Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Selamat


__ADS_3

Albert kini bersama Vanesa di dalam mobil, ia memang berniat mengantarkan sekretarisnya itu pulang ke rumah karena tak tega membiarkan wanita seperti Vanesa pulang seorang diri.


Vanesa pun tampak gembira begitu ditawarkan tumpangan oleh Albert, walau sempat menolak akhirnya wanita itu setuju untuk menumpang di mobil Albert agar kesempatannya untuk bisa memancing Albert semakin besar.


"Vanesa, kamu itu biasanya setelah bekerja ngapain lagi sih? Ada kegiatan lain kan pastinya?" tanya Albert penasaran.


"Eee saya sih kalau pulang cepat begini, paling rebahan aja di rumah. Kecuali misal ada teman yang ajak main, baru deh saya keluar lagi itu juga jarang banget!" jawab Vanesa tersenyum.


"Oh gitu, boleh gak saya mampir ke rumah kamu dan ketemu papa kamu nanti?" ucap Albert.


"Hah? Bapak mau apa ketemu papa?" tanya Vanesa panik.


"Gak ada apa-apa sih, saya cuma mau silaturahmi aja. Sekalian saya mau tau kondisi papa kamu sekarang gimana, kan dulu katanya papa kamu itu sakit keras sampai kamu harus bekerja dan butuh banyak uang! Gapapa dong saya mampir sebentar jengukin papa kamu?" ujar Albert.


"Eee ya sebenarnya gapapa sih, pak. Tapi, papa saya itu kadang orangnya suka males gitu ketemu sama orang lain, apalagi yang belum dia kenal! Jadi, ada baiknya bapak gausah ketemu papa saya deh daripada urusannya ribet nanti!" ucap Vanesa.


"Yah sayang banget ya! Padahal saya ini mau ketemu sekaligus kenalan sama papa kamu, tapi kalau emang gak bisa ya gapapa saya gak maksa kok!" ucap Albert tersenyum.


"Maaf ya pak!" ucap Vanesa pelan.


"Gak perlu minta maaf! Saya kan sudah bilang, saya gak maksa mau ketemu papa kamu!" ucap Albert sambil mencolek pipi Vanesa.


"Baik pak!" Vanesa tertunduk dengan wajah yang sudah memerah.


"Oh ya, keluarga kamu yang tersisa disini itu tinggal papa kamu? Gak ada keluarga yang lain gitu? Misal saudara kandung, atau sepupu paman tante?" tanya Albert penasaran.


"Saudara sih punya, pak. Tapi, mereka semua tinggal jauh di luar negeri dan jarang juga kami berhubungan. Jadi, ya saya harus rawat papa saya seorang diri tanpa bantuan dari siapapun!" jawab Vanesa.


"Aduh, kasihan juga ya kamu! Kalau misal nanti ada yang bisa saya bantu, kamu bilang aja ya! Pasti saya bakal bantu kamu kok!" ucap Albert.


"Ah iya pak, makasih!" ucap Vanesa tersenyum.


"Sama-sama," Albert ikut tersenyum memandangi wajah Vanesa yang cantik itu.


Keempat mata itu saling bertemu, bahkan Albert menarik dagu Vanesa dengan jarinya hingga wajah Vanesa terlihat jelas di mata Albert. Cukup lama mereka bertatapan, membuat sang supir merasa heran dengan kelakuan bosnya itu.


"Eee pak, maaf sebaiknya bapak jangan sentuh saya dulu! Gak enak dilihat pak supir, nanti yang ada dia mikir yang enggak-enggak lagi tentang kita!" ucap Vanesa.


"Ahaha, kamu ini ada-ada aja! Saya kan cuma mau tatap wajah kamu, apa yang perlu dikhawatirkan? Toh diantara kita juga gak ada apa-apa, hanya sebatas partner kerja!" ucap Albert.


"Benar pak, tapi...."


"Sudahlah Vanesa! Kamu gak perlu canggung begini tiap kali berdua dengan saya, kayak baru pertama kenal aja!" potong Albert.


Tangan Albert dengan berani meraih dua tangan wanita itu, lalu menaruhnya di atas paha miliknya. Ia arahkan sedikit menuju tempat pusaka nya berasa dan membuat Vanesa terkejut.


"Pak!" Vanesa panik membulatkan mata sambil terus mengawasi sang supir di depan sana.


"Udah tenang aja!" ucap Albert pelan.


Akhirnya Vanesa mengambil alih, ia memegang pusaka Albert yang masih terbungkus celana itu dengan kuat hingga membuat pria itu menggigit bibir bawahnya menahan erangan yang hendak keluar sembari mencengkeram paha mulus Vanesa yang terpampang jelas itu.


