Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Dimarahi


__ADS_3

"Duh, manisnya senyum istriku yang cantik ini!" ucap Albert.


Nadira menunduk tersipu, sedangkan Albert terus saja mencium dan mencubit pipi Nadira dengan gemas.


"Galen udah tidur?" tanya Albert.


"Udah kok mas, dia gampang disuruh tidurnya." jawab Nadira.


"Ohh, syukur deh!" ucap Albert.


"Eee aku mau ngomong sesuatu deh sama kamu, mas." ucap Nadira.


"Ngomong apa sayang?" tanya Albert penasaran.


"Tadi siang itu aku kayak lihat Vanesa lagi ngintip di depan gerbang rumah kita deh, dan pashmina yang aku temuin itu sebenarnya juga punya dia." ucap Nadira.


Albert langsung melongok lebar mendengar apa yang diucapkan istrinya.


"Kamu bicara apa sih? Mana mungkin Vanesa datang ke rumah kita? Dia itu kan sudah meninggal, kamu juga kan ngeliat sendiri makam dia waktu itu. Kamu salah lihat kali sayang, itu bukan Vanesa." ucap Albert.


"Enggak mas, yang aku lihat itu beneran Vanesa. Aku pastiin sendiri kok tadi, dia lagi ngintip ke arah rumah ini!" ucap Nadira.


"Kamu yakin sayang? Emangnya kamu sempat bicara atau temuin dia?" tanya Albert.


"Eee ya enggak sih, pas tadi aku mau deketin eh tiba-tiba dia udah gak ada. Yang aku temuin juga pashmina itu, tapi tetap aja aku yakin kok kalau itu tadi Vanesa." jawab Nadira.


"Kenapa kamu yakin banget?" tanya Albert.


"Ya soalnya aku lihat muka dia, walau dari jarak jauh sih." jawab Nadira.


"Bisa aja itu cuma mirip, atau mungkin karena lihatnya dari jarak jauh jadinya agak samar-samar gitu." ujar Albert.


"Ah kamu mah gak percaya mulu sama aku! Aku beneran tau lihat Vanesa tadi, buktinya aku temui pashmina itu kan!" ujar Nadira.


Albert benar-benar bingung saat ini, ia tidak tahu bagaimana caranya untuk meyakinkan Nadira bahwa yang dia lihat itu salah dan Vanesa sudah meninggal.


"Sayang, bisa aja pashmina itu punya orang yang gak sengaja jatuh. Lagian kan belum pasti kalau itu punyanya Vanesa, emang kamu lihat sendiri Vanesa pake itu?" ujar Albert.


"Lihat kok, kan aku udah bilang tadi." ucap Nadira.


Albert kembali terdiam memalingkan wajahnya, Nadira benar-benar membuatnya kelimpungan kali ini dan tak tahu harus bicara apa.


"Mas, kamu beneran gak tahu kalau Vanesa masih hidup? Atau emang kamu..." ucap Nadira tertahan.


"Saya apa? Saya ini tahunya Vanesa udah meninggal, karena waktu itu saya sendiri yang urus jasadnya kok di rumah sakit. Kamu juga kan udah saya bawa ke kuburan dia, jadi mana mungkin Vanesa masih hidup?!" ucap Albert.


"Terus, yang aku lihat tadi siapa dong?" ujar Nadira.


"Mana saya tahu, bisa aja itu orang lain yang kebetulan lewat. Udah lah cantik, gausah dipikirin lagi ya! Kita mending tidur sekarang, saya udah ngantuk banget nih!" ucap Albert.


"Kok tidur?" tanya Nadira tampak cemberut.


"Lah, terus kalo gak tidur mau ngapain emang? Main petak umpet?" ucap Albert.


"Ish bukan lah mas! Kamu emangnya gak mau main-main dulu apa gitu?" ujar Nadira menggoda.


"Hah? Main apa? Gobok sodor?" ujar Albert.


"Ah tahu lah, males aku sama kamu!" cibir Nadira.


Nadira yang kesal akhirnya berbaring menghadap ke samping memunggungi Albert yang masih heran dan terduduk disana.


"Hey! Kamu kenapa sih? Kok ngambek? Jangan ngambek dong sayang!" ujar Albert.


"Tau ah!" umpat Nadira kesal.


