Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Keributan


__ADS_3

"Loh loh ini ada apa??" tanya Abigail yang keheranan melihat keributan antara Nadira serta Vanesa di depan Albert.


Sontak ketiganya terdiam, namun Nadira masih saja menatap tajam ke arah Vanesa seperti tak suka dan semakin mengeratkan pelukannya dengan Albert.


"Albert, benar kan yang mama khawatirkan kemarin. Pasti bakal sering terjadi keributan di rumah ini, karena kehadiran dia!" ujar Abigail.


"Mah, mama jangan begitu dong! Nadira sama Vanesa gak ribut kok, mereka cuma bingung mau makan masakan siapa." jawab Albert.


"Ish mas, kok kamu malah belain Vanesa di depan mama? Harusnya kamu bilang yang sejujurnya, kalau Vanesa ini maksa kamu buat makan masakan dia!" ucap Nadira protes.


"Hah? Kamu apa-apaan sih Vanesa? Sudah dikasih kesempatan buat tinggal disini, eh malah cari gara-gara! Apa kamu gak tahu caranya berterima kasih sama Nadira?!" ucap Abigail pada Vanesa.


"Maaf tante! Tapi, aku beneran gak maksa Albert kok. Aku cuma tawarin ke Albert," elak Vanesa.


"Kamu pikir tante bakal percaya sama kata-kata kamu? Jelas tidak, tante lebih percaya sama Nadira karena tante tahu Nadira itu tidak pernah berbohong!" ucap Abigail.


"Itu sih terserah tante aja, intinya aku emang gak ngelakuin apa yang Nadira katakan tadi. Aku yakin Albert juga tahu kok!" ucap Vanesa.


"Eee..." Albert terlihat gugup dan bingung.


"Mas, sekali lagi kamu belain Vanesa, aku gak bakal kasih kamu jatah satu bulan!" ancam Nadira berbisik di telinga suaminya.


"Eh eh, jangan gitu dong sayang!" ucap Albert panik.


"Yaudah, makanya jangan belain Vanesa terus dong! Yang istri kamu itu aku, bukan dia!" ucap Nadira kesal.


"Iya iya, saya tahu kamu istri saya. Kita sudahi saja ya keributan ini, lebih baik kita sarapan sama-sama di meja makan!" pinta Albert.


"Albert benar, buat apa ribut terlalu lama kan?" sahut Vanesa.


"Yasudah ya Albert, aku ke meja makan duluan. Aku khawatir istri kamu makin cemburu dan marah-marah gak jelas kalau aku tetap disini, apalagi kalau kamu minta aku buat jalan bareng ke meja makan." sambungnya.


"Iya Vanesa," ucap Albert tersenyum tipis.


Vanesa pun berbalik, lalu pergi menuju meja makan lebih dulu.


Nadira langsung mencubit pinggang Albert dan membuat pria itu kesakitan.


"Awhh sshh!!" pekik Albert.


"Kamu kenapa sih Nadira?" tanya Albert heran.


"Kamu yang kenap?! Ngapain coba pake senyum ke Vanesa barusan?" ujar Nadira.


"Ya kan aku cuma—"


"Ah udah lah, aku bete sama kamu!" potong Nadira tampak kecewa.


Nadira melepas pelukannya, pergi menjauh dari Albert serta Abigail dengan perasaan jengkel.


"Hey Nadira, tunggu!" teriak Albert tapi tak digubris oleh Nadira.


"Albert, kamu kejar Nadira! Jangan bikin dia ngambek terus!" ucap Abigail.


"I-i-iya mah," ucap Albert gugup.


Albert pun melakukan apa yang diperintahkan mamanya, ia mengejar Nadira dengan cepat untuk berusaha menenangkan wanita itu.


"Huh Albert memang ada-ada saja, dia membuat masalah semakin runyam! Aku gak ngerti sama jalan pikiran itu anak, buat apa dia malah ajak Vanesa tinggal disini? Benar kan yang aku khawatirkan, pasti akan terjadi banyak keributan nantinya!" gumam Abigail.