"Eee pak, kira-kira bapak punya waktu gak buat bicara berdua sama saya sekarang di tempat sepi?" bisik Vanesa menggoda bosnya.


"Oh yah, tentu saya bisa Vanesa!" jawab Albert penuh semangat.




Sementara itu, Nadira keluar kamar dalam kondisi lapar. Ia hendak mencari makanan yang bisa dimakan untuk mengisi perutnya saat ini, karena rasa laparnya itu tak bisa ditahan lagi.


Nadira pun bergegas menuju meja makan, mencari sesuatu untuk dimakan disana. Namun, ia hanya menemukan buah-buahan serta beberapa selai di atas meja itu yang sama sekali tak menggugah seleranya.


"Huft, ini kenapa adanya cuma ini sih? Aku kan lapar mau makan, masa iya disuruh makan buah doang? Apa enaknya coba?" ujar Nadira bingung.


Tak lama kemudian, salah seorang pelayan disana bernama mbak Nila muncul mendekati Nadira karena melihat wanita itu nampak tengah mencari sesuatu di meja makan.


"Permisi non! Lagi cari apa?" tanya Nila.


"Eh eee ini aku mau makan, bik. Tapi, disini gak ada makanan sama sekali. Cuma ada buah sama selai, mana enak coba?" jawab Nadira cemberut.


"Oh non Nadira lapar? Sebentar ya non, biar saya sediakan dulu makanannya!" ucap Nila.


"Nah boleh tuh bik! Eee aku boleh request gak bik?" ucap Nadira.


"Haha emangnya non Nadira mau request dimasakin apa?" tanya Nila.


"Umm, aku kepengen kwetiaw goreng bik. Bisa kan?" jawab Nadira sembari mengetuk-ngetuk jari pada dagunya.


"Ohh bisa kok non, sebentar ya!" ucap Nila.


"Iya bik, makasih!" ucap Nadira tersenyum.

__ADS_1


Pelayan itu bergegas menuju dapur, membuatkan apa yang diminta Nadira tadi. Sedangkan wanita itu menarik kursi, lalu duduk dan memakan buah apel yang tersedia sebagai penunda lapar.


"Huft, ternyata tinggal di rumah mewah gak seenak yang aku bayangkan dulu sewaktu kecil!" gumam Nadira sembari menggigit apelnya.


"Gak enak kenapa sayang?" tiba-tiba suara Abigail muncul dari belakang dan mengagetkan Nadira, bahkan apel di tangan wanita itu sampai terjatuh ke lantai akibat terkejut karena kedatangan Abigail yang tanpa diduga itu.


"Eh mama?" ucap Nadira gugup dan hendak mengambil apel miliknya.


"Eh eh, udah gausah diambil lagi sayang! Itu jorok, nanti kamu kena virus kalo dimakan lagi! Kamu ambil aja yang baru ya, mama gak mau calon cucu mama kenapa-napa!" ujar Abigail.


"Tapi mah, kata ibu aku kalau makanan jatuh belum lima menit itu masih aman kok. Lagian sayang lah mah kalau dibuang, kan itu masih banyak apelnya baru aku gigit sedikit! Aku makan yang itu aja ya, mah?" ucap Nadira.


"Jangan sayang! Ikutin aja apa kata mama ya, itu gak baik buat kesehatan kamu! Udah nanti biar pelayan yang bersihin!" ucap Abigail.


"Iya deh mah," ucap Nadira menurut.


Abigail tersenyum sembari mengusap puncak kepala menantunya dengan lembut, kemudian duduk di samping Nadira dan menggenggam satu tangan wanita itu.


"Nadira, ini apelnya yang baru! Kamu disini itu gak perlu mikirin makanannya masih banyak atau enggak, kalau dia udah jatuh ke bawah ya udah gak bisa dimakan lagi sayang! Itu bisa bikin kamu sakit nanti, apalagi kamu juga sedang mengandung!" ucap Abigail dengan lembut.


Entah mengapa Nadira seakan merasa ibunya lah yang saat ini tengah berbicara padanya.


"Iya Bu... eh maksud aku, mama!" ucap Nadira salah sebut, namun langsung mengoreksi kembali perkataannya.


"Kamu keinget mama kamu ya?" tanya Abigail.


"Eee iya mah, aku jadi ingat sama ibu! Soalnya dulu ibu juga selalu belai aku kayak gini, sambil kasih tau ke aku kalau aku salah! Sifat mama ini benar-benar mirip sama ibu, bikin aku jadi makin kangen sama ibu!" jawab Nadira.


