mengusap wajah serta rambut menantunya itu karena rasa rindunya.
"Sayang, kamu pasti capek ya? Kita ke kamar yuk, mama antar kamu supaya kamu bisa istirahat!" ucap Abigail mengajak Nadira ke kamar.
"Jangan dong mah! Biar aku aja yang antar Nadira, emang mama gak pengen apa aku perbaiki hubungan aku sama Nadira? Kan mama tahu sendiri Nadira masih rada kesal sama aku, makanya aku pengen bujuk dia lagi!" ujar Albert.
"Tapi Albert, kamu gak boleh paksa Nadira begitu! Nadira sudah mau kembali kesini saja itu sudah bagus, jadi kamu jangan terlalu paksa dia buat maafin kamu sepenuhnya! Nanti yang ada Nadira malah tambah stress dan bisa berpengaruh sama bayi yang ada di kandungannya," ucap Abigail.
"Iya mah, aku tahu kok. Aku kan cuma mau abisin waktu berdua sama Nadira, mama maklum dong kan aku sama Nadira udah lumayan lama gak ketemu!" ucap Albert memelas.
"Yasudah, kamu boleh ajak Nadira ke kamar! Tapi, Nadira nya mau apa enggak?" ucap Abigail.
"Ya pasti mau dong, mah!" ucap Albert pede.
"Mama tanya sama Nadira, bukan ke kamu!" ucap Abigail menegur putranya.
"Nadira sayang, kamu mau ikut sama suami kamu ini ke kamar?" tanya Abigail sembari memegang tangan Nadira.
"Eee..." Nadira tampak bingung, ia melirik sejenak ke arah Albert sembari berpikir.
"Aku mau kok mah, benar kata tuan Albert kalau kita harus segera beresin masalah ini. Supaya aku juga bisa hidup tenang dan gak terus kepikiran sama semua ini," sambung Nadira.
"Oh gitu, yaudah kamu boleh pergi sekarang! Istirahat yang cukup ya sayang! Mama gak mau lihat kamu pergi lagi dari sini!" ucap Abigail.
"Iya mah," Nadira mengangguk cepat.
Setelahnya, Albert pun menggandeng tangan Nadira sambil tersenyum. Nadira membalas senyuman sang suami dengan wajah sedikit menunduk, barulah mereka mulai melangkah secara perlahan menuju ke kamar.
__ADS_1
Sementara Abigail tetap pada posisinya, ia terus memandangi sepasang suami-istri itu dengan senyum terpampang di wajahnya.
•
•
Saat ini Albert dan istrinya memasuki kamar secara bersamaan. Pria itu dengan cepat langsung menutup serta mengunci pintu kamarnya rapat-rapat agar tak ada yang bisa mengganggu waktu mereka berdua.
Nadira tersenyum saja sembari menggelengkan kepalanya melihat tingkah Albert yang seakan tak ingin jauh-jauh darinya, menurutnya itu saja sudah membuktikan jika memang Albert sebenarnya sangat menginginkan kehadirannya disana.
"Tuan, kenapa sih pake dikunci segala? Takut bakal ada yang masuk ya?" tanya Nadira menggoda.
"Ya itu kamu tau, saya ini gak pengen ada satu orangpun yang ganggu waktu kebersamaan kita. Apalagi kita kan sudah lumayan lama gak ketemu, jadi saya ingin manfaatkan waktu berdua dengan kamu saat ini. Memangnya kamu sendiri tidak rindu sama saya?" ujar Albert mendekati Nadira.
Wanita itu menelan saliva sambil sedikit menunduk menghindar tatapan Albert, ia juga melangkah ke belakang berusaha menjauh dari Albert.
"Kok malah mundur sih? Udah sini deketan sama saya, kamu gausah malu-malu gitu lah! Tadi aja kamu goda saya, masa giliran dideketin balik malah menjauh? Mau kamu itu apa?" ucap Albert.
"Aku gak ada niat goda tuan kok, aku kan cuma tanya aja. Mungkin tuan yang berpikir begitu, padahal saya mah gak gitu!" ucap Nadira mengelak.
Albert tersenyum tipis sembari mempercepat langkahnya, ia menarik dagu Nadira ke atas lalu mengecup bibir mungil yang ia rindukan itu.
Cupp!