Keenan tiba di sekolah adiknya, ya ia memang berhasil membujuk Celine untuk mau berangkat ke sekolah bersamanya walau harus bersusah payah dan memakan cukup banyak waktu.


Tampak Celine masih terus merajuk padanya, ia tak menyangka jika abang yang ia sayangi itu tega melakukan hal sekeji itu kepadanya, padahal selama ini Keenan terlihat baik dan polos.


"Cel, lu masih marah sama gue? Mau sampai kapan sih, Cel? Ayolah, maafin gue dong dan jangan ngambek terus!" ucap Keenan.


"Gimana gue bisa maafin lu, bang? Lu aja udah tega begitu sama gue!" ujar Celine menangis.

__ADS_1


"Yeh jangan nangis gitu dong! Gue kan cuma iseng tau semalam, gak ada niat gue buat begitu sama lu. Lagian lu sendiri sih yang mancing-mancing mau tidur di kamar gue, kan jadinya otak setan gue nyuruh yang enggak-enggak!" ucap Keenan.


"Ish, bisa-bisanya lu malah nyalahin gue! Padahal itu semua kan emang karena lu aja yang mesum!" ucap Celine.


"Ya ya ya, terserah lu deh mau bilang gue kayak apa juga. Sekarang mending lu turun sana, nanti telat loh kalo lu disini terus!" ucap Keenan.


"Oke gue turun, tapi abis itu gue gak mau balik lagi nanti. Mulai sekarang gue pengen tinggal sendiri, gue gak mau kejadian semalam terjadi lagi!" ucap Celine.


"Loh kok gitu sih? Jangan dong sayang! Gue kan udah minta maaf sama lu! Masa lu masih gak mau maafin gue?" ucap Keenan.


"Bodoamat!" ujar Celine.


Keenan menahan lengan Celine yang hendak pergi dari sana, kemudian menariknya hingga tubuh gadis itu menghadap ke arahnya.


Keenan pun mencengkeram rahang Celine dan menatapnya dari jarak dekat, membuat Celine gelagapan tak bisa berbuat apa-apa.


"Cel, gue itu semalam gak apa-apain lu sumpah! Gue cuma buka baju sama celana lu doang, abis itu ya udah gue tutup lagi pake selimut dan tidur deh. Gak mungkin juga lah gue lecehin adek gue sendiri, kan gue sayang sama lu!" ucap Keenan.


"Masa? Gue gak percaya sama kata-kata lu, bang!" ucap Celine.


"Serius sayang! Sekarang gini deh, tadi pas lu bangun kerasa sakit atau apa gak? Enggak kan? Itu tandanya gue gak ngapa-ngapain lu, ngerti gak?" ucap Keenan tegas.


"Ya emang enggak, tapi kan bisa aja lu udah sentuh-sentuh tubuh gue tanpa sepengetahuan gue. Mana mungkin lu cuma diem aja? Buktinya lu juga telanjang kan tadi," ucap Celine.


"Iya deh, gue ngaku emang gue sentuh juga walau sedikit. Tapi, kan cuma sedikit gak banyak. Lagian yang gue sentuh bukan bagian sensitif lu kok, cuma leher sama perut." kata Keenan sambil nyengir.


"Ah tetep aja gue gak terima! Lu itu udah lihat tubuh polos gue, dasar abang mesum!" ucap Celine berontak.


"Hey hey! Gue gak mesum, itu kan gue niatnya mau bikin lu kapok gitu. Jadi, lu gak bakal mau tidur di kamar gue lagi. Ya karena jujur aja, kalo lu minta tidur sama gue terus mana tahan gue?!" ujar Keenan menjelaskan pada adiknya.


"Cih!" Celine berdecih pelan sembari membuang muka.


Keenan justru terkekeh, seketika ia teringat kembali pada lekuk tubuh polos adiknya yang memang sangat indah.




Nadira tahu betul itu adalah Albert, ya Albert memang mengejarnya karena tak ingin Nadira terus merajuk seperti sekarang.