"Ohh, memangnya kamu ini berasal darimana sih sayang? Terus ibu dan ayah kamu sekarang tinggal dimana?" tanya Abigail.


"I-ibu aku itu cuma orang kampung biasa, sama kayak ayah yang juga hanya petani di desa. Kami tinggal di sebuah rumah kecil yang gak terlalu luas, bahkan bisa dibilang sangat sederhana! Kondisi itu yang menyebabkan aku dipertemukan dengan tuan Albert, mah!" jawab Nadira.


"Oh ya? Bagaimana caranya?" tanya Abigail dengan tatapan mata penuh penasaran.


Ya Abigail hanya ingin tahu kebenarannya dari Nadira, biarpun ia sudah mendapat cerita dari Chelsea mengenai bagaimana Albert dapat menikahi Nadira.


"Ayah aku itu punya hutang sama seorang rentenir kaya raya, berbulan-bulan ayah selalu menunggak dan tidak bisa membayar hutang serta bunga yang diberikan rentenir itu. Ayah dan ibu awalnya menutupi semua ini dari aku, sampai akhirnya aku tahu sendiri tentang ini dan aku sangat syok! Ayah sempat meminta aku buat kabur ke rumah nenek, tapi aku malah dicegat di jalan oleh salah satu anak buah tuan Albert dan dibawa ke rumah ini secara paksa. Sejak itulah aku akhirnya tinggal disini dan menikah dengan tuan Albert, mah!" jawab Nadira menceritakan semuanya.


Abigail terkejut mendengar cerita Nadira, ia merasa sangat-sangat kecewa pada Albert karena sudah memisahkan seorang anak dari orangtuanya begitu saja hanya karena rasa obsesi yang berlebihan terhadap Nadira.




Ketiganya terus celingak-celinguk, mencari dimana keberadaan Celine di tempat yang sepi itu. Keenan sangat panik dan cemas, ia khawatir ketiga preman tersebut sudah membawa adiknya pergi dari sana sehingga ia tak dapat menemukan mereka.


"Hey, kalian yakin disini tempat preman-preman itu nurunin Celine?" tanya Keenan cemas.


"Iya bang, kita yakin kok! Kita masih inget banget, disini mereka bawa Celine! Tapi, kita gak tahu lagi kemana Celine sekarang, karena kan kita dibawa juga di angkot!" jawab Lilis.


"Aaarrgghh!! Kurang ajar mereka, beraninya culik adik saya! Lihat aja, begitu ketangkap pasti langsung saya bantai mereka!" geram Keenan.


"Sabar bang! Sekarang kita cari dulu aja dimana Celine, abang jangan emosi karena itu cuma bikin abang jadi gak fokus!" ucap Lilis.


"Lilis benar bang!" sahut Rani.


"Iya iya, gue gak akan emosi kok! Yuk kalian bantu gue cari Celine!" ucap Keenan.


"Oke bang!" ucap Lilis dan Rani bersamaan.


Mereka pun kembali menyusuri tempat itu, mencari dimana Celine berada. Sampai pada akhirnya mereka menemukan petunjuk yang cukup menguntungkan, yakni sebuah mobil hitam milik si preman yang terparkir disana.


"Bang, ini ada mobil disini! Tapi gak ada orangnya, apa mungkin ini tuh mobil si preman ya bang?" ucap Lilis menunjuk ke arah mobil itu.


"Entahlah, bisa jadi iya tapi bisa juga enggak. Kita kan gak tahu siapa pemilik mobil ini!" jawab Keenan.


"Iya sih bang, tapi mencurigakan banget gak sih ada mobil parkir di pinggir hutan begini?" ujar Rani.


"Nah, iya tuh bang! Mungkin aja ini emang bener mobil si preman itu, kita coba cari dekat sini bang siapa tahu mereka belum jauh! Karena buktinya ini mobil masih disini!" ucap Lilis.


"Boleh, yuk kita susurin tempat ini!" ucap Keenan.


Disaat mereka hendak melangkah ke depan, tiba-tiba saja terdengar suara dari dalam hutan yang membuat mereka terhenti.


Kresek... kresek...


"Bang, itu siapa ya?" tanya Lilis berbisik.


"Coba kita lihat!" ucap Keenan.


"Tapi bang, kalo itu binatang buas gimana? Gue masih mau hidup bang," ujar Lilis.


"Gausah takut!" ucap Keenan santai.

__ADS_1


"Huh untung aja gue selamat!"


"Hah??" Keenan, Lilis serta Rania kaget secara bersamaan karena yang mereka lihat saat ini adalah Celine sang adik dari Keenan yang sedang mereka cari disana.