"Kamu ini pandai sekali berkilah ya Nadira, saya tidak suka itu! Untung saja bibir kamu ini rasanya manis, jadi saya maafkan kebohongan kamu barusan. Tapi, saya tidak hanya ingin mencium bibir kamu kali ini." kata Albert.
"Tu-tuan mau apa...??" Nadira sedikit cemas ketika Albert semakin mendekatinya.
"I-i-iya tuan, aku paham! Tapi, aku kesini kan pengen istirahat, bukannya melayani tuan. Lagipun, tuan seharusnya ingat kalau saya ini belum sepenuhnya memaafkan tuan!" ucap Nadira.
"Iya saya ingat, tapi saya tidak perduli itu! Yang terpenting bagi saya adalah, kepuasan! Dan salah satu alasan saya paksa kamu kesini, karena saya butuh kamu untuk memberi saya kepuasan itu Nadira!" Albert berdesis di telinga Nadira dan sedikit menggigitnya.
"Eenngghh.." Nadira melenguh pelan saat Albert mengendus area lehernya. "Tuan, aku gak mau begitu! Ingat loh, tuan kan sudah buat perjanjian untuk tidak memaksa aku lagi! Sekarang tuan tolong jangan paksa aku ya!" ucapnya.
Albert terdiam sejenak memandangi wajah Nadira, dirinya sudah benar-benar bergairah dan tak perduli lagi dengan perjanjian itu.
"Saya gak perduli, kamu itu milik saya dan kamu harus melayani saya kali ini! Sebentar saja kok Nadira, kamu gak akan kecapekan walau kamu melayani saya!" bujuk Albert.
Akhirnya Albert melingkarkan tangannya di pinggang Nadira dan membawa wanita itu ke ranjang untuk segera dinikmati.
Nadira tak mempunyai pilihan lain, ia pun terpaksa harus melayani Albert walaupun saat ini dirinya sedang kesal dengan pria itu.
"Aku gak ngerti lagi sama tuan, kalau tuan sedang kepengen banget seperti sekarang ini pasti tuan susah banget buat diajak bicara! Kayaknya tuan harus bisa kontrol diri tuan deh, kan tuan udah janji gak akan paksa aku lagi!" ucap Nadira di sela-sela permainan mereka.
"Sssttt jangan banyak bicara Nadira! Cukup keluarkan suara-suara kenikmatan dari bibir kamu ini, karena itu yang saya inginkan dan nantikan sedari tadi!" ucap Albert yang sudah tidak terkontrol lagi.
Pria itu pun kembali memakan bibir Nadira secara kasar dan menuntut, lalu beralih ke leher serta dada sang istri yang membuatnya mulai ikut terbawa ke dalam alur permainan itu.
•
•
__ADS_1
Singkat cerita, mereka telah menyelesaikan permainan kenikmatan itu setelah sekitar dua jam lebih bermain tanpa kenal lelah di dalam kamar yang kedap suara itu, namun entah mengapa Albert tetap saja belum puas dan masih ingin meminta lagi pada Nadira walau wanita itu sudah mengatakan jika dia letih.
"Tuan, sudahlah hentikan! Jangan begini terus! Nanti kalau terjadi sesuatu sama kandungan aku gimana? Tuan emangnya mau anak kita kenapa-napa?" ucap Nadira berusaha menyingkirkan Albert dari atas tubuhnya.
Bukannya berhenti, Albert justru makin bersemangat menyusu pada gundukan sintal milik Nadira itu seperti bayi kelaparan.
"Ahh tuan, tolong hentikan! Nanti tuan bisa kebablasan dan melakukan itu lagi!" pinta Nadira.
"Kamu tenang aja! Saya hanya ingin menyusu sama kamu, gak lebih. Lagian kan saya juga sudah puas dan dua kali keluar, jadi kamu gak perlu khawatir begitu ya! Gak akan ada sesuatu yang terjadi sama anak kita, camkan itu!" ucap Albert.
"Yaudah tuan, tapi aku sekarang mau mandi. Ini udah sore loh dan tuan masih terus begini daritadi, kapan selesainya tuan?" ujar Nadira.
Akhirnya Albert menghentikan gerakannya sesuai kemauan Nadira, ia berbaring di samping Nadira dan menaruh kepala wanitanya itu pada bahu miliknya sambil sesekali mengecupnya.
Cupp!