Albert pun memeluk tubuh Nadira dari belakang, menaruh wajahnya pada pundak sang istri sambil sesekali mengendus disana.


"Mas, ngapain sih?" ucap Nadira ketus.


"Kamu jangan ngambek terus dong sayang! Saya gak bisa lihat kamu kayak gini, kasihan juga nanti anak kita di dalam sini ikutan sedih kalau ibunya sedih!" ucap Albert seraya mengelus perut Nadira.


"Gimana aku gak sedih? Kamu sih malah belain Vanesa di depan aku!" ucap Nadira.


"Aku gak belain dia, aku cuma gak mau ada keributan aja di rumah ini. Kamu tolong paham dong sayang!" ucap Albert menjelaskan.


"Terus, kenapa tadi kamu senyum ke arah dia? Kamu mau genit sama dia, iya?" tanya Nadira.


"Ya enggak lah sayang, ngapain juga aku genit sama dia kalau aku bisa genit ke kamu? Lagian aku lebih suka manja-manja sama kamu tau, kamu itu kan selain cantik, manis juga!" jawab Albert seraya mempererat pelukannya.


Albert terus mencumbu leher Nadira, wanita itu hanya bisa pasrah sekaligus menikmati sentuhan-sentuhan dari bibir serta tangan Albert di seluruh bagian tubuhnya.


"Mas akh!" Nadira mendesahh pelan saat Albert menggigit lehernya dan meninggalkan bekas disana.


"Kamu kenapa bikin bekas disitu sih? Kalau ada yang lihat gimana? Aku kan bisa malu mas, apalagi kalau dilihat mama." protes Nadira.


"Gapapa, biar si Vanesa itu gak ganjen lagi ke saya. Emang kamu gak suka apa dikasih tanda sama suaminya sendiri?" ucap Albert.


"Suka kok mas," ucap Nadira malu-malu.


"Ahaha, tuh kan kamu manis dan gemesin banget kalo lagi malu-malu kayak gini!" ucap Albert sembari membelai rambut Nadira dengan lembut.


"Udah ah mas, cukup!" pinta Nadira mulai melepaskan diri dari pelukan Albert.


Kini Nadira berbalik menatap Albert, namun Albert tak membiarkan Nadira pergi dan langsung menangkup wajah wanita itu dengan kedua tangannya sembari memangkas jarak mereka.


Albert meraba seluruh bagian wajah Nadira, mulai dari dahi sampai dagu Nadira. Wanita itu hanya diam kebingungan, ia tak mengerti apa yang diinginkan Albert sebenarnya.

__ADS_1


"Kamu itu mau apa sih, mas? Kenapa kamu usap muka aku terus kayak gini? Kamu pengen cium mah cium aja kali!" ucap Nadira.


"Hahaha, kepedean deh kamu!" ujar Albert.


"Ya abisnya kamu gak jelas!" ucap Nadira.


Albert tersenyum, kemudian bergerak maju dan langsung melumatt bibir Nadira dengan ganas dan menuntut sembari menahan tengkuk Nadira.


Tanpa mereka sadari, rupanya ada Abigail yang memantau dari jauh dan menutup mata serta mulutnya saat melihat Albert mulai mencumbu bibir istrinya.


"Hadeh Albert, dia emang gak tahu tempat!" ucap Abigail geleng-geleng.


Akhirnya Abigail pun memutuskan pergi, ia tidak kuat jika harus melihat momen romantis antara sepasang suami-istri itu.




Sementara itu, Chelsea datang ke meja makan dan melihat Vanesa tengah menikmati sarapan seorang diri disana.


Chelsea pun penasaran, ia celingak-celinguk mencari dimana yang lainnya karena tak mungkin jika kakak dan mamanya belum bangun.


"Heh! Lu kok kok makan sendirian aja? Nyokap sama kakak gue mana?" tanya Chelsea ketus.


"Lu itu bisa gak sih kalo nanya sopan sedikit? Gue ini lebih tua loh dari lu, gak pernah diajarin sopan santun apa gimana sih?!" ujar Vanesa kesal.