Albert hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah istrinya, ia tak tahu apa kesalahannya malam ini hingga Nadira marah padanya.




Braakkk...


Albert membuka pintu dengan keras hingga membuat Vanesa terkejut bukan main.


Pria itu langsung melangkah masuk ke dalam kamar dan menghampiri Vanesa yang masih terbaring.


"Hey Vanesa!!" bentak Albert.


"Albert? Kamu kenapa sih?" tanya Vanesa heran.


"Kamu yang kenapa! Ngapain kamu kemarin datang ke rumah saya siang-siang bolong?! Kamu mau bongkar semuanya di depan Nadira, iya?!" ujar Albert emosi.


"Apa sih Albert? Aku gak ngerti deh kamu bicara apa, sabar dulu dong bicaranya santai aja!" ucap Vanesa.


"Kamu jangan banyak ngeles! Ini buktinya kalau kamu kemarin datang ke rumah saya, pashmina ini punya kamu kan?!" ucap Albert seraya menunjukkan pashmina di tangannya.

__ADS_1


Vanesa langsung tercengang melihatnya, ia tak bisa menjawab apa-apa saat ini.


"Gawat! Albert kok bisa temuin pashmina itu sih? Mampus deh aku, pasti Albert bakal marah besar deh sama aku!" batin Vanesa.


"JAWAB VANESA!!" bentak Albert.


"I-i-iya Albert, itu emang punya aku. Aku minta maaf sama kamu!" ucap Vanesa gugup.


"Nah kan, akhirnya kamu ngaku juga. Sekarang kamu jelasin, apa maksud kamu datang ke rumah saya kemarin?! Mau ngapain kamu, ha?" ucap Albert.


"Aku gak ada maksud apa-apa, aku cuma pengen lihat anak aku. Kamu paham dong gimana perasaan aku Albert, aku kangen sama dia! Udah lima tahun lebih aku gak bisa ketemu sama dia, itu semua karena kamu!" ucap Vanesa.


"Terus kenapa? Kamu mau salahin saya karena saya udah pisahkan kamu dengan anak kamu? Ingat ya Vanesa, ini semua juga atas kesepakatan kita dan kamu pun setuju. Jadi, kamu gak bisa temuin anak kamu lagi saat ini karena dia udah jadi anak saya dan Nadira. Awas aja kalau kamu datang lagi ke rumah saya, saya pastikan kamu gak akan selamat!" ancam Albert.


Vanesa dibuat menangis setelah mendengar kata-kata Albert, entah mengapa ia merasa sakit hati saat Albert mengucapkan itu.


Tak lama kemudian, Harrison datang menghampiri mereka berdua dan berupaya menenangkan Albert agar tidak memarahi putrinya lagi.


"Albert, cukup Albert! Kamu jangan marahi Vanesa terus kayak gini, dia itu lagi sakit!" ujar Harrison.


"Biarin aja, dia ini emang harus dikerasin. Dia udah melanggar perjanjian kita, bisa-bisanya dia datang ke rumah saya kemarin. Asal anda tahu, istri saya melihat Vanesa ada disana dan dia jadi curiga kalau Vanesa masih hidup." ucap Albert tegas.


"Tapi, kamu gak bisa salahkan Vanesa sepenuhnya. Vanesa hanya ingin melihat putrinya, yang sudah lama tidak dapat ia temui." ucap Harrison.


"Kalau bukan salah Vanesa, terus salah siapa ha? Salah saya? Ingat ya, dari awal juga Vanesa sudah setuju dengan rencana yang saya buat. Jadi, Vanesa harus menuruti semuanya!" tegas Albert.


"Sudah sudah, kalian jangan ribut begitu! Iya iya aku tau aku salah, maafin aku Albert!" ucap Vanesa.


"Okay, kali ini saya maafin kamu. Tapi, awas aja kalau lain kali kamu datang lagi ke rumah saya dan mengintip dari luar! Saya permisi, jangan bikin saya emosi lagi!" ucap Albert.


Vanesa dan Harrison hanya diam membisu, melihat Albert pergi keluar dari kamar itu.


"Vanesa, lihat kan akibatnya kalau kamu bandel dan pergi keluar diam-diam! Albert jadi marah besar sama kamu, dan dia bisa saja membuat hidup kamu sama papa makin menderita!" ucap Harrison kesal.