"Kamu kelihatan capek banget, pasti puas ya karena permainan saya tadi?" ujar Albert.
"Iya, aku puas kok. Cuma lain kali, tuan gak boleh maksa aku lagi kayak tadi! Tuan kan udah janji, buat memperlakukan aku sebagai istri bukan seperti pelayan atau pemuas. Tuan pasti juga ingat kan konsekuensinya?" ucap Nadira.
"Saya ingat kok, sekali lagi saya minta maaf ya sama kamu! Tadi itu saya sulit mengontrol diri saya, karena sudah lumayan lama saya tidak berhubungan sama kamu. Mungkin junior saya ini rindu dengan lubang kamu, dia pengen masuk lagi kesana jadinya!" ucap Albert tersenyum.
"Yaudah, yang tadi aku maafin kok. Sekarang aku mau tanya sama tuan, tolong tuan jawab dengan jujur ya!" ucap Nadira menatap wajah Albert.
"Tanya apa?" Albert pemasaran dengan apa yang ingin ditanyakan oleh Nadira padanya.
"Gimana soal kelanjutan hubungan kamu sama sekretaris kamu? Dia kan sekarang lagi hamil, apa tuan gak ada niatan buat jenguk dia dan cek kehamilannya?" tanya Nadira.
"Kamu ini bicara apa sih? Kenapa kamu tanya begitu sama saya? Disini yang istri saya itu kan kamu, bukan dia. Jadi, untuk apa saya jenguk dia? Toh kehamilan Vanesa itu bukan keinginan saya, hanya sebuah kecelakaan kecil!" ucap Albert.
Nadira geleng-geleng kepala keheranan dengan sikap Albert yang terlalu santai menanggapi kehamilan Vanesa, padahal Nadira saja sampai tidak bisa tidur beberapa hari ini karena memikirkan bayi yang dikandung Vanesa.
"Kok tuan bisa sesantai itu sih? Padahal itu anak tuan juga loh, emang tuan gak kasihan apa sama sekretaris tuan itu?" tanya Nadira.
"Buat apa? Vanesa itu sudah menandatangani perjanjian kontrak dengan saya, yang mengharuskan dia melayani saya selama bekerja di perusahaan saya. Dan satu lagi, kehamilan Vanesa itu sudah lewat, sekarang ini dia tidak sedang hamil seperti yang kamu kira. Kamu gak perlu mikirin soal itu lagi ya Nadira!" jelas Albert.
"Maksud tuan apa? Kenapa tuan bilang begitu? Jelas-jelas waktu itu dia tunjukin surat kehamilannya, itu artinya dia benar-benar hamil tuan bukan cuma rekayasa." kata Nadira heran.
"Ya memang benar dia hamil, tapi sekarang udah enggak. Aku yang minta Vanesa buat gugurin kandungannya, karena aku gak mau punya anak dari wanita lain selain kamu." Albert menjelaskan pada Nadira mengenai kehamilan Vanesa.
"Apa? Kenapa tuan melakukan itu ke Vanesa? Apa tuan gak punya belas kasihan sedikitpun? Biar gimanapun, anak yang dikandung Vanesa tuh gak salah tuan. Kenapa tuan tega bunuh dia?" ujar Nadira tak mengerti dengan pikiran suaminya.
"Sudahlah Nadira, jangan bahas itu lagi sekarang! Tadi kamu katanya mau mandi, yuk aku temenin kamu mandi!" ucap Albert.
"Enggak tuan, aku masih bingung sama jalan pikiran tuan. Kok bisa gitu tuan tega bunuh darah daging tuan sendiri? Aku jadi makin takut sama tuan, kayaknya keputusan aku buat kembali kesini salah deh. Emang harusnya aku pergi jauh dari tuan supaya aku bisa aman," ucap Nadira.
"Hey, kok bicaranya gitu sih? Saya minta Vanesa gugurin kandungannya, itu kan demi kamu juga. Saya gak mau ada masalah nantinya kalau kamu tahu Vanesa hamil anak saya, dan terbukti kan kamu beneran setelah tahu semuanya!" ucap Albert.
Nadira terdiam memalingkan wajahnya, ia masih tak habis pikir bagaimana bisa Albert setega itu pada anaknya sendiri, sedangkan Albert juga terus berusaha membujuk Nadira agar tidak ngambek.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...