"Gausah sok paling sopan deh! Lu aja udah bikin keretakan di rumah tangga kakak gue, buat apa gue sopan sama lu?! Dengar ya, kalo bukan karena mbak Dira terima lu disini pasti gue udah tendang lu keluar!" ucap Chelsea.


"Hah? Emangnya lu siapa? Rumah ini tuh milik Albert, bukan punya lu. Yang berhak usir gue itu cuma Albert, jadi jangan harap lu bisa usir gue dari rumah ini!" ucap Vanesa.


"Emang gak ada malunya ya lu, gue heran sama lu. Kalau gue jadi lu, pasti gue udah pergi jauh dari kak Albert. Gue gak mau jadi pelakor yang suka godain suami orang, eh tapi gue baru sadar lu itu kan emang cewek penggoda. Buktinya kak Albert aja sampai tergoda dan bisa hamilin lu, itu pasti awalnya juga dari ulah lu kan?!" ucap Chelsea.


"Jangan sembarangan ya kalau bicara! Lu itu gak tahu asal-usulnya, jadi lu gak bisa nilai gue gitu aja!Kakak lu duluan kok yang godain gue, mungkin emang pada dasarnya dia itu tipe laki-laki buaya yang gak cukup sama satu cewek!" ucap Vanesa.


Braakkk..


"Kalo ngomong jangan seenaknya aja ya!" ucap Chelsea geram sembari menggebrak meja.


Vanesa pun beranjak dari duduknya, kemudian menatap tajam ke arah Chelsea.


"Kenapa? Lu gak terima? Ingat ya, ini semua gak akan terjadi kalau kakak lu bisa tahan dirinya. Jadi, jangan cuma menyalahkan dari salah satu pihak aja!" ucap Vanesa tak kalah emosi.


"Kalau lu emang gak mau ini terjadi, seharusnya lu nolak waktu kak Albert deketin lu! Tapi nyatanya apa? Lu malah pasrah pasrah aja kan? Itu artinya lu emang pengen semuanya terjadi, ini juga udah masuk ke rencana lu sama bokap lu kan?!" ucap Chelsea.


"Jangan asal bicara ya! Lu itu masih bocil yang gak tahu apa-apa, jadi mending lu diem dan gausah ikut campur urusan orang dewasa!" ujar Vanesa.


"Oh ya? Gue bakal ikut campur, karena ini menyangkut rumah tangga kakak kesayangan gue! Sebelum lu angkat kaki dari sini, gue gak akan berhenti buat gangguin lu!" ucap Chelsea.


"Terserah lu, seberapa keras pun lu lakuin itu, tetap aja gak akan bikin gue gentar!" ucap Vanesa.


"Okay, tunggu aja aksi gue!" ucap Chelsea.


Chelsea pun berlalu pergi dari sana, ia tidak mau makan jika hanya bersama Vanesa dan lebih memilih mencari mama serta kakaknya.



Di ruang tamu, Chelsea justru tak sengaja bertemu Abigail yang baru kembali dari mengintip Albert dan Nadira di halaman rumah tadi.


"Loh mama, mama abis ngapain? Pantas aja aku cari di meja makan gak ada, ternyata mama malah disini. Kenapa gak sarapan dulu sih, mah?" tanya Chelsea terheran-heran.


"Ah iya sayang, mama barusan cek Albert sama Nadira dulu di depan. Tadi mereka sempat ribut gara-gara Vanesa, tapi untunglah sekarang mereka udah baikan." jawab Abigail.


"Huh syukur deh! Emang si Vanesa itu nyebelin banget sih mah, dia tuh harusnya gak ada di rumah ini!" ujar Chelsea.


"Iya, mama juga heran kenapa Albert malah bawa Vanesa kesini." kata Abigail.


"Yaudah mah, aku mau temuin kak Albert aja deh sekarang. Aku pengen minta sama dia buat usir Vanesa dari sini," ucap Chelsea.


"Eh jangan sayang!" ucap Abigail menahannya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2