"Iya pah, aku minta maaf! Aku janji gak akan ulangi perbuatan aku itu, sekarang papa tolong keluar dari kamar aku ya!" ucap Vanesa.


"Yasudah, papa keluar dulu. Kamu lanjut aja istirahatnya ya!" ucap Harrison.


Vanesa mengangguk kecil, Harrison pun melangkah keluar sesudah mengusap puncak kepala putrinya dengan lembut.


"Apa aku salah ingin bertemu dengan putraku sendiri?" batin Vanesa.



Saat di luar, Harrison sudah ditunggu oleh Albert dan Darius yang berdiri bersamaan di depannya.


"Pak Harrison, saya mau bicara sebentar." ucap Albert.


"I-i-iya Albert, bicara saja!" ucap Harrison gugup.


"Saya peringati anda untuk menjaga Vanesa dengan baik disini! Jika sekali lagi anda gak bisa jaga dia, dan dia berhasil keluar tanpa sepengetahuan siapapun disini, maka saya pastikan anda tidak akan bisa bertemu dengan Vanesa lagi selamanya!" ucap Albert.


"Baik Albert! Saya janji akan jaga Vanesa sebaik mungkin, dia juga sudah saya tegur tadi dan dia bilang gak akan mengulangi perbuatannya lagi!" ucap Harrison.


"Baguslah, saya pegang kata-kata anda! Oh ya, paman Darius juga harus bisa mengawasi Vanesa dan pastikan bahwa dia selalu ada disini! Vanesa hanya boleh keluar, jika ada keperluan penting. Seperti contohnya melakukan check up ke rumah sakit. Selain itu, maka dia harus tetap ada disini!" ucap Albert.


"Iya Albert, kamu tenang aja! Lain kali kejadian kemarin itu gak akan terulang lagi kok, Vanesa pasti akan sama kita disini!" ucap Darius.


"Yasudah, saya pergi dulu." kata Albert.


"Ya Albert, silahkan!" ucap Darius.


Albert pun melangkah pergi keluar dari rumah tersebut, cukup banyak penjaga yang ia tugaskan untuk berjaga disana agar Vanesa tidak bisa keluar sembarangan lagi.


Tentunya Albert tidak mau jika rahasia besar yang ia sembunyikan dari Nadira, akan diketahui oleh istrinya itu, karena pastinya semua akan berakibat buruk kepada hubungan mereka.


"Semoga aja Vanesa gak keluar lagi dari sini! Awas aja kalau sampai dia keluar rumah!" batin Albert.




"Kak!" Celine memanggil Keenan dan menghampiri abangnya itu sembari membawakan bubur ayam yang ia beli di luar.


Keenan cukup terkejut, namun ia langsung tersenyum saat menyadari Celine ada di sebelahnya.


"Eh kesayanganku, bawain sarapan ya?" ucap Keenan.


"Iya kak, ini bubur ayam buat kita sarapan. Enak loh kak, ini langganan aku selama kakak di penjara!" ucap Celine.


"Hadeh, jangan bahas penjara lagi dong!" ujar Keenan cemberut.


"Eh iya iya kak, maaf ya! Yaudah, kita makan dulu yuk! Jangan main hp terus kak, nanti lagi aja pegang hp nya!" ucap Celine.


"Iya sayang, makasih ya!" ucap Keenan.


Celine tersenyum sambil mengangguk, lalu mulai memakan bubur ayam miliknya.

__ADS_1


Keenan pun menaruh ponselnya, bersiap menikmati bubur ayam itu.


Drrttt...


Drrttt...


Tiba-tiba ponselnya berdering, membuat Keenan tidak jadi melahap buburnya.


"Ada telpon, aku angkat dulu ya?" ucap Keenan.


"Emang siapa sih yang telpon?" tanya Celine.


"Eee dari tuan Albert, aku takutnya penting. Sebentar aja kok, kamu makan aja dulu gausah nungguin aku!" ucap Keenan.


"Huft, enggak ah aku mau nungguin kakak aja. Gak enak tau makan sendirian, lagian aku pengennya makan bareng kakak kok." ucap Celine.


"Yaudah, terserah kamu aja. Kalo gitu aku angkat telpon dulu ya?" ucap Keenan.