"Celine!" teriak ketiganya bersamaan sambil menatap ke arah gadis itu.


Sontak Celine menoleh, ia tersenyum lebar begitu mendapati abang serta kedua temannya ada disana menjemputnya.


"Bang Ken, Lilis, Rani?" ujar Celine.


Gadis itu pun berlari menghampiri mereka, lalu berhenti tepat di depan Keenan.


"Celine, ka-kamu gapapa?" tanya Keenan cemas.


Pria itu langsung menyentuh setiap anggota tubuh Celine untuk memastikan bahwa adiknya itu baik-baik saja tanpa ada luka.


"Iya bang, gue baik kok! Tapi, gue takut banget bang! Mereka mau culik gue tadi, untung aja gue bisa lawan mereka pakai jurus bela diri yang lu ajarin ke gue!" ucap Celine.


Gadis itu memeluk Keenan dengan erat, menumpahkan air mata yang tak dapat ia tahan lagi di dada sang kakak.


"Udah ya, yang penting lu selamat sekarang! Gue juga senang banget ngeliat lu baik-baik aja, dan gak ada luka! Maaf ya Cel, gue gak bisa jagain lu sampai lu hampir diculik kayak gini!" ucap Keenan sembari mengusap punggung adiknya.


"Jangan bilang begitu, bang! Lu gak salah kok, kan gue diculiknya di sekolah!" ucap Celine.


Mereka melepas pelukan, Keenan menangkup wajah adiknya dan mengusap air mata yang membasahi area pipi gadis itu.


"Oh ya, sekarang penculik itu dimana?" tanya Keenan.


"Eee...."


Flashback


"Mmppphhh...." Celine terus meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari cengkraman seseorang itu, namun tenaganya tak cukup kuat karena ia juga sudah mulai lemas.


"Hahaha, lu gak akan bisa lepas kali ini! Lu harus ikut sama kita ketemu bos, jangan ngelawan atau lu bakal terluka!" bentak si preman.


Ketiga preman itu mulai melangkah hendak meninggalkan hutan, Celine semakin lemas dan tak bisa melepaskan diri. Apalagi mulutnya masih dibekap, sehingga ia tak dapat berteriak meminta pertolongan pada orang disana.


"Bang, kayaknya kita bakal dapat bonus gede nih karena berhasil tangkap dia!" ujar si preman.


"Udah gausah mikirin bonus dulu! Kita bawa aja dia dari sini, jangan sampai lengah!" ucap preman yang membekap mulut Celine.


Celine terus memikirkan cara untuk bisa melepaskan diri, ia tak mau menyerah sampai disitu saja karena ia harus dapat kabur dari sana dan kembali bersama abangnya.


"Gue pasti bisa!" batin Celine.


Celine pun memiliki ide untuk menggunakan kakinya yang masih terbebas di bawah sana, ya ia akhirnya menekuk kakinya ke belakang dan mengarahkan ke **** ***** preman yang membekap mulutnya itu.


Bughh...


"Aaaakkkhh!! Sialan lu!" teriak si preman yang reflek melepas tangannya dari Celine.


"Hajar dia!"


Kedua preman itu langsung maju dan melawan Celine, untungnya gadis itu masih memiliki cukup tenaga untuk menghadapi mereka.


Ya dengan mudah Celine berhasil melumpuhkan dua orang preman itu, hingga mereka berdua terkapar di atas tanah.


"Aaaakkkhh sakit!" rintih keduanya.


"Hahaha, kalian gak akan bisa culik gue! Siap-siap kalian bakal dapat omelan, bukannya bonus seperti yang kalian harapkan tadi! Bye bye penculik payah!" ucap Celine meledek ketiganya.


Gadis itu langsung berlari keluar dari hutan, meninggalkan preman yang masih tergeletak disana tak mampu mengejarnya.


"WOI JANGAN LARI LU!" teriak si preman.


Flashback end


"Begitu bang ceritanya..." ucap Celine yang baru selesai menceritakan mengenai kondisi preman penculiknya pada Keenan.


"Oh gitu, yaudah ayo kita masuk lagi ke dalam! Gue mau kasih perhitungan ke mereka, sekaligus cari tahu siapa yang udah suruh mereka buat culik lu!" ucap Keenan kesal.


"Ta-tapi bang, gue takut!" ucap Celine gemetar.


"Gausah takut, ada gue disini!" ucap Keenan.


"I-i-iya deh bang..."


Akhirnya mereka berempat masuk kembali ke dalam hutan menemui preman-preman yang ingin menculik Celine tadi.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2