Celine mengangguk kecil, sedangkan Keenan bangkit dari duduknya dan mengangkat telpon dari Albert seraya bergerak menjauh.


"Ngapain kak Keenan harus menjauh sih? Kan bisa angkat disini aja," batin Celine.


📞"Halo tuan! Ada apa ya?" ucap Keenan di telpon.


📞"Halo Keenan! Kamu apa kabar? Saya dengar, kamu sudah keluar dari penjara. Benar begitu?" tanya Albert.


📞"Iya tuan, itu benar. Baru aja kemarin saya keluar, sekarang saya udah bisa pulang ke rumah lagi deh dan tinggal bareng Celine." jawab Keenan sambil tersenyum.


📞"Oh begitu, selamat ya Keenan karena kamu sudah bisa keluar penjara!" ucap Albert.


📞"Terimakasih tuan! Oh ya, saya juga mau bilang makasih ya karena selama saya di penjara, tuan udah mau bantuin Celine. Mulai dari kasih dia kerjaan, sampai jagain dia di rumah. Makasih banyak ya tuan!" ucap Keenan.


📞"Iya, sama-sama. Saya kan cuma melakukan apa yang kamu minta, bukannya kamu titipin Celine ke saya waktu itu? Lagipun, anggap aja itu juga sebagai permintaan maaf saya sama kamu karena saya gagal bantu kamu dalam masalah ini!" ucap Albert.


📞"Gapapa tuan, tuan gak gagal kok. Buktinya hukuman saya berhasil diringankan, dan saya bisa keluar sekarang." ucap Keenan.


📞"Selain itu, Celine juga bekerja dengan baik kok. Malahan dia banyak bantu saya dan bisa bikin keuangan perusahaan meningkat drastis, saya suka sama kinerja dia! Boleh kan kalau Celine terus lanjut kerja disini?" ucap Albert.


📞"Jelas boleh dong tuan! Tapi, apa saya masih bisa bekerja juga sama tuan?" tanya Keenan.


📞"Sebenarnya sih saya sudah punya asisten baru pengganti kamu, karena kamu kan harus di penjara lima tahun dan gak mungkin saya bisa handle semuanya sendirian." jawab Albert.


📞"Oh ya? Kalau gitu, saya gak perlu balik lagi bekerja sama tuan juga gapapa kok. Biar aja orang itu yang jadi asisten tuan, nanti saya bisa cari kerjaan lain." ucap Keenan.


📞"Mau cari kerja apa kamu? Jaman sekarang itu gak gampang buat dapetin kerjaan, apalagi kamu statusnya baru keluar dari penjaga." ucap Albert.


📞"Iya juga sih, tapi gapapa tuan saya akan tetap berusaha. Saya juga gak mau mematikan rezeki orang, jadi biarin aja orang itu bekerja untuk tuan. Semoga aja saya masih bisa dapat pekerjaan lain!" ucap Keenan.


📞"Baiklah, saya akan bantu kamu buat dapat pekerjaan." ucap Albert.


📞"Serius tuan?" tanya Keenan.


📞"Iya Keenan, tenang aja! Nanti kalau ada, saya langsung kabari kamu." jawab Albert.


📞"Terimakasih tuan!" ucap Keenan.


📞"Sama-sama. Yasudah ya, saya tutup dulu telponnya?" ucap Albert.


📞"Iya tuan," ucap Keenan singkat.


Tuuutttt tuuutttt...


Albert langsung memutus telponnya, Keenan pun kembali ke meja makan melakukan sarapan bersama adiknya.



Albert yang berada di kantornya, tampak masih memikirkan masalah Vanesa yang sedang ia sembunyikan dari Nadira.


"Gimana ya kalau misalnya Nadira tahu semuanya? Apa dia bakal marah besar?" batin Albert.


Albert mengusap wajahnya kasar, memijat keningnya yang terasa pusing akibat terlalu banyak memikirkan masalahnya.


TOK TOK TOK...


"Ya masuk!" ucap Albert sedikit berteriak.


Ceklek...


"Hai Albert!"


Albert terkejut hebat mendengar suara wanita yang datang ke ruangannya itu, ia spontan menoleh ke asal suara dan langsung melongok lebar begitu melihat wanita di depannya.


"Kamu?"


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2